Author: dirottsaha

  • Simple Macaroni Schotel

    Musim hujan, selain membawa berjuta kenangan dan menyebabkan kegalauan akut, juga menyebabkan datangnya rasa lapar sesuka dia. Walaupun barusan makan, namanya hujan ya, maunya mengunyah sesuatu yang hangat, yang bikin perut dan perasaan nyaman. *halah

    Masalahnya, memang maunya sih makan-makan sesuatu, tapi apa daya tak ada makanan. Kalau sudah begini, maunya bikin sesuatu. Nah, sayapun begitu, pingin sesuatu yang enak dan ekspresss. Setelah menguprek-uprek, maka jadilah: simple macaroni schotel, a la mamap!

    YAMMM!
    YAMMM!

    Bener-bener simpel alias irit bahan, karena gak ada sih sebenernya. Tanpa susu dan keju, dan lain-lain. And this is the recipe:

    Bahan:
    200 gr Elbow Macaroni (atau apapun yang tersedia di rumah)
    4 butir Telur
    3 buah Sosis, cincang kasar
    daun bawang (ini optional, bisa diskip kalau gak suka)

    Bumbu:
    Bawang putih, Garam, dan Merica

    How To:
    1. Rebus makaroni hingga matang. Sisihkan.
    2. Kocok telur, tambahkan bumbu, masukkan sosis cincang, irisan daun bawang, dan makaroni yang sudah matang. Aduk hingga bumbu tercampur rata.
    3. Tempatkan pada wadah yang sudah disediakan.
    4. Kukus 15-10 menit atau hingga matang.
    5. Nikmati selagi hangat, yam yamm

  • Banana Cake Kukus

    Hola! Ketemu lagi di DCP, yang mana kepanjangan dari “Dirottsaha Cake Project” 😀

    Jadi gini, kemarin saya berkesempatan eksekusi salah satu cake kukus, dan hasilnya cukup menggembirakan. Karena rasanya enak dan wujudnya oke punya. Setelah suka gatot gatot kalo bikin kue, ini merupakan prestasi tersendiri buat saya hehehehe 😀 *lebay tapi gakpapah

    Jadi, beberapa waktu yang lalu saya dan keluarga pulang ke rumah leluhur suami di barat kali Progo sanah. Kembali menikmati pemandangan asri nan menyejukkan. Dan pulangnya tentu saja dibawakan macam-macam hasil bumi (alhamdulillah). Salah satunya dibawakan pisang segala rupa.

    Saya sebut segala rupa karena memang tidak satu jenis pisang saja. Ada pisang raja, pisang kepok, dan (kayaknya sih) pisang palembang. Alhamdulillah, bisa bagi-bagi tetangga kanan kiri.

    Nah, saking banyaknya pisang di rumah, yang mana makannya juga dikit-dikit, si pisang raja ini jadi mateng banget, wah daripada kebuang percuma, diinapkan dulu di klukas biar bisa dibuat sesuatu. Setelah gugling-gugling, ketemulah resep Banana Cake yang simpel dan enak, so mari kita coba, tentu saja kemudian saya sesuaikan menurut versi saya sendiri ya.

    Saya agak berlebihan pake pisangnya kayanya, ada sisa 7 buah pisang saya pake 6. Resep dari JTT saya kalikan 2, dan ada yang saya tambah kurangkan, sesuai sikon. Saya juga memakai pengembang (baking powder & baking soda), karena gak pake mixer buat ngocok telur dan gulanya (jadi bukan adonan yg mengembang). DI JTT disebutkan penggunaan pengembang kue bisa di skip, dengan catatan adonan telur dan gula harus mengembang sempurna.

    So, ini dia resep banana cake kukus a la dirottsaha!

    Enak lho, beneran! ;)
    Enak lho, beneran! 😉

    Bahan:
    6 buah pisang matang
    4 butir telur (suhu ruang)
    100 gr gula pasir
    200 gr tepung terigu protein sedang (all purpose flour)
    100 ml minyak goreng (bisa diganti mentega cair)
    1 sdt baking powder
    1 sdt baking soda

    How to:
    1. Lumatkan pisang menggunakan garpu, hal ini menjadikan pisang lumat namun masih menyisakan tekstur (kalau diblender akan menjadi sangat halus). Sisihkan.
    2. Kocok telur dan gula sampai tercampur (bila menggunakna mikser, pastikan sampai adonan mengembang).
    3. Masukkan pisang lumat, aduk perlahan dengan spatula hingga tercampur baik. Masukkan tepung dengan cara diayak ke dalam adonan telur-pisang. Aduk adonan dengan spatula, lakukan dengan perlahan agar tidak banyak busa yang mencair.
    4. Tuangkan minyak goreng, aduk hingga tercampur rata.
    5. Masukkan adonan ke dalam loyang yang sudah disiapkan (dioles mentega & tepung, atau dilapis kertas roti), kukus selama kurang lebih  20 menit hingga cake matang. Tes kematangan cake dengan lidi, jika tidak ada adonan yang menempel maka cake telah matang.

    Note: banana cake ini juga bisa dipanggang, set disuhu 170°C.

     

  • Stop Judging #medium: Oct 13, 2015

    Iya, stop judging other people. U’re not the God. Tapi sayangnya kita ini manusia dengan segala ke-sok-tahuannya, mengira dirinya lebih baik daripada sekitarnya, dan seenaknya menilai orang lain. Dan kadang kala kita menciptakan penilaian berdasarkan emosi semata. Karena manusia adalah makhluk subjektif.

    Jadi objektif itu sulit. Iya saya tahu itu. Apalagi dengan segala kaitan emosional yang kita punya terhadap suatu hal. Wah entahlah. Pun saya juga gak ngerti, kenapa ya kita sulit untuk memandang suatu hal dengan positif. Positif thinking. Positivity. Nah alangkah senangnya hidup penuh kepositifan.

    Belakangan saya melihat media sosial sebagai suatu wahana penilaian yang tidak jarang banyak negatifnya daripada positifnya. Coba lihat fesbuk, tuiter, peth, atau instageram. Parahnya netizen Indonesia ini kejam, mereka tega aja melontarkan komentar yang naudzubilah parahnya pada seseorang yang mereka ga suka. PADAHAL KENAL AJA EGAK. Hei, bukan karena seseorang itu sering kita lihat lalu kita tahu kehidupannya yang sebenar-benarnya. Entah mungkin saya ada dalam lingkaran pertemanan yang negatif mungkin? He, ini juga penilaian saya, dan negatif. Berarti stop sampai disini.

    Kepengin jadi orang tanpa prasangka. Saya sih kepenginnya begitu. Tidak mudah memang, tapi patut dicoba toh. Karena saya ingin anak saya nantinya juga begitu, tidak berprasangka pada orang lain. Tidak lebih dulu melabeli sesuatu atau seseorang sebelum mengetahui kebenarannya. Masih terus diusahakan dan diupayakan. Paling tidak tanamkan rasa hormat pada orang lain. Karena orang lain yang kita nilai itu, yang kita labeli negatif itu memiliki keluarga, memiliki orang lain juga dalam hidupnya. Bayangkan betapa rasanya anak atau orang tuanya menerima.

    Norma saling menghormati, saling menghargai dan menyayangi sesama itu masih ada kok. Bukan sesuatu yang harus ditulis dan dipajang dimana-mana. Tapi kita ini makhluk berpendidikan, jadi berperilakulah seperti itu.

    mengutip quote dari mas Anji.
    mengutip quote dari mas Anji. Hati-hati sama nabi nabi socmed ya, bisa bikin pandangan kabur.

     

  • Catatan Mamap: Happy Sekolah #medium: Oct 7, 2015

    Pulang mengantar Ai sekolah, dengan tenang dan bahagia.

    Alhamdulillah. Ya, agak lebay sedikit lah memang, tapi gapapa. Setelah segala proses yang cukup lama dan cukup membuat frustasi itu, akhirnya hari-hari mengantar ceria datang juga. Melihat Ai dadah-dadah mamap dengan hepi itu sudah sebuah pencapaian yang oke banget dalam tahap perkembangan dia, di umur empat tahunnya.

    Setelah kurang lebih sebulan, proses mengantar-menunggui-menangis dan lain-lainnya, sekarang Ai mulai ngerti lah, bagaimana sekolah itu. Setelah semua petuah-nasihat-omongan mamap yang entahlah dia paham atau gak, akhirnya sekarang dia bisa dadah-dadah hepi. Itu semua, alhamdulillah.

    Anak-anak, apalagi balita. Iya lho, si Ai itu masih balita, masih belum ada lima tahun umurnya. Aih, anakku, kadang sayapun lupa… hehe. Makhluk yang namanya anak-anak, menurut pengalaman saya selama ini, adalah makhluk yang sangat unpredictable. Tidak bisa ditebak bagaimana mood-nya. Belum tentu karena bangun tidur hari ini dia hepi, maka akan hepi juga esok hari. Kadang, tiba-tiba mewek, cranky seharian, atau tau-tau apalah. Ya begitu.

    Pengalaman ikut sekolah Ai sebulan itu juga ternyata membuka pikiran saya. Ya selama ini saya HANYA berurusan sama satu orang anak sehari-harinya. Selama sebulan ikut di dalam kelas dan juga tentunya berinteraksi bersama teman-teman sekolah Ai, saya sadar juga ternyata anak itu macam-macam juga. Yang di sekolah selalu pintar berdoa, pintar mengerjakan tugas, ternyata masih menangis juga ketika mamanya terlambat menjemput. Yang selalu terlihat happy, dan bisa ngemong teman lain, kadang menangis kalau guru favoritnya belum terlihat datang. Atau sedih karena naik motornya jalannya kurang jauh. Ya soal sepele menurut kita yang sudah tua ini, tapi matter most untuk anak-anak ini.

    Kadang, saya merasa kurang juga dalam mendampingi Ai. Kadang saya memilih untuk tidak mau paham keinginannya. Kadang saya memilih untuk sibuk mengerjakan hal lain daripada menemani dia. Dan untuk itu saya mengaku salah, dan gak bangga jadi ibu yang seperti ini. Hehe.

    Inipun, baru permulaan perjalanan hidup Ai yang insyaaallah masih sangat paaanjang dan berwarna-warni. Semoga selalu ada saya dan mas suami yang selalu mendampingi. Semoga kami bisa menemani, sesuai apa yang dia inginkan. Semoga.

  • Catatan Mamap: Ai & Sekolah #medium: Aug 11, 2015

    Senin, 3 Agustus 2015 — hari pertama Ai sekolah.
    Yay! Sudah 4tahun usianya sekarang, dan hari Senin tanggal 3 agustus 2015 ini adalah hari pertamanya masuk sekolah. Masih ditunggui, tapi alhamdulillah mau aktif ikut kegiatan, mau menjawab waktu ditanya. Cuma masih belum mau salim-salim sama bunda guru, kalo sama temennya sih mau. Temen juga ga masalah, membaur aja bisa dia main bareng. Masih oke lah.
    Semoga sih kedepannya sudah mau sekolah sendiri. Ya cuma manja di depan kok sepertinya. Bisa aja mandiri dan eksplorasi sendiri. Alhamdulillah.

    Selasa, 4 Agustus 2015 — hari kedua sekolah.
    Masih ditemenin maunya. Tapi janjinya boleh ditemenin tapi mamap nunggunya diluar. Itung-itung kegiatan kata papanya. Hohoho, okelah.
    Jadwal sekolah mulai jam 8 tapi kelas aktif mulai jam 9. Ai datang jam 8, biar aja pagi. Sepertinya masih perlu pemanasan. Biar akrab dulu sama lingkungannya deh.
    Anak-anak itu macam-macam ya. Yang sama dan jelas adalah mereka ga bisa dipaksa. Si A tabiatnya begini, si B tabiatnya begitu. *hasil pengamatan amatir.

    Rabu, 5 Agustus 2015 — hari ketiga.
    Percobaan ditinggal yg sepertinya gagal ya. Jadi, rencananya saya tidak akan menunggui Ai sekolah, tapi si Ai sukses nangis ketika dipamiti. Jadi dua hari sekolah tanpa gangguan berarti karena Ai merasa ayem ditunggui. Hari ketiga ini dicoba, ditinggal ketika anaknya masuk kelas. Rasanya sih ga fair ya kalo disimpe diem-diem gitu. Jadi kupamiti baik baik, malah jadi menangis deh. Walaupun pada saat jemput anaknya sudah baik baik saja sih.

    Kamis, 6 Agustus 2015 — hari keempat.
    Kembali menunggui Ai sampai selesai sekolah. Pasalnya, ya kondisinya agak gak sehat sih. Agak batuk. Nah ini yg masih berabe, karena kalo nangis akan memperparah batuk dan kalo batuk terus akan muntah, dan akan sesek. Not good. Jelas ini not good.
    Tapi saya sih merasa Ai agak sedikit stres atau terbebani dari semalam sebelum tidur. Memang membangun kepercayaan terhadap lingkungan baru itu tidak mudah, apalagi untuk anak-anak usia dini. Jadi disini sayapun masih clueless menyikapinya. Agak bingung ya. Disatu sisi saya pingin Ai belajar mandiri, tapi di sisi lain sebagai ibu ternyata hati saya belum cukup kuat juga. Hohoho beginilah rasanya.

    Jumat, 7 Agustus 2015 — hari kelima
    Hari berenang di sekolah jadwalnya. Sebenarnya Ai exited, karena sudah diberi tahu dari beberapa hari sebelumnya. Tapi sekali lagi, karena pengalaman ditinggal yang menurut dia ga enak, jadi ketika pagi sekolah adalah hal yang cukup berat. Bawaannya pengen nangis mulu pokoknya. Walaupun pada saat aktivitas berjalan Ai akan baik aja. Jadi setelah puas menangis dan diyakinkan bahwa mamap akan menunggu, dia memulai berenang dengan bahagia. Fiuh.

    Saya tahu, masih panjang perjalanan untuk sampai pada tahap dimana Ai bisa dadah-dadah sambil senyum ketika saya pergi setelah mengantarnya. Tapi usaha kami masih terus berjalan juga. Antara saya, mas suami, ai, dan pihak sekolah. Karena saya dulu juga pernah mengalaminya, semoga saya bisa lebih bijak mengambil sikap. Semoga.

    SEMANGAT!!!

  • MUDIK! #medium: Aug 11, 2015

    Lebaran kali ini kami mudik ke tempat mas suami tumbuh besar. Pergi ke rumah yangti dan kung. Formasinya: saya dan si Ai berangkat duluan bareng sama si om, kira-kira 10 hari sebelum hari H, sementara mas suami menyusul kemudian, biasalah namanya juga pegawai, menunggu jatah cuti.

    Kali ini Ai yang sudah 4 tahun sudah paham bahwa dia akan pergi menempuh perjalanan yang cukup jauh. Dia cukup mengerti dan menikmati perjalanan via udara yang kami tempuh. Alhamdulillah sehat selamat sampai tujuan.

    Tapi kali ini, si 4 tahun ini rupanya beda dari yang dulu dibawa kemana aja oke. Dan cukup drama juga karena kangen sama papanya. Jadilah agenda ketika mau tidur selama berhari-hari diisi dengan nangis-nangis gemes kepengin sama papa. Hehehe kasiannya.

    Coba tebak adatnya yang drama ini diturunkan dari mana? Yap, tentu saja Ai mirip mamapnya. Melihat dia nangis-nangis gemes gitu jadi inget diri sendiri bertahun-tahun yang lalu. Jaman masih SD, suka liburan di rumah mbah juga sendiri. Dan kalau malam mau tidur, pasti saya juga keingetan bapak ibu dan berujung dengan keluarnya air mata. Hehehe.

    Dulu, selalu senang tiap libur sekolah datang. Karena artinya bisa nginap tempat mbah dan main bareng sepupu. Tapi kalau jam tidur menjelang, selalu nangis bombay cyynnn! Keinget selalu digendongin tante dan dibujuk-bujuk biar diem dan lekas merem. Keadaan itu ternyata berbalik padaku sendiri hehehehe.

    Sekarang sayalah yang harus membujuk-bujuk menenangkan Aila yang nangis-nangis keingetan papanya. Kepengin ikut nangis juga sebenernya karena kangen juga, tapi gak lucu dong ah kalo berdua sesenggukan. Bisa bingung mertua nanti hohoho.

    Yah, begitulah. Rupanya buah jatuh memang gak jauh dari pohonnya. Dan memang air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga.

  • 2 is better then 1, eh? #medium: Jun 23, 2015

    Saya dan suami tidak pernah berpisah. Alhamdulillah. Ini adalah hal yang pasti harus sangat amat disyukuri.

    Kami berdua memang tidak pernah berada dalam kondisi yang mengharuskan untuk berjalan sendiri-sendiri atau masing-masing. Belum pernah LDR. Dari jaman pacaran, sampai lulus kuliah pun kami masih satu kota, masih satu jalan kaliurang malah. Sampai kami punya Aila, menikah juga alhamdulillah masih sangat senang bisa stay di kota yang sama.

    Melihat kawan yang tidak seberuntung kami, yang masih harus sendiri-sendiri, rasanya kadang ikut sedih. Membayangkannya susah. Dulu, orang tua saya pernah juga berjauhan. Bapak harus dinas di kota lain, sementara ibu bersama saya dan adik masih disini. Waktu itu gak ada yang terlintas, malah pikir saya, saya jadi terlatih mandiri karena harus mengurus diri sendiri dan bantu ibu. Ternyata pikiran saya gak sepenuhnya benar juga. Karena waktu itu posisi saya adalah anak, sekarang saya jadi istri saya mikir lagi. Mungkin waktu itu saya gak memahami ibu saya, apa yang waktu itu beliau pikir dan rasakan. Karena berjauhan dari suami itu pasti tidak gampang. Sekarang saya jadi istri, dan membayangkannya saja sulit.

    Semoga kami selalu diberi waktu untuk bersama, biar susah biar senang, bisa dijalani bersama-sama. Aamiin. Karena apapun itu, sepenat apapun keadaan, sangat berbeda rasanya jika ada seseorang untuk dipeluk dan dicurhatin. Karena sedianya, two is better than one, kata taylor swift.

    Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?

  • Every mom has her own battle. #medium: May 15, 2015

    Sejenak terhenti saat sedang scrolling newsfeed, melihat status salah seorang kawan yang kurang lebih merasa sedih saat ditengah pekerjaannya karena ingat anak dirumah yang paginya drama gak mau ditinggal kerja, kemudian ybs jadi merasa kurang memberi kasih sayang.

    Melihat ini saya bersyukur, 24/7 ada sama aila. Setiap waktu.
    Kemudian ada pula cerita kawan lain yang juga ibu, yang ingin kembali ke dunia kerja. Sering menulis curahan hatinya di dunia maya, betapa dia bersyukur ada dirumah, tapi hatinya juga rindu berkantor.

    Lain lagi kawan yang lain, yang belakangan mungkin kehilangan kontrol, menuliskan bagaimana marahnya beliau terhadap orang lain yang menurutnya mengganggu.

    Saya ini hanya pengamat, jarang sekali menuliskan apa yang saya rasakan atau pikirkan di media sosial. Dan menurut saya wajar jika sesekali kita (para perempuan ini) curhat curhat dikit.

    Saya rasa setiap manusia, setiap perempuan, setiap ibu punya perjuangannya sendiri. Every mother has her own battle. Saya ingin berhati-hati menilai apa yang dituliskan orang lain mengenai perasaannya saat itu. Saya belajar untuk tidak berprasangka apapun, terhadap apapun yang muncul di kehidupan saya. Karena saya hanya seorang manusia yang sekarang hidup di era internet. Dimana kadang ketikan jarimu lebih cepat daripada nalarmu.

    Be wise.

     
     
  • Take Note #medium: May 9, 2015

    Belakangan rumah selalu ramai pada jam 9–11. Rame anak-anak pada main. Saya jadi semacam host buat teman-teman sepermainan aila, dan rumah yang baru diberesin juga kembali berantakan. Namanya juga anak-anak, balita pula. Soal ini sih saya oke aja, gak papa, toh nanti bisa dibereskan lagi. Pernah membaca note seseorang soal ini, katanya “biarkanlah rumah berantakan karena anak bermain bersama temannya, toh rumah yang berantakan bisa kita bersihkan lagi, daripada anak kita main diluar dan tidak terkontrol. Karena kalau perilaku anak yg berantakan akan lebih susah dibereskan tentunya.” Dalem toh? Menampar buanget itu.

    Karena anak-anak itu sering main kerumah, saya juga jadi kenal tabiatnya. Si A sukanya ini tapi begini, si B sukanya itu tapi begitu. Kadang ada anak yang gampang sekali marah, ada anak yang cuek, ada anak yang bossy, yang gitu-gitu deh. Anak saya juga kadang begini tapi begitu. Nah, ini jadi pertanyaan, apa iya perilaku anak-anak ini cerminan perilaku orang tuanya? Atau beginikah dia biasa diperlakukan di rumah? Pertanyaan-pertanyaan ini menimbulkan pertanyaan yang lebih dahsyat lagi: “sudah betul belum ya saya mendidik anak?” Nah loh, pusing gak tu.

    Saya jadi merasa, “oh, begini toh rasanya jadi orang tua. Oh, ini toh yang orang tua saya rasakan.” Orang bilang jadi orang tua itu susah, gak ada sekolahnya. Kamu akan learning by doing, kadang ada trial and error. Anak akan meniru apapun yang kita ucapkan dan kita lakukan. Maka jadi orang tua harus betul. Sempat terbersit di pikiran, sebobrok-bobroknya orang pasti dia akan belajar menjadi baik dan benar ketika dia punya anak, ketika jadi orang tua. Semoga tidak usah menunggu jadi orang tua kita memang sudah menjadi manusia baik ya. Minimal mencoba jadi manusia baik bagi sekitar.

    Ya, menjadi orang tua, menjadi ibu adalah pembelajaran seumur hidup. Anak-anak kita yang jadi gurunya. Anak(anak)ku, doakan mamap ya.

  • Brave #medium: May 9, 2015

    Belakangan ini di kota tempat saya tinggal banyak berhembus berita yang kurang enak didengar. Ada beberapa kasus kematian mahasiswi yang tragis, dan penyebabnya adalah kehamilan yang tidak diinginkan. Mereka meregang nyawa, nyawanya sendiri dan nyawa janin yang dikandungnya. Lalu mengapa mereka memilih untuk diam dan mengakhiri hidup? Bukankah ada pihak lain yang bisa diajak bicara? Minimal pihak lelaki yang seharusnya bertanggung jawab terhadap perbuatannya. Dimana anda pria?

    Melihat berita ini, rasanya sedih. Kenapa tidak bicara? Kenapa diam? Takut, kalut, bingung, pasti banyak alasan dibalik semuanya. Takut pada orangtua, jelas mereka akan kecewa, sangat kecewa. Kita adalah anak yang dibesarkan dengan kasih sayang, dengan doa, supaya kita bisa membanggakan mereka, ya mereka akan marah. Marah sekali. Tapi semarahnya orangtua kita, mereka berhak untuk tahu dan mereka akan lebih sedih apabila kita melepas tanggung jawab.

    Face it, karena itu memang salahmu, dan akan semakin salah ketika kamu hanya diam dan berusaha lari menjauh. Pasti ada jalan keluar, karena badai pasti berlalu. Dan yang akan terjadi selanjutnya adalah konsekuensi dari perbuatanmu. Ya kamu bersalah, tapi nyawa dalam kandunganmu itu tidak berdosa. Dia tidak memilih untuk ada bersamamu dalam waktu yang salah.

    Hadapilah, beranilah. I’ve been there and I do know how it felt. But life must go on and now I live my life, dengan orang-orang yang menyayangiku tanpa syarat. Karena pada akhirnya, keluarga adalah tempatmu kembali, tanpa syarat.

    Dan percayalah, bahwa kamu adalah perempuan berharga. Yes, you are. Bahwa kamu mampu berjalan tegak, even setelah badai besar datang menghantam hidupmu. Ya kamu salah, tapi jangan biarkan semuanya menghalangimu melihat masa depan. Ada nyawa kecil yang juga harus kamu perjuangkan, dan sampai nanti kamu bertemu dengannya, berjanjilah untuk melindunginya dengan segenap hatimu. Karena nyawa kecil itu membutuhkanmu, lebih dari siapapun.

    So be brave.