Author: dirottsaha

  • Konsekuensi?

    Banyak kasus kanan kiri yang lewat dan salah satunya kemudian ternyata dialami oleh keluarga kami sendiri. Sakit.

    Kemudian, banyak lagi kasus serupa yang membuat telinga panas. “Ah, lebih baik tidak mendengar,” batin saya berujar. Tapi seperti apapun tutup mata dan tutup telinga, kabar berita itu pasti terdengar, atau terbaca. Dan bikin mikir sendiri juga.

    Seperti berita yang tidak sengaja terbaca beberapa hari lalu, “pengacara dalam kasus klithih meminta keringanan hukuman bagi pelaku.” Tentu saja karena banyak alasan, alasan di bawah umur, alasan jera, alasan masa depan, dan lain. Intinya meminta keringanan hukuman bagi pelaku. Membaca seperti ini saya pengen teriak di depan wajah pelaku, “LALU GIMANA DENGAN KORBAN YANG SUDAH JELAS GAK PUNYA LAGI MASA DEPAN?! MANA KESEMPATAN UNTUK MEREKA?!!”

    Sedih.

    Tapi kok kemudian lewat lagi pikiran yang lain, kalau saya berada di pihak keluarga pelaku, apa kemudian saya juga mengusahakan supaya pelaku bisa dihukum seringan-ringannya? Ketika jelas dia menghilangkan nyawa orang lain.

    Sebgai orang tua, sebagaimanapun kita tidak ingin anak-anak kita terkena masalah, toh suatu hari nanti pasti mereka akan menghadapinya. Cepat atau lambat. Tapi ketika kemudian masalah itu cukup atau bahkan sangat berat, bagaimanakah respon kita pada anak? Tentu saja kita ingin menolong anak. Tapi bagaimanakah cara kita menolongnya?

    Pikiran logis saya tentu saja berkata, jelas anak mau tidak mau harus menerima semua konsekuensi dari perbuatannya dong. Biar dia belajar bahwa itu salah, dan ketika salah tentu saja setiap orang harus menerima konsekuensi kesalahannya.

    Tapi subjektivitas sebagai orang tua gimana? Tegakah saya nantinya melihat anak-anak menjalani konsekuensi itu? Saya bingung, sampai kemudian ada seorang Paman yang mengingatkan:

    kita cuma dititipi ia/mereka, titipan kuwi dudu duwek-mu, sing duwe Gusti Allah,dadi nek ora melu Gusti mesti ora bener….nek melu mesti bener……

    Dan ternyata benar, mereka ini hanya titipan, semua milik kita ini hanya titipan, bahkan kita hanya titip, nunut hidup di dunia. Bahwa semua yaang katanya kita miliki ini ada yang punya, punya Allah.

    Anak-anak kita itu titipan Allah, dititipkan untuk dijaga dan dididik sebagaimana mestinya. Dan ketika mereka bertemu dengan kesalahan, maka kita sebagai orang tua juga harus IKHLAS mempertemukan mereka dengan konsekuensi dari kesalahan itu.

    Kewajiban sebagai orang tua yang kemudian harus mengarahkan anak-anak ke jalur yang semestinya.

    Itu yang saya tangkap dari sebaris kalimat yang dituliskan oleh beliau.

    “Ai, jalan mamap dan papap bersama kamu masih sangaaatt panjang. Semoga ya, Ai, mamap dan papap selalu bisa mengimbangi setiap perkembanganmu, selalu bisa mendampingi dan memahami setiap perbuatanmu. Bantu mamap dan papap untuk selalu bisa menemani Ai sekarang sampai nanti Ai mampu berdiri kokoh sendiri. Semoga kita diberi jodoh yang panjang, untuk selalu saling menemani dan memahami, insyaAllah.”

    Love

  • Pepes Jamur Tiram

    Belanja sayur, lihat ada jamur tiram, ah beli deh. Nah, kalau biasanya si jamur cuma digowreng atawa diosyeng, ini kok kepengin dibikin sesuatu yang lain ya. Gugling-gugling kayanya bikin pepes asik juga ni. Jadilah akhirnya golek resep.

