Memilih Sekolah Untuk Anak

Oke, memilih sekolah untuk anak. Ini adalah problematika, tepatnya salah satu problematika para orang tua muda semacam saya dan mas suami juga. Sebenernya bagaimana sih caranya mengukur dan memutuskan sekolah mana yang sesuai buat anak saya nanti? Confusing. Very confusing.

Beruntungnya, di era media sosial sekarang ini apa sih informasi yang kita gak bisa dapat. Petunjuk dari orang yang kompeten, pengalaman dari sesama orang tua mengenai sekolah A, B, C misalnya. Banyak. Pilihlah sekolah yang begini jangan begitu, masukkan anak kesini supaya begini dan gak begitu. Banyak.

Membaca banyak-banyak informasi tersebut saya jadi merasa tambah bingung! Ya sedikit tercerahkan, tapi nanti bingung lagi. Oh drama. Ya, memang banyak informasi membuka mata saya, masih perlu banyak lagi info. Karena semakin saya membaca dan mencoba memahami soal sekolah ini, saya jadi sadar sesuatu:

sebenarnya apa sih yang kita harapkan dari anak-anak saat sekolah nanti?

Jadi begini, pada dasarnya, pada saat punya anak, saya berharap dia akan tumbuh besar menjadi seperti apa adanya anak, bukan apa adanya saya. Tapi pada proses tumbuh kembangnya, saya juga ikut berharap ini itu. Tentunya embel-embel “harapan orang tua” ini juga ikut jadi salah satu hal yang mau gak mau mempengaruhi juga. Saya kepengin anak saya nanti cerdas emosinya, saya ingin anak saya lebih berkembang secara karakter, bukan cuma cerdas secara pelajaran di sekolah misalnya. Tapi apakah nanti saya sudah siap kalau si anak ini tidak menonjol dalam pelajarannya? Inilah yang saya bilang, saya yang harus banyak belajar, bukan anak-anak.

Gak bisa tutup mata, sistem pendidikan di Indonesia ini memang menitik beratkan pada prestasi. Pada hasil. Pada apa yang terlihat. Walaupun iya, sekarang ini sudah mulai banyak sekolah yang mencoba menekankan pada proses dan bukan hasil saja. Artinya, karakter anak dan bagaimana dia berproses dalam pendidikan juga akan berpengaruh. Sebagai orang tua, berarti pola pikir dan cara pandang saya juga harus dirubah dulu ya kalau tidak sama. Supaya sejalan dengan visi misi sekolah. Ataukah saya harus idealis? Kayanya sih enggak ya.

Bikin pusing kan?

Well aku pusing juga membahasakannya. Begitulah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *