Category: Random Thoughts

  • Rizqi

    Katanya, kita tidak boleh mengukur rizqi hanya semata dalam hitungan finansial. 

    Anak yang sehat, itu rizqi. 

    Suami yang sabar, itu rizqi. 

    Setiap hari selalu bisa makan, itu rizqi. 

    Dekat dengan orangtua, itu rizqi. 

    Bangun tidur setiap pagi, itu riqzi. 

    Segala sesuatu dalam kehidupan kita sehari-hari yang terasa berat, namun bisa kita lalui, itu rizqi. 

    Kehidupan kita ini adalah rizqi dari Allah. 

    Saya masih belajar untuk selalu bersyukur apapun itu riqzi yang Allah kasih dalam hidup saya. 

    Walaupun kadang, saya lupa dan masih mengeluh kenapa begini, kenapa begitu. 

    Bersyukurlah, Map. 

  • People. 

    Seriously, people nowadays are scary. Ini serius. 

    Entah karena mungkin juga informasi itu bisa didapat dari mana saja terutama media sosial, info soal banyak orang ngawur itu dimana aja ada. Terliput media dan terekam kamera. 

    Ini tahun 2017, dan sekarang ini orang lebih menakutkan daripada hantu. Saya belajar bahwa orang bisa melakukan apa saja demi mewujudkan keinginannya. Atau jika sedang gelap mata, bahkan sampai menghilangkan nyawa orang lain. 

    Beberapa saat yang lalu banyak terdengar kabar yang tidak menyenangkan yang khususnya banyak menimpa perempuan. KDRT atau sampai membuat hilang nyawa orang lain. Dengan begitu mudahnya. Itu manusia terbuat dari apa? Kok sampai hati ?

    Atau mereka memang tidak punya hati. 

    Saya bingung, kenapa para pelaku ini bisa begitu? Gak sekolah kah mereka? Gak diajari saling menghormati kah sama orang tuanya? Gak punya agama kah mereka? 

    Kenyataannya di negara kita ini agama tidak menjamin perilaku. 

    Nyatanya pelaku yang melukai keluarga kami kemarin katanya rajin puasa dan mengaji. 

    Kenapa???

    Dan korban biasanya bukan orang lain, tapi justru orang yang dekat dengan pelaku. Yang katanya cinta dan sayang. Omong kosong!

    Sebenarnya apa sih yang kurang? Kenapa manusia jadi begitu? Kenapa kita jadi begitu? Terus gimana masa depan anak-anak kita nanti? Gimana nanti anakku? 

    Sampai situ saya kaget. Kaget kenapa? Ya saya sadar, sedikit banyak perilaku seseorang terbentuk karena keluarganya juga. Sebenarnya saya kepengin nanya, “mas, pak, dan semua pelaku kekerasan itu, apa iya dalam keluarganya dulu pernah jadi korban juga?” Atau pertanyaan semacam, “kamu gak pernah diajari menghargai orang lain po?!” Tapi ya itu hanya terjadi di kepalaku saja. Meh takon karo sopo emang? Ya to?! 

    Dan kaget juga karena sadar, saya ini orangtua. Berarti tanggung jawab untuk membentuk anak jadi manusia yang betul juga menempel sama saya. Mau sekacau apapun dunia di luar sana, tanggung jawab kita juga membenahi perilaku anak-anak kita, dengan harapan itu akan membawa perubahan. 

    PR kita itu, jadi orangtua yang bisa jadi teladan anak-anaknya.

    Yang menghargai orang lain. 

  • Pekerjaan paling keren. 

    Tau gak, apa pekerjaan yang paling keren di dunia menurut saya? 

    Pekerjaan yang paling keren menurut saya adalah: dubber dan penyiar radio. 

    Kenapa? Bayangkan, hanya dengan suara, mereka bisa memanipulasi kita lho. Hanya dengan suara saja, mengandung banyak sekali emosi dan bikin kita ikut larut. 

    Dan itu keren. Asli. Keren bingit. 

  • Kesukaan

    Semasa kecil, saya hidup bersama nenek. Mbah, begitu saya memanggilnya. Dan beliau adalah sosok saya berlari ketika ibu saya memarahi saya, hehe ?

