Month: October 2018

  • LPRD, GERD, dan Kecemasan

    Dua minggu berlalu setelah diagnosa LPRD ditegakkan. Praktis, selain obat, kami di rumah juga mulai berbenah pola makan Mas Suami. Dia pengin sembuh, maka dia memutuskan akan diet ketat, gak akan makan yang dipantang, dan ingin melihat bagaimana perbedaanya sebulan ke depan dengan pola makan yang baru ini.

    Gorengan? No!

    Teh? Kopi? No.

    Makanan bersantan dan gurih? No.

    Pokoknya dia punya menu sendiri, makanannya lain dari yang lain.

    Apa itu?

    Untuk amannya, mulailah dia makan rebusan sayur mayur, atau variasinya dibikin sayur bening, dan baceman. Sayur sendiri juga harus dipilih, yang tidak mengandung gas seperti kol dan sawi, dia gak makan. Sayuran seperti kangkung atau genjer yang ternyata berkulit itu juga lebih sulit untuk dicerna, dia juga gak makan.

    Cemilan buah? Ada juga, tapi pilih buah yang tidak asam seperti pisang, semangka, pepaya, dan melon.

    Selain itu, dia juga berusaha menjaga agar perut tidak kosong terlalu lama. Jadi setiap 2 jam ada yang dimakan. Yah, 2 kali cemilan di sela-sela makan besar begitu.

    2 minggu berjalan, dan dia merasa memang ada perbedaan di tubuhnya. Perutnya merasa lebih enak, tenggorokan tidak lagi panas, dan suara dengungan di telinga cenderung mengecil. Alhamdulillah, ya kan.

    Sampai tiba-tiba suatu malam dia merasa perutnya tidak nyaman. Dan kemudian berlanjut dengan badannya yang tidak enak, lemas, muntah, dan bingung. Lah, kenapa ini?

    Telapak tangan dan kakinya jadi dingin, dan semakin dia bingung memikirkan ada apa dengan tubuhnya, semakin kuat dorongan untuk muntah. Semakin bingung juga buat saya yang melihat. Kenapa ini??? ?

    Yang bisa dilakukan setelah dia tidak lagi ingin muntah, ya membaluri minyak angin, menghangatkan badannya.

    Sambil nemenin, saya juga jadi sambil gugling, soal kecemasan dan asam lambung. Ternyata, dua hal ini sangat berkaitan erat. Bahkan ada artikel yang menyebutkan bahwa lambung memiliki otak sendiri. Bukan beneran ya, tapi seakan-akan lambung bisa mengendalikan kondisi mental tubuh seperti yang bisa dilakukan otak. Buanyak artikelnya kalau dicari di gugel.

    Maka bagi penderita asam lambung, semakin kamu bingung atau cemas memikirkan suatu hal atau kondisi tubuhmu, maka semakin cemas pula dan akan meningkatkan kadar keasaman tubuh, yang berimbas pada kondisi tubuh yang gak karuan. Mbulet to?! Semacam lingkaran setan gitu lho, mengerikan ?

    Dari membaca artikel dan pengalaman yang di share orang lain, kecemasan ini ternyata juga bisa datang tiba-tiba dan sampai mengganggu aktifitas sehari-hari.

    Dan memang bagi orang lain, penderita asam lambung dan kecemasan ini terlihat mengada-ada. Lebay. Wong gak kenapa-kenapa kok. Itu yang sebagai keluarga, harus ditepis. Bahwa memang hal tersebut berkaitan dan sebagai orang terdekat saya harus bisa jadi support sistem yang baik. Tapi memanglah tidak mudah.

    Secara naluriah, sebagai istri, lihat Mas Suami tiba-tiba merasa sakit, muntah, lemas, ujung jarinya dingin dan pucat tengah malam buta lalu gimana? Ya bingung dan takut banget. Maunya ikut nangis. Tapi apakah itu membantu? Tentu tidak, ya kan Saudara-Saudara ?

