Author: dirottsaha

  • #love

    Sesimpel dia selalu membalas chat-mu kapanpun dan soal apapun. 

    Sesimpel itu, artinya dia menyayangimu. Dia memprioritaskan kamu. Karena kamu penting dalam hidupnya, seperti dia penting dalam hidupmu. 

    And you should be grateful for that. 

    That he loves you, as you love him. 

  • PSS Day

    Mas Suami adalah seorang penyuka bola. Penyuka MU dan pegiat futsal, karena katanya ku tak sanggup kalo main di lapangan besar ?

    Berawal dari kegemaran mas Suami inilah akhirnya tanggal 20 September 2017 kemarin kami nonton pertandingan bola secara live di Stadion Maguwoharjo. Kami nonton PSS yang kala itu berlaga melawan Cilegon. Ini pengalaman yang WOW kalo kata saya ?

    Sebenarnya, nonton PSS di Stadion Maguwoharjo bukan kali pertama buat Mas Suami. Sebelumnya sudah beberapa kali dia nonton tapi sendiri. Terakhir kali nonton, pas ada kesempatan buat ngajakin Kung En, akhirnya nonton deh berdua mas Suami dan Bapaknya.

    Dan dari beberapa kali nonton itu, Mas Suami akhirnya berkesimpulan ini aman kalo ngajak keluarga, khususnya ngajak anak. Dan jadilah Rabu malam kemarin saya dan mbak Ai ikut menjadi salah satu penonton PSS vs Cilegon. Hohohoho… mumpung Kamis tanggal merah. Ale…!! ?

    Lalu gimana rasanya? Wah, memang ya, nonton live itu beda daripada cuma di depan TV. Suasana dan segalanya, terutama dukungan dari fanboy PSS itu lho yang luar biasa energinya. Para Slemania, Sleman fans, dan BCS terus menerus menyanyikan chant untuk menyemangati para pemain. Itu sesuatu yang luar biasa kalo menurut saya. Mereka konsisten dari awal sampai akhir pertandingan terus menyalurkan energi dan dukungannya. It was something amazing.

    Lalu mbak Ai gimana? Hoho… dia senang juga mengikuti nyanyian para pendukung PSS. Tapi bolanya lama banget, gitu katanya. Hahaha… bosan dia ?

    Lepas dari keseruan pertandingan dan dukungan yang menyemarakkan Stadion kemarin, memang ada beberapa kondisi yang juga kurang menyenangkan lah untuk penonton yang membawa balita dan anak-anak. Tentu saja penyumbang ketidaknyamanan terbesar adalah: asap rokok.

    Di area yang begitu besar, banyak orang, dan kebanyakan adalah laki-laki dewasa, bisa dipastikan juga banyak perokok. Kita juga tidak bisa mengendalikan apakah kita duduk di posisi yang sedikit orang merokoknya, atau juga mengendalikan arah angin. Jadi yang paling baik yang bisa kita lakukan untuk antisipasi salah satunya ya dengan menggunakan masker.

    Dari ikut nonton bola live kemarin, yang bisa saya siapkan terutama ketka mengajak anak-anak adalah:

    1. Siapkan makanan dan minuman. Saya kemarin membawa arem-arem dan roti tawar. Masukkan dalam plastik, karena biasanya gak boleh bawa wadah plastik semacam taperwer gitu. Hal ini juga berlaku untuk minuman.
    2. Bekali diri dengan MASKER dan jaket, lebih bagus jika memakai pakaian panjang dan bersepatu. Jadi gak kena debu terlalu banyak.
    3. Pipis dulu sebelum pertandingan dimulai, dan sebelum tempat duduk terisi penuh. Terutama pipiskan anak-anak dulu, karena kalau kepengin pipis di tengah pertandingan pasti susah jalannya.
    4. Perhatikan kesehatan anak-anak. Ketika Mas Suami mengajak nonton, artinya mulai itu juga mbak Ai harus dijaga kondisinya. Buat Ai yang punya riwayat alergi, kondisi banyak asap dan debu bisa bikin dia batuk dan sesek. Jadi saya dan Mas Suami harus memastikan kondisi tubuh Ai selalu oke dengan asupan makanan yang cukup dan bergizi.

    Yah begitulah persiapan buat nonton PSS live kemarin, ribet tapi yang penting anaknya sehat selamat sentosa ? Walaupun saya tahu pasti rasanya gak enak pake-pake masker segala, tapi yo dipake aja Ai, demi kesehatanmu.

    Jadi, sampai berjumpa di PSS Day selanjutnya. Ale…!!!

    https://www.instagram.com/p/BZRMV_FgrlY/?taken-by=dirottsaha

  • Pais Labu Kuning

    Kembali mendapur bersama Mamap!

    Hoho… jadi beberapa saat yang lalu saya melihat ada yang share resep pais labu, dilihat-lihat kok jadi kepengin ya… Jadilah jiwa mendapur kembali berkobar.

    Gugling resep, hmm… sepertinya ini bisa dicoba nih.

    Tapi eniwei, pais itu apa sih? Istilah pais sendiri banyak saya dengan ketika kemarin mudik ke Banjarmasin dan kebetulan ada tetangga yang mengirim pais pisang ke rumah. Rupanya, pais ini serupa dengan nagasari. Serupa, tapi tak sama. Ada beberapa hal yang membedakan seperti teksturnya, dan cara pengolahannya. Tapi kedua jenis makanan ini memang mirip, kalo menurut saya sih.

    Cek-cek resep, akhirnya saya pakai resep dari cookpad punya mbak Diana Endri, bedanya labu kuning saya kukus dulu baru diolah. Menurut resep sih diparut saja cukup, mengingat labu juga cepat empuk kalau dimasak. Cuma saya mencoba dikukus lalu dihaluskan dulu.

    Pais Labu Kuning

    Bahan:
    400 gram labu kuning
    2 genggam kelapa parut
    100 gram gula pasir
    150 gram tepung beras
    100 ml santan
    ½ sdt garam
    daun pisang

    Cara membuat:

    1. Kupas labu, cuci bersih, kukus sampai empuk, lalu haluskan.
    2. Tambahkan gula pasir, tepung beras, kelapa parut, santan, dan garam, lalu aduk hingga menjadi adonan.
    3. Bungkus adonan dengan daun pisang.
    4. Kukus pais labu kuning kurang lebih 30 menit.
    5. Sajikan

    Penampakan si pais labu kuning

    Enak lho, legit dan manisnya pas. Saya menambahkan irisan pisang, cuma sebagai pemanis aja sih, mumpung ada pisang di rumah. Cuman memang kurang gemuk ya si pais, jadi makannya gak cukup satu hehehehe… 

    Cara bungkusnya gimana? Simple aja, tinggal digulung dan dilipat, ga pake disemat. Tapi mungkin kalau daunnya kurang panjang perlu disemat di ujung-ujungnya. 

    Begini lebih jelasnya

    Nah, selamat mencoba ya! Pas buat teman ngobrol dan ngeteh. 

  • Sekolah, setelah 2 minggu

    Sudah 2 minggu si Ai merasakan jadi anak kelas 1 SD. Sudah 2 minggu juga mamapapapnya bangun gasik dan menyiapkan anaknya. Perbedaannya cuma, setelah 2 minggu gak kerasa ngantuk-ngantuk amat kalo pagi, hoho…

    Minggu pertama sekolah Ai, masih diisi dengan acara orientasi dan pengenalan lingkungan sekolah, jadi masih pulang lebih awal dari jadwal normal. Minggu kedua, sekolah benar-benar dimulai. Dan tentu saja mamapapapnya ikut sekolah.

    Menimbang memang anak-anak baru kelas satu, kami para orang tua diberi edaran informasi pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dari sekolah. Saya rasa sekolah juga menuntut orang tua untuk ikut aktif dalam pendampingan belajar anak-anaknya. Jadilah saya dan mas suami, yang juga harus ikut mencermati apa-apa saja yang perlu dilakukan dan dibawa untuk kelancaran kegiatan belajar Ai.

    Ribet ya? Ya memang… Pokoknya ikut sekolah ?

    Sampai sekarang saya merasa seneng-seneng aja ikut ribet yak, hehehe… Saya menikmati kayaknya. Well, sesimpel antar jemput. Sampai sekarang sepertinya saya satu-satunya orang tua yang mengantarkan anaknya sampai kelasnya. Ikut masuk pula. Walaupun kemudian saya tinggal sih. Kok rasanya tu ya ayem, melihat anaknya sudah masuk ke kelasnya.

    Baru deh sadar kalau saya seperti Bapak saya. Dulu, beliau kalau mengantarkan anaknya sekolah selalu kalau bisa ya sampai kelas, sampai ke tempat duduknya, tiga-tiganya. Yang ada kami anak-anaknya suka protes, karena malu, gengges banget Bapak ni, saya merasa begitu dulu. Ternyata, sekarang saya merasakan juga, ternyata nganterin anak sampai kelasnya itu puas ?

    Begitu juga dengan jemput, selama ini saya sudah stand by sebelum dia keluar kelas. Sekaligus cek-cek, apa yang tadi dimakan di sekolah (Ai dapat makan siang di sekolah), dan kadang bertukar info dengan wali murid yang lain. Yah, gitu lah ibu-ibu ?

    Ai gimana? Sampai sekarang sih dia asik-asik aja, masih seneng aja dianterin sampai kelas. Mungkin ada masanya nanti dia akan menolak saya masuk kelas dan minta diantar jemput sampai gerbang saja. Tapi ya selama dia oke, saya juga oke, hehe… ?

    Satu yang masih mungkin masih saya dan mas suami khawatir, kondisi kesehatan Ai. Dengan riwayat alerginya, saya dan mas suami memang terbilang ketat untuk urusan makanan. Sebisa mungkin dia tidak terlalu banyak makanan manis karena bisa jadi penyebab batuk alerginya yang berujung sesak. Sejauh ini, she’s doing just fine, makan makanan atau minuman manis, ya. Tapi sebisa mungkin minim. 

    Ai capek, tentu saja iya. Sekolah formal itu menyita tenaga, dari pagi sampai siang. Saya masih agak kedodoran untuk urusan istirahat. Antara pengin Ai istirahat agak lama (ketika tidur siang), tapi juga kalau bangun kesorean bisa membubarkan jadwal tidur malamnya. Sementara besok pagi harus kembali bangun gasik. He, bingung ?

    Well, semua pengalaman bertemu teman baru, lingkungan baru, dan kewajiban baru ini tentu saja membawa perubahan. Dan saya tahu ini bukan hal yang mudah buat Ai.  Saya cukup surprise Ai bisa melewati ini dengan oke. Bahkan dengan sangat baik, gak pake banyak drama (baca: histeris) lah. This is way much better daripada waktu dia masuk TK. Tentu saja mungkin karena sudah pernah sekolah sebelumnya yak.  Semoga bisa keep going forward ?

    Ada satu kejadian yang cukup membuat saya yakin Ai akan baik-baik saja di sekolah. Pada hari kedua bersekolah, dia sempat duduk sendirian (jumlah anak di kelas Ai ganjil) karena datang lebih siang dari sebelumnya. Nah si teman duduk yang kemarin, sudah keburu duduk sama teman yang lain. Jadilah dia duduk sendiri deh. Saya agak khawatir dia akan sedih dan hal bisa ini mempengaruhi kesannya terhadap sekolah. Surprisingly, dia enjoy aja tuh. Waktu ditanya dia bilang, “gak papa kok Ma, aku seneng duduk sendiri, jadi gak ada yang gangguin. ” Dan main seperti biasa sama temannya ketika istirahat. Whaaat… Ini benar-benar di luar perkiraan saya. Kamu oke banget deh, Ai ?

    Yah, sebelumnya emang banyak yang bilang, “gak papa, nanti pasti bisa kok anaknya, kadang orang tua terlalu khawatir sama anaknya” Ternyata ya memang bener. Anak-anak pasti bisa kok, mereka justru punya cara menyelesaikan masalahnya dengan tidak terduga. Biarkan mereka belajar, gak perlu kita selalu berusaha menjaga. Sesekali mereka juga perlu jatuh untuk belajar bangkit. Kira-kira gitu kali yak ?

    Saya dan mas suami masih mencoba-coba. Yah, memang trial and error. Diusahakan errornya minim ?

    Kelas satu ini, kalau saya lihat mungkin bulan pertama ini masih berjalan dengan ritme yang sedang. Proses belajarnya juga masih agak santai, anak-anak masih baru berkenalan dengan baca tulis. Ai sendiri juga masih berproses dalam mengenal teman-temannya. Masih suka ragu untuk memulai perkenalan, masih kadang malu, atau lupa nama temannya.

    Ya kadang saya khawatir, dia merasa sendiri, atau merasa tidak punya teman, dan hal ini akan mempengaruhi penilaiannya terhadap sekolah. Tapi saya berharap juga seiring berjalannya waktu nanti dia bisa nyaman dengan temannya, dan bisa menemukan sahabatnya, jadi lebih seneng lagi sekolahnya. Semangat ya, Ai.

