Month: February 2016

  • Descendants Of The Sun

    Kembali lagi ke drama kesukaan kita semua! Drama korea!  Dan kali ini adalah “Descendants Of The Sun”

    Image via asian wiki
    Image via asian wiki

    Haaaww… :3

    The greget is here. Geregeeettt…

    Memepertemukan Song Hye Kyo dan Song Joong Ki sebagai pemeran utamanya. Dan drama ini adalah drama yang sudah dinanti-nanti berbulan-bulan sejak produksi pertamanya. Jadi, bila biasanya kejar tayang, drama ini sudah menyelesaikan seluruh proses produksi sebelum tayang di tipi. Dan sudah ramai diperbincangkan orang-orang pula, maksudnya ya orang-orang penggemar drama korea gitu.

    Kenapa sih hits banget? Hmm… sebenernya saya juga ga terlalu ngerti sih alasannya. Cuma drama ini adalah comebacknya Song Joong-Ki setelah kepulangannya dari wajib militernya. Dan dramanya Song Hye-Kyo setelah 2013 lalu menyelesaikan “This Winter, The Wind Blows”-nya itu. Dan menjadi trending di premiere-nya, karena drama ini tembus dua digit rating di episode pertamanya. The most anticipated drama this month! Ya, sebetulnya saya gak familiar amat sih sama bung Song Joong-Ki ini, belum pernah juga ngikutin dramanya dia, tapi act-nya di drama ini bikin pengin tau lebih lanjut. Greget kan.

    Mengambil set di Yunani, drama ini tentu saja adalah love story, kisah percintaan dengan latar belakang militer. Jadi si Song Joong Ki yang berperan sebagai Yoo Shi-Jin adalah seorang prajurit militer yang juga anggota pasukan perdamaian PBB, sementara Song Hye Gyo yang berperan sebagai Kang Mo-Yeon adalah seorang dokter yang ditugaskan untuk menjadi relawan di daerah perang ini. Takdir, gitu kan katanya. Bertemulah mereka dan bikin greget saya yang nonton.

    Dan geregeeeeettt, ih suka suka suka banget nontoninnya. Drama ini airing di Korea tiap Rabu dan Kamis, jadi muncul di dunia maya lengkap dengan subtittlenya ya sehari setelahnya. Kudu sabar-sabar menunggu tiap minggunya buat nonton 2 episode dari keseluruhan 16 episodenya. Tapi sumpah saya tenggelam dalam kegregetan walaupun baru 2 episedo. Haaaaawww, pingin nyokot mas suami jadinya *eh.

    Masih belum tau juga mengenai ending drama ini. tapi biarlah menjadi misteri, karena yang bikin penasaran justru yang oke kan kan kan 😀

    Bisa gugling untuk visit web drama mana yang mau ditonton. Bisa dicek di dramafire, dramanice, atau watchdrama kalau tertarik mengikuti drama ini. Semuanya adalah web drama yang biasanya juga menyertakan english subtittle. Atau bisa follow fanpage drama ini di facebook, mereka juga selalu update soal drama ini kok.

    Maka, saya ucapkan selamat tenggelam dalam kegregetan 😀 😀 😀

    Drama cuma drama, jadi jangan baper. *meskipun jelas motto ini sama sekali gak bakalan ngaruh kalo urusan drama korea sih ya 😀

    Kalau kamu kepengin nonton Descendants Of The Sun full episode, bisa loh. Klik link dibawah ini yah. Selamat nonton!

    Watch Descendants Of The Sun Full Episode
  • (Masih) Memilih Sekolah Untuk Anak

    Weekend kemarin, adalah saatnya parenting di sekoah si Ai, ya saatnya ibu-ibu bertemu. Selain arisan dan beberapa pengumuman soal upcoming activity-nya anak-anak beberapa bulan ke depan, ya biasa lah, saling tukeran cerita aja sama bunda guru juga. Berhubung ada juga ibu-ibu dari anak-anak TK B yang pertengahan tahun ini akan melanjutkan ke SD, maka obrolan pun bergulir kesitu. Soal SD.

