Blog

  • LPRD: Sebuah Perjalanan

    Sejak didiagnosa LPRD 2018 lalu, dan juga setelah mengarungi berbagai macam dramanya, boleh dikatakan kondisi Mas Suami sekarang ini sudah jauh lebih baik daripada saat itu. Sudah lebih sehat, sudah bisa makan seperti biasa. Biasa disini adalah sudah bisa memakan kembali apa yang waktu itu dipantang. Walaupun memang tidak berlebihan dan sudah tidak lagi minum kopi, atau teh , atau minuman berwarna. Lebih banyak konsumsi air putih saja.

    Perjalanan yang tidak sebentar, dan kesehatan yang sekarang ini dirasakan juga tidak instan. Menengok kembali episode itu, bagi kami juga tidak sedikit usaha yang kami lakukan untuk mendapatkan kesembuhan. Selain ke dokter dan konsumsi obat dan juga merubah menu makanan, ada juga jalan lain yang kami tempuh. Seperti terapi alternatif dan juga mencari kesembuhan melalui beberapa cara alternatif dan juga tumbuhan herbal.

    Obat medis. Ketika didiagnosa menderita LPR, Mas Suami hanya diresepkan obat asam lambung biasa seperti lansoprazole atau omeprazole. Diminum 1 jam sebelum makan, atau 2 jam setelah makan. Selain kedua obat itu, Mas Suami juga diperbolehkan mengonsumsi obat-obat maag yang dijual bebas di pasaran oleh dokter, kami sempat mencoba mylanta dan polysilane. Efeknya kurang lebih sama seperti lansoprazole maupun omeprazole. Konsumsi obat teratur hanya diawal-awal saja, selanjutnya ketika asam lambung turun dan kondisi perut sudah semakin membaik, obat hanya diminum saat diperlukan saja.

    Terapi alternatif. Kami juga sempat menjalani terapi alternatif di beberapa tempat. Di 3 tempat sih lebih jelasnya. Yang pertama ada sebuah tempat pijat refleksi di daerah Kaliurang, kami sempat menjalani 3-5 kali terapi disana. Selain dipijat refleksi, biasanya pasien yang berkunjung kesana akan diberi daftar pantangan, atau daftar makanan yang TIDAK BOLEH dikonsumsi selama menjalani terapi disana. Banyak bro pantangannya, pokoknya buanyakkk. Selain itu juga ada obat herbal berbentuk kapsul yang disarankan untuk dikonsumsi pasien sehari-hari.

    Setelah beberapa kali refleksi di tempat pertama, dan sepertinya tidak ada perubahan, mulailah kami lelah. Waktu itu ada tetangga yang juga memberi info tempat terapi lain, yang lebih dekat lokasinya dari rumah kami. Coba lagi demi kesembuhan. Tempat terapi ini juga semacam tempat pijat, tepatnya totok syaraf. Kami jalani seminggu 2 kali terapi selama mungkin 2 bulan. Nah di tempat ini pasien tidak dipantang apapun, tapi disarankan untuk meminum ramuan GAMBIR setiap pagi. Lha, apakah itu gambir? Biasanya dulu, gambir ini dipakai untuk campuran saat nginang. Tau to, orang dulu-dulu atau kakek nenek kita sukanya nginang, pake sirih, jambe, dan ada gambirnya. Boleh digoogling deh untuk lebih jelasnya gimana bentukannya gambir ini dan juga manfaatnya. Belinya di pasar, atau cari di marketplace mungkin juga ada kali ya. Jadi si gambir ini dihaluskan, kemudian diseduh air panas, setelah itu dibiarkan semalaman. Pagi saat bangun tidur, minum airnya saja, boleh dicampur madu.

    Ini lho gambir. Pohonnya seperti itu. Kita konsumsi getahnya yang sudah jadi blok-blok itu. Gambar pinjem dari google ya.

    Terakhir setelah sudah lelah juga totok syaraf disitu, kami sempat berhenti terapi. Capek sis terapi terus, walaupun memang kunci terapi itu ya harus rutin dan telaten. Setelah beberapa lama tidak terapi terakhir akhirnya kami pijat sendiri di rumah. Ada tukang pijat yang biasa kami panggil 2 minggu sekali untuk pijat. Tukang pijat ini memang mengerti urat dan syaraf jadi pijatnya juga pijat syaraf. Ada 4 atau 5 kali pijat, ya lumayan juga untuk merilekskan badan yang capek dan syaraf yang tegang.

    Empon-empon. Tau kan empon-empon? Bumbu dapur seperti kencur, kunyit, jahe, dan kawan-kawannya. Ketika tahu Mas Suami asam lambung parah sampai akhirnya LPR, banyak kerabat dan tetangga yang menyarankan pengobatan melalui empon-empon ini. Khususnya KUNYIT. Tapi kunyit yang dipakai bukan kunyit biasa, tapi KUNYIT EMPU. Bagian kunyit yang menjadi center, atau induk kunyit ada juga menyebut begitu. Nah, si kunyit empu ini diparut kemudian diperas airnya terus diminum deh. Seeetiap pagi bangun tidur sampe bosen, tapi ga boleh bosen namanya juga ikhtiar menuju kesembuhan kaaaann…

    Tu lho, yang tengah-tengah itu yang disebut empu, atau induknya kunyit. Gambar via google.

    Sebelum konsumsi kunyit dan gambir tadi, ada juga hal lain yang juga katanya baik untuk dikonsumsi penderita asam lambung yaitu GARUT. Tepatnya umbi garut. Kalau dipasaran, banyak dijual sudah berbentuk tepung garut. Jadi Mas Suami juga sempat konsumsi itu. Gimana cara konsumsinya? Tepung garut dilarutkan dengan air, kemudian diaduk cepat menjadi bubur sampai mendidih. Bentuknya nanti seperti lem. Tiap bangun tidur, makan itu deh. Sedikit aja gak banyak-banyak, 1 – 2 sendok makan saja. Selain itu kami juga mencari umbi garutnya langsung. Umbi garutnya diparut, airnya diminum deh. Semua itu demi kesehatan sodara-sodara.

    Nah itu yang namanya umbi garut. Gambar via google.

    Perubahan pola makan. Saat didiagnosa LPR dan diberi daftar jenis makanan yang harus dihindari, mau gak mau berubah pula menu makan Mas Suami. Praktis semua yang ada dalam daftar pantangan tidak lagi dikonsumsi. Makan apa waktu itu? Mas Suami lebih banyak konsumsi sayuran rebus, atau untuk variasi ya sayur sop tanpa sayur kol atau sawi, dan kebanyakan makan sayur bening. Sayur beningnya sendiri bukan sayur bening bayam, tapi sayur bening daun kelor dan labu siam. Kata Mas Suami sih nyaman di perut. Olahan lauknya juga yang tidak berminyak, bersantan, atau pedas. Direbus, dikukus, dibacem, sehari-hari ya begitu aja. Bosan jangan ditanya, tapi ya karena waktu itu LPR cukup mengganggu jadilah ini semua harus dijalani.

    Saat itu, memang seperti tidak terlihat perubahan. Perut tetap terasa gak nyaman, tenggorokan tetap mengganjal, telinga tetap mendengung, badan tetap terasa lelah luar biasa, asam lambung terasa tetap naik, seperti stuck aja berbulan-bulan tanpa kemajuan. Karena kami memang lupa satu hal, lupa untuk rileks. Semua terasa tegang, bawaannya emosional terus, dan memang untuk pasrah dan ikhlas itu tidak mudah. Padahal ikhlas itulah juga salah satu komponen penting yang membantu kondisi tubuh jadi lebih rileks dan lebih mudah untuk sehat. Pada saat itu memang karena kondisi, semua jadi terlihat sulit dan tidak menyenangkan.

    Alhamdulillah, setelah dipaksa untuk rutin, karena semua itu tiada hasil kalau kita gak rutin dan gak telaten. Setelah beberapa lama, mulai ada perubahan pada fisik Mas Suami. Yang tadinya tenggorokan panas jadi tidak lagi panas lagi, yang tadinya perut perih jadi tidak perih lagi, yang tadinya terasa sulit jadi lebih mudah untuk dijalani. Karena memang semua itu proses, tidak bisa instan. Sepengalaman saya, gak bisa kita cuma berharap sehat lewat obat tanpa merubah pola makan kita. Semua saling bertaut, jadi gak cuma lagu aja yang bertaut, ini semua saling bertaut dan berkaitan sis.

    Untuk saya, episode LPR ini walaupun sudah lewat tapi juga masih bisa kambuh kalau rutinitas hidup sehatnya tidak terjaga. Masih banyak juga PR untuk saya dan Mas Suami untuk berbenah dengan harapan jauh-jauh dari segala penyakit dan bahaya yang bisa saja menyerang.

