Category: Random Thoughts

  • Perempuan

    You should go and love yourself first.

    Yep, pagi ini buka feed dan ada postingan ini, menyuarakan tentang bagaimana seorang perempuan yang melahirkan dan mengurus keluarganya. Sebagai perempuan yang tidak bekerja, dan full mengurus keluarga di rumah, I can relate to this. Tapi kalo menurut kacamata saya ini terlalu menyedihkan. Menurut saya, jadi perempuan gak perlu lah begini-begini amat.

    Tapi ya, kemudia seorang teman mengingatkan bahwa itu semua tergantung dari kondisi ybs, kalau hidupnya bahagia ya gak bakalan begitu-begitu amat. Ya iya sih. Semua orang tentunya menjalani kehidupan yang berbeda. Nasib satu sama lain tidak sama. Tapi kembali lagi, bahagia itu kita sendiri yang bikin, bukan orang lain. Biarlah menurut orang kita hidup penuh kekurangan, asal kita sendiri merasa bahagia. Buat apa mendengarkan penilaian orang lain?

    Saya belajar dari kalimat ini “happy mommy, happy kids”. Lebih jauh lagi, seorang ibu yang bahagia, yang merasa dicintai, itu efeknya akan terasa ke seluruh keluarganya. Maka apapun yang ibu itu lakukan, kalau dia sudah merasa bahagia, hasilnya pun akan membuat seisi rumah bahagia.

    Dulu, waktu baru-barunya punya anak saya percaya, asal anak saya kinclong, gak masalah juga kalau ibunya blangsak gak keurus. Tapi kemudian apa iya bahagia? Ternyata gak. Pada masa itu saya merasa diri saya ini jelek, sangat jelek. Sampai saya sadar, kalau anaknya kinclong, maka si ibu juga harus kinclong. Bikin kinclong itu gak perlu yang muluk-muluk, cukup mandi bersih pakai pakaian yang bersih dan pantas, sudah itu saja.

    Perempuan, buatlah dirimu sendiri bahagia, itu yang paling penting. Ketika kamu merasa bahagia, maka keluargamu akan ikut berbahagia. Bahagia adalah pilihan, apapun kondisinya, pasti masih ada sesuatu yang selalu bisa kita syukuri. Ini jauh lebih baik daripada kita mengasihani diri sendiri.

    Ini, menurut kacamata saya. Seorang perempuan.

  • Kita Perlu LEBIH Sadar dan Sabar

    Ingat soal taman bunga amarylis yang dalam hitungan hari rusak gara-gara terinjak-injak pasukan selfie? Atau soal kecelakaan yang merenggut nyawa banyak orang karena melangar perlintasan kereta api? Atau soal pembagian zakat tahunan yang pasti menelan korban? Atau soal banyak lagi hal yang membuat kita geleng-geleng kepala?

    Apa iya kita ini sangat tidak sadar dan tidak sabar? Apa iya orang indonesia itu memang tidak bisa belajar dari pengalaman orang lain? Masa iya harus ada korban dulu baru kemudian kia bisa sadar? Masa iya perlu ada pembatas atau warning super gede baru kita mau patuh?

    Miris. Sedih. Kecewa.

    Kok ya begitu banget sih kita jadi manusia? Kok kayanya gak bisa banget sih menjaga lingkungan. Apalagi menjaga diri kita sendiri.

    Ini sepele lho, kalau saja kita mau menunggu sebentar saja, pasti akan beda hasilnya. Kalau saja kita mau menunggu kereta lewat, kalau saja kita mau bergantian, kalau saja kita mau sabar mengantre, kalau saja kita lebih sabar dan sadar.

    Ayo to, masa iya sebagai manusia berpendidikan kita tidak bisa bersikap seperti sewajarnya manusia yang peduli lingkungan. Semisal kita yang dewasa ini tidak bisa memberi contoh baik, lalu anak-anak kita mau meniru siapa lagi?

  • Wanita Gak Cuma Punya Hati, Tapi Juga Punya Otak!

    Tau kan lagunya Mytha Lestari yang judulnya Aku Cuma Punya Hati. Bagus ya lagunya. Selow melow-melow gitu. Gampang diingat dan suka nempel di kepala. Pertama denger kirain yang nyanyi Terry, karena jenis suaranya mirip. Plus, mbak Terry biasanya memang menyanyikan lagu selow.

    Dulu saat ku siap mati untukmu
    kamu tak pernah menganggap aku hidup
    dulu saat semua ingin ku pertaruhkan
    kamu tak pernah percaya cinta sejatiku

    aku cuma punya hati
    tapi kamu mungkin tak pakai hati

    kamu berbohong aku pun percaya
    kamu lukai ku tak peduli
    coba kau pikir dimana ada cinta seperti ini
    kau tinggalkan aku ku tetap di sini
    kau dengan yang lain ku tetap setia
    tak usah tanyakan apa aku cuma punya hati

    Nah begitu kira-kira liriknya. Agak ngenes ya hehehe. Lagunya bercerita soal seseorang yang cinta mati pada seseorang yang sayangnya tidak kembali mencintainya.

    Pertanyaannya: kenapa kok diterus-teruskan???

    Serius ya, bukan menyudutkan lagu ini atau bagaimana, tapi please deh. Terutama para wanita ni, yang suka begini. Terus menerus berharap pada lelaki yang jelas-jelas melukai, yang tidak menghargai, yang model kayak lagu ituuu! Gemes!

    Kalau jelas, dia berbohong, kenapa percaya? Kalau dia melukai, kenapa kamu gak peduli? Itu diri sendiri lho. Jelas dia meninggalkanmu dengan yang lain, jadi kenapa menunggu terus? Bagaimana kamu mau cinta sama orang lain kalau kamu gak cinta sama dirimu sendiri. Kadang juga dia gak mau lho ditungguin, sengaja menyakiti biar kamu pergi. Well, he’s just not into you. Face it! Deal with it!

    Ingat ini: kalau dia memang mencintaimu, maka dia akan berusaha untukmu, bagaimanapun caranya. Bukan cuma membiarkanmu berusaha. Kalian akan berusaha berdua kalau memang saling peduli.

    So, please para wanita, sayangi dirimu sendiri. Kamu lebih berharga dari apapun di dunia ini. Dan kamu yang berharga pasti akan menemukan seseorang yang pantas.brainxheart

    Maafkan saya yang baper abis sama lagu ini. Maaf ya mbak Mytha, sukses terus buat karirnya. Besok bikin lagu yang jangan ngenes begini ya. Smangaaat!

  • Bukan Melulu IQ

    Ramai dishare di feed orang-orang. Betapa hubungan antara bla bla bla bisa menghasilkan anak dengan IQ yang lebih tinggi. Lakukan ini itu saat hamil agar IQ bayi lebih tinggi. Sejak jadi orang tua, saya mendadak sadar, bahwa hidup itu ga melulu soal IQ yang tinggi. Ya, sebagai orang tua saya tentu pengen anak saya nanti jadi anak yang pandai, jadi anak yang cerdas, baik hati, suka menabung, tidak sombong, dan banyak lah. Itu cita-cita semua orang tua pasti, ingin anak-anaknya lebih baik dari mereka.

    Tapi yang saya rasakan, saya pengen anak saya intelegensinya tinggi. Intelegensi sosialnya tinggi, EQnya, SQnya. Bukan melulu IQ. Saya kepengin anak saya punya kecerdasan sosial, kepekaan sosial terhadap lingkungannya. Saya rasa untuk jadi pintar di sebuah mata pelajaran, perlu belajar. Tapi untuk pintar secara sosial, itu lain lagi ceritanya.

    Banyak sekali sekarang ini anak kecil yang pintar, yang pandai, yang cerdas. Tapi PR buat orang tuanya, bagaimana mempertahankan kondisi intelegensi itu sampai nanti dia siap hidup sendiri. PR juga buat saya dan suami. Karena saya sampai sekarang merasa belum jadi orang yang baik juga. Mungkin waktu kecil anak-anak lebih mudah untuk diawasi, kita puas dengan pencapaiannya. Besok ketika mereka beranjak remaja, dewasa, dan punya pemikiran sendiri, dan suatu saat kita sebagai orang tua tidak sependapat, lalu bagaimana?

    Menengok ke dalam diri saya sendiri, masih sangat banyak pertanyaan. Bagaimana kalo begini? Bagaimana kalau begitu? Penginnya membekali anak tidak sekedar apa yang tertulis di textbook, tidak sekedar apa yang di sekolah diajarkan. Pengen supaya dia cerdas secara emosi, dan pandai mengelola perilakunya.

