in Note

Brave #medium: May 9, 2015

Belakangan ini di kota tempat saya tinggal banyak berhembus berita yang kurang enak didengar. Ada beberapa kasus kematian mahasiswi yang tragis, dan penyebabnya adalah kehamilan yang tidak diinginkan. Mereka meregang nyawa, nyawanya sendiri dan nyawa janin yang dikandungnya. Lalu mengapa mereka memilih untuk diam dan mengakhiri hidup? Bukankah ada pihak lain yang bisa diajak bicara? Minimal pihak lelaki yang seharusnya bertanggung jawab terhadap perbuatannya. Dimana anda pria?

Melihat berita ini, rasanya sedih. Kenapa tidak bicara? Kenapa diam? Takut, kalut, bingung, pasti banyak alasan dibalik semuanya. Takut pada orangtua, jelas mereka akan kecewa, sangat kecewa. Kita adalah anak yang dibesarkan dengan kasih sayang, dengan doa, supaya kita bisa membanggakan mereka, ya mereka akan marah. Marah sekali. Tapi semarahnya orangtua kita, mereka berhak untuk tahu dan mereka akan lebih sedih apabila kita melepas tanggung jawab.

Face it, karena itu memang salahmu, dan akan semakin salah ketika kamu hanya diam dan berusaha lari menjauh. Pasti ada jalan keluar, karena badai pasti berlalu. Dan yang akan terjadi selanjutnya adalah konsekuensi dari perbuatanmu. Ya kamu bersalah, tapi nyawa dalam kandunganmu itu tidak berdosa. Dia tidak memilih untuk ada bersamamu dalam waktu yang salah.

Hadapilah, beranilah. I’ve been there and I do know how it felt. But life must go on and now I live my life, dengan orang-orang yang menyayangiku tanpa syarat. Karena pada akhirnya, keluarga adalah tempatmu kembali, tanpa syarat.

Dan percayalah, bahwa kamu adalah perempuan berharga. Yes, you are. Bahwa kamu mampu berjalan tegak, even setelah badai besar datang menghantam hidupmu. Ya kamu salah, tapi jangan biarkan semuanya menghalangimu melihat masa depan. Ada nyawa kecil yang juga harus kamu perjuangkan, dan sampai nanti kamu bertemu dengannya, berjanjilah untuk melindunginya dengan segenap hatimu. Karena nyawa kecil itu membutuhkanmu, lebih dari siapapun.

So be brave.

Write a Comment

Comment