    Salam sehat dan jangan lupa bahagiaaa 🙂

  • Miniset Buat Anakku

    Umurnya menginjak 9 tahun. Bukan lagi anak kecil. Mbak Ai sudah besar, literally…

    Beberapa waktu belakangan ini memang saya memperhatikan ada perubahan fisik pada Ai. Sekarang sudah siap-siap mau masuk remaja awal. Tambah tinggi dan besar. Badannya pun sudah tidak lagi flat seperti kala usianya 6 tahun. Sudah tidak lagi lucu a la anak baru masuk SD. Sudah kelas 4 sekarang. Dan tibalah saatnya saya mengenalkan dia sama yang namanya miniset.

    Seketika teringat sendiri berpuluh tahun lalu, ketika saya juga 9 tahun, kelas 4 SD. Pertama kali saya merasa ada yang lain di badan saya. Saya merasa dada saya sakit, seperti ada yang mengganjal. Dan ketika ngobrol sama Ibu saya, beliau menjelaskan soal perubahan badan perempuan. Dan soal miniset.

    Hah? Apaan pula miniset itu?!

    Dan waktu tahu apa dan bagaimana miniset itu. Wah langsung tolak! “Aku gamau pake BH!” reaksi saya waktu itu. Entah juga kenapa, saya gak bisa mengingat apalagi mengerti alasannya. Rasanya hanya “pasti nanti gak enak!” ya cuma begitu saja. Walaupun pada akhirnya Ibu membelikan dan saya juga pakai.

    Entah ya, rasanya ketika dengar kata “miniset” itu, saya merasa geli. Merasa lucu pada diri saya yang kelas 4 SD itu. “Kenapa dulu aku mengeluarkan reaksi seperti itu ya?” Rasanya lucu aja. Mungkin sebenarnya ada rasa malu juga kali ya. Karena dalam pikiran kan BH itu buat orang dewasa. Mungkin.

    Lain halnya pada Mbak Ai. Dia terlihat curious, dia sangat ingin tahu apa dan bagaimana miniset itu. Dan menyimak ketika saya beritahu soal perubahan dirinya, soal pubertas, soal bagaimana harus menjaga diri. Sepemahamannya dia. Akhirnya setelah lama berlalu, akhirnya saya beli juga lah itu miniset. Lewat marketplace. Sungguh luar biasa kemajuan jaman ini.

    Susah juga tapi pilih-pilih miniset pertama buat anak. Karena belinya online, otomatis saya gak bisa pegang bahan secara langsung. Mengandalkan review dari sesama pembeli online saja. Dan akhirnya terbelilah sudah. Mbak Ai sendiri yang pilih mau yang seperti apa. Dan setiap hari bertanya kapan sampainya. Excited rupanya.

    Ah, anakku sudah bukan anak kecil lagi. Entah kenapa saya merasa perlu menulis soal miniset ini untuk mengingat. Saya merasa ini adalah check point atau langkah awal lagi dalam kehidupan Mbak Ai yang akan masuk ke fase remaja. Sebuah milestone baru. I keep telling myself about this, bahwa Mbak Ai sudah bukan anak kecil lagi. Dan perkara beli miniset ini buat saya adalah momen yang cukup emosional. Begitulah…

    Jaga diri, Ai… Bismillah.

  • 33

    Mewah adalah bisa selalu ada dan membersamai kita.

    Alhamdulillah.

    Bismillah, semoga Allah berikan perlindungan dan keselamatan.

    16 Oktober 2020.

  • Right

    Ada satu hal, yang tiba-tiba saya mengerti setelah menjalani banyak hal belakangan ini. And it hit me just like that.

    Bagaimanapun kondisinya, yang mampu menyembuhkan dirimu adalah dirimu sendiri.

    Yang mampu menyelamatkan dirimu adalah dirimu sendiri.

    Bukan orang lain.

    Maka berilah dirimu sendiri kesempatan dan penghargaan atas pencapaianmu sekarang, apapun itu, sekecil apapun itu.

    Karena akan masalah dan kesulitan itu pasti akan selalu ada. Tapi itu akan berbeda ketika kita mampu menyelamatkan acara berbeda pula.

    Benar kata Jack Sparrow,

    The problem is not the problem. The problem is your attitude about the problem.

  • Catatan MPASI Aya

    Sooo… it’s been a while ya?! ?

    Bayi #2 sudah beranjak pada saatnya makan. Dan tentu saja ini perlu persiapan ini dan itu. Mamap kembali belajar soal per-mpasi-an ini. Banyak sekali hal yang berubah dari 7 tahun lalu ketika memulai mpasi Mbak Ai.

    Dari yang masih saya ingat dan saya pelajari dulu, menu tunggal disarankan untuk memulai MPASI. Bayi diperkenalkan berbagai jenis makanan satu persatu, mulai dari cerealia (seperti beras-berasan atau biji-bijian) atau buah atau sayuran. Protein nabati dan hewani khususnya diperkenalkan lebih lambat ketika anak sudah berusia 7 bulan+.

    Ketika belajar untuk persiapan MPASI Aya, panduannya sudah berubah. Sekarang ditekankan pemberian gizi berimbang pada awal MPASI. Artinya, anak akan langsung diperkenalkan pada menu lengkap untuk memenuhi nutrisinya. Menu harian anak harus mengandung komposisi lengkap dari karbohidrat, protein nabati, protein hewani, sayuran, dan lemak.

    Browsing kanan kiri jadi bingung, makin banyak bacaan jadi makin bingung. Ini terus gimana cara masaknya ya? Kira-kira begitu sih yang terlintas di kepala saya. Sampai akhirnya saya baca blognya Mbak Jihan dan dapat pencerahan, lalu saya memutuskan untuk slow down. Saya harus selow dan ga usah kehebohan, daripada bingung sendiri. Dan setelah baca-baca blog tersebut, saya mantap untuk memberikan menu tunggal dulu di awal mpasi Aya.

    Saya mulai pengenalan makanan dengan buah. Karena dari apa yang saya baca, buah cukup bersahabat untuk mencegah sembelit dan cukup rendah menimbulkan reaksi alergi pada bayi. Jadi beginilah apa yang saya catat pada awal MPASI Aya.

    Day 1
    Pagi: pisang kerok + asip, reaksi: biasa aja ga lahap tapi masuk, masih sulit menelan, ngantuk.

    Day 2
    Pagi: pisang kerok + asip, reaksi: masih mingkem kalo disodori sendok.

    Day 3
    Pagi: pisang kerok + asip, reaksi: idem.

    Day 4
    Pagi: apukat + asip, reaksi: menerima dengan senang hati, tapi kalo kelamaan keburu bosen.

    Day 5
    Pagi: apukat + asip, reaksi: oke, no pup

    Day 6
    Pagi: apukat + asip, reaksi: agak susah mangap, need ekstra usaha bikin aya mangap, porsi mungkin terlalu banyak. No pup.

    Day 7
    Pagi: kentang + evoo + asip, reaksi: nooo ?

    Sore: semangka, reaksi: oke, agak susah kalo disendokin karena air, aya maem pake dot jaring

    Day 8
    Pagi: kentang + brokoli (masak pake bawang brambang) + evoo + asip, reaksi: LAHAP kuterharu alhamdulillah ?

    Sore: semangka

    Day 9
    Pagi: kentang + brokoli + evoo + asip, reaksi oke

    Sore: semangka

    Day 10
    Pagi: beras putih + brokoli + evoo + asip (nasak pake bawang brambang), reaksi: oke aja

    Sore: bubur beras merah promina + asip, reaksi: oke

    Day 11
    Pagi: beras putih + labu siam + evoo + asip, reaksi: mau tapi kurang semangat

    Sore: bubur beras merah promina + asip, reaksi: oke

    Day 12
    Pagi: beras putih + labu siam + kacang merah + evoo + asip, reaksi: oke tapi keburu ngantuk

    Sore: bubur beras merah promina + asip, reaksi: no

    Day 13
    Pagi: kacang merah + labu siam + tahu, reaksi: nope

    Day 14
    Pagi: skip makan karena pergi cukup jauh, pulang ke desa

    Sore: semangka

    Day 15
    Pagi: bubur beras putih cerelac, reaksi: gamau buka mulut. Coba crackers, mau makan sendiri tapi ga bisa nelannya ?

    Sore: bubur beras promina, dicoba makan sendiri, jadi masuknya dikit, no pup

    Setelah 2 minggu menu tunggal, dikarenakan hectic mudik lebaran dan sepertinya antusiasme Aya juga biasa aja, akhirnya acara makan berhenti selama seminggu.

    Saya cukup frustasi juga karena Aya susah buka mulut, dicobakan ini itu reaksi tetap negatif. Masak sendiri reaksi si bayi mingkem. Saya variasikan kadang beli bubur bayi sehat juga sama mingkemnya. Saya cobakan bubur bayi instan juga mingkem. Laaah… terus gimana yah…

    Setelah berhenti seminggu, mulai lagi sepulang mudik dengan menu lengkap 4 bintang (karbo, protein nabati, protein hewani, dan sayur).
    Lemak tambahan: evoo 1 sendok makan aya, ditambahkan ke bubur tiap kali makan.
    Cemilan: keju atau biskuit bayi atau buah, di sela-sela makan.
    Makan 2 kali sehari, pagi dan sore.

    Akhirnya kembali lagi, saya merendahkan ekspektasi saya, yang penting saya mengenalkan rutinitas makan pagi dan sore. Porsi makan juga saya kurangi, yang penting Aya tahu bahwa oh ini saatnya makan. Sekarang Aya sudah hampir 8 bulan, dan alhamdulillah dia mau makan dan buka mulut dengan sukarela.

    Yang belum saya pahami, ternyata makan pada bayi itu pembiasaannya memang butuh waktu. Ada bayi yang langsung lahap dan pintar makan. Dan ada juga bayi yang butuh waktu lebih lama untuk belajar dan siap makan. Dan Mamap juga ternyata butuh waktu untuk memahami ini semua.

    Jadi, Aya sudah makan apa saja?
    Karbo:
    – beras putih
    – kentang

    Protein hewani:
    – ayam
    – ikan (gurame, dori, & nila)
    – udang
    – hati ayam

    Protein nabati:
    – kacang merah
    – kacang ijo
    – buncis
    – tahu
    – tempe

    Sayuran:
    – wortel
    – tomat
    – daun kelor
    – sawi hijau
    – sawi putih
    – kacang panjang
    – labu siam
    – kembang kol

    Buah:
    – pisang
    – apukat
    – semangka
    – melon
    – jeruk

    Sementara baru segitu, bismillah ke depan semakin sehat dan banyak variasi lagi maemnya, aamiin.

    Seperti kata dokter Tiwi, bahwa makan adalah proses belajar. Bukan cuma si bayi yanh belajar makan, tapi juga belajar berproses dan belajar sabar untuk orang tuanya. Smangat!

    https://www.instagram.com/p/BzbaEEXnbTF/

  • Fit Pregnancy?

    Hamil. Seneng kan ya… Tapi tapi tapi,gimana ya caranya biar berat badan ga melonjak gila saat hamil?

    Berkaca dari pengalaman hamil pertama, di kehamilan kedua ini memang saya banyak ngerem. Kebetulan, saya dianugerahi tubuh sehat yang sukaaa sekali makan en ofkos berat badan juga melaju pesat kalau ndak direm ?

    Saat hamil pertama, saya naik 18 kg dari berat badan awal. Dan sampai hamil lagi ini berat badan juga tidak pernah kembali ke awal. Ya tapi lumayan deh, berkat olahraga saya jadi bisa melunturkan lemak-lemak jahat penghangat tubuh itu setengahnya.

    Tadinya memang, motivasi untuk berolahraga pastinya untuk menurunkan berat badan. Tapi saya kok merasa seneng ya abis olah raga. Barulah saya ngeh, langsing itu bonus. Prioritas utama saat olah raga ya biar sehat, dan itu juga memperbaiki kualitas hidup saya. Saya jadi merasa happy dan gak gampang sakit.

    Sampai kemudian hamil lagi.

    Sempat galau mau lanjut olah raga atau mandeg dulu selama hamil. Tapi saya memutuskan untuk tetap aktif berolahraga saja.

    Kenapa kemudian saya memutuskan untuk tetap berolahraga saat hamil?

    Pemikiran saya cuma waktu itu cuma satu: saya tidak lagi muda, dan melahirkan itu butuh banyak energi. Maka saya memutuskan untuk tetap aktif berolahraga saat hamil. Demi menjaga kebugaran tubuh.

    Olah raga yang saya jalani adalah senam aerobik. Biasanya saya senam 3-4 kali dalam seminggu, selama 1 jam persesi.

    Setelah terdeteksi hamil, saya juga konsul ke dokter kandungan. Bolehkah saya olah raga, olah raga apa saja yang cocok untuk ibu hamil?

