in Random Thoughts

Konsekuensi?

Banyak kasus kanan kiri yang lewat dan salah satunya kemudian ternyata dialami oleh keluarga kami sendiri. Sakit.

Kemudian, banyak lagi kasus serupa yang membuat telinga panas. “Ah, lebih baik tidak mendengar,” batin saya berujar. Tapi seperti apapun tutup mata dan tutup telinga, kabar berita itu pasti terdengar, atau terbaca. Dan bikin mikir sendiri juga.

Seperti berita yang tidak sengaja terbaca beberapa hari lalu, “pengacara dalam kasus klithih meminta keringanan hukuman bagi pelaku.” Tentu saja karena banyak alasan, alasan di bawah umur, alasan jera, alasan masa depan, dan lain. Intinya meminta keringanan hukuman bagi pelaku. Membaca seperti ini saya pengen teriak di depan wajah pelaku, “LALU GIMANA DENGAN KORBAN YANG SUDAH JELAS GAK PUNYA LAGI MASA DEPAN?! MANA KESEMPATAN UNTUK MEREKA?!!”

Sedih.

Tapi kok kemudian lewat lagi pikiran yang lain, kalau saya berada di pihak keluarga pelaku, apa kemudian saya juga mengusahakan supaya pelaku bisa dihukum seringan-ringannya? Ketika jelas dia menghilangkan nyawa orang lain.

Sebgai orang tua, sebagaimanapun kita tidak ingin anak-anak kita terkena masalah, toh suatu hari nanti pasti mereka akan menghadapinya. Cepat atau lambat. Tapi ketika kemudian masalah itu cukup atau bahkan sangat berat, bagaimanakah respon kita pada anak? Tentu saja kita ingin menolong anak. Tapi bagaimanakah cara kita menolongnya?

Pikiran logis saya tentu saja berkata, jelas anak mau tidak mau harus menerima semua konsekuensi dari perbuatannya dong. Biar dia belajar bahwa itu salah, dan ketika salah tentu saja setiap orang harus menerima konsekuensi kesalahannya.

Tapi subjektivitas sebagai orang tua gimana? Tegakah saya nantinya melihat anak-anak menjalani konsekuensi itu? Saya bingung, sampai kemudian ada seorang Paman yang mengingatkan:

kita cuma dititipi ia/mereka, titipan kuwi dudu duwek-mu, sing duwe Gusti Allah,dadi nek ora melu Gusti mesti ora bener….nek melu mesti bener……

Dan ternyata benar, mereka ini hanya titipan, semua milik kita ini hanya titipan, bahkan kita hanya titip, nunut hidup di dunia. Bahwa semua yaang katanya kita miliki ini ada yang punya, punya Allah.

Anak-anak kita itu titipan Allah, dititipkan untuk dijaga dan dididik sebagaimana mestinya. Dan ketika mereka bertemu dengan kesalahan, maka kita sebagai orang tua juga harus IKHLAS mempertemukan mereka dengan konsekuensi dari kesalahan itu.

Kewajiban sebagai orang tua yang kemudian harus mengarahkan anak-anak ke jalur yang semestinya.

Itu yang saya tangkap dari sebaris kalimat yang dituliskan oleh beliau.

“Ai, jalan mamap dan papap bersama kamu masih sangaaatt panjang. Semoga ya, Ai, mamap dan papap selalu bisa mengimbangi setiap perkembanganmu, selalu bisa mendampingi dan memahami setiap perbuatanmu. Bantu mamap dan papap untuk selalu bisa menemani Ai sekarang sampai nanti Ai mampu berdiri kokoh sendiri. Semoga kita diberi jodoh yang panjang, untuk selalu saling menemani dan memahami, insyaAllah.”

Love

Write a Comment

Comment