    Setelah cari resep dan nemu yang cocok, apa sih selanjutnya? Sinau! Yoi lho, disinau sik resepnya, dibaca berulang-ulang dan dipahami serta diresapi, biar pinter 😀

    Hohoho…

    Saya pakai resep pepes jamur punya mbak Diyah Kuntari via cookpad. Jadi gak cuma murni jamur tiram aja, tapi pakai campuran tahu dan telur biar makin endeuss.

    Eniwei, saya bikin pepes ini dua kali. Percobaan pertama, sesuai resep tapi kok rasanya jamurnya gak kerasa. Jadi pas bikin lagi, saya pakai 1 bungkus tahu (isi 5) dan 2 bungkus jamur tiram. Nah, yang kedua ini menurut saya rasa jamurnya lebih kerasa dan kegigit hehehe…

    So, ini lho resepnya:

    Pepes Jamur Tiram

    1 bungkus Tahu Putih (isi 5)
    2 bungkus Jamur Tiram (disuwir-suwir)
    2 batang Daun Bawang, potong-potong
    1 batang Sereh, ambil putihnya iris halus
    1 butir Telur Ayam
    1 sdt Ketumbar Bubuk
    ½ sdt Merica Bubuk
    secukupnya Gula dan Garam

    Bumbu halus :
    10 siung bawang merah
    5 siung bawang putih
    2 buah cabe merah besar
    3 cm kunyit
    3 butir kemiri
    secukupnya minyak untuk menumis

    Bahan lain:
    secukupnya Daun Pisang (bersihkan, lalu jemur hingga agak layu dan lemas)
    secukupnya Tusuk Gigi, untuk menyemat

    Cara membuat:

    1. Tumis bumbu halus sampai wangi. Matikan api.
    2. Dalam wadah hancurkan tahu sampai halus, beri tumisan bumbu, merica bubuk, ketumbar bubuk, gula, garam, serei dan telur aduk rata. Masukkan jamur dan daun bawang. Aduk rata dan koreksi rasanya.
      *bisa ditambah pedas beri potongan cabe rawit jika ingin lebih pedas.
    3. Ambil 1-2 sdm adonan pepes, taruh dalam potongan daun pisang. Bungkus dan sematkan. Lakukan sampai adonan habis.
    4. Kukus pepes jamur selama 15-20 menit.
    5. Bila suka, pepes bisa dipanggang sebentar dalam teflon untuk menguatkan aroma.
    Inilah penampakan pepes jamur ala Mamap.

    Enak dimakan hangat-hangat plus nasi hangat. Selamat mencoba! 😀

  • The Alpha-Beta-Delta-Gamma-Omega-Sigma Personality

    Discover this when scrolling down a forum page, then post it here 😀 😀 😀

    And here they are, every type with small explanation:

    • Alpha Male:

    The alpha male is the intelligent, good-looking confident male that is his own man. He does his own things and has complete confidence in everything he does. He may have some doubts about himself, but nothing will every cloud his judgement or logic. He is liked by everyone, a born leader, he has an easy charme and is well aware of his presence. Women are drawn to his charisma and to previous mentioned presence. He enjoys social-life and having lots of people around, he needs constant social interaction otherwise he starts to feel depressed or “drained” like batteries that need to be recharge. A alpha male is a natural leader who seeks out leadership positions. He the kind of person that takes action first and steps up when necessary. He doesn’t listen to or respects other authorities, he is unable to subordinate in any way.

    • Beta Male:

    The beta male is shy and introverted, far away from socially dominant like alpha-males. He follows instead of leading something, he is a wingman, a loyal companion that is plagued by insecurities and self-doubts. He is liked by the people, woman find him attractive at times but he’s the first that gets friendzoned. The beta male is nervous around people and avoids social situations, because he’s always afraid to be judged. He’s the second in command type, the smart guy behind the scenes. They do not stand out, they just do what the alpha tells him to do.

    • Omega Male:

    The omega male is the most complicated one, because you can see him in different ways. The omega male is the complete opposite of the alpha male although they have many things in common. He is confident and intelligent like the alpha, but he doesn’t care about social life. He lacks at social life behavior completely. He likes being alone and his strength comes from his self-confidence, he is his own man aswell. He doesn’t need many people around him, he has a few loyal friends around him that he trusts and that’s all he needs. He seems someway cold and distant at times because his self-possesion is active at all times, most people would call him strange and creepy, escpecially because of his lack of social skills. An Omegas trust must be earned. He is mostly the outsider that lives in a small little hut far away from everything. He is a born leader too, but he doesn’t seek this position and don’t care if he isn’t the center of the world. Generally speaking, omegas are the best leaders. He has few intimate relationships, but the ones he have excel everything an alpha could dream of.

    The other way around omegas are the losers of society, those who were never in the game. They live alone and hide in their own life. They need to be discovered and forced to their ‘luck’. They are not invited to any party, because no one would ever think of inviting them. Not because nobody likes him, just because nobody knows that he exists in the first place.

    • Delta Male

    Delta Males are the ‘normal’ men. They aren’t able to attract the most beautiful woman but instead looking for the best they can get. They search for a second-tier girl, while stubbornly ignoring all the girls that would be in their league, to end up eventually without any girl at all. If he ends up with a second-tier girl, he is constantly haunted by the thought that she loses interest in him and eventually gets her to that exact point by his behavior to get her attendance every time. He pretty much destroys himself with constant self-doubts. Deltas are clustered in groups, because they are way too fearful alone. Deltas like to put the female sex on pedastals with way too high expectations. They’re the first that bad-mouth about Alphas/Betas, completely unable to be a leader at any times. They fear being in a job with responsibility. They are afraid of talking to woman, because they see them as complete mystery. Deltas are the common people and the majority of men.

    • Gamma Male

    The invisible, unspectular, introspective. but somehow mysterious guy. He is intelligent, but neither a Alpha/Beta/Omega. Your personality and appearance is unknown and blends in with your surroundings. The gamma is a bitter person, unsuccesful with woman, hating them entirely or putting them on a throne like deltas. But if a gammas spots a girl, he becomes obsessed of her. Doing everything to get her attention, even if that means being the creepy stalker. Gammas are the ones that mumble something in a corner and nag on everything. Gammas aren’t leaders and don’t follow aswell, but they can be something like that temporary. People in general like gammas, because they know pretty much nothing about them. Gammas are the neutral force when two alphas meet each other, diffusing difficult situations is something they can do pretty well.

    • Sigma Male

    Sigmas are feared by alphas. Charming masterminds, able to manipulate everyone. Sigmas are like predators, waiting in the dark, ready to let their trap snap any time. They can talk to people like no other, the social aspect of life is their game. Sigmas are cunning, intuitive masterminds who can drag everyone to their side. They aren’t a leader like Alphas/Omegas, but people respect them, even if they think you’re strange. No one would ever dare to disagree with you. Sigmas are males that can be more powerful than Alphas/Omegas because of their amazing social skill of manipulating. You are the Joker that everyone keeps in their backhand. The man that does the dirty work behind the scenes. The man that doesn’t need any blood to settle things. But even a Sigma has its limit, you can’t manipulate everything for as long as you want. But just a smile of yours can make every alpha go rampage. Sigmas are the the ones that come to a party with the most beautiful girl, that no one has ever seen before, just to greet everyone and leave immediately after. Sigmas only use their power when necessary.

    Credit: thank you dhakra on soompi!

    *I dont own this article

  • Berbagi Informasi Seputar SD Swasta Islam di Yogyakarta

    Sehubungan (ceileh sehubungan) dengan si Ai yang tahun ini akan masuk ke SD, beberapa saat yang lalu saya mulai mencari informasi ke beberapa SD. Karena domisili kami ada di daerah Jogja utara, maka saya mencari SD yang terjangkau jaraknya dari rumah kami.

    Sekali lagi, ketika berbicara mengenai SD Swasta maka range biaya pendidikannya juga sangat variatif. Saya sempat bingung juga mencari informasi terkait biaya pendidikan di SD. Jadilah, ini beberapa SD Swasta Islam yang berada di seputaran Jl Kaliurang yang kemarin sempat saya datangi. Semoga bermanfaat.

    SD/MI Sultan Agung

    Beralamat di  Jl Kaliurang Km 7 Babadan Baru Condong Catur Depok Sleman Yogyakarta 55283.
    Telp: 0274-880980/ 7400796

    SD Salsabila Klaseman

    Alamat: Jln. Pamularsih RT.06/38 Klaseman Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.
    Telp: (0274) 4462882

    SDIT Salman Al Farisi

    Alamat: Jetis, Wedomartani, Ngemplak, Wedomartani, Ngemplak, Kabupaten Sleman.
    Telp: (0274) 4477477

    Biaya pendidikan SDIT Salman Al Farisi tahun ajaran 2017/2018.

    SD Bina Anak Sholeh (BIAS)

    Alamat: Jl Kaliurang km 10,9 Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta
    Telp: (0274) 4538094

    Biaya pendidikan SD BIAS tahun ajaran 2017/2018.

    SD Budi Mulia Dua

    Alamat: Jl Raya Tajem, Wedomartani, Ngemplak, Sleman.
    Telp: (0274) 485551

    Saya memperoleh informasi dari teman yang kebetulan berencana menyekolahkan anaknya di SD Budi Mulia. Pembiayaan SD Budi Mulia tahun ajaran 2017/2018 kurang lebih sebagai berikut:

    • biaya pendidikan: Rp 17.000.000
    • spp per bulan: Rp 600.000

    SDIT Hidayatullah 

    Alamat: Jl. Palagan Tentara Pelajar KM 14,5 Balong, Donoharjo, Ngaglik, Sleman.
    Telp: 085100486916

    Sama seperti sebelumnya, saya memperoleh informasi dari teman yang kebetulan berencana menyekolahkan anaknya di SD Hidayatullah. Pembiayaan SD Hiduayatullah tahun ajaran 2017/2018 kurang lebih sebagai berikut:

    • biaya pendidikan: Rp 5-6.000.000
    • spp per bulan: Rp 450.000

    SD Muhammadiyah Pakem

    Alamat: Jl Kaliurang km 17, Pakembinangun, Pakem, Sleman.
    Telp: (0274) 898325

    Biaya pendidikan SD Muhammadiyah Pakem tahun ajaran 2017/2018. Biaya tersebut belum termasuk dana pembangunan sekolah (besarannya bervariasi).

    Nah, itulah sedikit yang bisa saya bagi. Siapa tau, ada yang membutuhkan informasi terkait sekolah anak-anak. Mencari sekolah itu ternyata seperti mencari jodoh, lihat dulu tampilannya, bagaimana cara belajar mengajarnya, apakah cocok budgetnya, baru kemudian kita bisa klik dan berhubungan.

    Again, being a parents is a lifetime learning. I’m a lifetime learner, hopefully.

    *disclaimer: situasi dan kondisi sesuai dengan persiapan untuk tahun ajaran 2017

  • Ai’s Adventure. Chapter 3: Seleksi Masuk SD

    Seperti di cerita sebelumnya, saat ini status Ai adalah anak TK yang akan lanjut ke SD. Yaaayy…! Alhamdulillah.

    Dari banyak sekolah yang saya lihat dan pertimbangkan untuk Ai bisa masuk, ada dua SD yang saya dan mas suami pilihkan untuk Ai. Dan tentu saja untuk masuk SD ada proses seleksi yang harus diikuti anak-anak, ya kan. Dan alhamdulillah Ai sudah mengikuti proses seleksi di kedua sekolah tersebut pada Februari 2017 lalu.

    Saya dan mas suami sebenarnya yang sangat deg-degan dan bertanya-tanya, “aduh gimana nih, Ai bisa gak ya?” *cemas mode: ON. Jadilah jauh-jauh hari sebelum hari H saya dan mas suami sudah ini itu macam-macam sama Ai. Semacam petuah yang entahlah dia ngerti apa gak 😀

    Seleksi yang pertama dilakukan di SDIT Salman Al Farisi. Dari penjelasan pihak sekolah, akan dilakukan tes penjajakan yang berupa observasi terhadap calon siswa. Tapi bagaimana dilakukannya, nah ini yang saya dan suami sama-sama belum tahu.

    Sabtu pagi, 4 Februari 2017 kami bertiga berangkat dari rumah. Sampai di SD Salman, Ai terlihat cukup tegang juga. Dia tidak mau melepaskan gandengannya dan nempel sama saya terus. Mungkin dia juga kaget melihat lebih banyak orang daripada biasanya. Sementara memang jumlah siswa di TKnya tidak sebanyak ini.

    Alhamdulillahnya, dari pihak sekolah mengadakan ice breaking lebih dulu. Jadi anak-anak diajak membuat lingkaran dan bernyanyi-nyanyi bersama. Dan Ai tertarik! Dia mau melepaskan tangannya dan ikut bergabung bersama anak-anak lain. Bermain dan nyanyi.

    Nah, setelah itu baru anak-anak dibuat menjadi kelompok-kelompok kecil untuk diobservasi. Proses ini dilakukan tertutup di ruang kelas, orang tua diharap menunggu di luar. Saya dan mas suami lega karena Ai tenang saja masuk kelas, gak pake nyariin mamapapapnya hehe…

    Selama kurang lebih satu jam Ai berada di dalam kelas, akhirnya dia keluar jugak! Hoho, dan masih mau main-main. Ini menyenangkan sekali. Tanya-tanya Ai, tadi ngapain aja di dalam, katanya suruh gambar, gambar naga katanya. Asumsi saya, selain observasi behavior mungkin anak-anak ini juga dikenai tes proyeksi, lewat dragon test (ini sok taunya saya aja sik :D).

    Kegiatan anak-anak selama proses seleksi di SD Salman Al Farisi.

    Okaaayy… seleksi di SD pertama selesai dengan gembira ria 😀

    Dua minggu setelah itu, Sabtu pagi 18 Februari 2017, Ai kembali mengkuti seleksi di SD Muhammadiyah Pakem. Pilihan SD yang lain yang saya dan mas suami persiapkan untuk Ai. Mungkin karena sudah pernah mengikuti seleksi sebelumnya, Ai juga sudah lebih tau kurang lebih apa itu seleksi masuk. Cuma saya menjelaskan lagi sama dia kalau seleksi di SD ini berbeda dengan sebelumnya, karena nanti majunya satu-satu. Saya jelaskan Ai akan ditanya ini itu sama bapak atau ibu guru di SD ini.

    Sama seperti sebelumnya, ketika sampai di sekolah, Ai mungkin juga merasa tegang, karena dia kembali tidak melepaskan tangannya dari gandengan saya. Kali ini saya going solo karena mas suami jadi futsalmen bersama teman kantornya. Setelah daftar ulang dan menunggu saya juga berusaha mengalihkan ketegangan Ai sambil ngobrol dan melihat-lihat sekolah.

    Pada awalnya, dia bilang, “mamap aku gak berani” tapi ya disemangati terus. Ketika proses seleksi akhirnya mulai, Ai masih menunggu giliran, dan sambil melihat anak-anak lain. Akhirnya ketika sampai gilirannya untuk masuk dia mau masuk sendiri (sambil selalu dibilangi, mamap melihat dari luar ya :D)

    Yah, begitulah, seleksi di SD ini lebih personal dan melewati banyak pos. Ada pos penggalian potensi, pos sosial, pos kognitif, dan pos iqro. Sepengamatan saya, Ai mau menjawab apa yang ditanyakan dan melakukan apa yang diminta oleh tester walaupun dengan suara pelan dan agak malu-malu. Sementara saya deg-degan setengah mati nungguinnya 😀

    Ketika akhirnya menyelesaikan seluruh proses seleksi dan keluar ruangan. Saya amati juga ada rasa lega yang terlihat dari wajahnya. “gimana tadi?” tanya saya, dia jawab “bisa”. Okedeh, alhamdulillah dia tidak menangis dan mau kooperatif mengikuti seleksi semampu dia. Itu lebih dari cukup hehehe…

    Kegiatan anak-anak selama proses seleksi di SD Muhammadiyah Pakem.

    Jadi begitulah, si Ai yang sedang berproses jadi anak SD, mamapapapnya juga ikut berproses bersama dia. Semoga saya dan mas suami selalu bisa memahami dan mengimbangi setiap perkembangan Ai ya, insyaallah 😀

    SEMANGAT!

  • Kemanakah Pilihanku Tertuju?

    Seperti yang sudah-sudah, the biggest issue dalam rumah tangga saya tahun ini adalah: nyekolahin anak. Yap, saya dan mas suami memang tengah mempersiapkan Ai untuk masuk ke jenjang Sekolah Dasar atawa SD. And it’s quite memusingkan.

    Apa sih yang memusingkan? Banyak loh ternyata. Pertama: mulai dari fakta usia masuk SD yang disarankan. Pendidikan di SD di Jogja ini (khususnya SD Negeri) pada umumnya mensyaratkan anak untuk berusia 7 tahun (6,5 masih ditolerir). Memang sepertinya, anak dengan usia 6 keatas sudah lebih paham dan mandiri, ini pastinya akan memudahkan proses belajar nantinya gitu kan.

    Nah, unfortunately, Ai ini akan genap berusia 6 tahun pada bulan Juli 2017, yang mana tentu saja membuat kansnya untuk masuk ke SD Negeri jadi kecil. Mengingat SD Negeri diharuskan untuk memprioritaskan anak-anak yang berusia 7 atau lebih. Maka waktu itu, saya ngobrol-ngobrol sama mas suami dan bersepakat memilih SD Swasta yang berbasis agama untuk pendidikan si Ai.

    Dari situlah kemudian mulai akhir 2016 lalu saya pun keliling ke sekolah-sekolah yang kira-kira terjangkau dari rumah untuk bahan pertimbangan. Memang kemudian, kalau membicarakan soal SD Swasta ini range biayanya akan lebih banyak, pendidikan mahal bo! Kebanyakan dari SD-SD yang saya lihat adalah sekolah dengan sistem Full Day School, dan kebanyakan kegiatan belajar akan diakhiri pukul 14:00 atau 15:00 WIB. Lama yak.

    Plusnya, di SD-SD ini lebih toleran terhadap usia masuk anak. Anak tidak harus berusia 7 tahun untuk bisa diterima sebagai peserta didik. Biasanya, SD-SD ini akan mengadakan tes penjajakan berupa tes kesiapan masuk sekolah. Pada prakteknya sih, anak biasanya akan diobservasi untuk (1)melihat apakah si anak sudah siap sekolah, dan (2)melihat apakah anak memiliki kebutuhan khusus.

    Dan biasanya SD Swasta akan membuka pendaftaran lebih awal daripada SD Negeri. Di kasus Ai kemarin, saya dan suami akhirnya memutuskan untuk mengikutsertakan Ai masuk dalam seleksi SDIT Salman Al Farisi 2 dan SD Muhammadiyah Pakem, yang mana bulan Februari ini sudah penerimaan gelombang 1. Kenapa kok milih 2 SD sih? Ya biar ada banyak pandangan ajah 😀 *walopun akhirnya ya pilihan akhirnya 1 😀

    Saya melihat paling tidak sekolah-sekolah tersebut bisa mewakili keinginan saya untuk pendidikan Ai yang baik. Semoga. Tentu saja dari sekolah juga menekankan pentingnya peran serta orang tua dalam pendidikan anak. Pihak sekolah juga mensyaratkan orang tua untuk juga berhubungan erat dengan sekolah. Ya, moga-moga saya dan mas suami juga makin pinter jadi orang tua ya 😀

    Walaupun ya saya kadang masih kepengin sekolah yang begini begitu, tapi balik lagi itu kan hanya idealnya saya. Pada akhirnya, ketika saya melihat bagaimana kondisi di lapangan tentu saja idealisme itu menyesuaikan. Toh pihak sekolah pasti akan memberikan yang terbaik untuk peserta didiknya, dengan prinsipnya masing-masing. Kalo kata mas suami: “yang butuh sekolah itu ya kita map, bukan sekolah yang butuh kita!” Begitu.

    Begitulah, pada akhirnya insyaallah si Ai akan masuk SD di usianya yang ke-6 tahun ini. Doakan ya semuanya, supaya Ai jadi anak cerdas dan pemberani. Doakan juga MamaPapapnya Ai tambah pinter jadi orangtua, demi kelangsungan dan kesejahteraan rumah tangga 😀

  • Love

    It’s been a month.

    Pengingat, bahwa kita adalah keluarga. Bahwa kita akan selalu saling menyayangi dan menguatkan.

    11 Januari 2017

    Innalillahi wa innaillaihi rajiuun

    untukmu Hanani Sulma Mardiah & Ibu Etty Sularti,

    semoga ditempatkan di antara orang-orang beriman

    dan semoga kami, akan selalu saling menguatkan untuk melangkah di jalanNya.

    https://www.instagram.com/p/BIJ59yHAfgS/?taken-by=dirottsaha

     

  • Sup Ayam Sereh

    Musim hujan, bulan Desember, kata orang Jawa gedhe-gedhene sumber, yang mana terbukti hujannya betah banget. Kalau beberapa saat lalu di Jogja ini hujan biasanya datang jam 12 ke atas, ini bisa seharian gak mandeg loh. Betah.

    Nah, maka dari itu kudu pinter jaga badan dalam cuaca yang begini ini ya kan. Pulang sekolah kehujanan, pulang kerja kehujanan. Ya walaupun hujan itu juga harus disyukuri kan, air melimpah untuk kita. Biar hangat dalam cuaca dingin begini, bikin sup ayam yok!

    Seumur hidup saya, saya makan sup ayam ya kalo Uti bikin sup ayam di rumah. Uti (ibu saya) mewariskan resep sup ayam dengan hanya 2 macam bumbu: bawang putih dan merica. Simple dan sedap.

    Kemudian setelah merit, dan ketemu Yangti, ada seseuatu yang beda dari sup bikinan Yangti. Yangti (mertua saya) bikin sup ayam dengan cara yang berbeda dari yang dibikin Uti. Tetap menggunakan bawang putih dan merica sebagai bumbu dasar, tapi metodenya digongso dulu hingga harum, baru kemudian dimasukkan ke kuah kaldu. Ini membuat cita rasa yang beda lagi dengan sup ayam ala Uti, sedap ala Yangti.

    Sampe kemudian booming Sop Ayam ala Pak Min Klaten itu, dan saya bener-bener suka sama rasanya! Gurihnya beda dari sop ala Uti ataupun Yangti. Nah, sejak saat itu kadang saya suka beli sop ayam Pak Min ini untuk sarapan saat weekend, atau kadang dibungkus untuk dimakan rumah.

    Cape juga tapi tiap-tiap beli ya kan. Seporsi sop dada atau sop paha Pak Min itu paling gak 15K. Berat diongkos jugak hehehe… Akhirnya mulailah saya sering eksperimen mencoba-coba bikin resep ala Pak Min ini.

    Satu yang saya rasakan pasti, ada aroma jahe dari sop ayam ala Pak Min. Jadi mulailah eksperimen saya, masak sop dengan tambahan bumbu jahe. Tapi jadinya, mirip kuah kacang ijo, gak rasa sop. Hehehe… eror. Belom berhasil.

    Percobaan berikutnya, saya kurangi penggunaan jahe, dan saya menambah sedikit pala dalam sop. Hasilnya? Lumayan, agak mirip dikiiitt banget 😛

    Sampe saya menyadari sesuatu, ya memang saya gak akan bisa plek meniru rasa sop ayam Pak Min, karena penggunaan ayam yang berbeda juga menghasilkan rasa yang berbeda. Sop ala Pak Min itu menggunakan ayam merah sebagai bahan utamanya, sementara ketika saya membuat sup sendiri biasanya pakai ayam negri. Itu satu hal yang sudah beda jauh. Make sense right?! Itulah, saya cukup ber-ooo dan menerima, oh itu sebabnya sup yang saya bikin gak bisa sama rasanya.

    Akhirnya, sambil gugling-gugling aneka sup, musim hujan begini bener-bener pengen bikin sesuatu yang hangat dan gak bikin eneg. Masak pake kuah santan itu enak, tapi ya kadang bosen juga, eneg juga. Dari hasil gugling itu ketemu sebuah pencerahan: sereh! Yap, saya pun kepengin nyoba masak sup pake sereh.

    Setelah eksekusi, gimana hasilnya? HOHOHO… BERHASIL! Rasanya enak, sesuai dengan rasa gurih yang saya cari selama ini. Dan inilah resep lengkapnya:

    Sup Ayam Sereh ala Mamap

    Bahan:
    ½kg ayam negeri (pakai ayam merah atau ayam kampung pasti lebih endeus)
    *saya pakai bagian dada, singkirkan kulit  dan lemaknya.
    air secukupnya

    Bumbu:
    3 siung bawang putih
    1 ruas jari jahe
    1 batang sereh
    1 batang daun bawang (bisahkan batang putih dan daunnya)
    1 buah tomat, potong-potong
    ½ sdt merica
    ½ sdt pala
    garam secukupnya

    Cara membuat:

    1. Masukkan air dalam panci rebus, kira-kira setengahnya, didihkan.
    2. Cuci bersih ayam (saya menyingkirkan bagian kulit dan lemaknya), sisihkan.
    3. Geprek bawang putih, jahe, dan sereh, kemudian masukkan dalam panci berisi air. Masukkan juga batang daun bawang (batangnya yang putih saja), merica, pala, dan garam.
    4. Masukkan ayam ke dalam kuah yang sudah mendidih, masak hingga matang.
    5. Jika air kuah sudah mendidih kembali dan ayam sudah terlihat matang tambahkan lagi air (kalau mau kuahnya banyak) dan masukkan tomat dan daun bawang, didihkan lagi.
    6. Koreksi rasa, dan sajikan hangat-hangat.
      Dimakan hangat-hangat, rasanya beeeuh, mantap!
      Dimakan hangat-hangat, rasanya beeeuh, mantap! 

      note: untuk membuah kaldu, hanya gunakan batang daun bawang (bagian yang berwarna putih saja). Irisan daun bawang bisa ditambahkan ketika ayam sudah matang.

    Oke, selamat mencoba!

  • Yep.

    So… you know.

    It’s kinda good day for a laundry day, but then you found out that the water is astaghfirullah. Then you just sigh.

    Menghela nafas sambil memandangi cucian kotor, dan air yang astaghfirullah itu.

    Well, that’s how life is going on, right!

    Cheers!

  • Oseng Benteot

    Pernah dengar tanaman bernama benteot?

    Belum pernah tahu? Nih, saya kasih tahu ya.

    Ini lho yang namanya benteot.
    Ini lho yang namanya benteot.

    Sayapun baru tahu benteot ini setelah merit sama mas suami yang bertanah air di Samigaluh, Kulonprogo. Dan surprisingly rasanya enak lho!

    Benteot, atau bentheot ini bentuknya hampir seperti kecombrang, ya gak sih? Bedanya, kecombrang atau honje lebih besar dan berwarna merah, serta mempunyai aroma yang lebih kuat dari pada benteot ini. Sedangkan benteot berukuran lebih kecil-kecil dan berwarna hijau.

    Saya sendiri kesulitan mencari info lebih soal sayur atau tanaman yang satu ini. Referensi di gugel sangat terbatas. Yang saya tahu, ada pula yang menyebut benteot ini dengan sebutan tluntak, dan sepertinya banyak ditemukan di daerah Kulonprogo dan Purworejo. Kayaknya sih gitu 😀

    Dan kemarin, waktu Yangti turun gunung, dibawakanlah seikat benteot ini. Dan kemudian dimulailah tutorial memasak benteot bersama Yangti hehehe… Ya saya aja gak tahu itu sayur apa, apalagi masaknya. Kalo makan sih pasti juara 😀

    Benteot yang dibawa ini dimasak dengan metode dioseng. Sepertinya selain dioseng, benteot ini bisa dimasak juga dengan kuah santan, atau dilodeh. Atau mungkin dimasak dengan cara lain dan dicampur bahan makanan lain seperti tempe atau yang lain sepertinya oke aja. Rasanya itu lho, rempah banget. Enak.

    Benteot dan bumbu masak.
    Benteot dan bumbu masak. Pete!

    Jadi, inilah resep oseng benteot ala Yangti:

    Bahan:
    1 ikat benteot
    2 keris pete
    5 bungkus tempe kecil

    Bumbu:
    5 siung bawang merah
    2 siung bawang putih
    10 buah cabe merah keriting (kalau mau pedas bisa ditambah)
    2 lembar daun salam
    gula secukupnya
    garam secukupnya

    Cara membuat:

    1. Kupas bagian kulit luar benteot, buang bagian yang keras. Cuci bersih, dan iris menyerong tipis-tipis. Sisihkan.
    2. Potong-potong pete, potong-potong tempe, sisihkan.
    3. Iris tipis bawang merah, bawang putih, dan cabe merah.
    4. Panaskan minyak secukupnya, masukkan bumbu yang sudah diiris, oseng hingga setengah kering.
    5. Masukkan daun salam, pete, dan tempe, tambahkan gula dan garam, oseng hingga layu.
    6. Masukkan irisan benteot, tambahkan sedikit air, dan biarkan hinga layu.
    7. Koreksi rasa, jika benteot sudah empuk maka tandanya sudah matang.
    8. Matikan api, dan sajikan.
    Tarraaa... inilah oseng benteot!
    Tarraaa… inilah oseng benteot!

    Hohoho, dimakan sama nasi anget, rasanya mantap!