Category: Adventurer

  • Kartinian

    Well… Mbak Ai Kartinian!

    Sebelumnya memang selama TK, si Ai memang gak pernah Kartinian. Jadi tahun 2018 ini pertama kali kami ikut kartinian.

    Kok kami?

    Karena Mamap dan Yangti ikut rebyek ngikutin anaknya yang Kartinian ?. Saya dan Yangti memutuskan untuk ikut hadir di sekolah untuk melihat seperti apa acara Hari Kartini di sekolah Ai.

    Di SD Ai memang tiap tahunnya memperingati Hari Kartini, dan persiapannya juga oke. Karena dari pihak sekolah menyiapkan fotografer profesional untuk mendokumentasikan acara. Dokumentasi juga termasuk foto anak-anak per person dan juga bersama kelas masing-masing. Hmm… saya aja mungkin sih yang baru tau yak ?

    Persiapan dari siswa sendiri ternyata juga meriah. Karena gak cuma kebayaan ala kadarnya, tapi banyak yang memang niat memakai pakaian adat yang bermacam-macam. Itu keren! ?

    Kakak kelas besar, sudah lebih berani dan niat berekspresi ?

    Jujur saya cukup wow dengan itu. Saya gak membayangkan akan semeriah itu sambutan dari siswa. Tapi memang tiap tahun, sekolah juga mengapresiasi siswa dengan penampilan terbaik. Jadi mungkin terpacu untuk berpenampilan maksimal kali ya. Mungkin juga karena sudah setiap tahunnya Kartinian, maka siswa kelas besar juga lebih tahu dan berani berekspresi. Kalo kelas 1 masih piyik, masih isin-isin ?

    Sempat ngobrol dengan beberapa ibu yang kebetulan juga mengantar anak-anaknya soal pakaian adat yang dipakai. Sewa pakaian dan makeup untuk anak usia 6-7 tahun (seusia Ai kelas 1) sebesar 75K – 100K. Kalau sewa pakaian saja sekitar 40K – 75K. Mungkin tergantung jenis pakaian adatnya kali ya.

    Hmm… tahun ini baru cek-cek ombak. Supaya taun depan lebih kece ?

    *ambisi ibu-ibu ?

  • PSS Day

    Mas Suami adalah seorang penyuka bola. Penyuka MU dan pegiat futsal, karena katanya ku tak sanggup kalo main di lapangan besar ?

    Berawal dari kegemaran mas Suami inilah akhirnya tanggal 20 September 2017 kemarin kami nonton pertandingan bola secara live di Stadion Maguwoharjo. Kami nonton PSS yang kala itu berlaga melawan Cilegon. Ini pengalaman yang WOW kalo kata saya ?

    Sebenarnya, nonton PSS di Stadion Maguwoharjo bukan kali pertama buat Mas Suami. Sebelumnya sudah beberapa kali dia nonton tapi sendiri. Terakhir kali nonton, pas ada kesempatan buat ngajakin Kung En, akhirnya nonton deh berdua mas Suami dan Bapaknya.

    Dan dari beberapa kali nonton itu, Mas Suami akhirnya berkesimpulan ini aman kalo ngajak keluarga, khususnya ngajak anak. Dan jadilah Rabu malam kemarin saya dan mbak Ai ikut menjadi salah satu penonton PSS vs Cilegon. Hohohoho… mumpung Kamis tanggal merah. Ale…!! ?

    Lalu gimana rasanya? Wah, memang ya, nonton live itu beda daripada cuma di depan TV. Suasana dan segalanya, terutama dukungan dari fanboy PSS itu lho yang luar biasa energinya. Para Slemania, Sleman fans, dan BCS terus menerus menyanyikan chant untuk menyemangati para pemain. Itu sesuatu yang luar biasa kalo menurut saya. Mereka konsisten dari awal sampai akhir pertandingan terus menyalurkan energi dan dukungannya. It was something amazing.

    Lalu mbak Ai gimana? Hoho… dia senang juga mengikuti nyanyian para pendukung PSS. Tapi bolanya lama banget, gitu katanya. Hahaha… bosan dia ?

