Category: Recipes

  • Catatan MPASI Aya

    Sooo… it’s been a while ya?! ?

    Bayi #2 sudah beranjak pada saatnya makan. Dan tentu saja ini perlu persiapan ini dan itu. Mamap kembali belajar soal per-mpasi-an ini. Banyak sekali hal yang berubah dari 7 tahun lalu ketika memulai mpasi Mbak Ai.

    Dari yang masih saya ingat dan saya pelajari dulu, menu tunggal disarankan untuk memulai MPASI. Bayi diperkenalkan berbagai jenis makanan satu persatu, mulai dari cerealia (seperti beras-berasan atau biji-bijian) atau buah atau sayuran. Protein nabati dan hewani khususnya diperkenalkan lebih lambat ketika anak sudah berusia 7 bulan+.

    Ketika belajar untuk persiapan MPASI Aya, panduannya sudah berubah. Sekarang ditekankan pemberian gizi berimbang pada awal MPASI. Artinya, anak akan langsung diperkenalkan pada menu lengkap untuk memenuhi nutrisinya. Menu harian anak harus mengandung komposisi lengkap dari karbohidrat, protein nabati, protein hewani, sayuran, dan lemak.

    Browsing kanan kiri jadi bingung, makin banyak bacaan jadi makin bingung. Ini terus gimana cara masaknya ya? Kira-kira begitu sih yang terlintas di kepala saya. Sampai akhirnya saya baca blognya Mbak Jihan dan dapat pencerahan, lalu saya memutuskan untuk slow down. Saya harus selow dan ga usah kehebohan, daripada bingung sendiri. Dan setelah baca-baca blog tersebut, saya mantap untuk memberikan menu tunggal dulu di awal mpasi Aya.

    Saya mulai pengenalan makanan dengan buah. Karena dari apa yang saya baca, buah cukup bersahabat untuk mencegah sembelit dan cukup rendah menimbulkan reaksi alergi pada bayi. Jadi beginilah apa yang saya catat pada awal MPASI Aya.

    Day 1
    Pagi: pisang kerok + asip, reaksi: biasa aja ga lahap tapi masuk, masih sulit menelan, ngantuk.

    Day 2
    Pagi: pisang kerok + asip, reaksi: masih mingkem kalo disodori sendok.

    Day 3
    Pagi: pisang kerok + asip, reaksi: idem.

    Day 4
    Pagi: apukat + asip, reaksi: menerima dengan senang hati, tapi kalo kelamaan keburu bosen.

    Day 5
    Pagi: apukat + asip, reaksi: oke, no pup

    Day 6
    Pagi: apukat + asip, reaksi: agak susah mangap, need ekstra usaha bikin aya mangap, porsi mungkin terlalu banyak. No pup.

    Day 7
    Pagi: kentang + evoo + asip, reaksi: nooo ?

    Sore: semangka, reaksi: oke, agak susah kalo disendokin karena air, aya maem pake dot jaring

    Day 8
    Pagi: kentang + brokoli (masak pake bawang brambang) + evoo + asip, reaksi: LAHAP kuterharu alhamdulillah ?

    Sore: semangka

    Day 9
    Pagi: kentang + brokoli + evoo + asip, reaksi oke

    Sore: semangka

    Day 10
    Pagi: beras putih + brokoli + evoo + asip (nasak pake bawang brambang), reaksi: oke aja

    Sore: bubur beras merah promina + asip, reaksi: oke

    Day 11
    Pagi: beras putih + labu siam + evoo + asip, reaksi: mau tapi kurang semangat

    Sore: bubur beras merah promina + asip, reaksi: oke

    Day 12
    Pagi: beras putih + labu siam + kacang merah + evoo + asip, reaksi: oke tapi keburu ngantuk

    Sore: bubur beras merah promina + asip, reaksi: no

    Day 13
    Pagi: kacang merah + labu siam + tahu, reaksi: nope

    Day 14
    Pagi: skip makan karena pergi cukup jauh, pulang ke desa

    Sore: semangka

    Day 15
    Pagi: bubur beras putih cerelac, reaksi: gamau buka mulut. Coba crackers, mau makan sendiri tapi ga bisa nelannya ?

    Sore: bubur beras promina, dicoba makan sendiri, jadi masuknya dikit, no pup

    Setelah 2 minggu menu tunggal, dikarenakan hectic mudik lebaran dan sepertinya antusiasme Aya juga biasa aja, akhirnya acara makan berhenti selama seminggu.

    Saya cukup frustasi juga karena Aya susah buka mulut, dicobakan ini itu reaksi tetap negatif. Masak sendiri reaksi si bayi mingkem. Saya variasikan kadang beli bubur bayi sehat juga sama mingkemnya. Saya cobakan bubur bayi instan juga mingkem. Laaah… terus gimana yah…

    Setelah berhenti seminggu, mulai lagi sepulang mudik dengan menu lengkap 4 bintang (karbo, protein nabati, protein hewani, dan sayur).
    Lemak tambahan: evoo 1 sendok makan aya, ditambahkan ke bubur tiap kali makan.
    Cemilan: keju atau biskuit bayi atau buah, di sela-sela makan.
    Makan 2 kali sehari, pagi dan sore.

    Akhirnya kembali lagi, saya merendahkan ekspektasi saya, yang penting saya mengenalkan rutinitas makan pagi dan sore. Porsi makan juga saya kurangi, yang penting Aya tahu bahwa oh ini saatnya makan. Sekarang Aya sudah hampir 8 bulan, dan alhamdulillah dia mau makan dan buka mulut dengan sukarela.

    Yang belum saya pahami, ternyata makan pada bayi itu pembiasaannya memang butuh waktu. Ada bayi yang langsung lahap dan pintar makan. Dan ada juga bayi yang butuh waktu lebih lama untuk belajar dan siap makan. Dan Mamap juga ternyata butuh waktu untuk memahami ini semua.

    Jadi, Aya sudah makan apa saja?
    Karbo:
    – beras putih
    – kentang

    Protein hewani:
    – ayam
    – ikan (gurame, dori, & nila)
    – udang
    – hati ayam

    Protein nabati:
    – kacang merah
    – kacang ijo
    – buncis
    – tahu
    – tempe

    Sayuran:
    – wortel
    – tomat
    – daun kelor
    – sawi hijau
    – sawi putih
    – kacang panjang
    – labu siam
    – kembang kol

    Buah:
    – pisang
    – apukat
    – semangka
    – melon
    – jeruk

    Sementara baru segitu, bismillah ke depan semakin sehat dan banyak variasi lagi maemnya, aamiin.

    Seperti kata dokter Tiwi, bahwa makan adalah proses belajar. Bukan cuma si bayi yanh belajar makan, tapi juga belajar berproses dan belajar sabar untuk orang tuanya. Smangat!

    https://www.instagram.com/p/BzbaEEXnbTF/

  • Sambal Goreng Teri

    Semenjak menikah, atau tepatnya setelah jadi ibu-ibu, saya merasa seneng kalo dikasi ubo rampe dedapuran. Macam gula jawa, kerupuk, ikan asin. Hal-hal yang sangat tidak menarik perhatian saya sebelum menikah lah pokoknya. Karena menurut saya waktu itu ngapain dong ya ngasih orang kok ngasihnya gula doang.

    Ternyata GULA DOANG itu bermanfaat! ?Ckikikiki…? Sungkem sama ibu-ibu sekalian?

    Beberapa saat yang lalu, seorang teman mengirim teri dari seberang pulau sana. Terima kasih ya Jeng Riiiss… Ya meskipun teri itu di pasar juga ada banyak, tetep aja ini harta karun yang menyenangkan. Yasss!???

    Dan kemarin setelah mikir-mikir mau dimasak apa yak teri ini. Yang dikirimin ini teri kecil-kecil, entah teri medan atau semacamnya gitu lah (saya gak tau namanya). Makanya mari kita buat sambel teri aja, lumayan buat temen makan ya kan. Atau lumayan bisa jadi nostalgia yang kangen dengan sambel teri ala angkringan (pengakuan mas suami yang adalah alumni sambel teri di angkringan).

    Sambal Goreng Teri

    Bahan: Teri medan atau teri yang kecil, kira-kira 250 gram

    Bumbu halus:

    Bawang putih 2 siung
    Bawang merah 4 siung
    Cabe merah, segenggam atau menurut selera
    Cabe rawit, 5 buah (gak pake juga gak papa)
    Kemiri 3 butir
    Tomat 1 buah

    Daun salam 3 lembar
    Daun jeruk 2 lembar
    Sereh 1 batang
    Lengkuas 3 cm
    Gula merah secukupnya
    Gula pasir secukupnya
    Garam secukupnya

    Cara membuat:

    1. Goreng teri hingga matang dan renyah, sisihkan.
    2. Haluskan bawang putih, bawang merah, cabe, kemiri, dan tomat. Saya blender semua sampai halus.
    3. Panaskan wajan, masukkan bumbu halus, masukkan daun salam, daun jeruk, sereh, dan lengkuas, tumis hingga harum.
    4. Masukkan gula dan garam, sesuaikan dengan selera.
    5. Masukkan teri yang sudah digoreng, aduk merata hingga teri dan bumbu tercampur rata.
    Sambel Teri Mamap

    Sambal teri ini cocok untuk teman makan, dan bisa disimpan cukup lama asalkan disimpan dengan benar dalam wadah tertutup rapat.

    Daaann… tentu saja COCOK kalo dijodohkan sama nasi angeeett!

    Huennnaak!

    Salam teri!

  • Pais Labu Kuning

    Kembali mendapur bersama Mamap!

    Hoho… jadi beberapa saat yang lalu saya melihat ada yang share resep pais labu, dilihat-lihat kok jadi kepengin ya… Jadilah jiwa mendapur kembali berkobar.

    Gugling resep, hmm… sepertinya ini bisa dicoba nih.

    Tapi eniwei, pais itu apa sih? Istilah pais sendiri banyak saya dengan ketika kemarin mudik ke Banjarmasin dan kebetulan ada tetangga yang mengirim pais pisang ke rumah. Rupanya, pais ini serupa dengan nagasari. Serupa, tapi tak sama. Ada beberapa hal yang membedakan seperti teksturnya, dan cara pengolahannya. Tapi kedua jenis makanan ini memang mirip, kalo menurut saya sih.

    Cek-cek resep, akhirnya saya pakai resep dari cookpad punya mbak Diana Endri, bedanya labu kuning saya kukus dulu baru diolah. Menurut resep sih diparut saja cukup, mengingat labu juga cepat empuk kalau dimasak. Cuma saya mencoba dikukus lalu dihaluskan dulu.

    Pais Labu Kuning

    Bahan:
    400 gram labu kuning
    2 genggam kelapa parut
    100 gram gula pasir
    150 gram tepung beras
    100 ml santan
    ½ sdt garam
    daun pisang

    Cara membuat:

    1. Kupas labu, cuci bersih, kukus sampai empuk, lalu haluskan.
    2. Tambahkan gula pasir, tepung beras, kelapa parut, santan, dan garam, lalu aduk hingga menjadi adonan.
    3. Bungkus adonan dengan daun pisang.
    4. Kukus pais labu kuning kurang lebih 30 menit.
    5. Sajikan

    Penampakan si pais labu kuning

    Enak lho, legit dan manisnya pas. Saya menambahkan irisan pisang, cuma sebagai pemanis aja sih, mumpung ada pisang di rumah. Cuman memang kurang gemuk ya si pais, jadi makannya gak cukup satu hehehehe… 

    Cara bungkusnya gimana? Simple aja, tinggal digulung dan dilipat, ga pake disemat. Tapi mungkin kalau daunnya kurang panjang perlu disemat di ujung-ujungnya. 

    Begini lebih jelasnya

    Nah, selamat mencoba ya! Pas buat teman ngobrol dan ngeteh. 

  • Pepes Jamur Tiram

    Belanja sayur, lihat ada jamur tiram, ah beli deh. Nah, kalau biasanya si jamur cuma digowreng atawa diosyeng, ini kok kepengin dibikin sesuatu yang lain ya. Gugling-gugling kayanya bikin pepes asik juga ni. Jadilah akhirnya golek resep.

    Setelah cari resep dan nemu yang cocok, apa sih selanjutnya? Sinau! Yoi lho, disinau sik resepnya, dibaca berulang-ulang dan dipahami serta diresapi, biar pinter 😀

    Hohoho…

    Saya pakai resep pepes jamur punya mbak Diyah Kuntari via cookpad. Jadi gak cuma murni jamur tiram aja, tapi pakai campuran tahu dan telur biar makin endeuss.

    Eniwei, saya bikin pepes ini dua kali. Percobaan pertama, sesuai resep tapi kok rasanya jamurnya gak kerasa. Jadi pas bikin lagi, saya pakai 1 bungkus tahu (isi 5) dan 2 bungkus jamur tiram. Nah, yang kedua ini menurut saya rasa jamurnya lebih kerasa dan kegigit hehehe…

    So, ini lho resepnya:

    Pepes Jamur Tiram

    1 bungkus Tahu Putih (isi 5)
    2 bungkus Jamur Tiram (disuwir-suwir)
    2 batang Daun Bawang, potong-potong
    1 batang Sereh, ambil putihnya iris halus
    1 butir Telur Ayam
    1 sdt Ketumbar Bubuk
    ½ sdt Merica Bubuk
    secukupnya Gula dan Garam

    Bumbu halus :
    10 siung bawang merah
    5 siung bawang putih
    2 buah cabe merah besar
    3 cm kunyit
    3 butir kemiri
    secukupnya minyak untuk menumis

    Bahan lain:
    secukupnya Daun Pisang (bersihkan, lalu jemur hingga agak layu dan lemas)
    secukupnya Tusuk Gigi, untuk menyemat

    Cara membuat:

    1. Tumis bumbu halus sampai wangi. Matikan api.
    2. Dalam wadah hancurkan tahu sampai halus, beri tumisan bumbu, merica bubuk, ketumbar bubuk, gula, garam, serei dan telur aduk rata. Masukkan jamur dan daun bawang. Aduk rata dan koreksi rasanya.
      *bisa ditambah pedas beri potongan cabe rawit jika ingin lebih pedas.
    3. Ambil 1-2 sdm adonan pepes, taruh dalam potongan daun pisang. Bungkus dan sematkan. Lakukan sampai adonan habis.
    4. Kukus pepes jamur selama 15-20 menit.
    5. Bila suka, pepes bisa dipanggang sebentar dalam teflon untuk menguatkan aroma.
    Inilah penampakan pepes jamur ala Mamap.

    Enak dimakan hangat-hangat plus nasi hangat. Selamat mencoba! 😀

  • Sup Ayam Sereh

    Musim hujan, bulan Desember, kata orang Jawa gedhe-gedhene sumber, yang mana terbukti hujannya betah banget. Kalau beberapa saat lalu di Jogja ini hujan biasanya datang jam 12 ke atas, ini bisa seharian gak mandeg loh. Betah.

    Nah, maka dari itu kudu pinter jaga badan dalam cuaca yang begini ini ya kan. Pulang sekolah kehujanan, pulang kerja kehujanan. Ya walaupun hujan itu juga harus disyukuri kan, air melimpah untuk kita. Biar hangat dalam cuaca dingin begini, bikin sup ayam yok!

    Seumur hidup saya, saya makan sup ayam ya kalo Uti bikin sup ayam di rumah. Uti (ibu saya) mewariskan resep sup ayam dengan hanya 2 macam bumbu: bawang putih dan merica. Simple dan sedap.

    Kemudian setelah merit, dan ketemu Yangti, ada seseuatu yang beda dari sup bikinan Yangti. Yangti (mertua saya) bikin sup ayam dengan cara yang berbeda dari yang dibikin Uti. Tetap menggunakan bawang putih dan merica sebagai bumbu dasar, tapi metodenya digongso dulu hingga harum, baru kemudian dimasukkan ke kuah kaldu. Ini membuat cita rasa yang beda lagi dengan sup ayam ala Uti, sedap ala Yangti.

    Sampe kemudian booming Sop Ayam ala Pak Min Klaten itu, dan saya bener-bener suka sama rasanya! Gurihnya beda dari sop ala Uti ataupun Yangti. Nah, sejak saat itu kadang saya suka beli sop ayam Pak Min ini untuk sarapan saat weekend, atau kadang dibungkus untuk dimakan rumah.

    Cape juga tapi tiap-tiap beli ya kan. Seporsi sop dada atau sop paha Pak Min itu paling gak 15K. Berat diongkos jugak hehehe… Akhirnya mulailah saya sering eksperimen mencoba-coba bikin resep ala Pak Min ini.

    Satu yang saya rasakan pasti, ada aroma jahe dari sop ayam ala Pak Min. Jadi mulailah eksperimen saya, masak sop dengan tambahan bumbu jahe. Tapi jadinya, mirip kuah kacang ijo, gak rasa sop. Hehehe… eror. Belom berhasil.

    Percobaan berikutnya, saya kurangi penggunaan jahe, dan saya menambah sedikit pala dalam sop. Hasilnya? Lumayan, agak mirip dikiiitt banget 😛

    Sampe saya menyadari sesuatu, ya memang saya gak akan bisa plek meniru rasa sop ayam Pak Min, karena penggunaan ayam yang berbeda juga menghasilkan rasa yang berbeda. Sop ala Pak Min itu menggunakan ayam merah sebagai bahan utamanya, sementara ketika saya membuat sup sendiri biasanya pakai ayam negri. Itu satu hal yang sudah beda jauh. Make sense right?! Itulah, saya cukup ber-ooo dan menerima, oh itu sebabnya sup yang saya bikin gak bisa sama rasanya.

    Akhirnya, sambil gugling-gugling aneka sup, musim hujan begini bener-bener pengen bikin sesuatu yang hangat dan gak bikin eneg. Masak pake kuah santan itu enak, tapi ya kadang bosen juga, eneg juga. Dari hasil gugling itu ketemu sebuah pencerahan: sereh! Yap, saya pun kepengin nyoba masak sup pake sereh.

    Setelah eksekusi, gimana hasilnya? HOHOHO… BERHASIL! Rasanya enak, sesuai dengan rasa gurih yang saya cari selama ini. Dan inilah resep lengkapnya:

    Sup Ayam Sereh ala Mamap

    Bahan:
    ½kg ayam negeri (pakai ayam merah atau ayam kampung pasti lebih endeus)
    *saya pakai bagian dada, singkirkan kulit  dan lemaknya.
    air secukupnya

    Bumbu:
    3 siung bawang putih
    1 ruas jari jahe
    1 batang sereh
    1 batang daun bawang (bisahkan batang putih dan daunnya)
    1 buah tomat, potong-potong
    ½ sdt merica
    ½ sdt pala
    garam secukupnya

    Cara membuat:

    1. Masukkan air dalam panci rebus, kira-kira setengahnya, didihkan.
    2. Cuci bersih ayam (saya menyingkirkan bagian kulit dan lemaknya), sisihkan.
    3. Geprek bawang putih, jahe, dan sereh, kemudian masukkan dalam panci berisi air. Masukkan juga batang daun bawang (batangnya yang putih saja), merica, pala, dan garam.
    4. Masukkan ayam ke dalam kuah yang sudah mendidih, masak hingga matang.
    5. Jika air kuah sudah mendidih kembali dan ayam sudah terlihat matang tambahkan lagi air (kalau mau kuahnya banyak) dan masukkan tomat dan daun bawang, didihkan lagi.
    6. Koreksi rasa, dan sajikan hangat-hangat.
      Dimakan hangat-hangat, rasanya beeeuh, mantap!
      Dimakan hangat-hangat, rasanya beeeuh, mantap! 

      note: untuk membuah kaldu, hanya gunakan batang daun bawang (bagian yang berwarna putih saja). Irisan daun bawang bisa ditambahkan ketika ayam sudah matang.

    Oke, selamat mencoba!

  • Oseng Benteot

    Pernah dengar tanaman bernama benteot?

    Belum pernah tahu? Nih, saya kasih tahu ya.

    Ini lho yang namanya benteot.
    Ini lho yang namanya benteot.

    Sayapun baru tahu benteot ini setelah merit sama mas suami yang bertanah air di Samigaluh, Kulonprogo. Dan surprisingly rasanya enak lho!

    Benteot, atau bentheot ini bentuknya hampir seperti kecombrang, ya gak sih? Bedanya, kecombrang atau honje lebih besar dan berwarna merah, serta mempunyai aroma yang lebih kuat dari pada benteot ini. Sedangkan benteot berukuran lebih kecil-kecil dan berwarna hijau.

    Saya sendiri kesulitan mencari info lebih soal sayur atau tanaman yang satu ini. Referensi di gugel sangat terbatas. Yang saya tahu, ada pula yang menyebut benteot ini dengan sebutan tluntak, dan sepertinya banyak ditemukan di daerah Kulonprogo dan Purworejo. Kayaknya sih gitu 😀

    Dan kemarin, waktu Yangti turun gunung, dibawakanlah seikat benteot ini. Dan kemudian dimulailah tutorial memasak benteot bersama Yangti hehehe… Ya saya aja gak tahu itu sayur apa, apalagi masaknya. Kalo makan sih pasti juara 😀

    Benteot yang dibawa ini dimasak dengan metode dioseng. Sepertinya selain dioseng, benteot ini bisa dimasak juga dengan kuah santan, atau dilodeh. Atau mungkin dimasak dengan cara lain dan dicampur bahan makanan lain seperti tempe atau yang lain sepertinya oke aja. Rasanya itu lho, rempah banget. Enak.

    Benteot dan bumbu masak.
    Benteot dan bumbu masak. Pete!

    Jadi, inilah resep oseng benteot ala Yangti:

    Bahan:
    1 ikat benteot
    2 keris pete
    5 bungkus tempe kecil

    Bumbu:
    5 siung bawang merah
    2 siung bawang putih
    10 buah cabe merah keriting (kalau mau pedas bisa ditambah)
    2 lembar daun salam
    gula secukupnya
    garam secukupnya

    Cara membuat:

    1. Kupas bagian kulit luar benteot, buang bagian yang keras. Cuci bersih, dan iris menyerong tipis-tipis. Sisihkan.
    2. Potong-potong pete, potong-potong tempe, sisihkan.
    3. Iris tipis bawang merah, bawang putih, dan cabe merah.
    4. Panaskan minyak secukupnya, masukkan bumbu yang sudah diiris, oseng hingga setengah kering.
    5. Masukkan daun salam, pete, dan tempe, tambahkan gula dan garam, oseng hingga layu.
    6. Masukkan irisan benteot, tambahkan sedikit air, dan biarkan hinga layu.
    7. Koreksi rasa, jika benteot sudah empuk maka tandanya sudah matang.
    8. Matikan api, dan sajikan.
    Tarraaa... inilah oseng benteot!
    Tarraaa… inilah oseng benteot!

    Hohoho, dimakan sama nasi anget, rasanya mantap!

  • Donat Labu Kuning

    Aloha! Masih dalam edisi rajin bikin cemilan yang kebanyakan dimakan sendiri 😀

    Jadi, kemarin setelah bikin puding labu panggang, si labu ni masih sisa aja. Sudah ikut dilodeh, tapi masih ada juga. Dan untuk penghabisan edisi labu, akhirnya kuputuskan bikin donat labu saja.

    Sebenarnya, saya paling gentar ogah bikin donat, atau sejenis roti. Soalnya nguleninya setengah mati cynn… Udah gitu gak kalis-kalis pula. Udah gitu bentuknya susah pula. Udah gitu gak ada yang mau makan pula. Ah banyak lah pokoknya alasannya hehehe…

    Tapi kemudian setelah gugling kesana kemari, mau dibikin cake juga lagi malas, ya sudahlah mari kita pertaruhkan saja. Mencoba itu gak rugi kok, ya kan!

    Saya baca-baca resep punya Catatan Nina yang sepertinya paling simpel dan cocok menurut saya. Sudah beli bahan, eh lah ternyata dirumah telur cuma sisa 1, malas keluar lagi. Akhirnya saya gugling lagi resep donat tanpa telur, dan ketemu resepnya mbak Heny Rosita di cookpad. Ah, cocok nih. Jadi mari eksekusi!

    Untuk membuat adonan donat mengembang biasanya kan digunakan ragi instan/fermipan. Nah, metode yang saya gunakan ini mempermudah untuk amatiran kayak saya yang malas nguleni lama. Ingat prinsipnya: ragi tidak boleh ketemu garam, jadi garam dicampurkan terakhir saat adonan sudah setengah jadi, jangan dari awal. Saya juga tidak mencampurkan ragi kering dengan tepung, tapi saya biarkan mengembang dulu di awal, baru dicampurkan. Caranya: campurkan ragi instan/fermipan dengan 5 sdm air hangat dan biarkan larut. Ragi akan cepat mengembang dalam air hangat (jangan dicampur air panas, karena ragi akan mati)

    Nah berikut ini resep donat labu kuning tanpa telur yang kemarin saya praktekkan.

    Resep Donat Labu Kuning

    Bahan:
    250 gr tepung terigu protein tinggi  (saya pakai segitiga biru)
    25 gr susu bubuk full cream (kurang lebih 1 sachet)
    6 gr ragi instan
    50 gr gula pasir (saya pakai gula halus)
    100 gr pure labu kuning
    35 gr margarin
    1/4 sdt garam halus

    Taburan: gula halus (gula donat)

    Cara Membuat:

     

    1. Kukus labu kuning hingga matang, haluskan dan dinginkan.
    2. Dalam wadah, campur tepung terigu, susu bubuk, gula, dan ragi instan yang sudah dilarutkan. Aduk hingga rata.
    3. Masukkan pure labu, uleni hingga rata dan setengah kalis.
    4. Masukkan garam dan margarin, uleni terus hingga kalis dan elastis.
      *Adonan memang akan terasa lengket, karena kadar air dalam labu yang lebih tinggi, dapat ditambahkan sedikit terigu (jangan banyak-banyak ya).
    5. Setelah adonan kalis elastis, istirahatkan adonan selama 15 menit.
    6. Kempiskan adonan, bagi menjadi adonan kecil-kecil. Diamkan kembali selama 20 menit hingga mengembang.
    7. Lubangi tengahnya menjadi bentuk donat dan goreng sampai berwarna kuning kecoklatan.
    8. Angkat dan tiriskan. Taburi dengan gula donat atau bisa dihias sesuai selera.
    Tarraaa... jadilah juga donat labu kuning tanpa telur ala mamap!
    Tarraaa… jadilah juga donat labu kuning tanpa telur ala mamap!
    Nah, begini penampakannya setelah dicokot :D
    Nah, begini penampakannya setelah dicokot Empuk mlenuk-mlenuk 😀

    Ah ya, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan juga ya, ini adalah beberapa tips menggoreng donat dari Catatan Nina:

    1. Saat menggoreng donat, gunakan api sedang cenderung kecil agar donat tidak cepat gosong dan matang merata. Pastikan donat digoreng dalam minyak yang sudah panas.
    2. Gunakan sumpit, buat gerakan memutar pada lubang donat ketika donat mulai digoreng dan merekah. Gerakan memutar ini membantu terbentuknya donat yang bundar.
    3. Jangan terlalu sering membolak balik donat yang sedang digoreng. Setelah donat kecoklatan salah satu sisinya, segera balikkan dan lanjutkan menggoreng hingga kecoklatan. Angkat dan tiriskan. Donat yang terlalu sering dibolak balik ketika digoreng akan menyerap minyak dalam jumlah yang banyak.
    4. Tiriskan donat di atas kertas roti dalam posisi berdiri, agar minyaknya turun.

    Membuat donat ini buat saya masih termasuk sulit. Walaupun sudah punya cara untuk membuat adonan tanpa menguleni lama, dan gak masalah sama rasa, problemnya datang ketika harus membentuk donat. Sebenarnya kita bisa mengunakan cetakan donat, untuk membuat penampilan donat semakin cantik. Lihat kan donat yang saya buat, masih belum donat karena gak bolong tengahe, soalnya pas digoreng lobangnya makin menciut hehe…

    Okedeh, apapun itu, selamat bereksperimen yah!

  • Brigadeiro Chocolate

    Niat mendapur itu ajaib ya kalau saya bilang. Buat saya yang amatiran ini masalah niat itu bagaikan pasang surut air laut, huahaha… Yakin deh, bisa tiba-tiba dengan rajinnya langsung eksekusi kalau pas lagi oke hehe.

    Dan kemarin, ketika sekrol-sekrol IG, ketemu tutorial bikin cemilan yang sepertinya ringkes dan gak ribet, namanya Brigadeiro Chocolate. Huopo iku???

    Brigadeiro chocolate atawa coklat brogadeiro ini makanan dari Brazil. Jauh yak! Makanan ini terbuat dari condensed milk atau susu kental manis yang dimasak bersama coklat bubuk. Konon katanya, makanan ini diciptakan setelah perang dunia kedua, dimana saat itu sangat sulit menemukan gula. Maka jadilah susu kental manis sebagai pengganti dan terciptalah si coklat brigadeiro ini.

    Coklat brigadeiro ini dikenal juga dengan sebutan coklat truffle. Dan makanan ini termasuk dalam kategori permen ya, tepatnya soft candy. Cocok buat anak-anak memang, mengingat namanya anak-anak itu pasti ngefans sama segala sweets, termasuk si Ai. Jadilah kemarin saya mendapur ditemenin sama si Ai, yang hepi banget karena tumben mamap bikin coklat 😀

    Bahan utamanya ya susu kental manis, dan coklat bubuk. Cara membuatnya juga mudah. Sebenarnya coklat ini bisa divariasikan dengan macam-macam ya. Untuk taburan tidak harus selalu coklat meses, bisa dengan kacang, atau almond, ya sesuka yang bikin aja. Tapi saya kemarin pake coklat meses, karena sudah ada di rumah hehe.

    Resep Brigadeiro Chocolate

    Bahan:
    30 gram butter (saya pakai margarin biasa)
    400 gram susu kental manis putih (saya pakai 1 kaleng)
    40 gram coklat bubuk

    Pelengkap:
    1 bungkus coklat meses

    Cara membuat:

    1. Siapkan piring, olesi dengan butter atau margarin. Sisihkan.
    2. Panaskan wajan atau panci dengan api kecil, masukkan butter, susu kental manis, dan coklat bubuk.
    3. Masak hingga mengental, ingat adonan harus diaduk terus menerus sampai mengental.
    4. Setelah sampai pada kekentalan yang diinginkan, matikan api, tuangkan adonan ke piring yang sudah diolesi butter tadi, dan simpan di lemari es selama 1-2 jam.
    5. Setelah 1-2jam, adonan brigadeiro siap untuk dibentuk. Bulatkan sesuai selera, dan gulingkan di atas coklat meses.
    6. Sajikan!
      *untuk penyimpanan: simpan di lemari es
    Brigadeiro Chocolate ala mamap
    Brigadeiro Chocolate ala mamap
    jadinya lumayan banyak
    Jadinya lumayan banyak, dibawa Ai ke sekolah dan dibagi-bagi sama temannya. Semua senang!

    Oh ya, berikut ini resep yang saya ikuti via IG:

    https://www.instagram.com/p/BMLev6aARdV/

     

    Nah, simpel kan! Selamat mencoba!

  • Puding Labu Panggang

    Beneran ya, mendapur itu tidak cukup cuma sekedar niat lho. Sudah seminggu yang lalu saya liat labu parang di tukang sayur dan hepi. Beli ceritanya kepengin bikin puding labu tapi dipanggang. Eksperimen sama otang, biar naik kelas tentu saja 😀

    Labu sudah kebeli, resep sudah dicari, tapi tiba-tiba saja keinginan bikin puding labu itu padam begitu saja. Nasib si labu akhirnya masuk kulkas. Wow, males banget gak sih saya 😀

    Akhirnya setelah seminggu ngendon di kulkas, pokoknya harus eksekusi deh. Dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda, mari kita semangat! *oposih. Mayan, bisa melibatkan si Ai, dia bagian tuang-menuang pas nyampur adonan, dan tentu saja bagian colek-colek susu dan meses, hohoo 😛

    Saya nyontek resep Puding Labu Panggang punya mbak Diah Didi, tapi ada beberapa bagian yang saya tambah kurangkan, jadi mungkin agak berbeda sedikit di tekstur kali ya. Saya cuma pakai 2 butir telur, dan taburan coklat meses. Sebenarnya puding labu ini teksturnya mirip bingka, dan lebih enak jika disajikan dingin. Berikut resepnya:

    Puding Labu Panggang
    *resep asli bisa dilihat di Diah Didi’s Kitchen

    Bahan:
    150 gr Labu Kuning
    100 gr Gula Pasir
    200 ml Susu Cair Plain
    50 gr Tepung Terigu
    2 butir Telur
    50 gr Margarin leleh
    ½ sdt Vanili

    Pelengkap:
    Coklat meses
    *bisa menggunakan kismis, atau keju bila suka

    Cara Membuat:

    1. Siapkan loyang, atau pinggan tahan panas. Olesi margarin tipis-tipis.
    2. Kupas dan bersihkan labu kuning, kukus hingga matang (kurang lebih 15-20 menit), haluskan.
    3. Campurkan labu kuning dengan susu cair, aduk rata.
    4. Aduk telur, gula, dan margarin leleh dengan whisk, atau garpu hingga berbusa. Tambahkan terigu dan vanili, aduk rata. Terakhir masukkan campuran susu dan labu kuning, aduk rata.
    5. Masukkan adonan ke dalam loyang, panggang hingga matang kira-kira 40 menit.
      *untuk topping: taburkan di atas adonan kira-kira saat puding setengah matang, agar tidak tengelam.
    6. Sajikan ketika dingin. 

      Kreasi mamap: puding labu panggang!
      Kreasi mamap: puding labu panggang!
    Enak enak enak!
    Enak enak enak! 

    Puding ini dapat acc mas suami, karena gak eneg. Dia gak suka kalo bau telur terlalu kuat soalnya :D. Kalau suka, porsi labu kuningnya bisa ditambah lagi, tapi kemudian yang lain juga harus menyesuaikan supaya proporsinya tetap pas.

    Oke, selamat bereksperimen!

  • Puding Roti Panggang

    Along with the Ayam Panggang Kecap that I’ve made, saya jugak eksperimen bikin puding. Tapi, karena saya ini sophisticated (baca: suka kewanen gak jelas) saya pengen pudingnya dipanggang. Ehehe, gaya banget gak sih saya orangnya 😀

    Sekali lagi, ini masih dalam rangka up close and personal sama si otang. Harapannya ya, saya jadi kenal lebih baik lagi sama otang, jadi ke depan bisa kolaborasi memproduksi makanan yang lebih enak enak enak lagi. Ini sih harapan saya ya, gak tau deh si otang gimana 😛

    Sebenarnya saya pernah juga bikin puding roti tawar, cuma waktu itu bikin dengan metode roti tawar yang dihaluskan dengan susu baru dimasak dengan agar-agar. Bisa ditengok resepnya di Puding Roti Tawar. Kalo metode panggang ini gak pake agar-agar bubuk ya. Term “puding” disini lebih ke makanan yang memiliki tekstur lembut dan lembek.

    Jadi, setelah cek-cek kanan kiri di gugel, ketemu lagi di JTT yang kayanya saya cocok. Cuman dari resep puding roti panggannya mbak Endang JTT, saya eksekusi setengah resep saja. Praktis, semua bahan saya bagi dua dari resep aslinya, ketebalan roti juga menyusut jadi setengahnya deh.

    Puding Roti Panggang
    *cek resep asli di Just Try and Taste

    Bahan:
    – 5 lembar roti tawar, jangan buang kulitnya
    – 300 ml susu cair full cream
    – 2 butir telur
    – 75 gram gula pasir
    – 2 sendok makan coklat bubuk + 50 ml air panas, larutkan
    – ½ sendok makan tepung maizena
    – 1 sendok teh bubuk vanili
    – 1 sendok makan margarine/mentega, cairkan

    Bahan pelengkap:
    – choco chips
    – pisang (iris tipis untuk toping)
    – keju parut secukupnya

    Cara membuat:

    1. Panaskan oven pada suhu 180’C, api atas dan bawah. Letakkan rak pemanggang di tengah. Siapkan loyang, olesi dengan margarin pada permukaannya.
    2. Potong-potong roti menjadi berbentuk segitiga, tata potongan roti di dalam loyang secara merata. Taburkan choco chips di lapisan-lapisan roti (bisa juga memakai coklat meses).
    3. Tuangkan susu cair ke roti sambil permukaan roti ditekan-tekan dengan spatula, lakukan perlahan hingga susu terserap semua oleh roti. Sisihkan.
    4. Siapkan mangkuk, masukkan telur dan gula pasir, kocok hingga berbusa (saya pakai whisk biasa). Tambahkan larutan coklat bubuk dan bubuk vanili, kocok rata. Masukkan tepung maizena dan margarin cair. Aduk rata hingga menjadi adonan yang smooth, jika adonan bergerindil saring dengan saringan kawat hingga adonan halus.
    5. Tuangkan adonan ke loyang berisi roti, tata irisan pisang, taburkan choco chips dan keju di permukaannya. Panggang selama 40 – 45 menit. Puding akan mengembang dan naik tinggi saat dipanggang dan akan kempis ketika telah dingin. Keluarkan dan dinginkan.
    6. Potong-potong puding jika benar-benar telah dingin karena puding akan mengeras dan padat.
    Ini sisa baru keinget difoto, jadi maapkeun :D
    Ini sisa baru keinget difoto, jadi maapkeun 😀
    Tampak samping. Huyey!
    Tampak samping. Huyey!