Category: Random Thoughts

  • LPRD: Sebuah Perjalanan

    Sejak didiagnosa LPRD 2018 lalu, dan juga setelah mengarungi berbagai macam dramanya, boleh dikatakan kondisi Mas Suami sekarang ini sudah jauh lebih baik daripada saat itu. Sudah lebih sehat, sudah bisa makan seperti biasa. Biasa disini adalah sudah bisa memakan kembali apa yang waktu itu dipantang. Walaupun memang tidak berlebihan dan sudah tidak lagi minum kopi, atau teh , atau minuman berwarna. Lebih banyak konsumsi air putih saja.

    Perjalanan yang tidak sebentar, dan kesehatan yang sekarang ini dirasakan juga tidak instan. Menengok kembali episode itu, bagi kami juga tidak sedikit usaha yang kami lakukan untuk mendapatkan kesembuhan. Selain ke dokter dan konsumsi obat dan juga merubah menu makanan, ada juga jalan lain yang kami tempuh. Seperti terapi alternatif dan juga mencari kesembuhan melalui beberapa cara alternatif dan juga tumbuhan herbal.

    Obat medis. Ketika didiagnosa menderita LPR, Mas Suami hanya diresepkan obat asam lambung biasa seperti lansoprazole atau omeprazole. Diminum 1 jam sebelum makan, atau 2 jam setelah makan. Selain kedua obat itu, Mas Suami juga diperbolehkan mengonsumsi obat-obat maag yang dijual bebas di pasaran oleh dokter, kami sempat mencoba mylanta dan polysilane. Efeknya kurang lebih sama seperti lansoprazole maupun omeprazole. Konsumsi obat teratur hanya diawal-awal saja, selanjutnya ketika asam lambung turun dan kondisi perut sudah semakin membaik, obat hanya diminum saat diperlukan saja.

    Terapi alternatif. Kami juga sempat menjalani terapi alternatif di beberapa tempat. Di 3 tempat sih lebih jelasnya. Yang pertama ada sebuah tempat pijat refleksi di daerah Kaliurang, kami sempat menjalani 3-5 kali terapi disana. Selain dipijat refleksi, biasanya pasien yang berkunjung kesana akan diberi daftar pantangan, atau daftar makanan yang TIDAK BOLEH dikonsumsi selama menjalani terapi disana. Banyak bro pantangannya, pokoknya buanyakkk. Selain itu juga ada obat herbal berbentuk kapsul yang disarankan untuk dikonsumsi pasien sehari-hari.

    Setelah beberapa kali refleksi di tempat pertama, dan sepertinya tidak ada perubahan, mulailah kami lelah. Waktu itu ada tetangga yang juga memberi info tempat terapi lain, yang lebih dekat lokasinya dari rumah kami. Coba lagi demi kesembuhan. Tempat terapi ini juga semacam tempat pijat, tepatnya totok syaraf. Kami jalani seminggu 2 kali terapi selama mungkin 2 bulan. Nah di tempat ini pasien tidak dipantang apapun, tapi disarankan untuk meminum ramuan GAMBIR setiap pagi. Lha, apakah itu gambir? Biasanya dulu, gambir ini dipakai untuk campuran saat nginang. Tau to, orang dulu-dulu atau kakek nenek kita sukanya nginang, pake sirih, jambe, dan ada gambirnya. Boleh digoogling deh untuk lebih jelasnya gimana bentukannya gambir ini dan juga manfaatnya. Belinya di pasar, atau cari di marketplace mungkin juga ada kali ya. Jadi si gambir ini dihaluskan, kemudian diseduh air panas, setelah itu dibiarkan semalaman. Pagi saat bangun tidur, minum airnya saja, boleh dicampur madu.

    Ini lho gambir. Pohonnya seperti itu. Kita konsumsi getahnya yang sudah jadi blok-blok itu. Gambar pinjem dari google ya.

    Terakhir setelah sudah lelah juga totok syaraf disitu, kami sempat berhenti terapi. Capek sis terapi terus, walaupun memang kunci terapi itu ya harus rutin dan telaten. Setelah beberapa lama tidak terapi terakhir akhirnya kami pijat sendiri di rumah. Ada tukang pijat yang biasa kami panggil 2 minggu sekali untuk pijat. Tukang pijat ini memang mengerti urat dan syaraf jadi pijatnya juga pijat syaraf. Ada 4 atau 5 kali pijat, ya lumayan juga untuk merilekskan badan yang capek dan syaraf yang tegang.

    Empon-empon. Tau kan empon-empon? Bumbu dapur seperti kencur, kunyit, jahe, dan kawan-kawannya. Ketika tahu Mas Suami asam lambung parah sampai akhirnya LPR, banyak kerabat dan tetangga yang menyarankan pengobatan melalui empon-empon ini. Khususnya KUNYIT. Tapi kunyit yang dipakai bukan kunyit biasa, tapi KUNYIT EMPU. Bagian kunyit yang menjadi center, atau induk kunyit ada juga menyebut begitu. Nah, si kunyit empu ini diparut kemudian diperas airnya terus diminum deh. Seeetiap pagi bangun tidur sampe bosen, tapi ga boleh bosen namanya juga ikhtiar menuju kesembuhan kaaaann…

    Tu lho, yang tengah-tengah itu yang disebut empu, atau induknya kunyit. Gambar via google.

    Sebelum konsumsi kunyit dan gambir tadi, ada juga hal lain yang juga katanya baik untuk dikonsumsi penderita asam lambung yaitu GARUT. Tepatnya umbi garut. Kalau dipasaran, banyak dijual sudah berbentuk tepung garut. Jadi Mas Suami juga sempat konsumsi itu. Gimana cara konsumsinya? Tepung garut dilarutkan dengan air, kemudian diaduk cepat menjadi bubur sampai mendidih. Bentuknya nanti seperti lem. Tiap bangun tidur, makan itu deh. Sedikit aja gak banyak-banyak, 1 – 2 sendok makan saja. Selain itu kami juga mencari umbi garutnya langsung. Umbi garutnya diparut, airnya diminum deh. Semua itu demi kesehatan sodara-sodara.

    Nah itu yang namanya umbi garut. Gambar via google.

    Perubahan pola makan. Saat didiagnosa LPR dan diberi daftar jenis makanan yang harus dihindari, mau gak mau berubah pula menu makan Mas Suami. Praktis semua yang ada dalam daftar pantangan tidak lagi dikonsumsi. Makan apa waktu itu? Mas Suami lebih banyak konsumsi sayuran rebus, atau untuk variasi ya sayur sop tanpa sayur kol atau sawi, dan kebanyakan makan sayur bening. Sayur beningnya sendiri bukan sayur bening bayam, tapi sayur bening daun kelor dan labu siam. Kata Mas Suami sih nyaman di perut. Olahan lauknya juga yang tidak berminyak, bersantan, atau pedas. Direbus, dikukus, dibacem, sehari-hari ya begitu aja. Bosan jangan ditanya, tapi ya karena waktu itu LPR cukup mengganggu jadilah ini semua harus dijalani.

    Saat itu, memang seperti tidak terlihat perubahan. Perut tetap terasa gak nyaman, tenggorokan tetap mengganjal, telinga tetap mendengung, badan tetap terasa lelah luar biasa, asam lambung terasa tetap naik, seperti stuck aja berbulan-bulan tanpa kemajuan. Karena kami memang lupa satu hal, lupa untuk rileks. Semua terasa tegang, bawaannya emosional terus, dan memang untuk pasrah dan ikhlas itu tidak mudah. Padahal ikhlas itulah juga salah satu komponen penting yang membantu kondisi tubuh jadi lebih rileks dan lebih mudah untuk sehat. Pada saat itu memang karena kondisi, semua jadi terlihat sulit dan tidak menyenangkan.

    Alhamdulillah, setelah dipaksa untuk rutin, karena semua itu tiada hasil kalau kita gak rutin dan gak telaten. Setelah beberapa lama, mulai ada perubahan pada fisik Mas Suami. Yang tadinya tenggorokan panas jadi tidak lagi panas lagi, yang tadinya perut perih jadi tidak perih lagi, yang tadinya terasa sulit jadi lebih mudah untuk dijalani. Karena memang semua itu proses, tidak bisa instan. Sepengalaman saya, gak bisa kita cuma berharap sehat lewat obat tanpa merubah pola makan kita. Semua saling bertaut, jadi gak cuma lagu aja yang bertaut, ini semua saling bertaut dan berkaitan sis.

    Untuk saya, episode LPR ini walaupun sudah lewat tapi juga masih bisa kambuh kalau rutinitas hidup sehatnya tidak terjaga. Masih banyak juga PR untuk saya dan Mas Suami untuk berbenah dengan harapan jauh-jauh dari segala penyakit dan bahaya yang bisa saja menyerang.

    Salam sehat dan jangan lupa bahagiaaa 🙂

  • Miniset Buat Anakku

    Umurnya menginjak 9 tahun. Bukan lagi anak kecil. Mbak Ai sudah besar, literally…

    Beberapa waktu belakangan ini memang saya memperhatikan ada perubahan fisik pada Ai. Sekarang sudah siap-siap mau masuk remaja awal. Tambah tinggi dan besar. Badannya pun sudah tidak lagi flat seperti kala usianya 6 tahun. Sudah tidak lagi lucu a la anak baru masuk SD. Sudah kelas 4 sekarang. Dan tibalah saatnya saya mengenalkan dia sama yang namanya miniset.

    Seketika teringat sendiri berpuluh tahun lalu, ketika saya juga 9 tahun, kelas 4 SD. Pertama kali saya merasa ada yang lain di badan saya. Saya merasa dada saya sakit, seperti ada yang mengganjal. Dan ketika ngobrol sama Ibu saya, beliau menjelaskan soal perubahan badan perempuan. Dan soal miniset.

    Hah? Apaan pula miniset itu?!

    Dan waktu tahu apa dan bagaimana miniset itu. Wah langsung tolak! “Aku gamau pake BH!” reaksi saya waktu itu. Entah juga kenapa, saya gak bisa mengingat apalagi mengerti alasannya. Rasanya hanya “pasti nanti gak enak!” ya cuma begitu saja. Walaupun pada akhirnya Ibu membelikan dan saya juga pakai.

    Entah ya, rasanya ketika dengar kata “miniset” itu, saya merasa geli. Merasa lucu pada diri saya yang kelas 4 SD itu. “Kenapa dulu aku mengeluarkan reaksi seperti itu ya?” Rasanya lucu aja. Mungkin sebenarnya ada rasa malu juga kali ya. Karena dalam pikiran kan BH itu buat orang dewasa. Mungkin.

    Lain halnya pada Mbak Ai. Dia terlihat curious, dia sangat ingin tahu apa dan bagaimana miniset itu. Dan menyimak ketika saya beritahu soal perubahan dirinya, soal pubertas, soal bagaimana harus menjaga diri. Sepemahamannya dia. Akhirnya setelah lama berlalu, akhirnya saya beli juga lah itu miniset. Lewat marketplace. Sungguh luar biasa kemajuan jaman ini.

    Susah juga tapi pilih-pilih miniset pertama buat anak. Karena belinya online, otomatis saya gak bisa pegang bahan secara langsung. Mengandalkan review dari sesama pembeli online saja. Dan akhirnya terbelilah sudah. Mbak Ai sendiri yang pilih mau yang seperti apa. Dan setiap hari bertanya kapan sampainya. Excited rupanya.

    Ah, anakku sudah bukan anak kecil lagi. Entah kenapa saya merasa perlu menulis soal miniset ini untuk mengingat. Saya merasa ini adalah check point atau langkah awal lagi dalam kehidupan Mbak Ai yang akan masuk ke fase remaja. Sebuah milestone baru. I keep telling myself about this, bahwa Mbak Ai sudah bukan anak kecil lagi. Dan perkara beli miniset ini buat saya adalah momen yang cukup emosional. Begitulah…

    Jaga diri, Ai… Bismillah.

  • 33

    Mewah adalah bisa selalu ada dan membersamai kita.

    Alhamdulillah.

    Bismillah, semoga Allah berikan perlindungan dan keselamatan.

    16 Oktober 2020.

  • Right

    Ada satu hal, yang tiba-tiba saya mengerti setelah menjalani banyak hal belakangan ini. And it hit me just like that.

    Bagaimanapun kondisinya, yang mampu menyembuhkan dirimu adalah dirimu sendiri.

    Yang mampu menyelamatkan dirimu adalah dirimu sendiri.

    Bukan orang lain.

    Maka berilah dirimu sendiri kesempatan dan penghargaan atas pencapaianmu sekarang, apapun itu, sekecil apapun itu.

    Karena akan masalah dan kesulitan itu pasti akan selalu ada. Tapi itu akan berbeda ketika kita mampu menyelamatkan acara berbeda pula.

    Benar kata Jack Sparrow,

    The problem is not the problem. The problem is your attitude about the problem.

  • Ikhlas

    Saya baru menyadari, ikhlas itu sulit.

    Apalagi untuk ikhlas pada sesuatu yang menyakitkan.

    Menerima sesuatu yang membuat kita tidak nyaman, sesuatu yang tidak kita sukai, sesuatu yang bikin kita sakit, itu susah.

    Mulut boleh bilang “aku ikhlas, aku terima” Tapi nyatanya susah menerapkannya buat diri sendiri.

    Selalu ada pertanyaan di kepala, di dalam hati, “kenapa? Kenapa mesti begini? Kenapa mesti saya?” Dan kenapa-kenapa yang lain.

    Tapi ikhlas itu semoga bisa datang dengan pemahaman menyeluruh mengenai semua ketidaknyamanan yang kita alami.

    Penerimaan itu juga gak bisa datang mak bedunduk, saya tahu pasti ada prosesnya. Semuanya butuh proses, butuh waktu. Berapa lama? Selama yang kita butuhkan mungkin. Asal kita juga terus berusaha.

    Usaha buat berdamai dengan diri sendiri, dan jangan lupa bahagia. Berbahagialah apapun dan bagaimanapun kondisinya.

    Karena bahagia itu kita sendiri yang ciptakan.

    Itu yang mungkin sedikit saya lupakan.

  • Kala-kala

    Raising kid(s) is hard.

    Sure it is.

    I’m not complaining, but I’m curhating.

    ?

    Setiap keluarga pasti punya cerita masing-masing. Setiap Ibu pasti punya dramanya sendiri-sendiri. Saya pun begitu.

    Beda kah dari pengalaman anak #1 dulu? Jelas beda. Dan sekarang saya menyadari setiap pilihan dan keputusan yang dibuat, sedikit banyak untuk menjaga kewarasan sebagai orangtua.

    Karena kami, para bapak-bapak dan ibu-ibu ini juga butuh belajar dan istirahat. Mau anak pertama, kedua, atau keberapapun, pasti ada saat-saat semua tidak berjalan mulus.

    Dan waras itu penting. Supaya bisa enjoy dan happy.

    And happy parents makes happy kids.

    Dan saya sangat berterima kasih untuk:

    1. popok sekali pakai

    2. empeng

    Karena dengan benda-benda itu saya bisa melalui hari bersama bayi dengan gembira. Istimewa!

    There, judge me all you want.

    ?

  • #2

    “Dia memilih untuk hadir dengan caranya sendiri.”

    Senin, 19 November 2018, dini hari aku terbangun dengan rasa basah yang tidak biasa. Ngompol kah aku?

    Melirik jam, masih pukul 02.00. Beranjak ke kamar mandi, buang air kecil, tapi kenapa setelah itu masih ada yang keluar tidak terkontrol? Apa sih ini?

    Sambil kuamati cairan yang merembes keluar, sambil sadar pula aku, ini air ketubanku! Ketubanku pecah!

    Sambil terus bergerak, aku ambil tas berisi persiapan kalau sewaktu-waktu aku harus ke RS untuk melahirkan. Pelan-pelan kubangunkan Mas Suami, “Mas, kayaknya ketubanku rembes,” ujarku. Mas suami tentu saja langsung kaget dan tanya, “kamu mau ke rumah sakit?”

    “Iya,” ujarku.

    Jadilah, tiba-tiba kami sudah di dalam mobil meluncur ke RS. Kami semua, termasuk Yangti dan Mbak Ai. Dan tiba-tiba kami sampai di ruang IGD RS, jam 3 dini hari.

    Masuk dan cek sana-sini, pembukaan masih 1 dan memang belum ada kontraksi sama sekali. Tapi memang ketuban pecah dini adalah suatu kondisi yang tidak bisa disepelekan, sangat perlu penanganan medis dan dengan begitu saya sudah tidak boleh banyak bergerak kecuali ke kamar mandi.

    Dari hasil pelaporan ke dokter saya dinyatakan harus diobservasi kurang lebih 8 jam. Setelah 8 jam dan periksa dalam, memang tidak ada pembukaan lanjut. Saya disarankan untuk diinduksi untuk meneruskan proses persalinan, dan oke, akhirnya jam 10 saya diberi sebuah obat kecil yang katanya berfungsi untuk melunakkan jalan lahir dan membantu datangnya kontraksi untuk menambah pembukaan.

