Month: February 2016

  • MUDIK! #medium: Aug 11, 2015

    Lebaran kali ini kami mudik ke tempat mas suami tumbuh besar. Pergi ke rumah yangti dan kung. Formasinya: saya dan si Ai berangkat duluan bareng sama si om, kira-kira 10 hari sebelum hari H, sementara mas suami menyusul kemudian, biasalah namanya juga pegawai, menunggu jatah cuti.

    Kali ini Ai yang sudah 4 tahun sudah paham bahwa dia akan pergi menempuh perjalanan yang cukup jauh. Dia cukup mengerti dan menikmati perjalanan via udara yang kami tempuh. Alhamdulillah sehat selamat sampai tujuan.

    Tapi kali ini, si 4 tahun ini rupanya beda dari yang dulu dibawa kemana aja oke. Dan cukup drama juga karena kangen sama papanya. Jadilah agenda ketika mau tidur selama berhari-hari diisi dengan nangis-nangis gemes kepengin sama papa. Hehehe kasiannya.

    Coba tebak adatnya yang drama ini diturunkan dari mana? Yap, tentu saja Ai mirip mamapnya. Melihat dia nangis-nangis gemes gitu jadi inget diri sendiri bertahun-tahun yang lalu. Jaman masih SD, suka liburan di rumah mbah juga sendiri. Dan kalau malam mau tidur, pasti saya juga keingetan bapak ibu dan berujung dengan keluarnya air mata. Hehehe.

    Dulu, selalu senang tiap libur sekolah datang. Karena artinya bisa nginap tempat mbah dan main bareng sepupu. Tapi kalau jam tidur menjelang, selalu nangis bombay cyynnn! Keinget selalu digendongin tante dan dibujuk-bujuk biar diem dan lekas merem. Keadaan itu ternyata berbalik padaku sendiri hehehehe.

    Sekarang sayalah yang harus membujuk-bujuk menenangkan Aila yang nangis-nangis keingetan papanya. Kepengin ikut nangis juga sebenernya karena kangen juga, tapi gak lucu dong ah kalo berdua sesenggukan. Bisa bingung mertua nanti hohoho.

    Yah, begitulah. Rupanya buah jatuh memang gak jauh dari pohonnya. Dan memang air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga.

  • 2 is better then 1, eh? #medium: Jun 23, 2015

    Saya dan suami tidak pernah berpisah. Alhamdulillah. Ini adalah hal yang pasti harus sangat amat disyukuri.

    Kami berdua memang tidak pernah berada dalam kondisi yang mengharuskan untuk berjalan sendiri-sendiri atau masing-masing. Belum pernah LDR. Dari jaman pacaran, sampai lulus kuliah pun kami masih satu kota, masih satu jalan kaliurang malah. Sampai kami punya Aila, menikah juga alhamdulillah masih sangat senang bisa stay di kota yang sama.

    Melihat kawan yang tidak seberuntung kami, yang masih harus sendiri-sendiri, rasanya kadang ikut sedih. Membayangkannya susah. Dulu, orang tua saya pernah juga berjauhan. Bapak harus dinas di kota lain, sementara ibu bersama saya dan adik masih disini. Waktu itu gak ada yang terlintas, malah pikir saya, saya jadi terlatih mandiri karena harus mengurus diri sendiri dan bantu ibu. Ternyata pikiran saya gak sepenuhnya benar juga. Karena waktu itu posisi saya adalah anak, sekarang saya jadi istri saya mikir lagi. Mungkin waktu itu saya gak memahami ibu saya, apa yang waktu itu beliau pikir dan rasakan. Karena berjauhan dari suami itu pasti tidak gampang. Sekarang saya jadi istri, dan membayangkannya saja sulit.

    Semoga kami selalu diberi waktu untuk bersama, biar susah biar senang, bisa dijalani bersama-sama. Aamiin. Karena apapun itu, sepenat apapun keadaan, sangat berbeda rasanya jika ada seseorang untuk dipeluk dan dicurhatin. Karena sedianya, two is better than one, kata taylor swift.

    Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?