    Ternyata selain Mas Suami yang harus belajar mengelola stres, saya juga harus belajar menata hati menghadapi kondisi seperti ini. Masih fail, tapi saya mencoba.

    Memang pada waktu konsul ke seorang dokter, Mas Suami juga disarankan untuk konsul ke psikiater. Waktu itu saya pikir, saran itu cukup ekstrim. Sampe harus ke psikiater segala, ya kan. Tapi ternyata dalam beberapa kasus yang parah, memang dibutuhkan pertolongan psikiater. Karena jatuhnya jadi berhubungan dengan psikosomatis, dan ini tentu saja berhubungan dengan kejiwaan. He, jadi berasa kuliah lagi ah ?

    Iya, kalo melihat di gugel istilah gangguan psikosomatis digunakan untuk menggambarkan penyakit fisik yang diduga disebabkan atau diperparah oleh faktor mental, seperti stres dan kecemasan.

    Nah ini PR yang harus dikerjakan juga deh. Mengelola stres. Kalo gak diperhatikan, bisa memperparah kondisi fisik. Itu yang akan jadi perjalanan panjang buat saya dan Mas Suami. Doakan semoga kami bisa mengarungi episode ini ?

  • 31

    Commemorate this day,

    October 16th,

    10 years ago.

    Terima kasih untuk janji dan semua usaha yang sudah dan sedang kamu tunaikan, Mas.

    And…

    Happy birthday to me.

    Semoga kita selalu bisa membuat jalan bahagia kita, aamiin.

    161018

  • Refluks Laringofaring

    Nah, apa itu Refluks Laringofaring? Refluks Laringofaring atau Laringopharieal Reflux Disease (LPR/LPRD) adalah kondisi dimana cairan lambung berbalik mengalir ke laring, faring, trakea, dan bronkus. Pendek kata, LPR adalah kondisi dimana cairan lambung berbalik naik ke area tenggorokan sehingga menimbulkan efek asam.

    Kenapa tiba-tiba bahas soal LPRD ini? Karena eh karena, saya dan Mas Suami sedang belajar untuk hidup berdampingan dengan LPRD ini. Mas Suami memang hampir dari awal tahun ini merasakan ada yang gak beres sama badannya. Awalnya rasa panas di tenggorokan menyerang, dan rasanya bikin badan kurang nyaman. Sampai akhirnya ada rasa mengganjal di tenggorokan. Hal ini sepertinya juga mempengaruhi sistem imun Mas Suami. Dia mudah sekali lelah, dan juga merasa kedinginan. Kalo dalam kondisi suhu normal aja dia merasa dingin, nah ketika memang dingin dia akan merasa lebih dingin lagi, sampai ujung-ujung jarinya merah dan pedih. Cukup membuat bingung ?

    Memang beberapa saat setelah badannya rasa gak enak, kami sempat bolak-balik dokter ini itu untuk periksa. Sebenarnya ada apa sih? Apa yang salah kok badan ni gak fit terus? Dan dari beberapa kali periksa itu, didapatlah kesimpulan Mas Suami ada kecenderungan GERD atau Gastroesophageal Reflux Disease atawa asam lambung. Ya sudah, dikasih obat dan diminum seperti biasa, tapi kok gak terus sehat? Kondisi badan masih naik turun gak jelas. Lelahlah kami bolak-balik berobat, akhirnya ya sudah lah ya, kami gak ngapa-ngapain lagi.

    Memang sembuh? Ya enggak. Seiring dengan cuaca yang mulai berubah panas, Mas Suami juga gak terlalu merasa kedinginan lagi. Cuma tiba-tiba suatu hari dia merasa telinga kanannya mendengung, heh kenapa lagi ini?!

    Akhirnya Mas Suami memutuskan untuk cek lagi ke dokter, dan kali ini dia periksa ke dokter THT, berkaitan dengan telinganya yang berdengung mengganggu. Setelah periksa dan cerita apa yang dirasakannya beberapa bulan terakhir, dokter menduga ada kemungkinan LPRD itu dan menyarankan endoskopi untuk menegakkan diagnosa. Hwhat? Diapain lagi endoskopi itu???

    Kalo baca di wikipedia, endoskopi merupakan pemeriksaan rongga tubuh menggunakan endoskop yang digunakan untuk diagnosis atau penyembuhan.Teknik ini menggunakan serat optik dan teknologi video sehingga memampukan keseluruhan struktur tubuh dapat diinspeksi secara keseluruhan. Intinya, kamu akan dimasuki semacam kamera lewat semacam kabel kecil ke dalam tubuh, bisa melalui rongga mulut atau hidung untuk melihat kondisi organ dalam tubuh. Dan biaya untuk tindakan ini tentu tidaklah murah, saudara (sekitar 600K di RS Sardjito), maka kami disarankan untuk mengurus rujukan dengan fasilitas BPJS.

    Fiuh, perjalanan masih panjang. Akhirnya setelah sana sini mengurus rujukan, jadilah juga Mas Suami diendoskopi, lewat hidung hehehe… Dan dari hasil endoskopi tersebut, tegaklah diagnosa LPRD yang diderita suami saya. Dari hasil endoskopi memang terlihat penumpukkan jaringan di beberapa bagian belakang tenggorokan. Kalau pada kondisi normal atau sehat permukaan dalam tenggorokan itu mulus, punya Mas Suami bergelombang benjol-benjol, ibarat jalan ya banyak gronjalannya. Nah itulah yang mungkin dirasakan mengganjal di tenggorokan. Karena memang asam lambung itu sifatnya keras dan bisa jadi merubah kondisi tenggorokan.

    Jadi dengan tegaknya diagnosa LPRD itu, Mas Suami diberikan obat untuk dikonsumsi. Tapi tidak hanya itu ternyata, karena penderita LPRD dan GERD yang memang ingin sembuh juga harus menghindari pemicu asam lambung itu sendiri. Tidak hanya disarankan untuk diet, tapi akan bagus jika kamu bisa memulai pola hidup sehat.

    Yang saya sesalkan, kenapa gak dari dulu saya tau hal ini. Kalo dingat-ingat memang Mas Suami sudah menunjukkan tanda masalah dengan asam lambung bukan hanya belakangan ini. Tapi jauh dari beberapa tahun yang lalu. Saat itu memang gejala yang ditunjukkan berbeda, seperti nyeri dada, perut kadang gak nyaman, ya gitu-gitu. Kami sempat rekam jantung dan gak ada masalah dengan jantung, dan saat itu diagnosa sudah mengarah ke asam lambung. Setelah itu cuma konsumsi obat aja dan biasanya setelah beberapa waktu, kondisinya akan normal lagi. Makan seperti biasa lagi.

    Biasanya, orang dengan asam lambung memang harus menghidari makanan-makanan pemicu naiknya asam lambung. Dan sekarang ini kami sedang berusaha untuk menjaga makan dan meminimalkan stres.

    Nah, ini adalah saran diet bagi penderita LPRD dan GERD. Banyak yak ?

    Bukan berarti pola makan kami dulunya kacau balau dan penuh junk food juga sih. Tapi seperti bawang putih, jahe, tomat pun itu sebaiknya dihindari. Nah saya ini suka tomat, dan kadang kalo saya makan, Mas Suami dan si Ai ya saya kasih juga. Ternyata itu terlalu asam untuk lambung Mas Suami ?

    Hal-hal kayak gitu yang dulu saya gak ngeh dan gak kepikiran. Dan cuma menggantungkan kesembuhan dari obat.

    Kalo yang ini, daftar pantangan makanan yang sudah disempurnakan melalui riset (cie riset~) sama Mas Suami.

    Jadi kalau begitu mari belajar lagi pilah-pilih makanan untuk keamanan asam lambung Ybs.

    Mari kita semangat! ?