Author: dirottsaha

  • Don’t Be A Monster #medium: Oct 18, 2014

    Don’t be a monster.

    Kenyataannya, sulit untuk tidak jadi monster menyeramkan ketika anakmu susah makan. Ngemut dan ngemut dan lama dan banyak gaya.

    Kenyataannya, sulit untuk tidak jadi monster menyebalkan ketika kamu merasa suamimu tidak mendengarkanmu. Atau tidak melakukan apa persisnya yang kamu katakan.

    Don’t be a monster.

    Kenyataannya, monster menyebalkan bagi semua orang ini muncul nyaris sama seringnya ketika orang yang kamu sayang ingin lebih dekat denganmu.

    Kenyataannya, kita lebih sering memilih dan dengan sadar berubah jadi monster tukang larang menyebalkan daripada berkepala dingin menghadapi sesuatu.

    Don’t be a monster.

    Don’t be a monster.

    Monster yang selalu pergi dengan tidak bertanggung jawab meninggalkan rasa bersalah.

    Dan penyesalan.

    Don’t be a monster.

    Ibu, jangan jadi monster menyebalkan ya.

    Dewasalah, Bu.

    Tidak ada orang yang mau dekat-dekat sama monster. Monster itu cuma menimbulkan ketakutan dan kebencian. Anakmu tidak akan suka, Bu.

    Jangan jadi monster, Bu.

    Jangan jadi monster, Map.

  • Twenty Again

    Baru menyelesaikan drama, judulnya Twenty Again. Bukan drama baru sih, drama ini running pertengahan 2015 kemarin. Yang main Choi Ji Woo, lama juga ga nonton dramanya beliau ini.

    Pic via asianwiki.com
    Pic via asianwiki.com

    Ceritanya tentang seorang perempuan berumur 38 tahun, namanya Ha No Ra. Dia jadi ibu di usia yag sangat muda, 19 tahun, dan karena itu dia tidak bisa menikmati masa mudanya seperti orang lain. Saat ini rumah tangganya dia diambang perceraian sama suaminya, dan punya satu anak laki-laki. Sempat mengira kalau dia menderita penyakit parah dan umurnya gak lama lagi. Ditengah kebingungannya ini dia memutuskan untuk kembali kuliah. Dengan niat untuk kembali merasakan masa muda yang tidak sempat dia rasakan, ternyata lebih dari itu, Ha No Ra malah kembali menemukan jati dirinya sebenarnya, dan itu semua mengubah cara pandang dan kehidupannya.

    Ya, kehidupan No Ra selama 20 tahun berumah tangga memang bukan cerita yang menyenangkan. Dari awal, memang mereka menikah karena ada seorang anak, suaminya menyembunyikan No Ra, dan komunikasi antara mereka memang buruk. Jadi ya No Ra yang memang tidak lagi punya keluarga jadi merasa sendiri.

    Endingnya happy, jadi tenang saja. Cuma drama kadang memang cerminan dunia nyata. Ada satu dua hal yang bisa jadi cerminan diri kita juga. Saya juga perempuan yang jadi ibu, tapi saya juga kadang bertanya, mau apa lagi ya saya? Mau jadi apa sih saya dalam hidup ini?

    To be or not to be, that’s the question.

    Kalao kamu penasaran seperti apa sih cerita lengkapnya, bisa nonton juga loh. Klik link dibawah ini yah.

    Watch Twenty Again Full Episode
  • Soal Menikah #medium: Oct 18, 2014

    Baru saja baca status seorang teman yang share soal pernikahan, ya lebih tepatnya “acara pernikahan”. The wedding, not the marriage. Kurang lebih yang dia suarakan menyoal betapa “loyalnya” ketika seseorang mengadakan pernikahan. Namun yang ironis kadang kala kehidupan setelah resepsi kemudian jadi berat karena banyaknya yang dihamburkan untuk acara tersebut. Yang kemudian dibandingkan dengan resepsi ala barat yang sederhana meskipun si empunya pesta adalah orang yang cukup berada.

    Sedikit menghela nafas ya, memang di Indonesia, kami para penduduknya sedikit melebihkan pada hal yang satu ini. Saya mengakui memang ketika seseorang mengadakan pesta pernikahan akan cenderung besar-besaran. Ada saja alasan yang melatarbelakangi.

    Yang ingin saya katakan sekarang ini adalah pesta pernikahanmu itu bukanlah acaramu, itu adalah pestanya orang tuamu. Silakan tidak setuju atau mendebat, tapi YA, orangtua kitalah yang punya hajat. Inilah acara mereka, maka setujulah dan stop mendebat mereka.

    Saya bukan orang yang menganut faham, resepsi harus meriah lho ya, fyi. Hidup di Indonesia ini, dengan latar belakang budaya yang beragam, soal menikah ini bukan seperti di barat sana. Ya, yang menikah memang kamu dan saya, tapi tengok lagi ke belakang. Saya dan kamu yang ingin menikah ini sama-sama punya orangtua, sama-sama punya keluarga. Dan arti menikah di Indonesia bukan hanya persatuan dua personal, namun dua keluarga. Aku menikahi keluargamu dan kamu menikahi keluargaku. Seringkali ego kita yang masih muda ini membuat lupa.

    Bahwa kita tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya menjadi orangtua sebelum menjadi orangtua, itu benar. Namun yang kita perlu ingat, orangtuamu itu, yang paling sayang padamu, yang selau menomorsatukan kepentinganmu itu hanya ingin yang terbaik untukmu. Mereka selalu ingin kita bahagia, cuma kita selalu tidak melihatnya.

  • MALU! #medium: Sep 29, 2014

    Jadi kalau anda merasa diri anda terpelajar, terdidik dan berpengetahuan luas TAPI anda masih merokok, sorry to say, anda adalah orang dungu. Orang yang tidak sayang diri sendiri apalagi keluarga.

    Ya, saya paham sepenuhnya, ini negara merdeka, suka-suka saya dong mau merokok atau tidak. Tapi menurut saya, ternyata merokok itu tidak hanya hak pribadi, karena ada asap yang kemana-mana dan terhirup oleh orang lain. Kecuali kalau anda yang perokok ini bisa mengendalikan jalannya asap rokok anda.

    Anggaplah saya orang yang cupat, sempit pikirannya, tapi menurut saya, laki-laki (khususnya) tidak merokok. Tidak ada hukum yang menyatakan bahwa lelaki harus merokok, apalagi wanita. Dan jika iya dia merokok, maka sudah sepatutnya ketika dia menikah dan mulai memiliki keturunan, kebiasaan rokok itu harus dibuang jauh-jauh. Lelaki, khususnya seorang AYAH yang memiliki anak-anak tapi masih merokok, berarti mereka egois.

    Anggaplah saya orang yang menyebalkan, tapi saya akan tetap pada pendirian saya yang melihat manusia perokok adalah manusia yang menyia-nyiakan hidupnya sendiri. Membahayakan dirinya sendiri dan lingkungannya. Seharusnya kita malu. Iya, malu! Negara Indonesia ini negara miskin. Tapi soal kebutuhan rokok, astaga, rokok jadi lebih berharga dibanding beras.

    Anggaplah saya sok tahu, karena memang saya seorang perempuan yang tidak pernah kenal rokok, atau lingkungan perokok. Bagi saya, teman-teman yang merokok adalah orang bodoh. Tapi saya seorang ibu yang berhak mendapatkan udara sebersih-bersihnya untuk anak-anak saya.

    Ayolah para perokok diluar sana, khususnya yang berstatus sebagai pria, yang berstatus sebagai suami, yang berstatus seorang ayah, MATIKAN ROKOKMU, SELAMANYA!

  • Hamil. #medium: Sep 14, 2014

    Bukan, saya lagi gak hamil kok. Cuma ingin surhat dikit aja soal pregnancy. Tapi semoga ya, saya diberi rejeki hamil lagi, aamiin. Ihik.

    Konon katanya dari sederet kebahagiaan yang dirasakan wanita selama hidupnya, salah satunya adalah kabar gembira ketika melihat 2strip di testpack yang berarti: selamat, anda positif ha-mil!. Iya sih, apapun kondisinya ya, hamil itu benar-benar anugerah yang luar biasa. Apapun kondisinya seharusnya ini adalah hal yang harus disyukuri.

    Kehamilan saya yang pertama, alhamdulillah fine. Lancar jaya hingga melahirkan. Gak kena cerita semacam morning sick atawa soal ngidam. Saya sehat wal afiat! Semoga besok kalau dikasih hamil lagi juga akan lancar selamat sampai melahirkan aamiin.

    Mau cerita apa toh… Umm…

    Belakangan news feed facebook saya berisi gak jauh-jauh dari soal kehamilan ini. Beberapa teman yang beberapa waktu lalu menikah sudah diberi rizki, sudah diberi hamil, alhamdulillah. Ikut senang dengernya, dan ikut mendoakan semoga segalanya diberi kelancaran sampai melahirkan nanti. Yang kemudian mereka (dengan suka cita tentunya) posting mengenai kondisinya dengan lebih emosional. Ini kata saya lho ya. Menurut sepengamatan dan senaluri saya sebagai perempuan juga. Saya sih fine aja, memang lagi hepi berat kok 😀

    Cuma saya jadi pengin ngomong sama mereka itu, yang tentu saja tidak saya lakukan. Mending tak tulis disini aja. Hey kamu yang sedang hamil, jangan cuma fokus sama mual-mualmu itu. Jangan cuma fokus sama kepenginanmu makan indomi itu. Atau jangan cuma fokus sama larangan-larangan yang hinggap padamu sekarang ini. Enjoy saja sist, enjoy.

    When I say enjoy, I really mean it. Enjoy lah. Nikmati saja. Nikmati waktu luangmu dan suami, mesra-mesralah, jalan-jalan hepilah. Larangan dari suami dan orang tua, itu adalah tanda sayang. Hal-hal yang kamu pengin banget, itu bisa nanti. Mual? Ya sudah jalani saja.

    Saya dulu mengira, ketika masa hamil berakhir dan akhirnya melahirkan artinya adalah kebebasan. Iya. Bebas dari rasa mual, bebas mau makan apa aja, bebas dari encok pegel linu. Yang mana tentu saja saya salah besar dong. Welcoming baby means pembelajaran lebih bagi orang tua baru terutama ibu. Belajar menyusui dan mengurus bayi. Hepi banget, tapi cape juga. Inget lho, ada 1 manusia kecil yang harus selalu diperhatikan kenyamanannya. Ga ada yang paling penting selain kenyamanan si bayi.

    Jadi, ayo dong yang lagi pada hamil muda, hamil tengah, hamil tua, senyum dan enjoy. Tuhan memberi anugerah padamu dalam tubuhmu, maka syukurilah. Sayangi dirimu juga. Gak salah kok manja-manja sama suami, atau jalan-jalan asik menghibur diri. Ingat lho, yang hamil itu harus hepi.

    Selamat hamil 😀

  • Soal P A U D #medium: Sep 4, 2014

    Oke, sebelum membaca saya beritahukan bahwasanya saya hanya menuliskan apa yang lewat di pikiran saya saja, bukan bermaksud menggurui. Kalaupun terkesan sok tahu, ya anggaplah saya memang begitu orangnya. Dengan kata lain, ini semua adalah curhat. Oke? Deal ya.

    Si Ai sudah hampir 3 tahun setengah usianya dan semua orang tanya,”sudah sekolah belum?”. Yang jawabannya tentu saja belum dong. Belakangan juga saya mulai kulik-kulik sebuah grup soal pre-school di facebook. Ya isinya soal gimana anak usia balita dan pendidikan yang (akan) dienyam lah kurang lebih.

    Terus terang saya dan mas suami masih bi to the ngung soal masalah PAUD Ai. Bingung lah, secara kami berdua ini baru 3,5 tahun jadi orang tua. Masih lebih seneng ngajakin Ai jalan-jalan makan-makan piknik daripada mikirin soal sekolah. Ehehe, gak ding, kalo yang itu mungkin saya aja, mas suami sih kayanya gak gitu, hihihi.