    Termasuk seperti di foto di atas, ngapain sih itu? Ai lagi main-main sama rambut mamap, diwarna dan ditata biar rapi katanya. Iseng saya foto karena tiba-tiba hal ini mengingatkan kelakukan saya yang sama bertahun-tahun yang lalu. Cuman saya biasanya memainkan rambut milik Mbah saya. 
    Namanya juga simbah-simbah jaman dulu, yang rambutnya masih digelung. Dan semasa kecil, saya ingiiin sekali punya rambut panjang. Apa daya selalu dipotong sebahu dan baru panjang ketika saya kelas 2 SMP. 

    Nah karena rambut Mbah panjang, saya senang sekali memainkan rambut beliau. Entah disisir, dikepang, atau saya kuncir dua. Beliaunya? Anteng saja, gak protes ataupun merasa keberatan. Baru sekarang ini saya sadar beliau pastinya mungkin kadang merasa terganggu dong ya. Cucunya sok tau dan iseng begitu ?

    Ternyata saya beruntung sempat tumbuh bersama sosok Mbah yang sayang sama cucunya. Sesimpel membiarkan cucunya mengobrak-abrik rambutnya. Itu namanya sayang. 

    Saya berkaca pada diri saya sendiri, saya suka pelit kalau si Ai pengen main-main sama rambut saya. Kenapa ya saya begitu? Masih kalah dibandingkan sama apa yang saya lakukan waktu kecil dulu. Karena saya masih tidak sabar ternyata. 

    Hehe… belajar lagi ?

  • Konsekuensi?

    Banyak kasus kanan kiri yang lewat dan salah satunya kemudian ternyata dialami oleh keluarga kami sendiri. Sakit.

    Kemudian, banyak lagi kasus serupa yang membuat telinga panas. “Ah, lebih baik tidak mendengar,” batin saya berujar. Tapi seperti apapun tutup mata dan tutup telinga, kabar berita itu pasti terdengar, atau terbaca. Dan bikin mikir sendiri juga.

    Seperti berita yang tidak sengaja terbaca beberapa hari lalu, “pengacara dalam kasus klithih meminta keringanan hukuman bagi pelaku.” Tentu saja karena banyak alasan, alasan di bawah umur, alasan jera, alasan masa depan, dan lain. Intinya meminta keringanan hukuman bagi pelaku. Membaca seperti ini saya pengen teriak di depan wajah pelaku, “LALU GIMANA DENGAN KORBAN YANG SUDAH JELAS GAK PUNYA LAGI MASA DEPAN?! MANA KESEMPATAN UNTUK MEREKA?!!”

    Sedih.

    Tapi kok kemudian lewat lagi pikiran yang lain, kalau saya berada di pihak keluarga pelaku, apa kemudian saya juga mengusahakan supaya pelaku bisa dihukum seringan-ringannya? Ketika jelas dia menghilangkan nyawa orang lain.

    Sebgai orang tua, sebagaimanapun kita tidak ingin anak-anak kita terkena masalah, toh suatu hari nanti pasti mereka akan menghadapinya. Cepat atau lambat. Tapi ketika kemudian masalah itu cukup atau bahkan sangat berat, bagaimanakah respon kita pada anak? Tentu saja kita ingin menolong anak. Tapi bagaimanakah cara kita menolongnya?

    Pikiran logis saya tentu saja berkata, jelas anak mau tidak mau harus menerima semua konsekuensi dari perbuatannya dong. Biar dia belajar bahwa itu salah, dan ketika salah tentu saja setiap orang harus menerima konsekuensi kesalahannya.

    Tapi subjektivitas sebagai orang tua gimana? Tegakah saya nantinya melihat anak-anak menjalani konsekuensi itu? Saya bingung, sampai kemudian ada seorang Paman yang mengingatkan:

    kita cuma dititipi ia/mereka, titipan kuwi dudu duwek-mu, sing duwe Gusti Allah,dadi nek ora melu Gusti mesti ora bener….nek melu mesti bener……

    Dan ternyata benar, mereka ini hanya titipan, semua milik kita ini hanya titipan, bahkan kita hanya titip, nunut hidup di dunia. Bahwa semua yaang katanya kita miliki ini ada yang punya, punya Allah.

    Anak-anak kita itu titipan Allah, dititipkan untuk dijaga dan dididik sebagaimana mestinya. Dan ketika mereka bertemu dengan kesalahan, maka kita sebagai orang tua juga harus IKHLAS mempertemukan mereka dengan konsekuensi dari kesalahan itu.

    Kewajiban sebagai orang tua yang kemudian harus mengarahkan anak-anak ke jalur yang semestinya.

    Itu yang saya tangkap dari sebaris kalimat yang dituliskan oleh beliau.

    “Ai, jalan mamap dan papap bersama kamu masih sangaaatt panjang. Semoga ya, Ai, mamap dan papap selalu bisa mengimbangi setiap perkembanganmu, selalu bisa mendampingi dan memahami setiap perbuatanmu. Bantu mamap dan papap untuk selalu bisa menemani Ai sekarang sampai nanti Ai mampu berdiri kokoh sendiri. Semoga kita diberi jodoh yang panjang, untuk selalu saling menemani dan memahami, insyaAllah.”

    Love

  • Yep.

    So… you know.

    It’s kinda good day for a laundry day, but then you found out that the water is astaghfirullah. Then you just sigh.

    Menghela nafas sambil memandangi cucian kotor, dan air yang astaghfirullah itu.

    Well, that’s how life is going on, right!

    Cheers!

  • Ada Apa Sih Dengan Cinta?

    Jadi, setelah film AADC 2 banyak beredar di Youtube kan, saya sama mas suami ikutan nobar dan notis. Nonton bareng dan nonton gratis. Ya secara teknis sebenarnya gak gratis sih, secara kami mengorbankan bandwith internet dan listrik buat nonton kembalinya mbak Cinta dan Mas Rangga *perhitungan 😛

    Anggap deh telat banget. Kami Saya memang belum nonton sekuel AADC, jadi saya rewel mewanti-wanti mas suami, jangan sampe dia nonton gak ngajak-ngajak saya (gamau banget ditinggal :D). Dan akhirnya ya semalam, setelah si Ai tidur, kami nonton deh.

    Kurang lebih 2 jam nonton, dan setelah selesai nonton, kami sepakat bertanya-tanya, “sebenarnya ada apa sih dengan Cinta?” Serius ya, kami saya merasa film ini aneh, dan memang saya merasa terkesan dipaksakan karena ekspektasi tinggi para penggemar baper. Iya gak sih?!

    Katakanlah memang banyak pihak yang menantikan kembalinya Cinta dan Rangga, romantis, puitis, dan is is is lainnya. Tapi dalam kacamata saya, saya masih lebih suka sekuel AADC yang dibuat oleh Line beberapa waktu lalu. Kata-kata, “jadi beda, satu purnama di New York dan di Jakarta?” jauh lebih greget sih dibandingkan, “Rangga apa yang kamu lakukan ke saya itu jahat!” Iya gak sih?! Well, sekali lagi ini hanya pendapat saya.

    AADC 2 memang menggambarkan realitas setelah 14 tahun. Setelah 14 tahun memang gak mungkin semuanya masih begitu indah dan menyenangkan. Pasti ada banyak sekali perbedaan, terutama perbedaan mbak Cinta dan mas Rangga. Apa ya, gak tau aja, saya merasa dialog yang terjadi gak natural aja, gak kerasa greget. Sekarang nontonin karakter Cinta kok rasanya labil banget. Atau mungkin malah dengan tepat menggambarkan seseorang yang gak pernah selesai dengan cinta pertamanya? Penasaran selalu?

    Dan ada satu scene yang sangat sayang gak bisa meng-capture momen. Yaitu saat Rangga dan Cinta pergi ke Puthuk Setumbu, sayang sekali keindahan momen sunrise dan panoramanya gak kelihatan. Udah jauh-jauh ke Punthuk Setumbu lho bro! Sayang bingiiitt.

    Tapi saya sangat sadar, yang membuat film ini berbeda jauh adalah kacamata saya. Bandingkan waktu menonton AADC 14 tahun lalu saya kan masih bocah, piyik banget yang cuma ngerti mimpi-mimpi soal romantisme. Jelas waktu itu pasti termehek-mehek banget. Bandingkan dengan sekarang ketika sudah menjelang kepala 3, paling tidak kacamata saya pasti lebih rasional (soalnya udah pernah merasakan pahit manisnya cinta. ciee banget toh). Mungkin itu juga yang mengurangi rasa gregetnya kali ya.

    Eniwei, ini hanya sekedar celoteh saya soal mbak Cinta dan mas Rangga. Murni dari kacamata awam saya, dan gak ada maksud untuk mendiskreditkan pihak manapun. Cao!

     

  • Menyoal Jodoh

    *Warning: this is so random. 

    Ada sebuah percakapan antara saya dan tante bungsu bertahun lalu yang waktu itu baru menyepakati perpisahan sama seseorang (baca: putus). Kira-kira setelah ngobrol ngalor ngidul, dia bilang, “kayaknya lebih enak kalo udah punya pacar sebelum kerja deh daripada mencari pacar pas udah kerja. atau gini, sekarang pisah, trus besok pas dah sama-sama kerja ketemu trus nikah.”

    Dimana-mana pasti jawabannya: ya iyalah, udah ga perlu pusing memikirkan soal jodoh. Iya kan? Setelah itu gak ada lagi obrolan soal itu. Saya juga lupa.

    Tapi semalam, sembari perjalanan pulang ke rumah dari pantai yang cukup lumayan jarak tempuhnya, tiba-tiba saya ingat soal ini dan akhirnya jadilah ngobrol bersama mas suami. Pasalnya, waktu itu saya dan mas suami lagi ngobrolin soal teman kantornya yang baru saja menikah, jadilah saya juga menimpali dengan ngobrolin seputar jodoh, obrolan pun bergulir ke topik itu tadi. Dan surprise surprise, ternyata mas suami sependapat dengan apa yang dibilang sama tante bungsu beberapa waktu lalu. HoHo!

    Menurut mas suami, selain mungkin iya sudah pasti ada rasa ayem kalo sudah punya pasangan, ada lagi pertimbangan lain. Kekurangan kalau baru mencari jodoh menurut mas suami: ketika orang sudah bekerja, asumsi dari sebuah hubungan pastilah mengarah ke pernikahan. Padahal belum tentu. Namanya orang memulai hubungan, pasti ada banyak yang dicari, tapi belum tentu ingin segera menikah dengan orang yang diajak memulai hubungan.

    And I was like, “what!” Masa sih?

    Terus buat apa dipacarin dong???

    Hmm… ada sesuatu yang saya sadari berbeda. Ternyata ini lho dari sudut pandang seorang lelaki. Sementara saya dan tante bungsu itu kan perempuan. Dan saya sadar, pihak perempuan cenderung akan berharap sebuah hubungan yang mereka mulai bersama seorang laki-laki akan kemudian bisa dibawa sampai jenjang pernikahan. Atau minimal ya saya aja yang berpikiran begitu. Ya ampun betapa naifnya aku~~~

    Ada banyak pertimbangan sebelum menikah, ya saya tahu itu. Kadang saya melihat ada yang bertahun-tahun pacaran ga juga nikah, akhirnya putus. Tapi yang baru ketemu sebentar tau-tau nikah aja loh. Still, urusan jodoh ini memang misterius.

    See, I’m so random 😀

  • (Masih) Memilih Sekolah Untuk Anak

    Weekend kemarin, adalah saatnya parenting di sekoah si Ai, ya saatnya ibu-ibu bertemu. Selain arisan dan beberapa pengumuman soal upcoming activity-nya anak-anak beberapa bulan ke depan, ya biasa lah, saling tukeran cerita aja sama bunda guru juga. Berhubung ada juga ibu-ibu dari anak-anak TK B yang pertengahan tahun ini akan melanjutkan ke SD, maka obrolan pun bergulir kesitu. Soal SD.

    Whoaaa… lalu mengalirlah percakapan soal daftar dimana, bagaimana sekolahnya, dan tentu saja biaya masuk dan bulanannya. Sejujurnya, agak mengerikan sih ya ngobrolin soal biaya, hehehe… Tapi ya memang, ada harga ada rupa. Disini pembicaraan SD yg dimaksud adalah SD swasta, bukan SD negeri, jadi memang soal biaya masuk sangat bervariasi. Dan, ini adalah informasi yang oke banget, jadi dengarkan saja baik-baik. Dan untuk tahun ajaran baru pertengahan tahun nanti, pendaftaran sudah dibuka dari Januari awal tahun kemarin. Jadi ya, beberapa anak TK B ini sudah punya tempat di SD pillihannya masing-masing.

    Saya pribadi, memang berkeinginan untuk memasukkan Ai ke SD swasta saja, bukan ke SD negeri. Karena saya dan mas suami juga masih pikir panjang soal usia masuk SD ini lho. Dan belum final juga walaupun sudah diobrolin dari kapan tau. Ya, masih banyak pertimbangan ini itu dari saya dan mas suami juga. Ternyata repot ya.

    Paling tidak, ada beberapa poin yang sudah saya dan mas suami setujui. Pertama soal arah ke SD swasta, kami sepakat. PR untuk saat ini adalah me-list sebanyak-banyaknya SD yang terjangkau untuk kemudian disurvey bareng. Terjangkau apanya? Terjangkau dari segi waktu dan biaya. Karena sekepengin apapun saya pengen sekolah Ai tidak terlalu jauh makan waktu, capek di jalan, kasian juga staminanya. Dan soal biaya, walaupun uang bisa dicari, tapi tetap harus masuk budget.

    Inipun kayaknya saya masih bertanya-tanya, apakah saya terlalu idealis atau gimana, karena kan yang mau menjalani nantinya ya si Ai, bukan saya. Jelas yang harus memilih oke atau tidak ya si Ai sendiri. Keputusan terakhir tetap kembali pada anak.

    Kayanya sih gitu dulu perkembangannya sampai saat ini. Mumpung saya dan mas suami masih punya waktu untuk melihat-mendengar-mencari soal sekolah ini dan juga membicarakannya. Cari info, cari info, cari info.

  • Memilih Sekolah Untuk Anak

    Oke, memilih sekolah untuk anak. Ini adalah problematika, tepatnya salah satu problematika para orang tua muda semacam saya dan mas suami juga. Sebenernya bagaimana sih caranya mengukur dan memutuskan sekolah mana yang sesuai buat anak saya nanti? Confusing. Very confusing.

    Beruntungnya, di era media sosial sekarang ini apa sih informasi yang kita gak bisa dapat. Petunjuk dari orang yang kompeten, pengalaman dari sesama orang tua mengenai sekolah A, B, C misalnya. Banyak. Pilihlah sekolah yang begini jangan begitu, masukkan anak kesini supaya begini dan gak begitu. Banyak.

    Membaca banyak-banyak informasi tersebut saya jadi merasa tambah bingung! Ya sedikit tercerahkan, tapi nanti bingung lagi. Oh drama. Ya, memang banyak informasi membuka mata saya, masih perlu banyak lagi info. Karena semakin saya membaca dan mencoba memahami soal sekolah ini, saya jadi sadar sesuatu:

    sebenarnya apa sih yang kita harapkan dari anak-anak saat sekolah nanti?

    Jadi begini, pada dasarnya, pada saat punya anak, saya berharap dia akan tumbuh besar menjadi seperti apa adanya anak, bukan apa adanya saya. Tapi pada proses tumbuh kembangnya, saya juga ikut berharap ini itu. Tentunya embel-embel “harapan orang tua” ini juga ikut jadi salah satu hal yang mau gak mau mempengaruhi juga. Saya kepengin anak saya nanti cerdas emosinya, saya ingin anak saya lebih berkembang secara karakter, bukan cuma cerdas secara pelajaran di sekolah misalnya. Tapi apakah nanti saya sudah siap kalau si anak ini tidak menonjol dalam pelajarannya? Inilah yang saya bilang, saya yang harus banyak belajar, bukan anak-anak.

    Gak bisa tutup mata, sistem pendidikan di Indonesia ini memang menitik beratkan pada prestasi. Pada hasil. Pada apa yang terlihat. Walaupun iya, sekarang ini sudah mulai banyak sekolah yang mencoba menekankan pada proses dan bukan hasil saja. Artinya, karakter anak dan bagaimana dia berproses dalam pendidikan juga akan berpengaruh. Sebagai orang tua, berarti pola pikir dan cara pandang saya juga harus dirubah dulu ya kalau tidak sama. Supaya sejalan dengan visi misi sekolah. Ataukah saya harus idealis? Kayanya sih enggak ya.

    Bikin pusing kan?

    Well aku pusing juga membahasakannya. Begitulah.