Ada Apa Sih Dengan Cinta?

Jadi, setelah film AADC 2 banyak beredar di Youtube kan, saya sama mas suami ikutan nobar dan notis. Nonton bareng dan nonton gratis. Ya secara teknis sebenarnya gak gratis sih, secara kami mengorbankan bandwith internet dan listrik buat nonton kembalinya mbak Cinta dan Mas Rangga *perhitungan 😛

Anggap deh telat banget. Kami Saya memang belum nonton sekuel AADC, jadi saya rewel mewanti-wanti mas suami, jangan sampe dia nonton gak ngajak-ngajak saya (gamau banget ditinggal :D). Dan akhirnya ya semalam, setelah si Ai tidur, kami nonton deh.

Kurang lebih 2 jam nonton, dan setelah selesai nonton, kami sepakat bertanya-tanya, “sebenarnya ada apa sih dengan Cinta?” Serius ya, kami saya merasa film ini aneh, dan memang saya merasa terkesan dipaksakan karena ekspektasi tinggi para penggemar baper. Iya gak sih?!

Katakanlah memang banyak pihak yang menantikan kembalinya Cinta dan Rangga, romantis, puitis, dan is is is lainnya. Tapi dalam kacamata saya, saya masih lebih suka sekuel AADC yang dibuat oleh Line beberapa waktu lalu. Kata-kata, “jadi beda, satu purnama di New York dan di Jakarta?” jauh lebih greget sih dibandingkan, “Rangga apa yang kamu lakukan ke saya itu jahat!” Iya gak sih?! Well, sekali lagi ini hanya pendapat saya.

AADC 2 memang menggambarkan realitas setelah 14 tahun. Setelah 14 tahun memang gak mungkin semuanya masih begitu indah dan menyenangkan. Pasti ada banyak sekali perbedaan, terutama perbedaan mbak Cinta dan mas Rangga. Apa ya, gak tau aja, saya merasa dialog yang terjadi gak natural aja, gak kerasa greget. Sekarang nontonin karakter Cinta kok rasanya labil banget. Atau mungkin malah dengan tepat menggambarkan seseorang yang gak pernah selesai dengan cinta pertamanya? Penasaran selalu?

Dan ada satu scene yang sangat sayang gak bisa meng-capture momen. Yaitu saat Rangga dan Cinta pergi ke Puthuk Setumbu, sayang sekali keindahan momen sunrise dan panoramanya gak kelihatan. Udah jauh-jauh ke Punthuk Setumbu lho bro! Sayang bingiiitt.

Tapi saya sangat sadar, yang membuat film ini berbeda jauh adalah kacamata saya. Bandingkan waktu menonton AADC 14 tahun lalu saya kan masih bocah, piyik banget yang cuma ngerti mimpi-mimpi soal romantisme. Jelas waktu itu pasti termehek-mehek banget. Bandingkan dengan sekarang ketika sudah menjelang kepala 3, paling tidak kacamata saya pasti lebih rasional (soalnya udah pernah merasakan pahit manisnya cinta. ciee banget toh). Mungkin itu juga yang mengurangi rasa gregetnya kali ya.

Eniwei, ini hanya sekedar celoteh saya soal mbak Cinta dan mas Rangga. Murni dari kacamata awam saya, dan gak ada maksud untuk mendiskreditkan pihak manapun. Cao!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *