Mengapa puding lagi? Karena bikin puding itu relatif mudah dan tingkat kegagalannya kecil, ehehe. Dan dijamin rasanya enak, paling kurang manis atau terlalu manis. Wis gitu aja. Kalo bikin roti, saya gak bisa. Jadi mari kita ramaikan dunia perdapuran dengan cemilan buat keluarga yang mudah, dan cepat eksekusinya.
Biasa, lagi berselancar tiba-tiba ada resep puding lewat di feed. Dan setelah dilhat baik-baik, oh sepertinya ini simpel. Maka jadilah liburan ini eksekusi puding roti tawar.
zebra wanna be 😛
PUDING ROTI TAWAR
Bahan A:
Roti Tawar Kupas 5 lembar
Susu Cair Plain 150 ml
Telur 1 butir
Bahan B:
Agar-agar Plain 1 bungkus
Gula pasir 50 gram
Air 400 ml
Garam sejumput
How to:
1. Sobek-sobek roti tawar, blender bersama telur dan susu, sisihkan.
2. Masak agar-agar, tambahkan gula dan garam sejumput, tambahkan roti yang sudah diblender, masak hingga mendidih.
3. Setelah matang, bagi adonan menjadi 2.
4. Tambahkan coklat bubuk dan SKM coklat pada adonan A, tambahkan SKM putih pada adonan B.
5. Tuang selang seling pada loyang. Atau Anda bisa membuat pola sendiri menurut kreativitas Anda.
Dulu, ketika saya masih belasan tahun, ibu suka bawa jajan sepulang dari pasar. Maka dari itulah sebutannya jajan pasar ya. Dari semua jajan pasar itu, kesukaan saya adalah kue sus dan ada satu jajan yang saya gak tau apa namanya. Terbuat dari sagu mutiara, tapi tidak berbentuk bubur. Sagu mutiaranya lebih padat, dan santannya kental di kanan kiri, gurih. Rasanya enak sekali kalo menurut saya.
Sayangnya ibu mulai berhenti beli jajan mutiara ini. Ternyata di pasar sudah menghilang alias tak ada lagi. Sampai sekarang saya besar dan keliling-keliling pasar, belum pernah menemukan lagi. Sering ngobrol sama ibu juga gimana cara bikinnya ya, tapi waktu itu jawaban ibu adalah, “kalo bikin repot lho, beli aja kan gampang.” Tanpa menyadari kenyataannya jajanan itu menghilang dari pasaran. Ouch, menyakitkan. Hahahaha :D.
Nah, hari ini , entah kenapa dari bangun tidur tadi pagi kok kepikiran sama jajanan ini. Dan berpikir keras, kira-kira apa ya resepnya. Kalau gugling dengan term “sagu mutiara” maka yang akan muncul kebanyakan adalah resep bubur mutiara. Gak cocok sama yang dicari. Maka dengan berbekal pengetahuan bahan dasar: sagu mutiara dan santan, saya mulai proyek antah berantah ini.
Saya mulai dengan merendam sagu mutiara di dalam air mendidih, kurang lebih selama 1 jam. Jadi didihkan air secukupnya, ketika air mendidih masukkan sagu mutirara, dan setelah mendidih, segra matikan api. Tutup panci dan biarkan selama setengah atau 1 jam. Hal ini membuat mutiara lebih mudah dimasak, karena sudah mengembang sempurna (sudah bening) dan mempercepat proses masak. Resepnya saya kira-kira saja, dan beginilah penampakannya.
Sagu mutiara dalam busana lain.
Tentu saja yang dijual penampakannya jauh lebih cantik, tapi rasanya lumayaaann 😛 Kalo dibuka dalamnya kira-kira begini.
Sagu mutiara, kanan kiri yang putih adalah santan kental.
RESEP SAGU MUTIARA
Bahan:
Sagu mutiara 1 bungkus
Santan 200 ml
Gula jawa 100 gram
Garam sejumput
Air
Tepung maizena 1 sdt
Plastik, bisa menggunakan plastik biasa kemudian dipotong kotak kira-kira 15 cm
How to:
1. Setelah mutiara mengembang sempurna, masak dengan api sedang, dan tambahkan air secukupnya, tidak terlalu banyak karena kita akan membuat mutiara ini kental.
2. Setelah mendidih, masukkan gula jawa dan garam sejumput, masak hingga mengental, apabila air terlalu banyak, buat menyusut namun jangan lupa diaduk supaya dasarnya tidak gosong.
3. Setelah matang, sisihkan dulu mutiaranya, dan kita akan membuat santannya.
4. Masak santan dengan air, kira-kira setengah gelas. Tambahkan garam dan aduk rata.
5. Kentalkan dengan maizena yang dilarutkan dengan sedikit air, terus aduk hingga licin. Setelah matang, matikan api.
6. Untuk membungkus, letakkan plastik, ambil 1 sendok makan mutiara letakkan ditengah, santan diletakkan dikanan kiri, bungkus seperti membungkus kulit lumpia.
7. Lakukan sampai mutiara habis. Agak sulit memang membungkusnya, tapi tetap harus semangat.
Nah, begitulah petualangan saya di dapur hari ini. Dan hasilnya not bad. Lumayan mengobati kangen sama jajanan ini. Selamat bereksperimen dengan tambahan bahan lain. Selamat mencoba!
Sudah lama tidak bikin-bikin puding. Kemarin-kemarin sempet bikin puding mentega. Abis itu malas. Penyakit ni, kemalasan tiada guna ehehe.
Jadi kemarin menyempatkan uplek di dapur bikin puding. Yang gampang aja gak usah ribet-ribet. Kebetulan pas ada yang share resep puding ubi ungu. Ya maarilah kita mencobanya. Dan beginilah penampakan si puding.
ungu aseli, tanpa pewarna artifisial 😀
Pembuatannya cukup mudah, bahan juga mudah di dapat. Berikut saya share resepnya.
PUDING UBI UNGU
Bahan:
Ubi Ungu 300 gram
Susu cair plain 1000 ml
Agar-agar plain 2 bungkus
Gula pasir 100 gram
How to:
1. Cuci bersih ubi ungu, kemudian kukus sampai empuk. (kurang lebih 30 menit)
2. Setelah matang, kupas ubi dan haluskan. (blender dengan susu secukupnya)
3. Masukkan ubi yang sudah di blender dalam panci, tambahkan susu, agar-agar, dan gula, aduk rata, masak sampai mendidih.
4. Setelah matang, puding siap dicetak dan tentu saja dapat dinikmati ketika sudah dingin.
Nah, simpel saja. Untuk lebih nikmat, bisa ditambahkan vla. Selamat mencoba.
*note: resep di atas hasilnya cukup banyak. Semisal takut kebanyakan bisa dibikin setengah resep, resep menyesuaikan.
Hari Jumat lalu adalah cooking day di sekolah Ai. Seperti biasa, kalau yang namanya cooking day maka akan ada satu resep yang akan diuji coba, dibuat bersama-sama. Walapun pada akhirnya bunda guru yang repot dan anak-anak yang main belepotan, ehe. Tapi poinnya tetap melibatkan anak dalam proses masak. Dari pengenalan bahan, membuat adonan, sampai finishing. Bagian yang melibatkan kompor atau pisau biasanya akan dipegang oleh bunda guru. Jadi gitu.
Nah, jumat kemarin Ai membawa pulang hasil cooking day, sambil cerita “ini enak banget loh map” Jadi resep yang dieksekusi adalah kroket makaroni keju. Makaroni? Ada kejunya pula? Jelas pasti anak-anak suka kalo ini sih. Dan Ai minta dibuatkan, maka okelah mari kita coba bikin.
Gugling resp kanan kiri, akhirnya saya bikin pake resep di cookpad punya mbak emma rosa. Saya bikin versi iritnya, tanpa telur atau daging, bumbu tambah kanan kiri sedikit, Bisa divariasi ditambah telur puyuh, daging ayam atau kornet, atau wortel serut, pasti tambah enak. Ini saya share resepnya ya.
Cara membuat:
1. Rebus makaroni sampai empuk, biasanya 8-10 menit. Setelah empuk, angkat, sisihkan.
2. Tumis bawang putih dan bawang bombay dalam margarin, tambahkan lada, pala, garam, dan penyedap, tumis sampai harum.
3. Tambahkan terigu, aduk rata, kemudian tambahkan susu cair, aduk sampai adonan licin dan tidak bergerindil. Kemudian tambahkan makaroni, aduk rata dan matikan api.
4. Adonan bisa dipindahkan ke wadah atau baskom, kemudian tambahkan keju parut, aduk lagi sampai rata.
5. Bentuk adonan sesuai selera, gulingkan dalam tepung panir, basahkan dalam susu cair, kemudian gulingkan lagi dalam tepung panir. Lakukan sampai adonan habis.
6. Setelah itu adonan siap digoreng, goreng hingga kuning keemasan, dan hidangkan hangat. Bisa dimakan menggunakan mayonais atau saus sambal, sesuai selera.
Jadi, setelah mencicipi entok slenget yang tersohor itu, rupanya bikin ketagihan dan pengen pengen lagi. Tapi kalo tiap pengen kesana kan boros ya, boros di kantong dan boros di bensin ehehe. Maka jadilah suatu hari dengan berbekal niat dan nekat, kita bereksperimen mencoba untuk masak. Tentu saja dengan resep yang kira-kira.
Maka jadilah si ayam slenget!
Ayam slenget bukan entok slenget. Kenapa? Karena daging entok itu susah dicari kayaknya ya. Jadi sebagai ganti, saya pakai ayam kampung. Teksturnya ya mendekati lah, agak-agak alot enak gitu. Stepnya: saya bacem dulu daging ayam sampai empuk, baru setelah itu ketika mau disajikan, ditumis sebentar dengan bumbu pedas. Dislenget gitu.
Nah, saya bagi resepnya kalau-kalau ada yang kepengin eksperimen juga.
Ayam Slenget
Bahan:
Daging ayam kampung 1 ekor
Bumbu bacem:
Bawang putih 3 siung
Bawang merah 5 siung
Gula merah secukupnya
Asam jawa (bisa direndam dan diambil airnya saja) secukupnya
Garam sejumput
Air
Bumbu slenget:
Bawang putih 1 siung
Bawang merah 3 siung
Lada secukupnya
Cabe sesuai selera
Pelengkap:
Daun kol, iris tipis-tipis
Timun, potong dadu
How to:
1. Cuci bersih ayam yang sudah dipotong-potong, masukkan dalam rebusan bacem (bawang merah putih, gula merah, dan asam jawa). Rebus sampai ayam empuk.
2. Untuk penyajian, tumis bawang merah putih, cabe, dan lada hingga harum. Siram dengan ayam dan kuah bacemnya, koreksi rasanya, tunggu hingga mendidih.
3. Sajikan panas-panas dengan nasi hangat. Jangan lupa irisan kol dan timun.
Ay ay, hari minggu, enak buat gegoleran. Tapi saya sih gegoleran juga tiap hari. Maka hari ini kupustuskan untuk mencoba sesuatu yang belum pernah kucoba. Masak rawon! Hohoho… Kalo makan sih pasti pernah ya. Tapi kalo masak belom pernah.
Dengan niat sekalian menghabiskan stok daging juga kan. Maka dimulailah proyek rawon ini dengan gugling! Gugling resep rawon. Makin dibaca makin puyeng karena kok banyak amat bumbunya, segala pake kluwek. Kluwek itu yang menjadikan khas rawon, karena kluwek inilah yang bikin si rawon berwarna hitam.
Bolak balik baca resep sepertinya agak kendor juga semangatnya. Jalan pintas! iya ada lho shortcutnya. Pake bumbu instan hehehe. Tinggal tambah tumisan bawang merah, daun jeruk, dan serai. Untuk lain kali sih semoga bisa bikin sendiri dari awal bumbunya juga. Tapi buat permulaan lumayan menghemat waktu lah. *look for the bright side 😀
Jadi setelah nguplek di dapur, maka inilah rawon pertama mamap. Tarraaa *plok plok plok
rawonnya mamap
Jangan lupa pelegkapnya pake tauge, dan daun bawang. Telur asin dan sambal itu hukumnya sunnah kok hihihi… Cuma bawang gorengnya kelupaan. Kalo pengen bikin sendiri, bisa ngintip ke resepnya mbak endang JTT. Monggo…
Mendoan. Tau kan mendoan? Makanan enak khas Banyumas ini sudah dikenal kemana-mana. Ciri khasnya tempenya tipis dan lebar, kemudian dibalut adonan tepung gurih, apalagi makannya bareng sambel kecap. Slurpp… kepengin to… hehehe…
Beberapa waktu yang lalu sempat terjadi polemik mendoan juga lho. Hebat to. Emang kenapa sih? Jadi dengar-dengar di berita, ceritanya ada individu tertentu yang ingin mematenkan mendoan ini menjadi merk dagang perorangan. Wehe, ya jelas se-Banyumas protes keras dong. Untungnya keinginan tersebut sulit untuk dilaksanakan karena mendoan ini adalah milik umum. Iya mendoan berasal dari kata “mendo” yang artinya setengah matang. Tidak bisa dong kata sifat dipatenkan, begitu kata berita.
Sebagai individu kelahiran Banyumas, saya juga penggemar berat mendoan. Istilahnya sudah mendarah daging wes. Lebay sih, tapi memang begitu adanya. Domisili saya gak di Banyumas, nah menambah kangen, karena momen makan mendoan ini langka. Kalau sempat jalan-jalan ke Banyumas, khususnya Purwokerto, di Jl Jend Soetoyo ada beberapa tempat yang menjual mendoan. Mau beli mendoan hangat bisa, beli tempenya saja bisa, bahkan bisa jadi oleh-oleh juga.
Di Jogja ini biasanya agak sulit menemukan tempe mendoan, makanya biasanya bikin sendiri. Ada sih beberapa tempat yang jualan, tapi jauh pula. Beli tempe biasa di pasar lalu diiris tipis menyerupai mendoan gitu. Atau kalau pas dapat kiriman oleh-oleh dari sodara yang main ke Jogja. Terus bumbunya apa? Mari kita simak bersama…
Mendoan
Bahan:
– Tepung Terigu, secukupnya
– Tepung Kanji, secukupnya (biasanya hanya sedikit digunakan)
– Daun Bawang, secukupnya, iris tipis
– Air, secukupnya
Bumbu Halus:
– Bawang Putih 3 siung
– Kencur 1 ruas jari
– Ketumbar, secukupnya
– Garam, secukupnya
Bumbu Sambal Kecap:
– Bawang Merah
– Cabe Merah
– Cabe Rawit
– Tomat
– Kecap
Haluskan semua bahan, atau diris-iris tipis, kemudian tuangkan kecap banyak-banyak. Jadi deh! Ukurannya sesuai selera, jadi bisa pas dengan level kepedasan masing-masing.
Cara membuat:
– Haluskan semua bumbu, beri air sedikit dan campurkan bersama daun bawang.
– Tambahkan tepung terigu dan kanji secukupnya, aduk rata.
– Tambahkan air secukupnya, aduk rata sampai adonan licin dan tidak bergerindil, adonan jangan terlalu encer, sebaiknya agak kental agar menempel di tempenya.
– Setelah adonan siap, maka celupkan tempe mendoan satu persatu, goreng dalam minyak panas dan banyak, tunggu sampai agak kering baru angkat (jangan sampai terlalu kering karena nanti jadi gak mendo lagi)
– Sajikan hangat bersama sambal kecap (atau bisa dengan cabe rawit hijau).
Yang harus diperhatikan dalam penggorengan mendoan ini yaitu: jangan terlalu kering. Kan mendo itu setengah matang. Jadi pada saat sudah tidak menempel lagi di penggorengan, sudah bisa diangkat. Begitu.
sepiring mendoan anget, nyeplus rawit, atau colek ke sambel kecap. mantep!