    Beberapa kali Ai saya ikutkan trial di lembaga pendidikan anak usia dini dekat lingkungan tempat kami tinggal. Dia enjoy, senang, dan bisa mengikuti. Lalu apa ya yang bikin kami belum juga memasukkan Ai sekolah? Ini berdasarkan pengalaman pribadi SAYA sih, saya takut aja gitu kalo nanti Ai bosen sekolah. Fyi, saya sendiri masuk sekolah saat itu pada umur 3,5 tahun. Dan ikut TK A, jaman segitu itu belum umum adanya playgroup lah ya. Menurut penuturan ibu saya, perlu waktu 1 bulan untuk saya mau berada di dalam kelas sendiri. Iya, jadi selama kurang lebih 1 bulan itu saya mengharuskan ibu saya berada dekat-dekat saya, menunggui dari bel masuk sampai selesai sekolah. Capek gak itu??? Maaf ya bu uhuk uhuk.

    Dari cerita itu, saya yang sekarang sudah jadi ibu jadi bisa berpikir lagi. Oke kita gak bisa menyamakan semua anak ya. Cuma saya berpikir, apa iya waktu itu saya SEBENARNYA belum siap secara mental untuk berpisah dengan ibu, atau orang terdekat. Ketika akhirnya saya mengambil kuliah jurusan psikologi lah saya akhirnya tahu saya mengalami separation anxiety. Artinya tingkat kecemasan saya bertambah dan bertambah dan bertambah setiap kali saya jauh dari orang-orang terdekat (dalam hal ini: orang tua) dan ini efeknya gak bagus juga. Yang saya tahu dan alami, anak akan sulit mengembangkan rasa percaya diri dan percaya pada lingkungannya. Gak pedean dan pencemas. Sounds horrible? Oh well, YES IT IS.

    Idealnya begini: ketika anak merasa aman dengan dirinya, dia juga akan merasa aman terhadap lingkungannya. Ketika rasa aman sudah terbentuk, rasa percaya pada diri sendiri juga akan ada, otomatis dia akan percaya pada lingkungannya. Yang diharapkan, ketika aman dan percaya diri ini sudah ada, anak akan bisa bereksplorasi secara makasimal. Itu kondisi ideal yang saya yakin semua orang tua inginkan. Realitanya itulah yang beragam. Akhirnya saya lebih memilih untuk menunggu saja. Menunggu Ai memang ingin dan mau dengan sendirinya sekolah. Dengan pelatihan ofkos yah, pengenalannya bertahap. Lama, ya. Tapi paling tidak saya tahu anak merasa aman. Dan rasa aman itu yang sedang pelan-pelan saya tanamkan, semoga sih berhasil.

    Doakan saya!!!

    Cheers 😀

  • Ce Pe En Es #medium: Aug 21, 2014

    Jadi, seperti yang sudah diketahui khalayak ramai pada umumnya di Indonesia, pertengahan bulan Agustus 2014 ini pemerintah menggelar bursa pendaftaran CALON pegawai negeri sipil. Bukan cuma pilpres ya yang ada bursanya, ini juga, dan peminatnya ratusan, lebih! Ala iklan gitu yak.

    Yang berbeda tahun 2014 ini adalah: jeng jeng jeng… pemerintah mengadakan penerimaan cpns ini dengan sistem online! Oh wow! keren sekali bukan pemerintah kita sekarang ini. He he he. Tujuan mulia dari pengadaan sistem online ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menghapus a.k.a meminimalisir tindakan curang disana-sini yang mungkin terjadi pada saat penerimaan cpns. Ya seperti yang sudah diketahui, atau kalau Anda-Anda belum tahu, proses penerimaan cpns di negeri kita ini sarat dengan kecurangan loh katanya. Iya, katanya sih gitu, hihi. Bayar sana-sini agar bisa diterima, atau ada nih oknum-oknum yang sengaja membohongi calon peserta. Ya pokoknya gitu-itu deh. Yang terhjadi biasanya adalah: sudah keluar uang buanyakkk, eh keterima juga enggak. Apes kan kan.