    Anak akan beranjak dewasa, dan saya masih belajar, memperlakukan anak sebagaimana tingkat usia dan emosinya.

    You’ll never know how your parents feel, until you become one.

    And yes, it’s true.

  • Kesedihan Untuk Dunia

    Jumat lalu, tanggal 13 November 2015 terjadi serangan teror di Prancis.

    Jumat lalu pula, terjadi serangan bom di Lebanon, dan tidak sedikit pula koban yang jatuh.

    Jumat lalu, terjadi pula gempa di Jepang dengan potensi tsunami meskipun kecil.

    Jumat lalu, mungkin pula banyak kejadian yang mungkin tidak terberitakan, kiamat kecil bagi sebagian umat manusia di dunia.

    Dan sejak itu, media sosial banjir pernyataan dan sikap simpati untuk korban yang berjatuhan. Masing-masing beropini dan menuliskan apa yang mereka rasakan.

    Apapun itu, inilah sikap saya.

    repost, dari manapun asalnya itu
    repost, dari manapun asalnya itu

    Mari membuat dunia lebih bahagia. Tersenyumlah bukan berprasangka.

  • Sekedar Ngetag Nih, Beneran?

    Selo, sekrol-sekrol temlen. Lalu ketemu salah satu apdet opini temen yang begini bunyinya: “Trend ibu-ibu muda masa kini: posting-posting artikel yg menyuarakan hak-hak istri sambil ngetag suami masing-masing. Banyak yg menyangkut materi pula… Jane tujuane opo sih?” Huakakakak… ini sudah lama juga saya gundah gulanakan hehehe…

    Iya, terus terang saya juga bingung, lha ngopo kok bingung? Seperti yang pernah saya proteskan di medium saya, kayanya kok dunia permediasosialan jaman sekarang itu sensitif bingit. Baik masalah negara sampe masalah rumah tangga, atawa masalah pribadi. Dan untuk masalah rumah tangga atau pribadi ini kebanyakan yang saya lihat pelakunya adalah wanita. Pokoknya saya jarang lah melihat postingan si suami ngetag istrinya gitu-gitu. Jujur, kadang ketika membaca artikelnya saya juga manggut-manggut dan kepengin juga nyolek mas suami sambil ngomong “iki lho mas, perlakukan aku seperti inih, pliiiss!” Tapi kok kayanya norak ya, jadi kuurungkan.

    Selain perasaan norak itu, sayapun mengukur diri, mikir dulu, ah apa iya sih bener begitu. Jangan karena kita perempuan terus bawa perasaan kemana-mana ah. Kadang sebagai perempuan saya juga merasa terjebak dalam rasa romantisnya sendiri, yang ujung-ujungnya gak kesampaian dan bete. Terus juga, menurutmu gimana rasanya si suami atau pasangan yang kena tag itu? Ketoknya kok gak hepi ya kalo di tag yang begitu-begituan. Belakangan ini saya juga baru sadar, kadang apa yang diperlihatkan suami itu bukan selalu yang sebenarnya. Sebenarnya suamimu itu sangat mencintaimu, tapi tidak selalu juga ditunjukkan. Sebenarnya suamimu itu juga pingin romantisan tapi capek kerja, dan lain-lain. Saya terus meyakinkan diri sendiri juga soal ini. Tapi balik lagi namanya perempuan ya, ya gitu deh. Paham, tapi pingin lebih diusahain lagi. Ah perempuan ini.

    Saya juga perempuan, banyak dramanya. Tapi soal publikasi seperti ini, saya lebih memilih untuk langsung menyampaikan ke suami lewat pesan pribadi. Kayanya kok lebih tepat, tidak mendisplay di ruang publik. Karena media sosial itu ruang publik lho, jangan sampe lupa! Tapi tulisan sepanjang ini juga termasuk surhat ya? Ehe… yah begitulah.

    Jadi untuk para suami di media sosial, berlapangdadalah ya. Sebenernya kami para istri ini memang suka muter-muter dengan keromantisannya sendiri, kadang berharap suami paham. Tapi ya gitu, suami juga bukan peramal yang jago telepati, jadi karena kita tidak sempurna itulah maka hidup berumah tangga itu berwarna. Semoga saya dan suami juga selalu bisa mengutamakan komunikasi dua arah yang efektif.

    Mas suami, pokoknya I love you!