    Bismillah, semoga prosesnya cepat, pikir saya waktu itu. Jadi saya hanya bisa menunggu dalam posisi tidur.

    Nyatanya, ternyata sampai Senin malam, pembukaan masih mandeg disitu saja. Diputuskanlah, besok pagi saya akan dipacu via infus, istirahatlah saya untuk sisa malam itu.

    Selasa pagi, sekitar pukul 7 atau setengah 8, masuklah selang infus ke tangan. Dan memang setelah itu, ada rasa sakit seperti kontraksi yang pelan-pelan datang menyapa. Well… inilah yang ditunggu dari kemarin.

    Sampai akhirnya menjelang Ashar, bidan yang bertugas kembali melakukan periksa dalam dan menyatakan saya sudah pembukaan 4. Masuklah saya ke ruang bersalin.

    Takut?

    Jelas, pasti rasa hati tak menentu, ditambah gelombang kontraksi yang makin intens. Sungguh kumerasa sudah gak karu-karuan ? Walaupun sudah pernah melahirkan sebelumnya, entah kenapa kontraksi yang ini rasanya sepertinya lebih intens dan tanpa jeda.

    Sambil terus berusaha mengingat teori yang didapat dari senam hamil selama ini, sambil saya tekankan kuat-kuat dalam hati berkali-kali bahwa “rasa sakit ini bagus, dan sakit ini yang akan mengantarkan aku bertemu anakku”

    Inhale, exhale… Tarik nafas dalam, embuskan… Terus seperti itu, sampai akhirnya proses persalinan aktif dimulai dan akhirnya diapun menyapa.

    3750 gram, 50 cm.

    Selasa, 20 November 2018, 18:33 WIB

    Aya.

    Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah…

    Cuma alhamdulillah yang bisa saya ucapkan. Sangat bersyukur masih diizinkan melewati proses persalinan secara normal, diberi sehat dan selamat.

    Sangat bersyukur punya Mas Suami yang bisa menemani dan menjadi tempat bersakit-sakit kala kontraksi menyapa. Punya seseorang yang menemani itu sungguh menguatkan.

    Alhamdulillah ada orang tua yang selalu memberi dukungan. Kedua Ibuku yang selalu ada. Dikelilingi keluarga. Alhamdulillah.

    Yang saya sesalkan, saya lupa pamit pada Mbak Ai ketika sudah waktunya masuk ruang bersalin ? Walaupun setelah adiknya lahir, alhamdulillah dia bisa langsung menyapa adiknya.

    Terima kasih Mbak Ai, lewat kamu Mamap bisa merasakan melahirkan normal dan alami, langsung begadangan, susahnya menyusui, dan banyak hal lain yang dirasakan orang tua baru.

    Dan terima kasih Aya, sudah hadir melengkapi Mamap, Papap, dan Mbak Ai. Mengijinkan Mamap dan Papap melewati pengalaman serupa tapi tak sama dengan 7 tahun lalu ketika Mbak Ai hadir.

    Insyaallah kita diberikan kesehatan dan keselamatan, dan juga kesempatan untuk merangkai bahagia kita.

  • LPRD, GERD, dan Kecemasan

    Dua minggu berlalu setelah diagnosa LPRD ditegakkan. Praktis, selain obat, kami di rumah juga mulai berbenah pola makan Mas Suami. Dia pengin sembuh, maka dia memutuskan akan diet ketat, gak akan makan yang dipantang, dan ingin melihat bagaimana perbedaanya sebulan ke depan dengan pola makan yang baru ini.

    Gorengan? No!

    Teh? Kopi? No.

    Makanan bersantan dan gurih? No.

    Pokoknya dia punya menu sendiri, makanannya lain dari yang lain.

    Apa itu?

    Untuk amannya, mulailah dia makan rebusan sayur mayur, atau variasinya dibikin sayur bening, dan baceman. Sayur sendiri juga harus dipilih, yang tidak mengandung gas seperti kol dan sawi, dia gak makan. Sayuran seperti kangkung atau genjer yang ternyata berkulit itu juga lebih sulit untuk dicerna, dia juga gak makan.

    Cemilan buah? Ada juga, tapi pilih buah yang tidak asam seperti pisang, semangka, pepaya, dan melon.

    Selain itu, dia juga berusaha menjaga agar perut tidak kosong terlalu lama. Jadi setiap 2 jam ada yang dimakan. Yah, 2 kali cemilan di sela-sela makan besar begitu.