    Lepas dari keseruan pertandingan dan dukungan yang menyemarakkan Stadion kemarin, memang ada beberapa kondisi yang juga kurang menyenangkan lah untuk penonton yang membawa balita dan anak-anak. Tentu saja penyumbang ketidaknyamanan terbesar adalah: asap rokok.

    Di area yang begitu besar, banyak orang, dan kebanyakan adalah laki-laki dewasa, bisa dipastikan juga banyak perokok. Kita juga tidak bisa mengendalikan apakah kita duduk di posisi yang sedikit orang merokoknya, atau juga mengendalikan arah angin. Jadi yang paling baik yang bisa kita lakukan untuk antisipasi salah satunya ya dengan menggunakan masker.

    Dari ikut nonton bola live kemarin, yang bisa saya siapkan terutama ketka mengajak anak-anak adalah:

    1. Siapkan makanan dan minuman. Saya kemarin membawa arem-arem dan roti tawar. Masukkan dalam plastik, karena biasanya gak boleh bawa wadah plastik semacam taperwer gitu. Hal ini juga berlaku untuk minuman.
    2. Bekali diri dengan MASKER dan jaket, lebih bagus jika memakai pakaian panjang dan bersepatu. Jadi gak kena debu terlalu banyak.
    3. Pipis dulu sebelum pertandingan dimulai, dan sebelum tempat duduk terisi penuh. Terutama pipiskan anak-anak dulu, karena kalau kepengin pipis di tengah pertandingan pasti susah jalannya.
    4. Perhatikan kesehatan anak-anak. Ketika Mas Suami mengajak nonton, artinya mulai itu juga mbak Ai harus dijaga kondisinya. Buat Ai yang punya riwayat alergi, kondisi banyak asap dan debu bisa bikin dia batuk dan sesek. Jadi saya dan Mas Suami harus memastikan kondisi tubuh Ai selalu oke dengan asupan makanan yang cukup dan bergizi.

    Yah begitulah persiapan buat nonton PSS live kemarin, ribet tapi yang penting anaknya sehat selamat sentosa ? Walaupun saya tahu pasti rasanya gak enak pake-pake masker segala, tapi yo dipake aja Ai, demi kesehatanmu.

    Jadi, sampai berjumpa di PSS Day selanjutnya. Ale…!!!

    https://www.instagram.com/p/BZRMV_FgrlY/?taken-by=dirottsaha

  • Ai’s Adventure. Chapter 4: Anak SD

    Tanggal Senin, 17 Juli 2017 kemarin adalah hari yang berbeda dari hari Senin yang biasanya. Bisa dibilang itu adalah hari yang bersejarah juga buat saya dan mas suami. Emang kenapa? Karena mbak Ai mulai 17 Juli 2017 officially jadi anak SD! Aaak… uda gede aja ?

    Boleh dibilang norak lah ya, tapi ini adalah pencapaian baru dalam milestone saya dan mas suami: punya anak usia sekolah. Rasanya? Nano-nano! 

    Dengan ini juga hidup saya mulai berubah. Sekolah Ai mewajibkan anak-anak untuk tiba di sekolah paling lambat pukul 06.40 pagi. Yang berarti, Ai paling lambat harus sampai sekolah pukul 06.30. Yang berarti, kami harus bangun pagiii ?

    Dan Senin tanggal 17 Juli kemarin, petualangan baru kami dimulai. Bangun lebih pagi dari biasanya, dan menyiapkan Ai untuk siap ke sekolah. Mas suami sengaja ambil cuti demi mensukseskan hari pertama Ai sekolah. Dan kami sukses berangkat sekolah dengan kedinginan ?

    Sampai sekolah, meskipun awalnya Ai masih brebes mili, lambat laun dia mulai berhenti menangis dan ketemu teman baru. Meskipun masih sama-sama malu alhamdulillah Ai mau berteman dan mengikuti arahan Nda Guru dengan senang hati. Ah, ini baru hari pertama, masih 6 tahun nanti dia dan saya juga mas suami akan berproses bersama.

    Well, hidup tidak sama lagi seperti waktu Ai masih TK, jelas. Masih mencoba-coba biar ketemu ritme yang pas, jadi yah masih kadang terburu-buru. 

    Selamat sekolah, Ai. Insyaallah dapat teman baru dan pengalaman baru yang bikin Ai tambah cerdas dalam hidup. Insyaallah Ai selalu diberi kesehatan, aamiin. 

