Hospitalized.

Oke, mari berbagi cerita.

Yah… memang dunia parenting itu penuh petualangan ya. Kadang asik kadang ga asik, tapi yang pasti semuanya SERU. Seru dalam versinya masing-masing pastinya. Bikin tambah pengalaman dan pembelajaran buat saya dan mas suami. Kami yang baru punya anak satu ini, walaupun sudah mengarungi dunia parenting kira-kira hampir 5 tahun, nyatanya kami masih blank kalo berhadapan sama suatu hal yang bikin senam jantung. Dan awal April kemarin, momen senam jantung itu hadir di keluarga kecil kami.

Ya… setelah badai cacar datang menyerang bertubi-tubi, dan pada akhirnya saya juga menyerah kalah karena kena cacar juga. Yap, saya pun terkena serangan cacar yang bikin meriang gak jelas selama 3 hari. Mungkin saya mengalami yang namanya pusing tujuh keliling itu ya kemarin, tidur pusing, merem pusing, melek pusing, duduk pusing, apalagi berdiri, oh tidak kuat tentunya. Mual muntah, demam meriang, itu HANYA efek dari cacar. Ealah menderitanyaaa…

Saya sakit, praktis mas suami dan Ai gak keurus. Beruntung masih dibantu Kung, Uti dan Tantes, alhamdulillah masih dekat dengan orang tua. Selagi meriang berangsur-angsur berkurang, lesi-lesi cacarpun muncul. Alhamdulillah lagi gak banyak muncul, hanya beberapa. Jadi muka masih mulus hohohoho…

Selagi semua perhatian ke saya, dan saya pikir ini sudah penghabisan, karena semua orang sudah kena serangan cacar, ternyata perkiraan itu masih salah. Ternyata masih ada ujian lain menghadang di depan mata. Korbannya? Si Ai. Huhuhu… 🙁

Kayanya hari Selasa berjalan normal seperti biasa, Ai sekolah seperti biasa, mas suami ngantor seperti biasa. Tiba saatnya tidur malam, tiba-tiba mas suami mendeteksi panas tubuh yang gak biasa dari Ai (saya masih tidur terpisah, masih cacar). Saya dan mas suami, paling parno kalo si Ai demam. Ya, saya tahu sih, sebaiknya ga buru-buru dikasih obat, tapi saya langsung meminumkan obat turun panas buat antisipasi. Setelah itu tidur lah kami, ya tidur sambil waspada. Dan ternyata malam itu kami tidak ada yang bisa tidur, pasalnya Ai kemudian muntah-muntah sepanjang malam sampai pagi. Haduh ada apakah ini???

Setelah itu, bisa ditebak, Ai sakit, menolak makan, bilang kalau perutnya gak enak. Malam hari panas tinggi, siang hari membaik tapi masih semlenget. Bikin bingung. Akhirnya setelah dua hari, kamis subuh saya dan suami membawa Ai ke RS. Diagnosa dokter, masih panas biasa, obat dilanjutkan saja, tapi dianjurkan untuk cek darah pada hari ketiga. Jumat, saya kembali lagi ke RS untuk periksa dan cek darah, dan benar saja, ternyata dugaan mengarah ke DEMAM BERDARAH. Pasalnya trombosit Ai terdeteksi 158ribu dari minimal 150ribu. Dokter menyarankan untuk cek darah lagi (iya, lagi!) esoknya untuk memastikan dugaan DB itu. Sabtu, kami kembali ke RS untuk cek darah, dan iya saja, trombosit Ai sudah merosot lagi ke 91ribu. Dokter langsung menyarankan opname hari itu juga, karena kasus DB adalah kasus yang butuh penanganan secara cepat dan tepat. Salah penanganan, bisa bahaya.

Jadilah mulai sabtu siang, kami semua pindah tidur ke RS. Yah, paling tidak kami tahu, kenapa Ai panas tinggi terus menerus. Menurut hitungan, kami masuk ke RS pada hari ke-4 dalam siklus DB. Biasanya mulai hari ke-5 sampai hari ke-7 demam akan turun, tapi ini adalah mas kritis dan kecenderungannya trombosit juga ikut turun, itu yang harus dipantau terus menerus. Ah, entah berapa kali Ai diambil darah untuk di cek di lab. Alhamdulillah, dia gak nangis, gak nambek, gak protes. Kuat ya, Ai.

Pihak RS juga memberi tugas buat saya, selain observasi gejala yang tampak lewat mata, saya juga dikasih chart yang harus diisi. Jadi semua asupan makanan dan minuman si Ai harus dicatat jam berapa masuk ke tubuh, apa jenisnya, berapa banyaknya. Begitu juga apa yang keluar dari tubuh harus diperhatikan dan dicatat. Pipis, pup, dan muntah (kalau ada) jam berapa, bagaimana penampakannya, ya gitu-gitu. Pipisnya juga ditampung, jadi inilah salah satu keuntungan punya mama gendut, karena pipisnya ditatur, ya lumayan pegel lah berapa menit gitu ngangkat-ngangkat si bocah. Mas suami ngapain? Dia kebagian tugas megangin kantong infus 😛

Sempat turun sampai hitungan 59ribu, pada hari ke-6 trombosit Ai mulai naik, nafsu makan juga mulai membaik, badan sudah tidak lemas, dan bisa ketawa ketiwi cerita hepi. Ah, ini sudah menuju kesembuhan. Setelah 5 hari menginap di RS, akhirnya setelah dipastikan trombosit Ai sudah 133ribu (trombosit sudah naik diatas 100ribu), akhirnya kami diperbolehkan pulang. Tentu saja dibawakan oleh-oleh obat segambreng yan gharus dihabiskan. Tapi alhamdulillah, DB sudah berlalu, Ai kembali sehat dan makan banyak.

Rupanya DB juga menyebabkan komplikasi di organ dalam perut seperti empedu dan hati. Kecenderungannya, hati akan bengkak dan menyebabkan perut mengembung besar dan keras. Ini juga yang menyebabkan tubuh sulit kemasukan makanan. Paru-paru juga biasanya akan kelebihan cairan, nah kalau ini adalah efek samping dari infus. Karena cairan dari infus masuk ke tubuh, salah satunya juga masuk ke paru-paru. Dari pengamatan, DB yang dialami Ai masih termasuk dalam kasus DB ringan. Pada kasus DB menengah dan berat, biasanya penderita akan sangat sulit makan, dan trombosit merosot jauh hingga harus dibantu tranfusi darah atau tranfusi plasma.

Alhamdulillah sekarang sudah sehat semua, dan bismillah selalu sehat. Alhamdulillah ada Yangti yang pas banget datang. Yah, pengalaman berharga sekali. Semua orang tanya digigit nyamuk dimana, yah saya juga gak tau. Mengingat Ai ini anak yang aktif kesana kemari, kemungkinan digigit nyamuk dimana saja bisa. Plus mungkin kondisinya kemarin pas semua sakit jadi agak tidak terperhatikan. Maaf ya, Ai…

 

Terimakasih buat semua yang menyempatkan jenguk Ai di RS dan di rumah. Terimaksih untuk semua doanya, semua perhatiannya. Semoga kita semua selalu diberi kesehatan yaaa… aamiin 😀

3 thoughts on “Hospitalized.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *