Commemorate this day,
October 16th,
10 years ago.

Terima kasih untuk janji dan semua usaha yang sudah dan sedang kamu tunaikan, Mas.
And…
Happy birthday to me.
Semoga kita selalu bisa membuat jalan bahagia kita, aamiin.
161018
Commemorate this day,
October 16th,
10 years ago.

Terima kasih untuk janji dan semua usaha yang sudah dan sedang kamu tunaikan, Mas.
And…
Happy birthday to me.
Semoga kita selalu bisa membuat jalan bahagia kita, aamiin.
161018
Nah, apa itu Refluks Laringofaring? Refluks Laringofaring atau Laringopharieal Reflux Disease (LPR/LPRD) adalah kondisi dimana cairan lambung berbalik mengalir ke laring, faring, trakea, dan bronkus. Pendek kata, LPR adalah kondisi dimana cairan lambung berbalik naik ke area tenggorokan sehingga menimbulkan efek asam.
Kenapa tiba-tiba bahas soal LPRD ini? Karena eh karena, saya dan Mas Suami sedang belajar untuk hidup berdampingan dengan LPRD ini. Mas Suami memang hampir dari awal tahun ini merasakan ada yang gak beres sama badannya. Awalnya rasa panas di tenggorokan menyerang, dan rasanya bikin badan kurang nyaman. Sampai akhirnya ada rasa mengganjal di tenggorokan. Hal ini sepertinya juga mempengaruhi sistem imun Mas Suami. Dia mudah sekali lelah, dan juga merasa kedinginan. Kalo dalam kondisi suhu normal aja dia merasa dingin, nah ketika memang dingin dia akan merasa lebih dingin lagi, sampai ujung-ujung jarinya merah dan pedih. Cukup membuat bingung ?
Memang beberapa saat setelah badannya rasa gak enak, kami sempat bolak-balik dokter ini itu untuk periksa. Sebenarnya ada apa sih? Apa yang salah kok badan ni gak fit terus? Dan dari beberapa kali periksa itu, didapatlah kesimpulan Mas Suami ada kecenderungan GERD atau Gastroesophageal Reflux Disease atawa asam lambung. Ya sudah, dikasih obat dan diminum seperti biasa, tapi kok gak terus sehat? Kondisi badan masih naik turun gak jelas. Lelahlah kami bolak-balik berobat, akhirnya ya sudah lah ya, kami gak ngapa-ngapain lagi.
Memang sembuh? Ya enggak. Seiring dengan cuaca yang mulai berubah panas, Mas Suami juga gak terlalu merasa kedinginan lagi. Cuma tiba-tiba suatu hari dia merasa telinga kanannya mendengung, heh kenapa lagi ini?!
Akhirnya Mas Suami memutuskan untuk cek lagi ke dokter, dan kali ini dia periksa ke dokter THT, berkaitan dengan telinganya yang berdengung mengganggu. Setelah periksa dan cerita apa yang dirasakannya beberapa bulan terakhir, dokter menduga ada kemungkinan LPRD itu dan menyarankan endoskopi untuk menegakkan diagnosa. Hwhat? Diapain lagi endoskopi itu???
Kalo baca di wikipedia, endoskopi merupakan pemeriksaan rongga tubuh menggunakan endoskop yang digunakan untuk diagnosis atau penyembuhan.Teknik ini menggunakan serat optik dan teknologi video sehingga memampukan keseluruhan struktur tubuh dapat diinspeksi secara keseluruhan. Intinya, kamu akan dimasuki semacam kamera lewat semacam kabel kecil ke dalam tubuh, bisa melalui rongga mulut atau hidung untuk melihat kondisi organ dalam tubuh. Dan biaya untuk tindakan ini tentu tidaklah murah, saudara (sekitar 600K di RS Sardjito), maka kami disarankan untuk mengurus rujukan dengan fasilitas BPJS.
Fiuh, perjalanan masih panjang. Akhirnya setelah sana sini mengurus rujukan, jadilah juga Mas Suami diendoskopi, lewat hidung hehehe… Dan dari hasil endoskopi tersebut, tegaklah diagnosa LPRD yang diderita suami saya. Dari hasil endoskopi memang terlihat penumpukkan jaringan di beberapa bagian belakang tenggorokan. Kalau pada kondisi normal atau sehat permukaan dalam tenggorokan itu mulus, punya Mas Suami bergelombang benjol-benjol, ibarat jalan ya banyak gronjalannya. Nah itulah yang mungkin dirasakan mengganjal di tenggorokan. Karena memang asam lambung itu sifatnya keras dan bisa jadi merubah kondisi tenggorokan.
Jadi dengan tegaknya diagnosa LPRD itu, Mas Suami diberikan obat untuk dikonsumsi. Tapi tidak hanya itu ternyata, karena penderita LPRD dan GERD yang memang ingin sembuh juga harus menghindari pemicu asam lambung itu sendiri. Tidak hanya disarankan untuk diet, tapi akan bagus jika kamu bisa memulai pola hidup sehat.
Yang saya sesalkan, kenapa gak dari dulu saya tau hal ini. Kalo dingat-ingat memang Mas Suami sudah menunjukkan tanda masalah dengan asam lambung bukan hanya belakangan ini. Tapi jauh dari beberapa tahun yang lalu. Saat itu memang gejala yang ditunjukkan berbeda, seperti nyeri dada, perut kadang gak nyaman, ya gitu-gitu. Kami sempat rekam jantung dan gak ada masalah dengan jantung, dan saat itu diagnosa sudah mengarah ke asam lambung. Setelah itu cuma konsumsi obat aja dan biasanya setelah beberapa waktu, kondisinya akan normal lagi. Makan seperti biasa lagi.
Biasanya, orang dengan asam lambung memang harus menghidari makanan-makanan pemicu naiknya asam lambung. Dan sekarang ini kami sedang berusaha untuk menjaga makan dan meminimalkan stres.

Bukan berarti pola makan kami dulunya kacau balau dan penuh junk food juga sih. Tapi seperti bawang putih, jahe, tomat pun itu sebaiknya dihindari. Nah saya ini suka tomat, dan kadang kalo saya makan, Mas Suami dan si Ai ya saya kasih juga. Ternyata itu terlalu asam untuk lambung Mas Suami ?
Hal-hal kayak gitu yang dulu saya gak ngeh dan gak kepikiran. Dan cuma menggantungkan kesembuhan dari obat.

Jadi kalau begitu mari belajar lagi pilah-pilih makanan untuk keamanan asam lambung Ybs.
Mari kita semangat! ?
Well… Mbak Ai Kartinian!
Sebelumnya memang selama TK, si Ai memang gak pernah Kartinian. Jadi tahun 2018 ini pertama kali kami ikut kartinian.
Kok kami?
Karena Mamap dan Yangti ikut rebyek ngikutin anaknya yang Kartinian ?. Saya dan Yangti memutuskan untuk ikut hadir di sekolah untuk melihat seperti apa acara Hari Kartini di sekolah Ai.
Di SD Ai memang tiap tahunnya memperingati Hari Kartini, dan persiapannya juga oke. Karena dari pihak sekolah menyiapkan fotografer profesional untuk mendokumentasikan acara. Dokumentasi juga termasuk foto anak-anak per person dan juga bersama kelas masing-masing. Hmm… saya aja mungkin sih yang baru tau yak ?
Persiapan dari siswa sendiri ternyata juga meriah. Karena gak cuma kebayaan ala kadarnya, tapi banyak yang memang niat memakai pakaian adat yang bermacam-macam. Itu keren! ?

Jujur saya cukup wow dengan itu. Saya gak membayangkan akan semeriah itu sambutan dari siswa. Tapi memang tiap tahun, sekolah juga mengapresiasi siswa dengan penampilan terbaik. Jadi mungkin terpacu untuk berpenampilan maksimal kali ya. Mungkin juga karena sudah setiap tahunnya Kartinian, maka siswa kelas besar juga lebih tahu dan berani berekspresi. Kalo kelas 1 masih piyik, masih isin-isin ?
Sempat ngobrol dengan beberapa ibu yang kebetulan juga mengantar anak-anaknya soal pakaian adat yang dipakai. Sewa pakaian dan makeup untuk anak usia 6-7 tahun (seusia Ai kelas 1) sebesar 75K – 100K. Kalau sewa pakaian saja sekitar 40K – 75K. Mungkin tergantung jenis pakaian adatnya kali ya.


