Memulai itu sulit, bukan berarti tidak bisa dilakukan to?
“Mending kamu bikin blog aja deh, Map!” cetus mas suami suatu malam setelah dicurhati si istri yang sok mengamati dunia per-facebook-an yang belakangan gonjang-ganjing soal komen yang simpang siur tak menentu. Mungkin daripada galau tak tersalurkan. Mungkin begitu pikirnya.
Blogging. Blogwalking sih sering. Manggut-manggut baca tulisan orang yang panjang lebar menjabarkan pikirannya juga sering. Saya kagum dengan orang-orang ini yang mampu menebarkan segenap pikirannya ke dalam sebuah tulisan.
Anyway, kali pertama menuangkan ke dalam platform blog yang resmi. So, I guess this is the beginning. Belajar menajamkan pikiran lagi. Seperti permulaan di atas, memulai, mengawali itu selalu sulit. Tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan to?
Teng teng teng teng teng teng teng teng teng teng, teng teng teng teng teng teng teng teng teng teng, teng teng teng teng teng teng teng teng teng teng, susu murni nasional~~~
susu murni rasa coklat, strawberry, dan mocca!
Nah, bacanya sambil nyanyi dong ya. Hohoho, soundtrack ini nempel sekali di kepala, soundtraknya susu murni.
Oke, ini random memang, tapi memang saya selalu random hohoho 😛
Pertama kali ketemu susu murni ini ya di Jogja ini. Saya gak terlalu paham juga mungkin pemasarannya sih seluruh indonesia kali ya. Namanya aja susu murni NASIONAL, jadi pasti dong, setelah kamu minum susu ini maka rasa nasionalisme dalam jiwa kita akan berkobar semakin besar. Oke, lebay 😀
Dulu waktu semasa sekolah, segelas ini harganya IDR 1,000 kalo ga salah inget. Tahun 2015 terakhir beli harganya IDR 2,500 ya, sepantaran sama susu-susu kemasan lainnya lah ya. Eh, tapi sekarang ada juga yang harganya IDR 1,000 saja. Tapi kecil, bukan kemasan gelas begini.
Terakhir beli, selain susu murni rasa coklat, strawberry, dan moka sepertinya varian rasanya sudah bertambah banyak. Kemaren bapaknya yang jual nawarin ada rasa anggur dan jeruk juga. Biar tambah seger pasti.
Minum susu ini, lebih banyak nilai kenangannya sih daripada mengutamakan rasanya. Rasanya emang ga enak? Wah, tentu saja enak. Ya rasa susu 😀
Tapi bagi saya, minum susu murni ini membawa rasa-rasa kala masih sekolah dulu, wedeww… Jadi keingetan jam-jam istirahat, jajan bareng temen-temen. Beli tempura, 500 perak, celup saos banyak-banyak biar enyak, lalu minum susu murni dingin maknyuss. Kalo sekarang mah mana mau makan saos itu hohoho. Kalo sekarang beli ini, minumnya sama si Ai, sambil cerita-cerita jaman sekolah dulu, menyenangkan jugak 😀
Well, ada saja sesuatu yang mengingatkan kita pada sebuah memori menyenangkan bersama orang-orang yang menyenangkan juga. Terimakasih pada susu murni kali ini, yang sudah menyeponsori kegiatan menyenangkan ini.
Yep, pagi ini buka feed dan ada postingan ini, menyuarakan tentang bagaimana seorang perempuan yang melahirkan dan mengurus keluarganya. Sebagai perempuan yang tidak bekerja, dan full mengurus keluarga di rumah, I can relate to this. Tapi kalo menurut kacamata saya ini terlalu menyedihkan. Menurut saya, jadi perempuan gak perlu lah begini-begini amat.
Tapi ya, kemudia seorang teman mengingatkan bahwa itu semua tergantung dari kondisi ybs, kalau hidupnya bahagia ya gak bakalan begitu-begitu amat. Ya iya sih. Semua orang tentunya menjalani kehidupan yang berbeda. Nasib satu sama lain tidak sama. Tapi kembali lagi, bahagia itu kita sendiri yang bikin, bukan orang lain. Biarlah menurut orang kita hidup penuh kekurangan, asal kita sendiri merasa bahagia. Buat apa mendengarkan penilaian orang lain?
Saya belajar dari kalimat ini “happy mommy, happy kids”. Lebih jauh lagi, seorang ibu yang bahagia, yang merasa dicintai, itu efeknya akan terasa ke seluruh keluarganya. Maka apapun yang ibu itu lakukan, kalau dia sudah merasa bahagia, hasilnya pun akan membuat seisi rumah bahagia.
Dulu, waktu baru-barunya punya anak saya percaya, asal anak saya kinclong, gak masalah juga kalau ibunya blangsak gak keurus. Tapi kemudian apa iya bahagia? Ternyata gak. Pada masa itu saya merasa diri saya ini jelek, sangat jelek. Sampai saya sadar, kalau anaknya kinclong, maka si ibu juga harus kinclong. Bikin kinclong itu gak perlu yang muluk-muluk, cukup mandi bersih pakai pakaian yang bersih dan pantas, sudah itu saja.
Perempuan, buatlah dirimu sendiri bahagia, itu yang paling penting. Ketika kamu merasa bahagia, maka keluargamu akan ikut berbahagia. Bahagia adalah pilihan, apapun kondisinya, pasti masih ada sesuatu yang selalu bisa kita syukuri. Ini jauh lebih baik daripada kita mengasihani diri sendiri.
Thank God, I feel so blessed. Entah kenapa, berkaca dari perjalanan seorang teman, aku merasa begitu bersyukur. Aku memiliki keluargaku sendiri. Ya, aku memiliki mereka seutuhnya
Terimakasih Ya Allah, aku diizinkan memiliki Ai, sehat dan sempurna seperti yang aku inginkan.
Terimakasih Ya Allah, aku punya mas suami yang sabar menghadapi aku dan segala tingkah lakuku yang kadang ajaib.
Terimakasih Ya Allah, aku diberi tubuh yg sehat, diberi cukup ASI untuk Ai tanpa harus meminum susu tambahan.
Terimakasih Ya Allah, aku bisa berkumpul, melihat anakku dan suamiku setiap hari, sesering yang aku inginkan.
Terimakasih Ya Allah atas semua rizki dan pintu maafmu yg Kau bukakan lebar-lebar untuk kami.
Sedih rasanya, mendengar teman yang juga seorang ibu, untuk saat ini tidak bisa berkumpul bersama anaknya. Betapa ketika keadaan mengkondisikan lain seperti yang kita inginkan, pasti sangat sulit, sangat amat sulit berpisah dari anak pasca melahirkan beberapa bulan sebelumnya
Aku tidak ingin menghakimi, tidak ingin berprasangka terhadap pihak-pihak yg berkaitan dengan hal tersebut. Tapi aku cuma menyayangkan, kenapa seperti itu. Kenapa mesti hidup terpisah dengan anak. Sulit pasti rasanya, jadi seorang ibu, yang merasa kurang. Dia bercerita, bahwa asinya sedikit, dan anaknya terus menangis ketika digendong, dan diam ketika digendong orang lain, dan sebagai ibu merasa sangat tidak berdaya. Ya aku tau rasanya, aku pun mungkin mengalami ketidakberdayaan itu, pasca melahirkan, dengan situasi dan kondisi yg berbeda
Aku hanya berharap, secepat mungkin mereka bisa berkumpul bersama kembali. Sesulit apapun, sekeras apapun hidup, tetap harus dijalani.