in Random Thoughts

LPRD: Sebuah Perjalanan

Sejak didiagnosa LPRD 2018 lalu, dan juga setelah mengarungi berbagai macam dramanya, boleh dikatakan kondisi Mas Suami sekarang ini sudah jauh lebih baik daripada saat itu. Sudah lebih sehat, sudah bisa makan seperti biasa. Biasa disini adalah sudah bisa memakan kembali apa yang waktu itu dipantang. Walaupun memang tidak berlebihan dan sudah tidak lagi minum kopi, atau teh , atau minuman berwarna. Lebih banyak konsumsi air putih saja.

Perjalanan yang tidak sebentar, dan kesehatan yang sekarang ini dirasakan juga tidak instan. Menengok kembali episode itu, bagi kami juga tidak sedikit usaha yang kami lakukan untuk mendapatkan kesembuhan. Selain ke dokter dan konsumsi obat dan juga merubah menu makanan, ada juga jalan lain yang kami tempuh. Seperti terapi alternatif dan juga mencari kesembuhan melalui beberapa cara alternatif dan juga tumbuhan herbal.

Obat medis. Ketika didiagnosa menderita LPR, Mas Suami hanya diresepkan obat asam lambung biasa seperti lansoprazole atau omeprazole. Diminum 1 jam sebelum makan, atau 2 jam setelah makan. Selain kedua obat itu, Mas Suami juga diperbolehkan mengonsumsi obat-obat maag yang dijual bebas di pasaran oleh dokter, kami sempat mencoba mylanta dan polysilane. Efeknya kurang lebih sama seperti lansoprazole maupun omeprazole. Konsumsi obat teratur hanya diawal-awal saja, selanjutnya ketika asam lambung turun dan kondisi perut sudah semakin membaik, obat hanya diminum saat diperlukan saja.

Terapi alternatif. Kami juga sempat menjalani terapi alternatif di beberapa tempat. Di 3 tempat sih lebih jelasnya. Yang pertama ada sebuah tempat pijat refleksi di daerah Kaliurang, kami sempat menjalani 3-5 kali terapi disana. Selain dipijat refleksi, biasanya pasien yang berkunjung kesana akan diberi daftar pantangan, atau daftar makanan yang TIDAK BOLEH dikonsumsi selama menjalani terapi disana. Banyak bro pantangannya, pokoknya buanyakkk. Selain itu juga ada obat herbal berbentuk kapsul yang disarankan untuk dikonsumsi pasien sehari-hari.

Setelah beberapa kali refleksi di tempat pertama, dan sepertinya tidak ada perubahan, mulailah kami lelah. Waktu itu ada tetangga yang juga memberi info tempat terapi lain, yang lebih dekat lokasinya dari rumah kami. Coba lagi demi kesembuhan. Tempat terapi ini juga semacam tempat pijat, tepatnya totok syaraf. Kami jalani seminggu 2 kali terapi selama mungkin 2 bulan. Nah di tempat ini pasien tidak dipantang apapun, tapi disarankan untuk meminum ramuan GAMBIR setiap pagi. Lha, apakah itu gambir? Biasanya dulu, gambir ini dipakai untuk campuran saat nginang. Tau to, orang dulu-dulu atau kakek nenek kita sukanya nginang, pake sirih, jambe, dan ada gambirnya. Boleh digoogling deh untuk lebih jelasnya gimana bentukannya gambir ini dan juga manfaatnya. Belinya di pasar, atau cari di marketplace mungkin juga ada kali ya. Jadi si gambir ini dihaluskan, kemudian diseduh air panas, setelah itu dibiarkan semalaman. Pagi saat bangun tidur, minum airnya saja, boleh dicampur madu.

Ini lho gambir. Pohonnya seperti itu. Kita konsumsi getahnya yang sudah jadi blok-blok itu. Gambar pinjem dari google ya.

Terakhir setelah sudah lelah juga totok syaraf disitu, kami sempat berhenti terapi. Capek sis terapi terus, walaupun memang kunci terapi itu ya harus rutin dan telaten. Setelah beberapa lama tidak terapi terakhir akhirnya kami pijat sendiri di rumah. Ada tukang pijat yang biasa kami panggil 2 minggu sekali untuk pijat. Tukang pijat ini memang mengerti urat dan syaraf jadi pijatnya juga pijat syaraf. Ada 4 atau 5 kali pijat, ya lumayan juga untuk merilekskan badan yang capek dan syaraf yang tegang.

Empon-empon. Tau kan empon-empon? Bumbu dapur seperti kencur, kunyit, jahe, dan kawan-kawannya. Ketika tahu Mas Suami asam lambung parah sampai akhirnya LPR, banyak kerabat dan tetangga yang menyarankan pengobatan melalui empon-empon ini. Khususnya KUNYIT. Tapi kunyit yang dipakai bukan kunyit biasa, tapi KUNYIT EMPU. Bagian kunyit yang menjadi center, atau induk kunyit ada juga menyebut begitu. Nah, si kunyit empu ini diparut kemudian diperas airnya terus diminum deh. Seeetiap pagi bangun tidur sampe bosen, tapi ga boleh bosen namanya juga ikhtiar menuju kesembuhan kaaaann…

Tu lho, yang tengah-tengah itu yang disebut empu, atau induknya kunyit. Gambar via google.

Sebelum konsumsi kunyit dan gambir tadi, ada juga hal lain yang juga katanya baik untuk dikonsumsi penderita asam lambung yaitu GARUT. Tepatnya umbi garut. Kalau dipasaran, banyak dijual sudah berbentuk tepung garut. Jadi Mas Suami juga sempat konsumsi itu. Gimana cara konsumsinya? Tepung garut dilarutkan dengan air, kemudian diaduk cepat menjadi bubur sampai mendidih. Bentuknya nanti seperti lem. Tiap bangun tidur, makan itu deh. Sedikit aja gak banyak-banyak, 1 – 2 sendok makan saja. Selain itu kami juga mencari umbi garutnya langsung. Umbi garutnya diparut, airnya diminum deh. Semua itu demi kesehatan sodara-sodara.

Nah itu yang namanya umbi garut. Gambar via google.

Perubahan pola makan. Saat didiagnosa LPR dan diberi daftar jenis makanan yang harus dihindari, mau gak mau berubah pula menu makan Mas Suami. Praktis semua yang ada dalam daftar pantangan tidak lagi dikonsumsi. Makan apa waktu itu? Mas Suami lebih banyak konsumsi sayuran rebus, atau untuk variasi ya sayur sop tanpa sayur kol atau sawi, dan kebanyakan makan sayur bening. Sayur beningnya sendiri bukan sayur bening bayam, tapi sayur bening daun kelor dan labu siam. Kata Mas Suami sih nyaman di perut. Olahan lauknya juga yang tidak berminyak, bersantan, atau pedas. Direbus, dikukus, dibacem, sehari-hari ya begitu aja. Bosan jangan ditanya, tapi ya karena waktu itu LPR cukup mengganggu jadilah ini semua harus dijalani.

Saat itu, memang seperti tidak terlihat perubahan. Perut tetap terasa gak nyaman, tenggorokan tetap mengganjal, telinga tetap mendengung, badan tetap terasa lelah luar biasa, asam lambung terasa tetap naik, seperti stuck aja berbulan-bulan tanpa kemajuan. Karena kami memang lupa satu hal, lupa untuk rileks. Semua terasa tegang, bawaannya emosional terus, dan memang untuk pasrah dan ikhlas itu tidak mudah. Padahal ikhlas itulah juga salah satu komponen penting yang membantu kondisi tubuh jadi lebih rileks dan lebih mudah untuk sehat. Pada saat itu memang karena kondisi, semua jadi terlihat sulit dan tidak menyenangkan.

Alhamdulillah, setelah dipaksa untuk rutin, karena semua itu tiada hasil kalau kita gak rutin dan gak telaten. Setelah beberapa lama, mulai ada perubahan pada fisik Mas Suami. Yang tadinya tenggorokan panas jadi tidak lagi panas lagi, yang tadinya perut perih jadi tidak perih lagi, yang tadinya terasa sulit jadi lebih mudah untuk dijalani. Karena memang semua itu proses, tidak bisa instan. Sepengalaman saya, gak bisa kita cuma berharap sehat lewat obat tanpa merubah pola makan kita. Semua saling bertaut, jadi gak cuma lagu aja yang bertaut, ini semua saling bertaut dan berkaitan sis.

Untuk saya, episode LPR ini walaupun sudah lewat tapi juga masih bisa kambuh kalau rutinitas hidup sehatnya tidak terjaga. Masih banyak juga PR untuk saya dan Mas Suami untuk berbenah dengan harapan jauh-jauh dari segala penyakit dan bahaya yang bisa saja menyerang.

Salam sehat dan jangan lupa bahagiaaa 🙂

Write a Comment

Comment

  1. Hai mba, sy jg LPR, apakah suami mba skrg sdh sembuh total?
    Sblum sembuh apakah ad gejala sendawa terus? Trma kasih

    • Hai Mba Mona, terima kasih sudah mampir.

      Kalau sembuh total, saya rasa belum ya. Tapi kondisinya sudah jauh lebih baik dari saat pertama didiagnosa dan sudah bisa mengatasi tanpa panik. Kalau lagi stres dan asam lambung naik, biasanya gejala-gejalanya akan terasa. Minimal merasa perutnya gak nyaman.

      Mba Mona sendiri gimana?