Month: July 2019

  • Catatan MPASI Aya

    Sooo… it’s been a while ya?! ?

    Bayi #2 sudah beranjak pada saatnya makan. Dan tentu saja ini perlu persiapan ini dan itu. Mamap kembali belajar soal per-mpasi-an ini. Banyak sekali hal yang berubah dari 7 tahun lalu ketika memulai mpasi Mbak Ai.

    Dari yang masih saya ingat dan saya pelajari dulu, menu tunggal disarankan untuk memulai MPASI. Bayi diperkenalkan berbagai jenis makanan satu persatu, mulai dari cerealia (seperti beras-berasan atau biji-bijian) atau buah atau sayuran. Protein nabati dan hewani khususnya diperkenalkan lebih lambat ketika anak sudah berusia 7 bulan+.

    Ketika belajar untuk persiapan MPASI Aya, panduannya sudah berubah. Sekarang ditekankan pemberian gizi berimbang pada awal MPASI. Artinya, anak akan langsung diperkenalkan pada menu lengkap untuk memenuhi nutrisinya. Menu harian anak harus mengandung komposisi lengkap dari karbohidrat, protein nabati, protein hewani, sayuran, dan lemak.

    Browsing kanan kiri jadi bingung, makin banyak bacaan jadi makin bingung. Ini terus gimana cara masaknya ya? Kira-kira begitu sih yang terlintas di kepala saya. Sampai akhirnya saya baca blognya Mbak Jihan dan dapat pencerahan, lalu saya memutuskan untuk slow down. Saya harus selow dan ga usah kehebohan, daripada bingung sendiri. Dan setelah baca-baca blog tersebut, saya mantap untuk memberikan menu tunggal dulu di awal mpasi Aya.

    Saya mulai pengenalan makanan dengan buah. Karena dari apa yang saya baca, buah cukup bersahabat untuk mencegah sembelit dan cukup rendah menimbulkan reaksi alergi pada bayi. Jadi beginilah apa yang saya catat pada awal MPASI Aya.

    Day 1
    Pagi: pisang kerok + asip, reaksi: biasa aja ga lahap tapi masuk, masih sulit menelan, ngantuk.

    Day 2
    Pagi: pisang kerok + asip, reaksi: masih mingkem kalo disodori sendok.

    Day 3
    Pagi: pisang kerok + asip, reaksi: idem.

    Day 4
    Pagi: apukat + asip, reaksi: menerima dengan senang hati, tapi kalo kelamaan keburu bosen.

    Day 5
    Pagi: apukat + asip, reaksi: oke, no pup

    Day 6
    Pagi: apukat + asip, reaksi: agak susah mangap, need ekstra usaha bikin aya mangap, porsi mungkin terlalu banyak. No pup.

    Day 7
    Pagi: kentang + evoo + asip, reaksi: nooo ?

    Sore: semangka, reaksi: oke, agak susah kalo disendokin karena air, aya maem pake dot jaring

    Day 8
    Pagi: kentang + brokoli (masak pake bawang brambang) + evoo + asip, reaksi: LAHAP kuterharu alhamdulillah ?

    Sore: semangka

    Day 9
    Pagi: kentang + brokoli + evoo + asip, reaksi oke

    Sore: semangka

    Day 10
    Pagi: beras putih + brokoli + evoo + asip (nasak pake bawang brambang), reaksi: oke aja

    Sore: bubur beras merah promina + asip, reaksi: oke

    Day 11
    Pagi: beras putih + labu siam + evoo + asip, reaksi: mau tapi kurang semangat

    Sore: bubur beras merah promina + asip, reaksi: oke

    Day 12
    Pagi: beras putih + labu siam + kacang merah + evoo + asip, reaksi: oke tapi keburu ngantuk

    Sore: bubur beras merah promina + asip, reaksi: no

    Day 13
    Pagi: kacang merah + labu siam + tahu, reaksi: nope

    Day 14
    Pagi: skip makan karena pergi cukup jauh, pulang ke desa

    Sore: semangka

    Day 15
    Pagi: bubur beras putih cerelac, reaksi: gamau buka mulut. Coba crackers, mau makan sendiri tapi ga bisa nelannya ?

    Sore: bubur beras promina, dicoba makan sendiri, jadi masuknya dikit, no pup

    Setelah 2 minggu menu tunggal, dikarenakan hectic mudik lebaran dan sepertinya antusiasme Aya juga biasa aja, akhirnya acara makan berhenti selama seminggu.

    Saya cukup frustasi juga karena Aya susah buka mulut, dicobakan ini itu reaksi tetap negatif. Masak sendiri reaksi si bayi mingkem. Saya variasikan kadang beli bubur bayi sehat juga sama mingkemnya. Saya cobakan bubur bayi instan juga mingkem. Laaah… terus gimana yah…

    Setelah berhenti seminggu, mulai lagi sepulang mudik dengan menu lengkap 4 bintang (karbo, protein nabati, protein hewani, dan sayur).
    Lemak tambahan: evoo 1 sendok makan aya, ditambahkan ke bubur tiap kali makan.
    Cemilan: keju atau biskuit bayi atau buah, di sela-sela makan.
    Makan 2 kali sehari, pagi dan sore.

    Akhirnya kembali lagi, saya merendahkan ekspektasi saya, yang penting saya mengenalkan rutinitas makan pagi dan sore. Porsi makan juga saya kurangi, yang penting Aya tahu bahwa oh ini saatnya makan. Sekarang Aya sudah hampir 8 bulan, dan alhamdulillah dia mau makan dan buka mulut dengan sukarela.

    Yang belum saya pahami, ternyata makan pada bayi itu pembiasaannya memang butuh waktu. Ada bayi yang langsung lahap dan pintar makan. Dan ada juga bayi yang butuh waktu lebih lama untuk belajar dan siap makan. Dan Mamap juga ternyata butuh waktu untuk memahami ini semua.

    Jadi, Aya sudah makan apa saja?
    Karbo:
    – beras putih
    – kentang

    Protein hewani:
    – ayam
    – ikan (gurame, dori, & nila)
    – udang
    – hati ayam

    Protein nabati:
    – kacang merah
    – kacang ijo
    – buncis
    – tahu
    – tempe

    Sayuran:
    – wortel
    – tomat
    – daun kelor
    – sawi hijau
    – sawi putih
    – kacang panjang
    – labu siam
    – kembang kol

    Buah:
    – pisang
    – apukat
    – semangka
    – melon
    – jeruk

    Sementara baru segitu, bismillah ke depan semakin sehat dan banyak variasi lagi maemnya, aamiin.

    Seperti kata dokter Tiwi, bahwa makan adalah proses belajar. Bukan cuma si bayi yanh belajar makan, tapi juga belajar berproses dan belajar sabar untuk orang tuanya. Smangat!

    https://www.instagram.com/p/BzbaEEXnbTF/