    Maka dari itulah, tahun ini pemerintah mengadakan penerimaan cpns online. Harapannya proses penerimaan akan lebih transparan dan terbuka. Kan hepi tuh biasanya kalau semua serba transparan dan terbuka, yo to?! Ala orang indonesia gitu deh pokoknya.

    Oke lanjut. Pemerintah menyediakan sebuah website khusus untuk segala keperluan serba-serbi cpns ini. Mulai dari segala pengumuman mengenai pendaftaran dan formasi ada deh di website ini. Monggo masyarakat peminat silakan berselancar melalui dunia maya. Begitu.

    Nah, apakah masalah sudah selesai dan semua orang hepi? Tentu tidak saudara. Hari pembukaan yang sudah ditunggu-tunggu banyak orang sudah berlalu tapi masyarakat belum bisa melakukan pendaftaran. Kenapa eh kenapa? Ternyata website yang disediakan belum rampung input data. Jeng jeng!

    Saya gak akan menyoroti bagaimana ketidaksiapan pemerintah soal ini. Cuma rasanya menggelitik sekali melihat respon masyarakat. Gimana toh responnya? Tentu negatif dong. Sana sini mencela, menyatakan ini itu dan yang pasti KECEWA berat. Masyarakat merasa justru dengan sistem online ini malah semakin merugikan, dan membuat sulit.

    Ya. Sah saja masyarakat menilai negatif mengenai penerimaan cpns dengan sistem online ini. Seberapa banyak sih masyarakat yang tahu mengenai sulitnya membangun sistem. Apalagi sistem tersebut akan diakses jutaan orang hampir dalam waktu yang bersamaan. Ambrol lah itu portal dong ya.

    Jadi poin tulisan ini apa sih? Nah itu dia. Alangkah baiknya ya kalau semisal masyarakat lebih mencari tahu soal kemungkinan diadakannya sistem online ini. Bukan hanya siap untuk kemungkinan lolos atau tidaknya dalam bursa cpns ini. Siap untuk menghadapi web yang eror ketika akses, siap mengenai kemungkinan lambatnya info yang akan didapat. Gitu-gitu lah pokoknya.

    Eh tapi kalau semua orang di negeri ini bisa saling sabar dan saling tolerir, namanya bukan indonesia ding yah??? *big grin*

    Salam sabar!

  • Bikinlah Blog, Map! #medium: Jun 17, 2014

    Memulai itu sulit, bukan berarti tidak bisa dilakukan to?

    “Mending kamu bikin blog aja deh, Map!” cetus mas suami suatu malam setelah dicurhati si istri yang sok mengamati dunia per-facebook-an yang belakangan gonjang-ganjing soal komen yang simpang siur tak menentu. Mungkin daripada galau tak tersalurkan. Mungkin begitu pikirnya.

    Blogging. Blogwalking sih sering. Manggut-manggut baca tulisan orang yang panjang lebar menjabarkan pikirannya juga sering. Saya kagum dengan orang-orang ini yang mampu menebarkan segenap pikirannya ke dalam sebuah tulisan.

    Anyway, kali pertama menuangkan ke dalam platform blog yang resmi. So, I guess this is the beginning. Belajar menajamkan pikiran lagi. Seperti permulaan di atas, memulai, mengawali itu selalu sulit. Tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan to?

    Selamat menulis!

  • Susu Murni Nasional

    Teng teng teng teng teng teng teng teng teng teng, teng teng teng teng teng teng teng teng teng teng, teng teng teng teng teng teng teng teng teng teng, susu murni nasional~~~

    susu murni rasa coklat, strawberry, dan mocca!
    susu murni rasa coklat, strawberry, dan mocca!

    Nah, bacanya sambil nyanyi dong ya. Hohoho, soundtrack ini nempel sekali di kepala, soundtraknya susu murni.

    Oke, ini random memang, tapi memang saya selalu random hohoho 😛

    Pertama kali ketemu susu murni ini ya di Jogja ini. Saya gak terlalu paham juga mungkin pemasarannya sih seluruh indonesia kali ya. Namanya aja susu murni NASIONAL, jadi pasti dong, setelah kamu minum susu ini maka rasa nasionalisme dalam jiwa kita akan berkobar semakin besar. Oke, lebay 😀

    Dulu waktu semasa sekolah, segelas ini harganya IDR 1,000 kalo ga salah inget. Tahun 2015 terakhir beli harganya IDR 2,500 ya, sepantaran sama susu-susu kemasan lainnya lah ya. Eh, tapi sekarang ada juga yang harganya IDR 1,000 saja. Tapi kecil, bukan kemasan gelas begini.

    Terakhir beli, selain susu murni rasa coklat, strawberry, dan moka sepertinya varian rasanya sudah bertambah banyak. Kemaren bapaknya yang jual nawarin ada rasa anggur dan jeruk juga. Biar tambah seger pasti.

    Minum susu ini, lebih banyak nilai kenangannya sih daripada mengutamakan rasanya. Rasanya emang ga enak? Wah, tentu saja enak. Ya rasa susu 😀

    Tapi bagi saya, minum susu murni ini membawa rasa-rasa kala masih sekolah dulu, wedeww… Jadi keingetan jam-jam istirahat, jajan bareng temen-temen. Beli tempura, 500 perak, celup saos banyak-banyak biar enyak, lalu minum susu murni dingin maknyuss. Kalo sekarang mah mana mau makan saos itu hohoho. Kalo sekarang beli ini, minumnya sama si Ai, sambil cerita-cerita jaman sekolah dulu, menyenangkan jugak 😀

    Well, ada saja sesuatu yang mengingatkan kita pada sebuah memori menyenangkan bersama orang-orang yang menyenangkan juga. Terimakasih pada susu murni kali ini, yang sudah menyeponsori kegiatan menyenangkan ini.

  • Perempuan

    You should go and love yourself first.

    Yep, pagi ini buka feed dan ada postingan ini, menyuarakan tentang bagaimana seorang perempuan yang melahirkan dan mengurus keluarganya. Sebagai perempuan yang tidak bekerja, dan full mengurus keluarga di rumah, I can relate to this. Tapi kalo menurut kacamata saya ini terlalu menyedihkan. Menurut saya, jadi perempuan gak perlu lah begini-begini amat.

    Tapi ya, kemudia seorang teman mengingatkan bahwa itu semua tergantung dari kondisi ybs, kalau hidupnya bahagia ya gak bakalan begitu-begitu amat. Ya iya sih. Semua orang tentunya menjalani kehidupan yang berbeda. Nasib satu sama lain tidak sama. Tapi kembali lagi, bahagia itu kita sendiri yang bikin, bukan orang lain. Biarlah menurut orang kita hidup penuh kekurangan, asal kita sendiri merasa bahagia. Buat apa mendengarkan penilaian orang lain?

    Saya belajar dari kalimat ini “happy mommy, happy kids”. Lebih jauh lagi, seorang ibu yang bahagia, yang merasa dicintai, itu efeknya akan terasa ke seluruh keluarganya. Maka apapun yang ibu itu lakukan, kalau dia sudah merasa bahagia, hasilnya pun akan membuat seisi rumah bahagia.

    Dulu, waktu baru-barunya punya anak saya percaya, asal anak saya kinclong, gak masalah juga kalau ibunya blangsak gak keurus. Tapi kemudian apa iya bahagia? Ternyata gak. Pada masa itu saya merasa diri saya ini jelek, sangat jelek. Sampai saya sadar, kalau anaknya kinclong, maka si ibu juga harus kinclong. Bikin kinclong itu gak perlu yang muluk-muluk, cukup mandi bersih pakai pakaian yang bersih dan pantas, sudah itu saja.

    Perempuan, buatlah dirimu sendiri bahagia, itu yang paling penting. Ketika kamu merasa bahagia, maka keluargamu akan ikut berbahagia. Bahagia adalah pilihan, apapun kondisinya, pasti masih ada sesuatu yang selalu bisa kita syukuri. Ini jauh lebih baik daripada kita mengasihani diri sendiri.

    Ini, menurut kacamata saya. Seorang perempuan.