    Whoaaa… lalu mengalirlah percakapan soal daftar dimana, bagaimana sekolahnya, dan tentu saja biaya masuk dan bulanannya. Sejujurnya, agak mengerikan sih ya ngobrolin soal biaya, hehehe… Tapi ya memang, ada harga ada rupa. Disini pembicaraan SD yg dimaksud adalah SD swasta, bukan SD negeri, jadi memang soal biaya masuk sangat bervariasi. Dan, ini adalah informasi yang oke banget, jadi dengarkan saja baik-baik. Dan untuk tahun ajaran baru pertengahan tahun nanti, pendaftaran sudah dibuka dari Januari awal tahun kemarin. Jadi ya, beberapa anak TK B ini sudah punya tempat di SD pillihannya masing-masing.

    Saya pribadi, memang berkeinginan untuk memasukkan Ai ke SD swasta saja, bukan ke SD negeri. Karena saya dan mas suami juga masih pikir panjang soal usia masuk SD ini lho. Dan belum final juga walaupun sudah diobrolin dari kapan tau. Ya, masih banyak pertimbangan ini itu dari saya dan mas suami juga. Ternyata repot ya.

    Paling tidak, ada beberapa poin yang sudah saya dan mas suami setujui. Pertama soal arah ke SD swasta, kami sepakat. PR untuk saat ini adalah me-list sebanyak-banyaknya SD yang terjangkau untuk kemudian disurvey bareng. Terjangkau apanya? Terjangkau dari segi waktu dan biaya. Karena sekepengin apapun saya pengen sekolah Ai tidak terlalu jauh makan waktu, capek di jalan, kasian juga staminanya. Dan soal biaya, walaupun uang bisa dicari, tapi tetap harus masuk budget.

    Inipun kayaknya saya masih bertanya-tanya, apakah saya terlalu idealis atau gimana, karena kan yang mau menjalani nantinya ya si Ai, bukan saya. Jelas yang harus memilih oke atau tidak ya si Ai sendiri. Keputusan terakhir tetap kembali pada anak.

    Kayanya sih gitu dulu perkembangannya sampai saat ini. Mumpung saya dan mas suami masih punya waktu untuk melihat-mendengar-mencari soal sekolah ini dan juga membicarakannya. Cari info, cari info, cari info.

  • Memilih Sekolah Untuk Anak

    Oke, memilih sekolah untuk anak. Ini adalah problematika, tepatnya salah satu problematika para orang tua muda semacam saya dan mas suami juga. Sebenernya bagaimana sih caranya mengukur dan memutuskan sekolah mana yang sesuai buat anak saya nanti? Confusing. Very confusing.

    Beruntungnya, di era media sosial sekarang ini apa sih informasi yang kita gak bisa dapat. Petunjuk dari orang yang kompeten, pengalaman dari sesama orang tua mengenai sekolah A, B, C misalnya. Banyak. Pilihlah sekolah yang begini jangan begitu, masukkan anak kesini supaya begini dan gak begitu. Banyak.

    Membaca banyak-banyak informasi tersebut saya jadi merasa tambah bingung! Ya sedikit tercerahkan, tapi nanti bingung lagi. Oh drama. Ya, memang banyak informasi membuka mata saya, masih perlu banyak lagi info. Karena semakin saya membaca dan mencoba memahami soal sekolah ini, saya jadi sadar sesuatu:

    sebenarnya apa sih yang kita harapkan dari anak-anak saat sekolah nanti?

    Jadi begini, pada dasarnya, pada saat punya anak, saya berharap dia akan tumbuh besar menjadi seperti apa adanya anak, bukan apa adanya saya. Tapi pada proses tumbuh kembangnya, saya juga ikut berharap ini itu. Tentunya embel-embel “harapan orang tua” ini juga ikut jadi salah satu hal yang mau gak mau mempengaruhi juga. Saya kepengin anak saya nanti cerdas emosinya, saya ingin anak saya lebih berkembang secara karakter, bukan cuma cerdas secara pelajaran di sekolah misalnya. Tapi apakah nanti saya sudah siap kalau si anak ini tidak menonjol dalam pelajarannya? Inilah yang saya bilang, saya yang harus banyak belajar, bukan anak-anak.

    Gak bisa tutup mata, sistem pendidikan di Indonesia ini memang menitik beratkan pada prestasi. Pada hasil. Pada apa yang terlihat. Walaupun iya, sekarang ini sudah mulai banyak sekolah yang mencoba menekankan pada proses dan bukan hasil saja. Artinya, karakter anak dan bagaimana dia berproses dalam pendidikan juga akan berpengaruh. Sebagai orang tua, berarti pola pikir dan cara pandang saya juga harus dirubah dulu ya kalau tidak sama. Supaya sejalan dengan visi misi sekolah. Ataukah saya harus idealis? Kayanya sih enggak ya.

    Bikin pusing kan?

    Well aku pusing juga membahasakannya. Begitulah.

     

  • HATI-HATI BERKENDARA!

    Ini serius ya, berhati-hatilah selalu berkendara di jalanan. Karena bahayanya gak main-main.

    Sebenarnya ini adalah salah satu poin yang sudah orang tau ya. Kita pasti sudah paham harus bagaimana ketika berkendara. Harapannya, selain tau, juga dipraktekkan. Karena sehati-hatinya kita di jalanan, pasti selalu ada orang yang mungkin terburu-buru jadi lupa deh soal safety di jalanan.

    Beberapa hari yang lalu, sore hari ketika sedang berkendara, ada kejadian yang tidak enak. Bukan menimpa saya,  tapi saya adalah saksi mata langsung. Ada seorang anak kecil (3 tahunan) yang tertabrak motor. Gara-garanya, dia pengin menyusul si ibu yang sudah ada di seberang. Namanya anak kecil, gak ada yang mengawasi, main nyelonong lari aja deh. Tapi ada motor yang sudah dekat dan gak bisa lagi menghindar, si pengendara juga kaget. Tertabraklah si adek. Untungnya laju motor gak kenceng. Si ibu dan sanak sodara si adek langsung histeris, teriak panik. Si mas pengendara, langsung mengajak ke rumah sakit. Semoga sih gak ada luka yang serius.

    Saya yang datang dari arah berlawanan, ikut syok. Langsung berhenti di pinggir jalan karena lutut lemes jantung deg-degan parah. Ya ampun, kejadian di depan mata. Bener-bener ikut bingung juga, dan pengen nangis juga. Huff…

    Pembelajaran banget buat semua orang. HATI-HATI DI JALANAN! Apalagi yang punya anak kecil yang aktif, wah kudu ekstra pengawasan, banget.

    Untuk yang berkendara, safety first. Pakai kelengkapan berkendara. Karena sekali lagi, sehati-hatinya kita, pasti ada saja kejadian yang mungkin melibatkan orang lain yang kurang hati-hati.

    Terutama, jaga anak-anak kita baik-baik. Kalau memang tidak bisa menjaga sendiri, mitalah tolong orang lain yang ada di rumah untuk membantu mengawasi. Karena anak-anak terutama balita, masih belum paham soal bahaya di sekitar mereka.

    wew, bukan pengalaman yang menyenangkan, tapi sarat pembelajaran.

    semoga anak-anak dan keluarga kita selalu ada dalam lindungan Allah ya, aamiin.

  • Bakwan Si Bala-Bala

    Hujan lagi, sejuk mengarah atis ya. Kondisi ini lho yang bikin perut merajalela laparnya. Si Ai aja makan banyak sekarang *faedah musim hujan bagi perkembangan anak 😀

    Dengan tuntutan perut yang semakin tak terhingga, maka otak juga harus bisa mengimbangi ya. Makanya kali ini kita bikin gorengan aja yuuukk! Bakwan sayur aja yang gampang. Enak kan, anget-anget.

