Author: dirottsaha

  • Happy Birthday, dear Husband

    Mas, selamat ulang tahun.

    Selamat memperingati hari lahir,

    selamat bahagia berganti umur,

    bertambah pandangan hidup.

    Selamat naik level,

    semoga pandanganmu juga jadi semakin luas dan semakin bijak,

    semakin pandai menyikapi semua hal yang terjadi dalam hidup kita.

    Selamat panjang umur dan bahagia.

    Love.

  • Hospitalized.

    Oke, mari berbagi cerita.

    Yah… memang dunia parenting itu penuh petualangan ya. Kadang asik kadang ga asik, tapi yang pasti semuanya SERU. Seru dalam versinya masing-masing pastinya. Bikin tambah pengalaman dan pembelajaran buat saya dan mas suami. Kami yang baru punya anak satu ini, walaupun sudah mengarungi dunia parenting kira-kira hampir 5 tahun, nyatanya kami masih blank kalo berhadapan sama suatu hal yang bikin senam jantung. Dan awal April kemarin, momen senam jantung itu hadir di keluarga kecil kami.

    Ya… setelah badai cacar datang menyerang bertubi-tubi, dan pada akhirnya saya juga menyerah kalah karena kena cacar juga. Yap, saya pun terkena serangan cacar yang bikin meriang gak jelas selama 3 hari. Mungkin saya mengalami yang namanya pusing tujuh keliling itu ya kemarin, tidur pusing, merem pusing, melek pusing, duduk pusing, apalagi berdiri, oh tidak kuat tentunya. Mual muntah, demam meriang, itu HANYA efek dari cacar. Ealah menderitanyaaa…

    Saya sakit, praktis mas suami dan Ai gak keurus. Beruntung masih dibantu Kung, Uti dan Tantes, alhamdulillah masih dekat dengan orang tua. Selagi meriang berangsur-angsur berkurang, lesi-lesi cacarpun muncul. Alhamdulillah lagi gak banyak muncul, hanya beberapa. Jadi muka masih mulus hohohoho…

    Selagi semua perhatian ke saya, dan saya pikir ini sudah penghabisan, karena semua orang sudah kena serangan cacar, ternyata perkiraan itu masih salah. Ternyata masih ada ujian lain menghadang di depan mata. Korbannya? Si Ai. Huhuhu… 🙁

    Kayanya hari Selasa berjalan normal seperti biasa, Ai sekolah seperti biasa, mas suami ngantor seperti biasa. Tiba saatnya tidur malam, tiba-tiba mas suami mendeteksi panas tubuh yang gak biasa dari Ai (saya masih tidur terpisah, masih cacar). Saya dan mas suami, paling parno kalo si Ai demam. Ya, saya tahu sih, sebaiknya ga buru-buru dikasih obat, tapi saya langsung meminumkan obat turun panas buat antisipasi. Setelah itu tidur lah kami, ya tidur sambil waspada. Dan ternyata malam itu kami tidak ada yang bisa tidur, pasalnya Ai kemudian muntah-muntah sepanjang malam sampai pagi. Haduh ada apakah ini???

    Setelah itu, bisa ditebak, Ai sakit, menolak makan, bilang kalau perutnya gak enak. Malam hari panas tinggi, siang hari membaik tapi masih semlenget. Bikin bingung. Akhirnya setelah dua hari, kamis subuh saya dan suami membawa Ai ke RS. Diagnosa dokter, masih panas biasa, obat dilanjutkan saja, tapi dianjurkan untuk cek darah pada hari ketiga. Jumat, saya kembali lagi ke RS untuk periksa dan cek darah, dan benar saja, ternyata dugaan mengarah ke DEMAM BERDARAH. Pasalnya trombosit Ai terdeteksi 158ribu dari minimal 150ribu. Dokter menyarankan untuk cek darah lagi (iya, lagi!) esoknya untuk memastikan dugaan DB itu. Sabtu, kami kembali ke RS untuk cek darah, dan iya saja, trombosit Ai sudah merosot lagi ke 91ribu. Dokter langsung menyarankan opname hari itu juga, karena kasus DB adalah kasus yang butuh penanganan secara cepat dan tepat. Salah penanganan, bisa bahaya.

    Jadilah mulai sabtu siang, kami semua pindah tidur ke RS. Yah, paling tidak kami tahu, kenapa Ai panas tinggi terus menerus. Menurut hitungan, kami masuk ke RS pada hari ke-4 dalam siklus DB. Biasanya mulai hari ke-5 sampai hari ke-7 demam akan turun, tapi ini adalah mas kritis dan kecenderungannya trombosit juga ikut turun, itu yang harus dipantau terus menerus. Ah, entah berapa kali Ai diambil darah untuk di cek di lab. Alhamdulillah, dia gak nangis, gak nambek, gak protes. Kuat ya, Ai.

    Pihak RS juga memberi tugas buat saya, selain observasi gejala yang tampak lewat mata, saya juga dikasih chart yang harus diisi. Jadi semua asupan makanan dan minuman si Ai harus dicatat jam berapa masuk ke tubuh, apa jenisnya, berapa banyaknya. Begitu juga apa yang keluar dari tubuh harus diperhatikan dan dicatat. Pipis, pup, dan muntah (kalau ada) jam berapa, bagaimana penampakannya, ya gitu-gitu. Pipisnya juga ditampung, jadi inilah salah satu keuntungan punya mama gendut, karena pipisnya ditatur, ya lumayan pegel lah berapa menit gitu ngangkat-ngangkat si bocah. Mas suami ngapain? Dia kebagian tugas megangin kantong infus 😛

    Sempat turun sampai hitungan 59ribu, pada hari ke-6 trombosit Ai mulai naik, nafsu makan juga mulai membaik, badan sudah tidak lemas, dan bisa ketawa ketiwi cerita hepi. Ah, ini sudah menuju kesembuhan. Setelah 5 hari menginap di RS, akhirnya setelah dipastikan trombosit Ai sudah 133ribu (trombosit sudah naik diatas 100ribu), akhirnya kami diperbolehkan pulang. Tentu saja dibawakan oleh-oleh obat segambreng yan gharus dihabiskan. Tapi alhamdulillah, DB sudah berlalu, Ai kembali sehat dan makan banyak.

    Rupanya DB juga menyebabkan komplikasi di organ dalam perut seperti empedu dan hati. Kecenderungannya, hati akan bengkak dan menyebabkan perut mengembung besar dan keras. Ini juga yang menyebabkan tubuh sulit kemasukan makanan. Paru-paru juga biasanya akan kelebihan cairan, nah kalau ini adalah efek samping dari infus. Karena cairan dari infus masuk ke tubuh, salah satunya juga masuk ke paru-paru. Dari pengamatan, DB yang dialami Ai masih termasuk dalam kasus DB ringan. Pada kasus DB menengah dan berat, biasanya penderita akan sangat sulit makan, dan trombosit merosot jauh hingga harus dibantu tranfusi darah atau tranfusi plasma.

    Alhamdulillah sekarang sudah sehat semua, dan bismillah selalu sehat. Alhamdulillah ada Yangti yang pas banget datang. Yah, pengalaman berharga sekali. Semua orang tanya digigit nyamuk dimana, yah saya juga gak tau. Mengingat Ai ini anak yang aktif kesana kemari, kemungkinan digigit nyamuk dimana saja bisa. Plus mungkin kondisinya kemarin pas semua sakit jadi agak tidak terperhatikan. Maaf ya, Ai…

    https://www.instagram.com/p/BEGGYZDFn6c/?taken-by=dirottsaha

     

    Terimakasih buat semua yang menyempatkan jenguk Ai di RS dan di rumah. Terimaksih untuk semua doanya, semua perhatiannya. Semoga kita semua selalu diberi kesehatan yaaa… aamiin 😀

  • Badai Cacar Air

    Jadi pertama-tama marilah kita panjatkan Al Fatihah untuk kesehatan kita semuanya. Al fatihah…

    Hmm… jadi di rumah lagi kena serangan badai cacar air. Ya datangnya sih memang ga barengan, tapi bertubi-tubi. Dan korbannya kali ini adalah mas suami. Sambaaat, ini adalah kado menjelang pergantian umur ke tiga puluh kalo kata saya hehehe…

    Sebelumnya, awal bulan Maret ini si Ai juga kena cacar air. Dia terinfeksi karena di sekolah cacar air juga menyerang secara bertubi-tubi. Setelah awalnya bulan Februari berganti-ganti teman sekolah Ai gak masuk karena cacar, akhirnya yang terakhir sekaligus 5 anak yang gak masuk. Saya yang waktu itu parno juga usaha menjauhkan Ai biar gak kena cacar. Nah setelah semua anak sembuh dan aktif kembali, kok ya ndilalah malah si Ai yang kena cacar. Gak selamat rupanya.

    Beruntung waktu itu, kayaknya virus yang nempel ini sudah gak ganas banget. Jadilah Ai cuma dapat beberapa bintil cacar air di bagian leher dan badan. Gak banyak lah, bisa dihitung kok. Dan gak ada demam atau meriang, jadi si anak libur semingguan tapi ya sehat aja, cuman cacar.

    Waktu akhirnya cacar menyerang Ai, saya sih berasanya ya sudahlah. Cuman, waktu itu mas suami parno berat. Gak mau dia dekat-dekat karena takut ketularan. Pasalnya, saya dan mas suami memang sama-sama belum pernah kena cacar air.

    Ternyata eh ternyata, setelah 2 minggu berlalu dengan tenang, saya pikir sudah beakhir ya serang cacar ini. Memang yan paling dikhawatirkan kan ya si anak. Karena si anak sudah kena dan sembuh, jadilah mungkin saya dan suami agak lengah dan santai kali ya. Ealah ok tak dinyana-nyana si virus ini masih nempel kemana-mana. Suami yang dari awal minggu lalu sudah merasa gak enak badan akhirnya jadi korbannya deh. Kamis, rasameriang semakin muncul, dan Jumat, lesi pertama muncul. Selamat, anda akhirnya kena cacar! huhuhuuu… 🙁

    Ya sudah, mau gimana lagi. Sembari minum obat 5xsehari 2tablet sekali minum itu juga harus meningkatkan daya tahan tubuh. Dan pesaan dari ibu dokter, penghuni rumah lain juga harus jaga kesehatan. Dilarang sakit selama 1 bulan kedepan! Daya tahan tubuh gak boleh menurun, karena virus ini akan masuk kalau kita sedang gak fit.

    Fiuh… semoga semuanya sehat ceria kembali seperti sedia kala ya.

    salam sehat!

  • Disney Heroines in a Simple Lines

    Ini terlalu sayang kalau dibuang, jadi mari diarsipkan saja disini.

    Jujur saja, sebagai penggemar Disney, ini terlalu cute untuk diabaikan.

    Postingan ini saya sematkan di timeline fesbuk saya 11 Maret 2014, 2 tahun lalu.

    can you name it?
    can you name it?

    *tokoh terbaru pada waktu gambar ini dibuat adalah karakter dari Disney’s Frozen.

    Sumber: 9gag

  • Menyoal Jodoh

    *Warning: this is so random. 

    Ada sebuah percakapan antara saya dan tante bungsu bertahun lalu yang waktu itu baru menyepakati perpisahan sama seseorang (baca: putus). Kira-kira setelah ngobrol ngalor ngidul, dia bilang, “kayaknya lebih enak kalo udah punya pacar sebelum kerja deh daripada mencari pacar pas udah kerja. atau gini, sekarang pisah, trus besok pas dah sama-sama kerja ketemu trus nikah.”

    Dimana-mana pasti jawabannya: ya iyalah, udah ga perlu pusing memikirkan soal jodoh. Iya kan? Setelah itu gak ada lagi obrolan soal itu. Saya juga lupa.

    Tapi semalam, sembari perjalanan pulang ke rumah dari pantai yang cukup lumayan jarak tempuhnya, tiba-tiba saya ingat soal ini dan akhirnya jadilah ngobrol bersama mas suami. Pasalnya, waktu itu saya dan mas suami lagi ngobrolin soal teman kantornya yang baru saja menikah, jadilah saya juga menimpali dengan ngobrolin seputar jodoh, obrolan pun bergulir ke topik itu tadi. Dan surprise surprise, ternyata mas suami sependapat dengan apa yang dibilang sama tante bungsu beberapa waktu lalu. HoHo!

    Menurut mas suami, selain mungkin iya sudah pasti ada rasa ayem kalo sudah punya pasangan, ada lagi pertimbangan lain. Kekurangan kalau baru mencari jodoh menurut mas suami: ketika orang sudah bekerja, asumsi dari sebuah hubungan pastilah mengarah ke pernikahan. Padahal belum tentu. Namanya orang memulai hubungan, pasti ada banyak yang dicari, tapi belum tentu ingin segera menikah dengan orang yang diajak memulai hubungan.

    And I was like, “what!” Masa sih?

    Terus buat apa dipacarin dong???

    Hmm… ada sesuatu yang saya sadari berbeda. Ternyata ini lho dari sudut pandang seorang lelaki. Sementara saya dan tante bungsu itu kan perempuan. Dan saya sadar, pihak perempuan cenderung akan berharap sebuah hubungan yang mereka mulai bersama seorang laki-laki akan kemudian bisa dibawa sampai jenjang pernikahan. Atau minimal ya saya aja yang berpikiran begitu. Ya ampun betapa naifnya aku~~~

    Ada banyak pertimbangan sebelum menikah, ya saya tahu itu. Kadang saya melihat ada yang bertahun-tahun pacaran ga juga nikah, akhirnya putus. Tapi yang baru ketemu sebentar tau-tau nikah aja loh. Still, urusan jodoh ini memang misterius.

    See, I’m so random 😀

  • Descendants Of The Sun

    Kembali lagi ke drama kesukaan kita semua! Drama korea!  Dan kali ini adalah “Descendants Of The Sun”

    Image via asian wiki
    Image via asian wiki

    Haaaww… :3

    The greget is here. Geregeeettt…

    Memepertemukan Song Hye Kyo dan Song Joong Ki sebagai pemeran utamanya. Dan drama ini adalah drama yang sudah dinanti-nanti berbulan-bulan sejak produksi pertamanya. Jadi, bila biasanya kejar tayang, drama ini sudah menyelesaikan seluruh proses produksi sebelum tayang di tipi. Dan sudah ramai diperbincangkan orang-orang pula, maksudnya ya orang-orang penggemar drama korea gitu.

    Kenapa sih hits banget? Hmm… sebenernya saya juga ga terlalu ngerti sih alasannya. Cuma drama ini adalah comebacknya Song Joong-Ki setelah kepulangannya dari wajib militernya. Dan dramanya Song Hye-Kyo setelah 2013 lalu menyelesaikan “This Winter, The Wind Blows”-nya itu. Dan menjadi trending di premiere-nya, karena drama ini tembus dua digit rating di episode pertamanya. The most anticipated drama this month! Ya, sebetulnya saya gak familiar amat sih sama bung Song Joong-Ki ini, belum pernah juga ngikutin dramanya dia, tapi act-nya di drama ini bikin pengin tau lebih lanjut. Greget kan.

    Mengambil set di Yunani, drama ini tentu saja adalah love story, kisah percintaan dengan latar belakang militer. Jadi si Song Joong Ki yang berperan sebagai Yoo Shi-Jin adalah seorang prajurit militer yang juga anggota pasukan perdamaian PBB, sementara Song Hye Gyo yang berperan sebagai Kang Mo-Yeon adalah seorang dokter yang ditugaskan untuk menjadi relawan di daerah perang ini. Takdir, gitu kan katanya. Bertemulah mereka dan bikin greget saya yang nonton.

    Dan geregeeeeettt, ih suka suka suka banget nontoninnya. Drama ini airing di Korea tiap Rabu dan Kamis, jadi muncul di dunia maya lengkap dengan subtittlenya ya sehari setelahnya. Kudu sabar-sabar menunggu tiap minggunya buat nonton 2 episode dari keseluruhan 16 episodenya. Tapi sumpah saya tenggelam dalam kegregetan walaupun baru 2 episedo. Haaaaawww, pingin nyokot mas suami jadinya *eh.

    Masih belum tau juga mengenai ending drama ini. tapi biarlah menjadi misteri, karena yang bikin penasaran justru yang oke kan kan kan 😀

    Bisa gugling untuk visit web drama mana yang mau ditonton. Bisa dicek di dramafire, dramanice, atau watchdrama kalau tertarik mengikuti drama ini. Semuanya adalah web drama yang biasanya juga menyertakan english subtittle. Atau bisa follow fanpage drama ini di facebook, mereka juga selalu update soal drama ini kok.

    Maka, saya ucapkan selamat tenggelam dalam kegregetan 😀 😀 😀

    Drama cuma drama, jadi jangan baper. *meskipun jelas motto ini sama sekali gak bakalan ngaruh kalo urusan drama korea sih ya 😀

    Kalau kamu kepengin nonton Descendants Of The Sun full episode, bisa loh. Klik link dibawah ini yah. Selamat nonton!

    Watch Descendants Of The Sun Full Episode
  • (Masih) Memilih Sekolah Untuk Anak

    Weekend kemarin, adalah saatnya parenting di sekoah si Ai, ya saatnya ibu-ibu bertemu. Selain arisan dan beberapa pengumuman soal upcoming activity-nya anak-anak beberapa bulan ke depan, ya biasa lah, saling tukeran cerita aja sama bunda guru juga. Berhubung ada juga ibu-ibu dari anak-anak TK B yang pertengahan tahun ini akan melanjutkan ke SD, maka obrolan pun bergulir kesitu. Soal SD.

    Whoaaa… lalu mengalirlah percakapan soal daftar dimana, bagaimana sekolahnya, dan tentu saja biaya masuk dan bulanannya. Sejujurnya, agak mengerikan sih ya ngobrolin soal biaya, hehehe… Tapi ya memang, ada harga ada rupa. Disini pembicaraan SD yg dimaksud adalah SD swasta, bukan SD negeri, jadi memang soal biaya masuk sangat bervariasi. Dan, ini adalah informasi yang oke banget, jadi dengarkan saja baik-baik. Dan untuk tahun ajaran baru pertengahan tahun nanti, pendaftaran sudah dibuka dari Januari awal tahun kemarin. Jadi ya, beberapa anak TK B ini sudah punya tempat di SD pillihannya masing-masing.

    Saya pribadi, memang berkeinginan untuk memasukkan Ai ke SD swasta saja, bukan ke SD negeri. Karena saya dan mas suami juga masih pikir panjang soal usia masuk SD ini lho. Dan belum final juga walaupun sudah diobrolin dari kapan tau. Ya, masih banyak pertimbangan ini itu dari saya dan mas suami juga. Ternyata repot ya.

    Paling tidak, ada beberapa poin yang sudah saya dan mas suami setujui. Pertama soal arah ke SD swasta, kami sepakat. PR untuk saat ini adalah me-list sebanyak-banyaknya SD yang terjangkau untuk kemudian disurvey bareng. Terjangkau apanya? Terjangkau dari segi waktu dan biaya. Karena sekepengin apapun saya pengen sekolah Ai tidak terlalu jauh makan waktu, capek di jalan, kasian juga staminanya. Dan soal biaya, walaupun uang bisa dicari, tapi tetap harus masuk budget.

    Inipun kayaknya saya masih bertanya-tanya, apakah saya terlalu idealis atau gimana, karena kan yang mau menjalani nantinya ya si Ai, bukan saya. Jelas yang harus memilih oke atau tidak ya si Ai sendiri. Keputusan terakhir tetap kembali pada anak.

    Kayanya sih gitu dulu perkembangannya sampai saat ini. Mumpung saya dan mas suami masih punya waktu untuk melihat-mendengar-mencari soal sekolah ini dan juga membicarakannya. Cari info, cari info, cari info.

  • Memilih Sekolah Untuk Anak

    Oke, memilih sekolah untuk anak. Ini adalah problematika, tepatnya salah satu problematika para orang tua muda semacam saya dan mas suami juga. Sebenernya bagaimana sih caranya mengukur dan memutuskan sekolah mana yang sesuai buat anak saya nanti? Confusing. Very confusing.

    Beruntungnya, di era media sosial sekarang ini apa sih informasi yang kita gak bisa dapat. Petunjuk dari orang yang kompeten, pengalaman dari sesama orang tua mengenai sekolah A, B, C misalnya. Banyak. Pilihlah sekolah yang begini jangan begitu, masukkan anak kesini supaya begini dan gak begitu. Banyak.

    Membaca banyak-banyak informasi tersebut saya jadi merasa tambah bingung! Ya sedikit tercerahkan, tapi nanti bingung lagi. Oh drama. Ya, memang banyak informasi membuka mata saya, masih perlu banyak lagi info. Karena semakin saya membaca dan mencoba memahami soal sekolah ini, saya jadi sadar sesuatu:

    sebenarnya apa sih yang kita harapkan dari anak-anak saat sekolah nanti?

    Jadi begini, pada dasarnya, pada saat punya anak, saya berharap dia akan tumbuh besar menjadi seperti apa adanya anak, bukan apa adanya saya. Tapi pada proses tumbuh kembangnya, saya juga ikut berharap ini itu. Tentunya embel-embel “harapan orang tua” ini juga ikut jadi salah satu hal yang mau gak mau mempengaruhi juga. Saya kepengin anak saya nanti cerdas emosinya, saya ingin anak saya lebih berkembang secara karakter, bukan cuma cerdas secara pelajaran di sekolah misalnya. Tapi apakah nanti saya sudah siap kalau si anak ini tidak menonjol dalam pelajarannya? Inilah yang saya bilang, saya yang harus banyak belajar, bukan anak-anak.

    Gak bisa tutup mata, sistem pendidikan di Indonesia ini memang menitik beratkan pada prestasi. Pada hasil. Pada apa yang terlihat. Walaupun iya, sekarang ini sudah mulai banyak sekolah yang mencoba menekankan pada proses dan bukan hasil saja. Artinya, karakter anak dan bagaimana dia berproses dalam pendidikan juga akan berpengaruh. Sebagai orang tua, berarti pola pikir dan cara pandang saya juga harus dirubah dulu ya kalau tidak sama. Supaya sejalan dengan visi misi sekolah. Ataukah saya harus idealis? Kayanya sih enggak ya.

    Bikin pusing kan?

    Well aku pusing juga membahasakannya. Begitulah.

     

  • HATI-HATI BERKENDARA!

    Ini serius ya, berhati-hatilah selalu berkendara di jalanan. Karena bahayanya gak main-main.

    Sebenarnya ini adalah salah satu poin yang sudah orang tau ya. Kita pasti sudah paham harus bagaimana ketika berkendara. Harapannya, selain tau, juga dipraktekkan. Karena sehati-hatinya kita di jalanan, pasti selalu ada orang yang mungkin terburu-buru jadi lupa deh soal safety di jalanan.

    Beberapa hari yang lalu, sore hari ketika sedang berkendara, ada kejadian yang tidak enak. Bukan menimpa saya,  tapi saya adalah saksi mata langsung. Ada seorang anak kecil (3 tahunan) yang tertabrak motor. Gara-garanya, dia pengin menyusul si ibu yang sudah ada di seberang. Namanya anak kecil, gak ada yang mengawasi, main nyelonong lari aja deh. Tapi ada motor yang sudah dekat dan gak bisa lagi menghindar, si pengendara juga kaget. Tertabraklah si adek. Untungnya laju motor gak kenceng. Si ibu dan sanak sodara si adek langsung histeris, teriak panik. Si mas pengendara, langsung mengajak ke rumah sakit. Semoga sih gak ada luka yang serius.

    Saya yang datang dari arah berlawanan, ikut syok. Langsung berhenti di pinggir jalan karena lutut lemes jantung deg-degan parah. Ya ampun, kejadian di depan mata. Bener-bener ikut bingung juga, dan pengen nangis juga. Huff…

    Pembelajaran banget buat semua orang. HATI-HATI DI JALANAN! Apalagi yang punya anak kecil yang aktif, wah kudu ekstra pengawasan, banget.

    Untuk yang berkendara, safety first. Pakai kelengkapan berkendara. Karena sekali lagi, sehati-hatinya kita, pasti ada saja kejadian yang mungkin melibatkan orang lain yang kurang hati-hati.

    Terutama, jaga anak-anak kita baik-baik. Kalau memang tidak bisa menjaga sendiri, mitalah tolong orang lain yang ada di rumah untuk membantu mengawasi. Karena anak-anak terutama balita, masih belum paham soal bahaya di sekitar mereka.

    wew, bukan pengalaman yang menyenangkan, tapi sarat pembelajaran.

    semoga anak-anak dan keluarga kita selalu ada dalam lindungan Allah ya, aamiin.

  • Bakwan Si Bala-Bala

    Hujan lagi, sejuk mengarah atis ya. Kondisi ini lho yang bikin perut merajalela laparnya. Si Ai aja makan banyak sekarang *faedah musim hujan bagi perkembangan anak 😀

    Dengan tuntutan perut yang semakin tak terhingga, maka otak juga harus bisa mengimbangi ya. Makanya kali ini kita bikin gorengan aja yuuukk! Bakwan sayur aja yang gampang. Enak kan, anget-anget.

    Yuk kali ini kita bikin Bakwan! Atau bisa juga disebut Bala-Bala.

    Bakwan, yang cepet banget ludesnya padahal baru digoreng.
    Bakwan, yang cepet banget ludesnya padahal baru digoreng.

    Bahan:
    ½ buah Kol a.k.a Kubis
    2 buah Wortel
    1 bungkus Jamur Kancing (sekitar 1 ons)
    1 bungkus Kecambah (sekitar 1 ons)
    2 batang besar Daun Bawang (saya suka banyak, gurih soalnya)
    1 siung Bawang Bombay
    3 siung Bawang Putih, haluskan
    1 butir Telur
    Tepung Terigu secukupnya
    Merica
    Garam

    How to:
    1. Cincang kasar semua sayuran, satukan pada wadah.
    2. Masukkan telur, bawang putih halus, garam, merica secukupnya.
    3. Tambahkan tepung terigu, uleni hingga menjadi adonan yang diinginkan.
    4. Goreng pada minyak panas hingga kuning keemasan atau hingga matang.
    5. Setelah matang bisa langsung dinikmati.

    Selamat mencoba!