    Perjalanan masih sangat panjang, masih banyak hal baru untuk Ai juga saya dan mas suami untuk dipelajari.

    Smangat! ???

  • Ai’s Adventure. Chapter 4: Anak SD

    Tanggal Senin, 17 Juli 2017 kemarin adalah hari yang berbeda dari hari Senin yang biasanya. Bisa dibilang itu adalah hari yang bersejarah juga buat saya dan mas suami. Emang kenapa? Karena mbak Ai mulai 17 Juli 2017 officially jadi anak SD! Aaak… uda gede aja ?

    Boleh dibilang norak lah ya, tapi ini adalah pencapaian baru dalam milestone saya dan mas suami: punya anak usia sekolah. Rasanya? Nano-nano! 

    Dengan ini juga hidup saya mulai berubah. Sekolah Ai mewajibkan anak-anak untuk tiba di sekolah paling lambat pukul 06.40 pagi. Yang berarti, Ai paling lambat harus sampai sekolah pukul 06.30. Yang berarti, kami harus bangun pagiii ?

    Dan Senin tanggal 17 Juli kemarin, petualangan baru kami dimulai. Bangun lebih pagi dari biasanya, dan menyiapkan Ai untuk siap ke sekolah. Mas suami sengaja ambil cuti demi mensukseskan hari pertama Ai sekolah. Dan kami sukses berangkat sekolah dengan kedinginan ?

    Sampai sekolah, meskipun awalnya Ai masih brebes mili, lambat laun dia mulai berhenti menangis dan ketemu teman baru. Meskipun masih sama-sama malu alhamdulillah Ai mau berteman dan mengikuti arahan Nda Guru dengan senang hati. Ah, ini baru hari pertama, masih 6 tahun nanti dia dan saya juga mas suami akan berproses bersama.

    Well, hidup tidak sama lagi seperti waktu Ai masih TK, jelas. Masih mencoba-coba biar ketemu ritme yang pas, jadi yah masih kadang terburu-buru. 

    Selamat sekolah, Ai. Insyaallah dapat teman baru dan pengalaman baru yang bikin Ai tambah cerdas dalam hidup. Insyaallah Ai selalu diberi kesehatan, aamiin. 

    Mari kita belajar bangun pagi ?

  • Pekerjaan paling keren. 

    Tau gak, apa pekerjaan yang paling keren di dunia menurut saya? 

    Pekerjaan yang paling keren menurut saya adalah: dubber dan penyiar radio. 

    Kenapa? Bayangkan, hanya dengan suara, mereka bisa memanipulasi kita lho. Hanya dengan suara saja, mengandung banyak sekali emosi dan bikin kita ikut larut. 

    Dan itu keren. Asli. Keren bingit. 

  • #aila6tahun

    My girl is turning 6 this year. Sudah mau SD ?

    Happy birthday to you, we love you… 

    Happy everytime sukses selalu untukmu~~~

  • Kesukaan

    Semasa kecil, saya hidup bersama nenek. Mbah, begitu saya memanggilnya. Dan beliau adalah sosok saya berlari ketika ibu saya memarahi saya, hehe ?

    Termasuk seperti di foto di atas, ngapain sih itu? Ai lagi main-main sama rambut mamap, diwarna dan ditata biar rapi katanya. Iseng saya foto karena tiba-tiba hal ini mengingatkan kelakukan saya yang sama bertahun-tahun yang lalu. Cuman saya biasanya memainkan rambut milik Mbah saya. 
    Namanya juga simbah-simbah jaman dulu, yang rambutnya masih digelung. Dan semasa kecil, saya ingiiin sekali punya rambut panjang. Apa daya selalu dipotong sebahu dan baru panjang ketika saya kelas 2 SMP. 

    Nah karena rambut Mbah panjang, saya senang sekali memainkan rambut beliau. Entah disisir, dikepang, atau saya kuncir dua. Beliaunya? Anteng saja, gak protes ataupun merasa keberatan. Baru sekarang ini saya sadar beliau pastinya mungkin kadang merasa terganggu dong ya. Cucunya sok tau dan iseng begitu ?

    Ternyata saya beruntung sempat tumbuh bersama sosok Mbah yang sayang sama cucunya. Sesimpel membiarkan cucunya mengobrak-abrik rambutnya. Itu namanya sayang. 

    Saya berkaca pada diri saya sendiri, saya suka pelit kalau si Ai pengen main-main sama rambut saya. Kenapa ya saya begitu? Masih kalah dibandingkan sama apa yang saya lakukan waktu kecil dulu. Karena saya masih tidak sabar ternyata. 

    Hehe… belajar lagi ?

  • Cerita melahirkan.

    Cerita tentang pengalaman melahirkan anak pertama..

    Ini dicopy-paste-share orang-orang di FB sih, hiatus Hari Ibu Internasyonal katanya (lah padahal hari ibu kita kan tiap Desember yak ?). But instead, I prefer to share this here.

    1. Anestesi Epidural atau bius lokal? Gak dua-duanya, alhamdulillah bisa tahan.

    2. Ayah sang bayi ada di kamar bersalin ? Yup. Dari awal sampe akhir lahiran. Melihat muka saya berubah seperti dragon ball katanya (merah maksimal bo! ?)

    3. Diinduksi? No

    4. Normal? Yes

    5. Hari perkiraan lahir (HPL)? Akhir Juni 2011

    6. Tanggal lahir? Awal Juli 2011, asli bikin dag dig dug, apalagi sudah nginep di RS dari 2 hari sebelumnya, udah rajin jalan kesana kemari naik turun tangga, ternyata dia kepengin keluar awal Juli.

    7. Morning sickness? Alhamdulillah, nope.

    8. Ngidam? Enggak. Orang bilang hamilnya saya hamil kebo, gak berasa apa-apa.

    9. Pertambahan berat badan ? naik hampir 20 kilo, dari 60 ke 78 kg. Dan gak balik ke semula sampe sekarang anaknya hampir 6tahun ?

    10. Jenis kelamin bayi ? Perempuan

    11. Lokasi melahirkan? RSIA Sakina Idaman

    12. Jumlah jam di dalam kamar bersalin? Lupa persisnya, tapi kayanya hampir 1,5 jam. Masuk kamar bersalin sekitar jam 10an, dan begitu lahir mas suami langsung ngibrit Jumatan, hehehe.

    13. Berat bayi? 3,40 kg. Panjang: 52 cm.

    14. Nama bayi? Mbak Ai

    15. Umurnya si bayi sekarang? Gyaah, udah bukan bayi lagi. Udah hampir 6 tahun, mau SD dia.

    16. Hal yg paling diingat sepanjang masa kehamilan? Risau galau karena keseringan gugling, dan katanya umur hamil 20minggu uda bisa ngerasain baby bump, lah kok saya belooom. Oh ternyata saya hanya kurang sabar, plus dinding perut ni kayanya tebel, jadilah gerakan si Ai di dalam perut gak gitu keliatan ?

    17. Siapa nama dokter Obgyn-nya? Banyaaakk… Jadi saya emang gak stick to one Obgyn aja. Ketahuan hamil pas 5 minggu periksa sm dr Lusia, abis itu main ke dr Danny, sempet ke dr Sudiana, sampai 8bulan pernah juga ke dr Merry. Tapi lahiran akhirnya sm Bu Bidan dong, lebih sabar kalo kata Uti dan Yangtinya, hehehe. 
    Nah, begitulah kayanya pengalaman melahirkan anak pertama saya.

    Every pregnancy is different yet special to every woman, harus selalu disyukuri dan dinikmati.

  • Anjelie

    Lawasan dari Flanella, bertajuk Anjelie.

    Anjelie

    oleh: Flanella

    Ingat saat kita berdua
    Duduk di bawah malam
    Memandang indah bintang yang berpijar di hati
    Berjanji kita berdua
    Untuk tetap setia meski berbeda

    Ingat saat kita berdua
    Meraba cinta itu
    Bertanya-tanya pada waktu yang terus berjalan
    Dan kau bisikan kata cinta pasti abadi
    Hingga waktu itu tiba

    Anjelie datang dan pergi
    Yang beri selalu aku senyuman
    Di setiap mimpi
    Anjelie datang dan pergi
    Menjadi satu kenangan

    Ingat saat kita berdua
    Dalam tangis dan tawa
    Tak kau keluhkan wajah cantik walau terluka
    Terucap kata jika
    Hanya kau yang mengerti aku disaat aku lelah
    Dan tak pernah akan sudah

    Aku dan kamu
    Pernah satu
    Walau perbedaan selalu ada di hati
    Jika semua ini apa adanya
    Kuingin engkau mengenang
    Disini aku mengenangmu