    2 minggu berjalan, dan dia merasa memang ada perbedaan di tubuhnya. Perutnya merasa lebih enak, tenggorokan tidak lagi panas, dan suara dengungan di telinga cenderung mengecil. Alhamdulillah, ya kan.

    Sampai tiba-tiba suatu malam dia merasa perutnya tidak nyaman. Dan kemudian berlanjut dengan badannya yang tidak enak, lemas, muntah, dan bingung. Lah, kenapa ini?

    Telapak tangan dan kakinya jadi dingin, dan semakin dia bingung memikirkan ada apa dengan tubuhnya, semakin kuat dorongan untuk muntah. Semakin bingung juga buat saya yang melihat. Kenapa ini??? ?

    Yang bisa dilakukan setelah dia tidak lagi ingin muntah, ya membaluri minyak angin, menghangatkan badannya.

    Sambil nemenin, saya juga jadi sambil gugling, soal kecemasan dan asam lambung. Ternyata, dua hal ini sangat berkaitan erat. Bahkan ada artikel yang menyebutkan bahwa lambung memiliki otak sendiri. Bukan beneran ya, tapi seakan-akan lambung bisa mengendalikan kondisi mental tubuh seperti yang bisa dilakukan otak. Buanyak artikelnya kalau dicari di gugel.

    Maka bagi penderita asam lambung, semakin kamu bingung atau cemas memikirkan suatu hal atau kondisi tubuhmu, maka semakin cemas pula dan akan meningkatkan kadar keasaman tubuh, yang berimbas pada kondisi tubuh yang gak karuan. Mbulet to?! Semacam lingkaran setan gitu lho, mengerikan ?

    Dari membaca artikel dan pengalaman yang di share orang lain, kecemasan ini ternyata juga bisa datang tiba-tiba dan sampai mengganggu aktifitas sehari-hari.

    Dan memang bagi orang lain, penderita asam lambung dan kecemasan ini terlihat mengada-ada. Lebay. Wong gak kenapa-kenapa kok. Itu yang sebagai keluarga, harus ditepis. Bahwa memang hal tersebut berkaitan dan sebagai orang terdekat saya harus bisa jadi support sistem yang baik. Tapi memanglah tidak mudah.

    Secara naluriah, sebagai istri, lihat Mas Suami tiba-tiba merasa sakit, muntah, lemas, ujung jarinya dingin dan pucat tengah malam buta lalu gimana? Ya bingung dan takut banget. Maunya ikut nangis. Tapi apakah itu membantu? Tentu tidak, ya kan Saudara-Saudara ?

    Ternyata selain Mas Suami yang harus belajar mengelola stres, saya juga harus belajar menata hati menghadapi kondisi seperti ini. Masih fail, tapi saya mencoba.

    Memang pada waktu konsul ke seorang dokter, Mas Suami juga disarankan untuk konsul ke psikiater. Waktu itu saya pikir, saran itu cukup ekstrim. Sampe harus ke psikiater segala, ya kan. Tapi ternyata dalam beberapa kasus yang parah, memang dibutuhkan pertolongan psikiater. Karena jatuhnya jadi berhubungan dengan psikosomatis, dan ini tentu saja berhubungan dengan kejiwaan. He, jadi berasa kuliah lagi ah ?

    Iya, kalo melihat di gugel istilah gangguan psikosomatis digunakan untuk menggambarkan penyakit fisik yang diduga disebabkan atau diperparah oleh faktor mental, seperti stres dan kecemasan.

    Nah ini PR yang harus dikerjakan juga deh. Mengelola stres. Kalo gak diperhatikan, bisa memperparah kondisi fisik. Itu yang akan jadi perjalanan panjang buat saya dan Mas Suami. Doakan semoga kami bisa mengarungi episode ini ?

  • Refluks Laringofaring

    Nah, apa itu Refluks Laringofaring? Refluks Laringofaring atau Laringopharieal Reflux Disease (LPR/LPRD) adalah kondisi dimana cairan lambung berbalik mengalir ke laring, faring, trakea, dan bronkus. Pendek kata, LPR adalah kondisi dimana cairan lambung berbalik naik ke area tenggorokan sehingga menimbulkan efek asam.