Hmm… tahun ini baru cek-cek ombak. Supaya taun depan lebih kece ?
*ambisi ibu-ibu ?
A beautiful song from Adera
Kau adalah puisi hati
Di kala rindu tak bertepi
Ku ingin kau ada saat ku membuka mata
Hingga kumenutupnya kembali
Kau sirnakan kabut kelabu
Di sabana pencarianku
Bagai embun pagi kau
Lepaskan dahaga kemarau hati
Kaulah lukisan pagi yang kugambar untuk senjaku
Kaulah selaksana bunga yang warnai musim semiku
Di kala hati ini
Gundah…
Kau membuatnya menjadi cerah
Kaulah matahariku dan kaulah samudra
Tempat hatiku bermuara
Kau jawaban dari doaku
Yang akhiri penantianku
Bagai bintang jatuh
Kau hadirkan harapan di dalam hati
Kaulah deburan ombak yang pecahkan batu karangku
Kaulah gugusan bintang yang hiasi malam gelapku
Di kala hati hati ini
Gundah…
Kau membuatnya menjadi cerah
Kaulah matahariku dan kaulah samudra~
Tempat hatiku bermuara
Tempat hatiku bermuara
Pertanyaan yang muncul di benak saya sekarang ini adalah: “kapan sih waktu yang tepat memberikan uang saku pada anak?”
Whaaat? Ai belum dikasih uang saku?
Hehe… Jawabnya: iya. Ai belum pegang uang.
Masuk usia sekolah, tentu saja ada waktunya anak-anak mau jajan. Dan jajan kan belinya pake duit, jadi pasti dikasih uang saku kan ya? ?
Terus terang , untuk saat ini memang saya belum memberi uang saku untuk Ai. Dan memang anak itu belum ngerti duit, bisa ngitung tapi gak tau duit hehehe…
Pernah sih, awal masuk sekolah dulu dia minta uang, katanya untuk beli susu di koperasi sekolah. Karena memang pihak sekolah hanya menjual minuman semacam susu, sari kacang ijo, atau jus untuk anak-anak. Karena snack dan makan siang sudah disediakan. Tapi gak lama kemudian, produsen minuman gak jualan lagi, dan Ai pun gak pernah saya bekali uang saku lagi. Pun kalau dia minta bekal, saya biasanya membawakan makanan, bukan uang.
Biasanya saya membawakan uang juga untuk keperluan infaq dan menabung di sekolah, seminggu sekali. Dalam jumlah tertentu, dan bukan transaksional. Dan dia kalau beli ini itu juga masih sama saya. Ya begitulah, Ai belum tau uang.
Sampai tiba-tiba kepikiran juga soal uang saku ini. Lalu gugling dan dari banyak artikel itu menyuarakan kalo mengenalkan uang saku itu sebenarnya bukan hanya untuk jajan anak, tapi lebih ke pengenalan pengaturan uang. Dan baik jika dimulai sejak dini.
Wah ini saya belum tau.