    Mari kita belajar bangun pagi ?

  • Ai’s Adventure. Chapter 3: Seleksi Masuk SD

    Seperti di cerita sebelumnya, saat ini status Ai adalah anak TK yang akan lanjut ke SD. Yaaayy…! Alhamdulillah.

    Dari banyak sekolah yang saya lihat dan pertimbangkan untuk Ai bisa masuk, ada dua SD yang saya dan mas suami pilihkan untuk Ai. Dan tentu saja untuk masuk SD ada proses seleksi yang harus diikuti anak-anak, ya kan. Dan alhamdulillah Ai sudah mengikuti proses seleksi di kedua sekolah tersebut pada Februari 2017 lalu.

    Saya dan mas suami sebenarnya yang sangat deg-degan dan bertanya-tanya, “aduh gimana nih, Ai bisa gak ya?” *cemas mode: ON. Jadilah jauh-jauh hari sebelum hari H saya dan mas suami sudah ini itu macam-macam sama Ai. Semacam petuah yang entahlah dia ngerti apa gak 😀

    Seleksi yang pertama dilakukan di SDIT Salman Al Farisi. Dari penjelasan pihak sekolah, akan dilakukan tes penjajakan yang berupa observasi terhadap calon siswa. Tapi bagaimana dilakukannya, nah ini yang saya dan suami sama-sama belum tahu.

    Sabtu pagi, 4 Februari 2017 kami bertiga berangkat dari rumah. Sampai di SD Salman, Ai terlihat cukup tegang juga. Dia tidak mau melepaskan gandengannya dan nempel sama saya terus. Mungkin dia juga kaget melihat lebih banyak orang daripada biasanya. Sementara memang jumlah siswa di TKnya tidak sebanyak ini.

    Alhamdulillahnya, dari pihak sekolah mengadakan ice breaking lebih dulu. Jadi anak-anak diajak membuat lingkaran dan bernyanyi-nyanyi bersama. Dan Ai tertarik! Dia mau melepaskan tangannya dan ikut bergabung bersama anak-anak lain. Bermain dan nyanyi.

    Nah, setelah itu baru anak-anak dibuat menjadi kelompok-kelompok kecil untuk diobservasi. Proses ini dilakukan tertutup di ruang kelas, orang tua diharap menunggu di luar. Saya dan mas suami lega karena Ai tenang saja masuk kelas, gak pake nyariin mamapapapnya hehe…

    Selama kurang lebih satu jam Ai berada di dalam kelas, akhirnya dia keluar jugak! Hoho, dan masih mau main-main. Ini menyenangkan sekali. Tanya-tanya Ai, tadi ngapain aja di dalam, katanya suruh gambar, gambar naga katanya. Asumsi saya, selain observasi behavior mungkin anak-anak ini juga dikenai tes proyeksi, lewat dragon test (ini sok taunya saya aja sik :D).

    Kegiatan anak-anak selama proses seleksi di SD Salman Al Farisi.

    Okaaayy… seleksi di SD pertama selesai dengan gembira ria 😀

    Dua minggu setelah itu, Sabtu pagi 18 Februari 2017, Ai kembali mengkuti seleksi di SD Muhammadiyah Pakem. Pilihan SD yang lain yang saya dan mas suami persiapkan untuk Ai. Mungkin karena sudah pernah mengikuti seleksi sebelumnya, Ai juga sudah lebih tau kurang lebih apa itu seleksi masuk. Cuma saya menjelaskan lagi sama dia kalau seleksi di SD ini berbeda dengan sebelumnya, karena nanti majunya satu-satu. Saya jelaskan Ai akan ditanya ini itu sama bapak atau ibu guru di SD ini.

    Sama seperti sebelumnya, ketika sampai di sekolah, Ai mungkin juga merasa tegang, karena dia kembali tidak melepaskan tangannya dari gandengan saya. Kali ini saya going solo karena mas suami jadi futsalmen bersama teman kantornya. Setelah daftar ulang dan menunggu saya juga berusaha mengalihkan ketegangan Ai sambil ngobrol dan melihat-lihat sekolah.

    Pada awalnya, dia bilang, “mamap aku gak berani” tapi ya disemangati terus. Ketika proses seleksi akhirnya mulai, Ai masih menunggu giliran, dan sambil melihat anak-anak lain. Akhirnya ketika sampai gilirannya untuk masuk dia mau masuk sendiri (sambil selalu dibilangi, mamap melihat dari luar ya :D)

    Yah, begitulah, seleksi di SD ini lebih personal dan melewati banyak pos. Ada pos penggalian potensi, pos sosial, pos kognitif, dan pos iqro. Sepengamatan saya, Ai mau menjawab apa yang ditanyakan dan melakukan apa yang diminta oleh tester walaupun dengan suara pelan dan agak malu-malu. Sementara saya deg-degan setengah mati nungguinnya 😀

    Ketika akhirnya menyelesaikan seluruh proses seleksi dan keluar ruangan. Saya amati juga ada rasa lega yang terlihat dari wajahnya. “gimana tadi?” tanya saya, dia jawab “bisa”. Okedeh, alhamdulillah dia tidak menangis dan mau kooperatif mengikuti seleksi semampu dia. Itu lebih dari cukup hehehe…

    Kegiatan anak-anak selama proses seleksi di SD Muhammadiyah Pakem.

    Jadi begitulah, si Ai yang sedang berproses jadi anak SD, mamapapapnya juga ikut berproses bersama dia. Semoga saya dan mas suami selalu bisa memahami dan mengimbangi setiap perkembangan Ai ya, insyaallah 😀

    SEMANGAT!

  • Ai’s Adventure, Chapter 2: Hari Anak Nasional

    Memperingati Hari Anak Nasional yang jatuh di hari Sabtu, 23 Juli 2016, Ai dapat kesempatan untuk merayakannya dengan pengalaman yang tidak biasa. Yap, jadi pada Sabtu lalu, Ai dan teman-teman sekolahnya diundang untuk datang ke Mata Aksara, untuk bergembira ria bersama dan sekaligus berkenalan dengan Cican. Siapakah Cican itu?

    https://www.instagram.com/p/BIH3RRrgK7t/?taken-by=mataaksara

     

    Jadi, Cican, adalah tokoh utama dalam serial cerita anak Cican. Penulisnya adalah Wahyu Aditya yang juga seorang animator. Cican digambarkan sebagai seekor kelinci putih yang diharapkan bisa menjadi sahabat anak Indonesia. Melalui karakter Cican ini, penulisnya memasukkan nilai-nilai dan norma yang harus anak-anak pahami. Daripada selalu menasehati anak, pesan moral yang disampaikan melalui cerita atau dongeng biasanya lebih mudah diserap dan dipahami anak.

    Acara ini juga melibatkan orang tua atau Ibu (karena kebanyakan yang nganterin adalah ibunya ya) dalam sarasehan mengenai pentingnya bercerita (membacakan cerita) pada anak. Seperti juga yang pernah dibahas di gulang-guling soal manfaat mendongeng pada anak, tidak hanya soal menyampaikan cerita pada anak, tapi bercerita juga bisa mempererat bonding antara anak dan orang tua.

    Nah, soal penyampaian cerita, ternyata ada pembahasan mengenai ini lebih lanjut. Jadi menurut pak pendongeng yang kemarin tampil, bagaimana intonasi suara saat bercerita juga secara tidak sadar berpengaruh pada anak lho. Tidak perlu bercerita dengan heboh, tapi bagaimana kita sebagai pencerita mengisi emosi pada setiap kalimat yang kita sampaikan. Kita HARUS mengisi emosi pada tiap kalimat yang kita ceritakan. Usahakan jangan datar-datar saja. Jadi anak juga mengerti, “oh, begini ya kalau sedang situasi senang, atau marah, atau sedih, atau takut.”

    Konsentrasilah pada anak dan pada cerita yang kita sampaikan, usahakan jangan disambi mengerjakan yang lain. Tidak perlu waktu yang lama, paling tidak 15 menit saja. Tapi buatlah 15 menit itu berkualitas untuk anak dan kita. Cukup banyak juga manfaat sharing yang kemarin disampaikan saat sesi sarasehan, dan juga dapat buku karena berhasil jawab kuis, itu menyenangkan 😀

    https://www.instagram.com/p/BIMNLw3Aa-u/?taken-by=dirottsaha

     

    Ai juga seneng, karena dapat waktu bermain banyak bersama teman-teman. Dan yang penting menumbuhkan jiwa berani dan mau berpartisipasinya itu lho. Harapannya sih akan ada banyak acara seperti ini ya, yang membuat anak berpartisipasi aktif dan berani untuk mengemukakan pendapatnya. *banyak amat requestnya yak 😛

    Ternyata oh ternyata jadi orang tua itu ya begitu. Harus selalu catch up dalam segalanya, in order to make anak-anak kita canggih ya. Hoho, petuah dan harapan ala saya sih begitu.

    Oya, kemarin Ai juga sempet diajarin senam pinguin lho. Yang lucu itu, kalo mau au bisa lihat disini. Simpel juga untuk ditirukan anak-anak seusia Ai.

    https://www.youtube.com/watch?v=U-5mX1KfErE

  • Pengingat

    image

    Found this pic, and feel a thousand emotions.
    Jaman ketika si Ai belum genap sebulan kira-kiranya.
    Dan jadi ibu baru dengan segala nano-nanonya.
    Itu wow.
    Wow.

    Alhamdulillah.

  • Hospitalized.

    Oke, mari berbagi cerita.

    Yah… memang dunia parenting itu penuh petualangan ya. Kadang asik kadang ga asik, tapi yang pasti semuanya SERU. Seru dalam versinya masing-masing pastinya. Bikin tambah pengalaman dan pembelajaran buat saya dan mas suami. Kami yang baru punya anak satu ini, walaupun sudah mengarungi dunia parenting kira-kira hampir 5 tahun, nyatanya kami masih blank kalo berhadapan sama suatu hal yang bikin senam jantung. Dan awal April kemarin, momen senam jantung itu hadir di keluarga kecil kami.

    Ya… setelah badai cacar datang menyerang bertubi-tubi, dan pada akhirnya saya juga menyerah kalah karena kena cacar juga. Yap, saya pun terkena serangan cacar yang bikin meriang gak jelas selama 3 hari. Mungkin saya mengalami yang namanya pusing tujuh keliling itu ya kemarin, tidur pusing, merem pusing, melek pusing, duduk pusing, apalagi berdiri, oh tidak kuat tentunya. Mual muntah, demam meriang, itu HANYA efek dari cacar. Ealah menderitanyaaa…

    Saya sakit, praktis mas suami dan Ai gak keurus. Beruntung masih dibantu Kung, Uti dan Tantes, alhamdulillah masih dekat dengan orang tua. Selagi meriang berangsur-angsur berkurang, lesi-lesi cacarpun muncul. Alhamdulillah lagi gak banyak muncul, hanya beberapa. Jadi muka masih mulus hohohoho…

    Selagi semua perhatian ke saya, dan saya pikir ini sudah penghabisan, karena semua orang sudah kena serangan cacar, ternyata perkiraan itu masih salah. Ternyata masih ada ujian lain menghadang di depan mata. Korbannya? Si Ai. Huhuhu… 🙁

    Kayanya hari Selasa berjalan normal seperti biasa, Ai sekolah seperti biasa, mas suami ngantor seperti biasa. Tiba saatnya tidur malam, tiba-tiba mas suami mendeteksi panas tubuh yang gak biasa dari Ai (saya masih tidur terpisah, masih cacar). Saya dan mas suami, paling parno kalo si Ai demam. Ya, saya tahu sih, sebaiknya ga buru-buru dikasih obat, tapi saya langsung meminumkan obat turun panas buat antisipasi. Setelah itu tidur lah kami, ya tidur sambil waspada. Dan ternyata malam itu kami tidak ada yang bisa tidur, pasalnya Ai kemudian muntah-muntah sepanjang malam sampai pagi. Haduh ada apakah ini???

    Setelah itu, bisa ditebak, Ai sakit, menolak makan, bilang kalau perutnya gak enak. Malam hari panas tinggi, siang hari membaik tapi masih semlenget. Bikin bingung. Akhirnya setelah dua hari, kamis subuh saya dan suami membawa Ai ke RS. Diagnosa dokter, masih panas biasa, obat dilanjutkan saja, tapi dianjurkan untuk cek darah pada hari ketiga. Jumat, saya kembali lagi ke RS untuk periksa dan cek darah, dan benar saja, ternyata dugaan mengarah ke DEMAM BERDARAH. Pasalnya trombosit Ai terdeteksi 158ribu dari minimal 150ribu. Dokter menyarankan untuk cek darah lagi (iya, lagi!) esoknya untuk memastikan dugaan DB itu. Sabtu, kami kembali ke RS untuk cek darah, dan iya saja, trombosit Ai sudah merosot lagi ke 91ribu. Dokter langsung menyarankan opname hari itu juga, karena kasus DB adalah kasus yang butuh penanganan secara cepat dan tepat. Salah penanganan, bisa bahaya.

    Jadilah mulai sabtu siang, kami semua pindah tidur ke RS. Yah, paling tidak kami tahu, kenapa Ai panas tinggi terus menerus. Menurut hitungan, kami masuk ke RS pada hari ke-4 dalam siklus DB. Biasanya mulai hari ke-5 sampai hari ke-7 demam akan turun, tapi ini adalah mas kritis dan kecenderungannya trombosit juga ikut turun, itu yang harus dipantau terus menerus. Ah, entah berapa kali Ai diambil darah untuk di cek di lab. Alhamdulillah, dia gak nangis, gak nambek, gak protes. Kuat ya, Ai.

    Pihak RS juga memberi tugas buat saya, selain observasi gejala yang tampak lewat mata, saya juga dikasih chart yang harus diisi. Jadi semua asupan makanan dan minuman si Ai harus dicatat jam berapa masuk ke tubuh, apa jenisnya, berapa banyaknya. Begitu juga apa yang keluar dari tubuh harus diperhatikan dan dicatat. Pipis, pup, dan muntah (kalau ada) jam berapa, bagaimana penampakannya, ya gitu-gitu. Pipisnya juga ditampung, jadi inilah salah satu keuntungan punya mama gendut, karena pipisnya ditatur, ya lumayan pegel lah berapa menit gitu ngangkat-ngangkat si bocah. Mas suami ngapain? Dia kebagian tugas megangin kantong infus 😛

    Sempat turun sampai hitungan 59ribu, pada hari ke-6 trombosit Ai mulai naik, nafsu makan juga mulai membaik, badan sudah tidak lemas, dan bisa ketawa ketiwi cerita hepi. Ah, ini sudah menuju kesembuhan. Setelah 5 hari menginap di RS, akhirnya setelah dipastikan trombosit Ai sudah 133ribu (trombosit sudah naik diatas 100ribu), akhirnya kami diperbolehkan pulang. Tentu saja dibawakan oleh-oleh obat segambreng yan gharus dihabiskan. Tapi alhamdulillah, DB sudah berlalu, Ai kembali sehat dan makan banyak.

    Rupanya DB juga menyebabkan komplikasi di organ dalam perut seperti empedu dan hati. Kecenderungannya, hati akan bengkak dan menyebabkan perut mengembung besar dan keras. Ini juga yang menyebabkan tubuh sulit kemasukan makanan. Paru-paru juga biasanya akan kelebihan cairan, nah kalau ini adalah efek samping dari infus. Karena cairan dari infus masuk ke tubuh, salah satunya juga masuk ke paru-paru. Dari pengamatan, DB yang dialami Ai masih termasuk dalam kasus DB ringan. Pada kasus DB menengah dan berat, biasanya penderita akan sangat sulit makan, dan trombosit merosot jauh hingga harus dibantu tranfusi darah atau tranfusi plasma.

    Alhamdulillah sekarang sudah sehat semua, dan bismillah selalu sehat. Alhamdulillah ada Yangti yang pas banget datang. Yah, pengalaman berharga sekali. Semua orang tanya digigit nyamuk dimana, yah saya juga gak tau. Mengingat Ai ini anak yang aktif kesana kemari, kemungkinan digigit nyamuk dimana saja bisa. Plus mungkin kondisinya kemarin pas semua sakit jadi agak tidak terperhatikan. Maaf ya, Ai…

    https://www.instagram.com/p/BEGGYZDFn6c/?taken-by=dirottsaha

     

    Terimakasih buat semua yang menyempatkan jenguk Ai di RS dan di rumah. Terimaksih untuk semua doanya, semua perhatiannya. Semoga kita semua selalu diberi kesehatan yaaa… aamiin 😀

  • Badai Cacar Air

    Jadi pertama-tama marilah kita panjatkan Al Fatihah untuk kesehatan kita semuanya. Al fatihah…

    Hmm… jadi di rumah lagi kena serangan badai cacar air. Ya datangnya sih memang ga barengan, tapi bertubi-tubi. Dan korbannya kali ini adalah mas suami. Sambaaat, ini adalah kado menjelang pergantian umur ke tiga puluh kalo kata saya hehehe…

    Sebelumnya, awal bulan Maret ini si Ai juga kena cacar air. Dia terinfeksi karena di sekolah cacar air juga menyerang secara bertubi-tubi. Setelah awalnya bulan Februari berganti-ganti teman sekolah Ai gak masuk karena cacar, akhirnya yang terakhir sekaligus 5 anak yang gak masuk. Saya yang waktu itu parno juga usaha menjauhkan Ai biar gak kena cacar. Nah setelah semua anak sembuh dan aktif kembali, kok ya ndilalah malah si Ai yang kena cacar. Gak selamat rupanya.

    Beruntung waktu itu, kayaknya virus yang nempel ini sudah gak ganas banget. Jadilah Ai cuma dapat beberapa bintil cacar air di bagian leher dan badan. Gak banyak lah, bisa dihitung kok. Dan gak ada demam atau meriang, jadi si anak libur semingguan tapi ya sehat aja, cuman cacar.

    Waktu akhirnya cacar menyerang Ai, saya sih berasanya ya sudahlah. Cuman, waktu itu mas suami parno berat. Gak mau dia dekat-dekat karena takut ketularan. Pasalnya, saya dan mas suami memang sama-sama belum pernah kena cacar air.

    Ternyata eh ternyata, setelah 2 minggu berlalu dengan tenang, saya pikir sudah beakhir ya serang cacar ini. Memang yan paling dikhawatirkan kan ya si anak. Karena si anak sudah kena dan sembuh, jadilah mungkin saya dan suami agak lengah dan santai kali ya. Ealah ok tak dinyana-nyana si virus ini masih nempel kemana-mana. Suami yang dari awal minggu lalu sudah merasa gak enak badan akhirnya jadi korbannya deh. Kamis, rasameriang semakin muncul, dan Jumat, lesi pertama muncul. Selamat, anda akhirnya kena cacar! huhuhuuu… 🙁

    Ya sudah, mau gimana lagi. Sembari minum obat 5xsehari 2tablet sekali minum itu juga harus meningkatkan daya tahan tubuh. Dan pesaan dari ibu dokter, penghuni rumah lain juga harus jaga kesehatan. Dilarang sakit selama 1 bulan kedepan! Daya tahan tubuh gak boleh menurun, karena virus ini akan masuk kalau kita sedang gak fit.

    Fiuh… semoga semuanya sehat ceria kembali seperti sedia kala ya.

    salam sehat!

  • HATI-HATI BERKENDARA!

    Ini serius ya, berhati-hatilah selalu berkendara di jalanan. Karena bahayanya gak main-main.

    Sebenarnya ini adalah salah satu poin yang sudah orang tau ya. Kita pasti sudah paham harus bagaimana ketika berkendara. Harapannya, selain tau, juga dipraktekkan. Karena sehati-hatinya kita di jalanan, pasti selalu ada orang yang mungkin terburu-buru jadi lupa deh soal safety di jalanan.

    Beberapa hari yang lalu, sore hari ketika sedang berkendara, ada kejadian yang tidak enak. Bukan menimpa saya,  tapi saya adalah saksi mata langsung. Ada seorang anak kecil (3 tahunan) yang tertabrak motor. Gara-garanya, dia pengin menyusul si ibu yang sudah ada di seberang. Namanya anak kecil, gak ada yang mengawasi, main nyelonong lari aja deh. Tapi ada motor yang sudah dekat dan gak bisa lagi menghindar, si pengendara juga kaget. Tertabraklah si adek. Untungnya laju motor gak kenceng. Si ibu dan sanak sodara si adek langsung histeris, teriak panik. Si mas pengendara, langsung mengajak ke rumah sakit. Semoga sih gak ada luka yang serius.

    Saya yang datang dari arah berlawanan, ikut syok. Langsung berhenti di pinggir jalan karena lutut lemes jantung deg-degan parah. Ya ampun, kejadian di depan mata. Bener-bener ikut bingung juga, dan pengen nangis juga. Huff…

    Pembelajaran banget buat semua orang. HATI-HATI DI JALANAN! Apalagi yang punya anak kecil yang aktif, wah kudu ekstra pengawasan, banget.

    Untuk yang berkendara, safety first. Pakai kelengkapan berkendara. Karena sekali lagi, sehati-hatinya kita, pasti ada saja kejadian yang mungkin melibatkan orang lain yang kurang hati-hati.

    Terutama, jaga anak-anak kita baik-baik. Kalau memang tidak bisa menjaga sendiri, mitalah tolong orang lain yang ada di rumah untuk membantu mengawasi. Karena anak-anak terutama balita, masih belum paham soal bahaya di sekitar mereka.

    wew, bukan pengalaman yang menyenangkan, tapi sarat pembelajaran.

    semoga anak-anak dan keluarga kita selalu ada dalam lindungan Allah ya, aamiin.

  • Catatan Mamap: Happy Sekolah #medium: Oct 7, 2015

    Pulang mengantar Ai sekolah, dengan tenang dan bahagia.

    Alhamdulillah. Ya, agak lebay sedikit lah memang, tapi gapapa. Setelah segala proses yang cukup lama dan cukup membuat frustasi itu, akhirnya hari-hari mengantar ceria datang juga. Melihat Ai dadah-dadah mamap dengan hepi itu sudah sebuah pencapaian yang oke banget dalam tahap perkembangan dia, di umur empat tahunnya.

    Setelah kurang lebih sebulan, proses mengantar-menunggui-menangis dan lain-lainnya, sekarang Ai mulai ngerti lah, bagaimana sekolah itu. Setelah semua petuah-nasihat-omongan mamap yang entahlah dia paham atau gak, akhirnya sekarang dia bisa dadah-dadah hepi. Itu semua, alhamdulillah.

    Anak-anak, apalagi balita. Iya lho, si Ai itu masih balita, masih belum ada lima tahun umurnya. Aih, anakku, kadang sayapun lupa… hehe. Makhluk yang namanya anak-anak, menurut pengalaman saya selama ini, adalah makhluk yang sangat unpredictable. Tidak bisa ditebak bagaimana mood-nya. Belum tentu karena bangun tidur hari ini dia hepi, maka akan hepi juga esok hari. Kadang, tiba-tiba mewek, cranky seharian, atau tau-tau apalah. Ya begitu.

    Pengalaman ikut sekolah Ai sebulan itu juga ternyata membuka pikiran saya. Ya selama ini saya HANYA berurusan sama satu orang anak sehari-harinya. Selama sebulan ikut di dalam kelas dan juga tentunya berinteraksi bersama teman-teman sekolah Ai, saya sadar juga ternyata anak itu macam-macam juga. Yang di sekolah selalu pintar berdoa, pintar mengerjakan tugas, ternyata masih menangis juga ketika mamanya terlambat menjemput. Yang selalu terlihat happy, dan bisa ngemong teman lain, kadang menangis kalau guru favoritnya belum terlihat datang. Atau sedih karena naik motornya jalannya kurang jauh. Ya soal sepele menurut kita yang sudah tua ini, tapi matter most untuk anak-anak ini.

    Kadang, saya merasa kurang juga dalam mendampingi Ai. Kadang saya memilih untuk tidak mau paham keinginannya. Kadang saya memilih untuk sibuk mengerjakan hal lain daripada menemani dia. Dan untuk itu saya mengaku salah, dan gak bangga jadi ibu yang seperti ini. Hehe.

    Inipun, baru permulaan perjalanan hidup Ai yang insyaaallah masih sangat paaanjang dan berwarna-warni. Semoga selalu ada saya dan mas suami yang selalu mendampingi. Semoga kami bisa menemani, sesuai apa yang dia inginkan. Semoga.