    Kenapa tiba-tiba bahas soal LPRD ini? Karena eh karena, saya dan Mas Suami sedang belajar untuk hidup berdampingan dengan LPRD ini. Mas Suami memang hampir dari awal tahun ini merasakan ada yang gak beres sama badannya. Awalnya rasa panas di tenggorokan menyerang, dan rasanya bikin badan kurang nyaman. Sampai akhirnya ada rasa mengganjal di tenggorokan. Hal ini sepertinya juga mempengaruhi sistem imun Mas Suami. Dia mudah sekali lelah, dan juga merasa kedinginan. Kalo dalam kondisi suhu normal aja dia merasa dingin, nah ketika memang dingin dia akan merasa lebih dingin lagi, sampai ujung-ujung jarinya merah dan pedih. Cukup membuat bingung ?

    Memang beberapa saat setelah badannya rasa gak enak, kami sempat bolak-balik dokter ini itu untuk periksa. Sebenarnya ada apa sih? Apa yang salah kok badan ni gak fit terus? Dan dari beberapa kali periksa itu, didapatlah kesimpulan Mas Suami ada kecenderungan GERD atau Gastroesophageal Reflux Disease atawa asam lambung. Ya sudah, dikasih obat dan diminum seperti biasa, tapi kok gak terus sehat? Kondisi badan masih naik turun gak jelas. Lelahlah kami bolak-balik berobat, akhirnya ya sudah lah ya, kami gak ngapa-ngapain lagi.

    Memang sembuh? Ya enggak. Seiring dengan cuaca yang mulai berubah panas, Mas Suami juga gak terlalu merasa kedinginan lagi. Cuma tiba-tiba suatu hari dia merasa telinga kanannya mendengung, heh kenapa lagi ini?!

    Akhirnya Mas Suami memutuskan untuk cek lagi ke dokter, dan kali ini dia periksa ke dokter THT, berkaitan dengan telinganya yang berdengung mengganggu. Setelah periksa dan cerita apa yang dirasakannya beberapa bulan terakhir, dokter menduga ada kemungkinan LPRD itu dan menyarankan endoskopi untuk menegakkan diagnosa. Hwhat? Diapain lagi endoskopi itu???

    Kalo baca di wikipedia, endoskopi merupakan pemeriksaan rongga tubuh menggunakan endoskop yang digunakan untuk diagnosis atau penyembuhan.Teknik ini menggunakan serat optik dan teknologi video sehingga memampukan keseluruhan struktur tubuh dapat diinspeksi secara keseluruhan. Intinya, kamu akan dimasuki semacam kamera lewat semacam kabel kecil ke dalam tubuh, bisa melalui rongga mulut atau hidung untuk melihat kondisi organ dalam tubuh. Dan biaya untuk tindakan ini tentu tidaklah murah, saudara (sekitar 600K di RS Sardjito), maka kami disarankan untuk mengurus rujukan dengan fasilitas BPJS.

    Fiuh, perjalanan masih panjang. Akhirnya setelah sana sini mengurus rujukan, jadilah juga Mas Suami diendoskopi, lewat hidung hehehe… Dan dari hasil endoskopi tersebut, tegaklah diagnosa LPRD yang diderita suami saya. Dari hasil endoskopi memang terlihat penumpukkan jaringan di beberapa bagian belakang tenggorokan. Kalau pada kondisi normal atau sehat permukaan dalam tenggorokan itu mulus, punya Mas Suami bergelombang benjol-benjol, ibarat jalan ya banyak gronjalannya. Nah itulah yang mungkin dirasakan mengganjal di tenggorokan. Karena memang asam lambung itu sifatnya keras dan bisa jadi merubah kondisi tenggorokan.

    Jadi dengan tegaknya diagnosa LPRD itu, Mas Suami diberikan obat untuk dikonsumsi. Tapi tidak hanya itu ternyata, karena penderita LPRD dan GERD yang memang ingin sembuh juga harus menghindari pemicu asam lambung itu sendiri. Tidak hanya disarankan untuk diet, tapi akan bagus jika kamu bisa memulai pola hidup sehat.

    Yang saya sesalkan, kenapa gak dari dulu saya tau hal ini. Kalo dingat-ingat memang Mas Suami sudah menunjukkan tanda masalah dengan asam lambung bukan hanya belakangan ini. Tapi jauh dari beberapa tahun yang lalu. Saat itu memang gejala yang ditunjukkan berbeda, seperti nyeri dada, perut kadang gak nyaman, ya gitu-gitu. Kami sempat rekam jantung dan gak ada masalah dengan jantung, dan saat itu diagnosa sudah mengarah ke asam lambung. Setelah itu cuma konsumsi obat aja dan biasanya setelah beberapa waktu, kondisinya akan normal lagi. Makan seperti biasa lagi.