    Yuk kali ini kita bikin Bakwan! Atau bisa juga disebut Bala-Bala.

    Bakwan, yang cepet banget ludesnya padahal baru digoreng.
    Bakwan, yang cepet banget ludesnya padahal baru digoreng.

    Bahan:
    ½ buah Kol a.k.a Kubis
    2 buah Wortel
    1 bungkus Jamur Kancing (sekitar 1 ons)
    1 bungkus Kecambah (sekitar 1 ons)
    2 batang besar Daun Bawang (saya suka banyak, gurih soalnya)
    1 siung Bawang Bombay
    3 siung Bawang Putih, haluskan
    1 butir Telur
    Tepung Terigu secukupnya
    Merica
    Garam

    How to:
    1. Cincang kasar semua sayuran, satukan pada wadah.
    2. Masukkan telur, bawang putih halus, garam, merica secukupnya.
    3. Tambahkan tepung terigu, uleni hingga menjadi adonan yang diinginkan.
    4. Goreng pada minyak panas hingga kuning keemasan atau hingga matang.
    5. Setelah matang bisa langsung dinikmati.

    Selamat mencoba!

  • Simple Macaroni Schotel

    Musim hujan, selain membawa berjuta kenangan dan menyebabkan kegalauan akut, juga menyebabkan datangnya rasa lapar sesuka dia. Walaupun barusan makan, namanya hujan ya, maunya mengunyah sesuatu yang hangat, yang bikin perut dan perasaan nyaman. *halah

    Masalahnya, memang maunya sih makan-makan sesuatu, tapi apa daya tak ada makanan. Kalau sudah begini, maunya bikin sesuatu. Nah, sayapun begitu, pingin sesuatu yang enak dan ekspresss. Setelah menguprek-uprek, maka jadilah: simple macaroni schotel, a la mamap!

    YAMMM!
    YAMMM!

    Bener-bener simpel alias irit bahan, karena gak ada sih sebenernya. Tanpa susu dan keju, dan lain-lain. And this is the recipe:

    Bahan:
    200 gr Elbow Macaroni (atau apapun yang tersedia di rumah)
    4 butir Telur
    3 buah Sosis, cincang kasar
    daun bawang (ini optional, bisa diskip kalau gak suka)

    Bumbu:
    Bawang putih, Garam, dan Merica

    How To:
    1. Rebus makaroni hingga matang. Sisihkan.
    2. Kocok telur, tambahkan bumbu, masukkan sosis cincang, irisan daun bawang, dan makaroni yang sudah matang. Aduk hingga bumbu tercampur rata.
    3. Tempatkan pada wadah yang sudah disediakan.
    4. Kukus 15-10 menit atau hingga matang.
    5. Nikmati selagi hangat, yam yamm

  • Banana Cake Kukus

    Hola! Ketemu lagi di DCP, yang mana kepanjangan dari “Dirottsaha Cake Project” 😀

    Jadi gini, kemarin saya berkesempatan eksekusi salah satu cake kukus, dan hasilnya cukup menggembirakan. Karena rasanya enak dan wujudnya oke punya. Setelah suka gatot gatot kalo bikin kue, ini merupakan prestasi tersendiri buat saya hehehehe 😀 *lebay tapi gakpapah

    Jadi, beberapa waktu yang lalu saya dan keluarga pulang ke rumah leluhur suami di barat kali Progo sanah. Kembali menikmati pemandangan asri nan menyejukkan. Dan pulangnya tentu saja dibawakan macam-macam hasil bumi (alhamdulillah). Salah satunya dibawakan pisang segala rupa.

    Saya sebut segala rupa karena memang tidak satu jenis pisang saja. Ada pisang raja, pisang kepok, dan (kayaknya sih) pisang palembang. Alhamdulillah, bisa bagi-bagi tetangga kanan kiri.

    Nah, saking banyaknya pisang di rumah, yang mana makannya juga dikit-dikit, si pisang raja ini jadi mateng banget, wah daripada kebuang percuma, diinapkan dulu di klukas biar bisa dibuat sesuatu. Setelah gugling-gugling, ketemulah resep Banana Cake yang simpel dan enak, so mari kita coba, tentu saja kemudian saya sesuaikan menurut versi saya sendiri ya.

    Saya agak berlebihan pake pisangnya kayanya, ada sisa 7 buah pisang saya pake 6. Resep dari JTT saya kalikan 2, dan ada yang saya tambah kurangkan, sesuai sikon. Saya juga memakai pengembang (baking powder & baking soda), karena gak pake mixer buat ngocok telur dan gulanya (jadi bukan adonan yg mengembang). DI JTT disebutkan penggunaan pengembang kue bisa di skip, dengan catatan adonan telur dan gula harus mengembang sempurna.

    So, ini dia resep banana cake kukus a la dirottsaha!

    Enak lho, beneran! ;)
    Enak lho, beneran! 😉

    Bahan:
    6 buah pisang matang
    4 butir telur (suhu ruang)
    100 gr gula pasir
    200 gr tepung terigu protein sedang (all purpose flour)
    100 ml minyak goreng (bisa diganti mentega cair)
    1 sdt baking powder
    1 sdt baking soda

    How to:
    1. Lumatkan pisang menggunakan garpu, hal ini menjadikan pisang lumat namun masih menyisakan tekstur (kalau diblender akan menjadi sangat halus). Sisihkan.
    2. Kocok telur dan gula sampai tercampur (bila menggunakna mikser, pastikan sampai adonan mengembang).
    3. Masukkan pisang lumat, aduk perlahan dengan spatula hingga tercampur baik. Masukkan tepung dengan cara diayak ke dalam adonan telur-pisang. Aduk adonan dengan spatula, lakukan dengan perlahan agar tidak banyak busa yang mencair.
    4. Tuangkan minyak goreng, aduk hingga tercampur rata.
    5. Masukkan adonan ke dalam loyang yang sudah disiapkan (dioles mentega & tepung, atau dilapis kertas roti), kukus selama kurang lebih  20 menit hingga cake matang. Tes kematangan cake dengan lidi, jika tidak ada adonan yang menempel maka cake telah matang.

    Note: banana cake ini juga bisa dipanggang, set disuhu 170°C.

     

  • Stop Judging #medium: Oct 13, 2015

    Iya, stop judging other people. U’re not the God. Tapi sayangnya kita ini manusia dengan segala ke-sok-tahuannya, mengira dirinya lebih baik daripada sekitarnya, dan seenaknya menilai orang lain. Dan kadang kala kita menciptakan penilaian berdasarkan emosi semata. Karena manusia adalah makhluk subjektif.

    Jadi objektif itu sulit. Iya saya tahu itu. Apalagi dengan segala kaitan emosional yang kita punya terhadap suatu hal. Wah entahlah. Pun saya juga gak ngerti, kenapa ya kita sulit untuk memandang suatu hal dengan positif. Positif thinking. Positivity. Nah alangkah senangnya hidup penuh kepositifan.

    Belakangan saya melihat media sosial sebagai suatu wahana penilaian yang tidak jarang banyak negatifnya daripada positifnya. Coba lihat fesbuk, tuiter, peth, atau instageram. Parahnya netizen Indonesia ini kejam, mereka tega aja melontarkan komentar yang naudzubilah parahnya pada seseorang yang mereka ga suka. PADAHAL KENAL AJA EGAK. Hei, bukan karena seseorang itu sering kita lihat lalu kita tahu kehidupannya yang sebenar-benarnya. Entah mungkin saya ada dalam lingkaran pertemanan yang negatif mungkin? He, ini juga penilaian saya, dan negatif. Berarti stop sampai disini.