Jadi ingat jama saya sekolah dulu, orangtua saya juga memberlakukan sistem bulanan. Tujuannya ya saya mengatur pengeluaran saya sendiri, dengan konsekuensi gak punya uang di akhir kalau terlalu foya-foya di depan. Dan kadang itu kejadian ?
Waktu itu sempat juga Ibu saya memberlakukan pembukuan, tiap akhir minggu saya lapor pengeluaran. Tapi akhirnya jeleh, karena selalu gak match dan berujung diomelin ?
Lalu, gimana dengan Ai? Kapan ya waktu yang tepat memberi uang saku?
Hmm… Untuk sekarang ini sih memang saya belum ingin memberi uang sebagai sangu si Ai. Saya masih lebih suka membekali dia dengan makanan atau minuman. Terutama untuk mencegah dia jajan sembarangan. Walaupun dia pasti kepengin jajan bareng temennya juga sih. Saya masih belum rela. Walaupun dia juga perlu belajar soal duit. Hehehe… mamap kok gitu yak ?
Hmm… Mari kita pikirkan lagi…
Semenjak menikah, atau tepatnya setelah jadi ibu-ibu, saya merasa seneng kalo dikasi ubo rampe dedapuran. Macam gula jawa, kerupuk, ikan asin. Hal-hal yang sangat tidak menarik perhatian saya sebelum menikah lah pokoknya. Karena menurut saya waktu itu ngapain dong ya ngasih orang kok ngasihnya gula doang.
Ternyata GULA DOANG itu bermanfaat! ?Ckikikiki…? Sungkem sama ibu-ibu sekalian?
Beberapa saat yang lalu, seorang teman mengirim teri dari seberang pulau sana. Terima kasih ya Jeng Riiiss… Ya meskipun teri itu di pasar juga ada banyak, tetep aja ini harta karun yang menyenangkan. Yasss!???
Dan kemarin setelah mikir-mikir mau dimasak apa yak teri ini. Yang dikirimin ini teri kecil-kecil, entah teri medan atau semacamnya gitu lah (saya gak tau namanya). Makanya mari kita buat sambel teri aja, lumayan buat temen makan ya kan. Atau lumayan bisa jadi nostalgia yang kangen dengan sambel teri ala angkringan (pengakuan mas suami yang adalah alumni sambel teri di angkringan).
Sambal Goreng Teri
Bahan: Teri medan atau teri yang kecil, kira-kira 250 gram
Bumbu halus:
Bawang putih 2 siung
Bawang merah 4 siung
Cabe merah, segenggam atau menurut selera
Cabe rawit, 5 buah (gak pake juga gak papa)
Kemiri 3 butir
Tomat 1 buah
Daun salam 3 lembar
Daun jeruk 2 lembar
Sereh 1 batang
Lengkuas 3 cm
Gula merah secukupnya
Gula pasir secukupnya
Garam secukupnya
Cara membuat:

Sambal teri ini cocok untuk teman makan, dan bisa disimpan cukup lama asalkan disimpan dengan benar dalam wadah tertutup rapat.
Daaann… tentu saja COCOK kalo dijodohkan sama nasi angeeett!

Salam teri!
Kalau kata Yangtinya, ini adalah salah satu cara si Ai “menterjemahkan rasa”.
Kutahu rasanya berteman sangat menyenangkan
Lihat matahari sangat panas
Lihat hujan sangat basah
Lihat bintang sangat berkilau
Note ini dia tunjukkan ke saya dan mas suami setelah uprek sendirian sambil bernyanyi-nyanyi lirih.
Memang si Ai biasanya suka bikin sesuatu sekepenginan dia. Kadang gambar sesuatu, atau menulis, itupun sesuai mood dia. Ya dengan kemampuan menulis dan mengejanya yang kadang masih terbalik-balik dan kelewat hurufnya ?
Selalu ceria ya, Ai ?
Katanya, kita tidak boleh mengukur rizqi hanya semata dalam hitungan finansial.
Anak yang sehat, itu rizqi.
Suami yang sabar, itu rizqi.
Setiap hari selalu bisa makan, itu rizqi.
Dekat dengan orangtua, itu rizqi.
Bangun tidur setiap pagi, itu riqzi.
Segala sesuatu dalam kehidupan kita sehari-hari yang terasa berat, namun bisa kita lalui, itu rizqi.
Kehidupan kita ini adalah rizqi dari Allah.
Saya masih belajar untuk selalu bersyukur apapun itu riqzi yang Allah kasih dalam hidup saya.
Walaupun kadang, saya lupa dan masih mengeluh kenapa begini, kenapa begitu.
Bersyukurlah, Map.
Salah satu muatan pelajaran yang didapatkan Ai di sekolah adalah SBdP. Nah apa itu SBdP? Ternyata, SBdP ini adalah singkatan dari Seni Budaya dan Prakarya. Ada kalanya anak-anak diminta untuk membuat suatu tugas prakarya, dengan bantuan orang tua.
Beberapa waktu lalu salah satu prakarya yang harus dibuat mbak Ai adalah boneka dari kulit jagung. Boneka yang dimaksud adalah boneka kecil untuk hiasan pensil. Jadi boneka ini akan ditempel pada bagian atas pensil. Atau kita bisa menganggap si pensil ini menjadi badan bonekanya.
Seperti biasa, kalo anak-anak yang dapat tugas maka yang riweuh adalah orang tuanya hohoho… Yah begitulah, namanya juga baru kelas satu, ya kan 😀

Nah, setelah membaca baik-baik panduan bikin boneka seperti yang tertera di buku pelajaran si Ai, maka kemudian tugas Mamap tentu saja adalah: beli jagung.

Sudah beli jagung lalu harus diapakan? Pertama tentu saja, kupas kulit jagungnya. Hati-hati saat mengupas, karena kita membutuhkan kulitnya menjadi lebar, maka harus dikupas satu persatu.
Setelah itu, jemur kulit jagung hingga kering. Kaau matahari terik penjemuran bisa dilakukan dalam waktu singkat. Tapi kalau keadaan mendung dan tidak mendukung, bisa dibantu dengan menyetrika kulit jagung. Dengan disetrika, selain mengeringkan, juga bertujuan melebarkan kulit jagung yang tergulung. Jadi lebih mudah dibentuk. Selain itu, kulit jagung yang kering sempurna akan lebih awet dan tidak menjamur.

Hoho… beginilah hasil kreasi Ai dan Mamap! Jauh dari kata sempurna memang, tapi ternyata memang membentuk untuk jadi seperti itu juga lumayan susah hehehe…
Seriously, people nowadays are scary. Ini serius.
Entah karena mungkin juga informasi itu bisa didapat dari mana saja terutama media sosial, info soal banyak orang ngawur itu dimana aja ada. Terliput media dan terekam kamera.
Ini tahun 2017, dan sekarang ini orang lebih menakutkan daripada hantu. Saya belajar bahwa orang bisa melakukan apa saja demi mewujudkan keinginannya. Atau jika sedang gelap mata, bahkan sampai menghilangkan nyawa orang lain.
Beberapa saat yang lalu banyak terdengar kabar yang tidak menyenangkan yang khususnya banyak menimpa perempuan. KDRT atau sampai membuat hilang nyawa orang lain. Dengan begitu mudahnya. Itu manusia terbuat dari apa? Kok sampai hati ?
Atau mereka memang tidak punya hati.
Saya bingung, kenapa para pelaku ini bisa begitu? Gak sekolah kah mereka? Gak diajari saling menghormati kah sama orang tuanya? Gak punya agama kah mereka?
Kenyataannya di negara kita ini agama tidak menjamin perilaku.
Nyatanya pelaku yang melukai keluarga kami kemarin katanya rajin puasa dan mengaji.
Kenapa???
Dan korban biasanya bukan orang lain, tapi justru orang yang dekat dengan pelaku. Yang katanya cinta dan sayang. Omong kosong!
Sebenarnya apa sih yang kurang? Kenapa manusia jadi begitu? Kenapa kita jadi begitu? Terus gimana masa depan anak-anak kita nanti? Gimana nanti anakku?
Sampai situ saya kaget. Kaget kenapa? Ya saya sadar, sedikit banyak perilaku seseorang terbentuk karena keluarganya juga. Sebenarnya saya kepengin nanya, “mas, pak, dan semua pelaku kekerasan itu, apa iya dalam keluarganya dulu pernah jadi korban juga?” Atau pertanyaan semacam, “kamu gak pernah diajari menghargai orang lain po?!” Tapi ya itu hanya terjadi di kepalaku saja. Meh takon karo sopo emang? Ya to?!
Dan kaget juga karena sadar, saya ini orangtua. Berarti tanggung jawab untuk membentuk anak jadi manusia yang betul juga menempel sama saya. Mau sekacau apapun dunia di luar sana, tanggung jawab kita juga membenahi perilaku anak-anak kita, dengan harapan itu akan membawa perubahan.
PR kita itu, jadi orangtua yang bisa jadi teladan anak-anaknya.
Yang menghargai orang lain.