    Biasanya, orang dengan asam lambung memang harus menghidari makanan-makanan pemicu naiknya asam lambung. Dan sekarang ini kami sedang berusaha untuk menjaga makan dan meminimalkan stres.

    Nah, ini adalah saran diet bagi penderita LPRD dan GERD. Banyak yak ?

    Bukan berarti pola makan kami dulunya kacau balau dan penuh junk food juga sih. Tapi seperti bawang putih, jahe, tomat pun itu sebaiknya dihindari. Nah saya ini suka tomat, dan kadang kalo saya makan, Mas Suami dan si Ai ya saya kasih juga. Ternyata itu terlalu asam untuk lambung Mas Suami ?

    Hal-hal kayak gitu yang dulu saya gak ngeh dan gak kepikiran. Dan cuma menggantungkan kesembuhan dari obat.

    Kalo yang ini, daftar pantangan makanan yang sudah disempurnakan melalui riset (cie riset~) sama Mas Suami.

    Jadi kalau begitu mari belajar lagi pilah-pilih makanan untuk keamanan asam lambung Ybs.

    Mari kita semangat! ?

  • Menyoal Uang Saku

    Pertanyaan yang muncul di benak saya sekarang ini adalah: “kapan sih waktu yang tepat memberikan uang saku pada anak?”

    Whaaat? Ai belum dikasih uang saku?

    Hehe… Jawabnya: iya. Ai belum pegang uang.

    Masuk usia sekolah, tentu saja ada waktunya anak-anak mau jajan. Dan jajan kan belinya pake duit, jadi pasti dikasih uang saku kan ya? ?

    Terus terang , untuk saat ini memang saya belum memberi uang saku untuk Ai. Dan memang anak itu belum ngerti duit, bisa ngitung tapi gak tau duit hehehe…

    Pernah sih, awal masuk sekolah dulu dia minta uang, katanya untuk beli susu di koperasi sekolah. Karena memang pihak sekolah hanya menjual minuman semacam susu, sari kacang ijo, atau jus untuk anak-anak. Karena snack dan makan siang sudah disediakan. Tapi gak lama kemudian, produsen minuman gak jualan lagi, dan Ai pun gak pernah saya bekali uang saku lagi. Pun kalau dia minta bekal, saya biasanya membawakan makanan, bukan uang.

    Biasanya saya membawakan uang juga untuk keperluan infaq dan menabung di sekolah, seminggu sekali. Dalam jumlah tertentu, dan bukan transaksional. Dan dia kalau beli ini itu juga masih sama saya. Ya begitulah, Ai belum tau uang.

    Sampai tiba-tiba kepikiran juga soal uang saku ini. Lalu gugling dan dari banyak artikel itu menyuarakan kalo mengenalkan uang saku itu sebenarnya bukan hanya untuk jajan anak, tapi lebih ke pengenalan pengaturan uang. Dan baik jika dimulai sejak dini.

    Wah ini saya belum tau.

    Pic via kreditgogo

    Jadi ingat jama saya sekolah dulu, orangtua saya juga memberlakukan sistem bulanan. Tujuannya ya saya mengatur pengeluaran saya sendiri, dengan konsekuensi gak punya uang di akhir kalau terlalu foya-foya di depan. Dan kadang itu kejadian ?

    Waktu itu sempat juga Ibu saya memberlakukan pembukuan, tiap akhir minggu saya lapor pengeluaran. Tapi akhirnya jeleh, karena selalu gak match dan berujung diomelin ?

    Lalu, gimana dengan Ai? Kapan ya waktu yang tepat memberi uang saku?

    Hmm… Untuk sekarang ini sih memang saya belum ingin memberi uang sebagai sangu si Ai. Saya masih lebih suka membekali dia dengan makanan atau minuman. Terutama untuk mencegah dia jajan sembarangan. Walaupun dia pasti kepengin jajan bareng temennya juga sih. Saya masih belum rela. Walaupun dia juga perlu belajar soal duit. Hehehe… mamap kok gitu yak ?

    Hmm… Mari kita pikirkan lagi…