    Kepengin jadi orang tanpa prasangka. Saya sih kepenginnya begitu. Tidak mudah memang, tapi patut dicoba toh. Karena saya ingin anak saya nantinya juga begitu, tidak berprasangka pada orang lain. Tidak lebih dulu melabeli sesuatu atau seseorang sebelum mengetahui kebenarannya. Masih terus diusahakan dan diupayakan. Paling tidak tanamkan rasa hormat pada orang lain. Karena orang lain yang kita nilai itu, yang kita labeli negatif itu memiliki keluarga, memiliki orang lain juga dalam hidupnya. Bayangkan betapa rasanya anak atau orang tuanya menerima.

    Norma saling menghormati, saling menghargai dan menyayangi sesama itu masih ada kok. Bukan sesuatu yang harus ditulis dan dipajang dimana-mana. Tapi kita ini makhluk berpendidikan, jadi berperilakulah seperti itu.

    mengutip quote dari mas Anji.
    mengutip quote dari mas Anji. Hati-hati sama nabi nabi socmed ya, bisa bikin pandangan kabur.

     

  • Catatan Mamap: Happy Sekolah #medium: Oct 7, 2015

    Pulang mengantar Ai sekolah, dengan tenang dan bahagia.

    Alhamdulillah. Ya, agak lebay sedikit lah memang, tapi gapapa. Setelah segala proses yang cukup lama dan cukup membuat frustasi itu, akhirnya hari-hari mengantar ceria datang juga. Melihat Ai dadah-dadah mamap dengan hepi itu sudah sebuah pencapaian yang oke banget dalam tahap perkembangan dia, di umur empat tahunnya.

    Setelah kurang lebih sebulan, proses mengantar-menunggui-menangis dan lain-lainnya, sekarang Ai mulai ngerti lah, bagaimana sekolah itu. Setelah semua petuah-nasihat-omongan mamap yang entahlah dia paham atau gak, akhirnya sekarang dia bisa dadah-dadah hepi. Itu semua, alhamdulillah.

    Anak-anak, apalagi balita. Iya lho, si Ai itu masih balita, masih belum ada lima tahun umurnya. Aih, anakku, kadang sayapun lupa… hehe. Makhluk yang namanya anak-anak, menurut pengalaman saya selama ini, adalah makhluk yang sangat unpredictable. Tidak bisa ditebak bagaimana mood-nya. Belum tentu karena bangun tidur hari ini dia hepi, maka akan hepi juga esok hari. Kadang, tiba-tiba mewek, cranky seharian, atau tau-tau apalah. Ya begitu.

    Pengalaman ikut sekolah Ai sebulan itu juga ternyata membuka pikiran saya. Ya selama ini saya HANYA berurusan sama satu orang anak sehari-harinya. Selama sebulan ikut di dalam kelas dan juga tentunya berinteraksi bersama teman-teman sekolah Ai, saya sadar juga ternyata anak itu macam-macam juga. Yang di sekolah selalu pintar berdoa, pintar mengerjakan tugas, ternyata masih menangis juga ketika mamanya terlambat menjemput. Yang selalu terlihat happy, dan bisa ngemong teman lain, kadang menangis kalau guru favoritnya belum terlihat datang. Atau sedih karena naik motornya jalannya kurang jauh. Ya soal sepele menurut kita yang sudah tua ini, tapi matter most untuk anak-anak ini.

    Kadang, saya merasa kurang juga dalam mendampingi Ai. Kadang saya memilih untuk tidak mau paham keinginannya. Kadang saya memilih untuk sibuk mengerjakan hal lain daripada menemani dia. Dan untuk itu saya mengaku salah, dan gak bangga jadi ibu yang seperti ini. Hehe.

    Inipun, baru permulaan perjalanan hidup Ai yang insyaaallah masih sangat paaanjang dan berwarna-warni. Semoga selalu ada saya dan mas suami yang selalu mendampingi. Semoga kami bisa menemani, sesuai apa yang dia inginkan. Semoga.

  • Catatan Mamap: Ai & Sekolah #medium: Aug 11, 2015

    Senin, 3 Agustus 2015 — hari pertama Ai sekolah.
    Yay! Sudah 4tahun usianya sekarang, dan hari Senin tanggal 3 agustus 2015 ini adalah hari pertamanya masuk sekolah. Masih ditunggui, tapi alhamdulillah mau aktif ikut kegiatan, mau menjawab waktu ditanya. Cuma masih belum mau salim-salim sama bunda guru, kalo sama temennya sih mau. Temen juga ga masalah, membaur aja bisa dia main bareng. Masih oke lah.
    Semoga sih kedepannya sudah mau sekolah sendiri. Ya cuma manja di depan kok sepertinya. Bisa aja mandiri dan eksplorasi sendiri. Alhamdulillah.

    Selasa, 4 Agustus 2015 — hari kedua sekolah.
    Masih ditemenin maunya. Tapi janjinya boleh ditemenin tapi mamap nunggunya diluar. Itung-itung kegiatan kata papanya. Hohoho, okelah.
    Jadwal sekolah mulai jam 8 tapi kelas aktif mulai jam 9. Ai datang jam 8, biar aja pagi. Sepertinya masih perlu pemanasan. Biar akrab dulu sama lingkungannya deh.
    Anak-anak itu macam-macam ya. Yang sama dan jelas adalah mereka ga bisa dipaksa. Si A tabiatnya begini, si B tabiatnya begitu. *hasil pengamatan amatir.

    Rabu, 5 Agustus 2015 — hari ketiga.
    Percobaan ditinggal yg sepertinya gagal ya. Jadi, rencananya saya tidak akan menunggui Ai sekolah, tapi si Ai sukses nangis ketika dipamiti. Jadi dua hari sekolah tanpa gangguan berarti karena Ai merasa ayem ditunggui. Hari ketiga ini dicoba, ditinggal ketika anaknya masuk kelas. Rasanya sih ga fair ya kalo disimpe diem-diem gitu. Jadi kupamiti baik baik, malah jadi menangis deh. Walaupun pada saat jemput anaknya sudah baik baik saja sih.

    Kamis, 6 Agustus 2015 — hari keempat.
    Kembali menunggui Ai sampai selesai sekolah. Pasalnya, ya kondisinya agak gak sehat sih. Agak batuk. Nah ini yg masih berabe, karena kalo nangis akan memperparah batuk dan kalo batuk terus akan muntah, dan akan sesek. Not good. Jelas ini not good.
    Tapi saya sih merasa Ai agak sedikit stres atau terbebani dari semalam sebelum tidur. Memang membangun kepercayaan terhadap lingkungan baru itu tidak mudah, apalagi untuk anak-anak usia dini. Jadi disini sayapun masih clueless menyikapinya. Agak bingung ya. Disatu sisi saya pingin Ai belajar mandiri, tapi di sisi lain sebagai ibu ternyata hati saya belum cukup kuat juga. Hohoho beginilah rasanya.

    Jumat, 7 Agustus 2015 — hari kelima
    Hari berenang di sekolah jadwalnya. Sebenarnya Ai exited, karena sudah diberi tahu dari beberapa hari sebelumnya. Tapi sekali lagi, karena pengalaman ditinggal yang menurut dia ga enak, jadi ketika pagi sekolah adalah hal yang cukup berat. Bawaannya pengen nangis mulu pokoknya. Walaupun pada saat aktivitas berjalan Ai akan baik aja. Jadi setelah puas menangis dan diyakinkan bahwa mamap akan menunggu, dia memulai berenang dengan bahagia. Fiuh.

    Saya tahu, masih panjang perjalanan untuk sampai pada tahap dimana Ai bisa dadah-dadah sambil senyum ketika saya pergi setelah mengantarnya. Tapi usaha kami masih terus berjalan juga. Antara saya, mas suami, ai, dan pihak sekolah. Karena saya dulu juga pernah mengalaminya, semoga saya bisa lebih bijak mengambil sikap. Semoga.

    SEMANGAT!!!