    Dokter bilang selama kehamilan ga bermasalah, boleh saja bahkan dianjurkan untuk ibu hamil berolahraga. Tentu saja diseuaikan dengan kondisi kehamilan, dan gak usah ngotot.

    Alhamdulillah kehamilan saya oke, hanya sedikit mual saat trimester pertama. Gandeng saya sudah rutin aerobik, maka saya tetap melanjutkan rutinitas tersebut seperti biasa. Cuma memang saya juga gak gas pol seperti biasanya, inget lagi hamil. Jadi pergerakannya seperlunya saja, dan ada gerakan-gerakan yang tidak saya ikuti apalagi ketika perut semakin besar.

    Saya juga exercise sendiri di rumah. Panduannya saya pakai aplikasi pregnancy workout, banyak dan bebas pilih di playstore. 15 – 30 menit sehari tapi bikin badan seger.

    Senam aerobik saya ikuti hanya sampai akhir trimester kedua. Tahu diri juga heheh, terlalu pecicilan nanti malah berabe ?

    Nah, masuk trimester ketiga saya mulai ikut senam hamil. Saya mengikuti senam hamil di RS dekat rumah. Dari senam hamil inilah saya banyak dapat masukan soal kehamilan. Sharing dari bidan dan teman sesama hamil juga membuka mata saya soal banyak hal. Yang gak tahu jadi tahu, dan yang dulu sedikit tahu jadi makin tahu untuk bisa menata hati menghadapi persalinan. Terutama belajar teknik pernafasan yang benar untuk mengahadapi masa kontraksi dan persalinan.

    Berkaca dari kehamilan pertama yang total clueless, memang di kehamilan kedua ini saya merasa lebih siap secara fisik dan mental. Ya memang karena ini adalah kehamilan kedua, dan juga dibantu persiapan dari segi fisik juga. Mood dan mental saya juga lebih tertata.

    Jadi fit pregnancynya dimana? Ya memang gak sekeren Nadia Mulya atau Sacha Stevenson yang bisa full workout, tapi menjaga badan tetap bugar apapun olahraganya menurut saya itulah fit pregnancy. Kita bisa pilih sendiri olahraga apa yang kita suka, kemudian lakukanlah secara rutin setiap hari selama masa kehamilan. Berjalan, berenang, yoga, apa aja yang mudah tapi bermanfaat.

    Karena hamil itu persiapan untuk menyambut buah hati. Maka kita sebagai ibu juga harus siap-siap sedini mungkin. Soal perkembangan janin, soal perubahan tubuh selama hamil dan setelah melahirkan, soal persiapan melahirkan. Dan itu semua butuh kesiapan fisik dan mental kita sebagai Ibu. Olahraga selama hamil membantu kita mempersiapkan diri.

    *)DISCLAIMER: Jangan lupa untuk konsul ke dokter kandungan terlebih dahulu mengenai kondisi kehamilan. Dan diskusikan olahraga apa yang tepat. Karena kondisi kehamilan tiap orang berbeda-beda, dan jangan lupa juga kesehatan janin dalam perut kita.

  • Ikhlas

    Saya baru menyadari, ikhlas itu sulit.

    Apalagi untuk ikhlas pada sesuatu yang menyakitkan.

    Menerima sesuatu yang membuat kita tidak nyaman, sesuatu yang tidak kita sukai, sesuatu yang bikin kita sakit, itu susah.

    Mulut boleh bilang “aku ikhlas, aku terima” Tapi nyatanya susah menerapkannya buat diri sendiri.

    Selalu ada pertanyaan di kepala, di dalam hati, “kenapa? Kenapa mesti begini? Kenapa mesti saya?” Dan kenapa-kenapa yang lain.

    Tapi ikhlas itu semoga bisa datang dengan pemahaman menyeluruh mengenai semua ketidaknyamanan yang kita alami.

    Penerimaan itu juga gak bisa datang mak bedunduk, saya tahu pasti ada prosesnya. Semuanya butuh proses, butuh waktu. Berapa lama? Selama yang kita butuhkan mungkin. Asal kita juga terus berusaha.

    Usaha buat berdamai dengan diri sendiri, dan jangan lupa bahagia. Berbahagialah apapun dan bagaimanapun kondisinya.

    Karena bahagia itu kita sendiri yang ciptakan.

    Itu yang mungkin sedikit saya lupakan.

  • Kala-kala

    Raising kid(s) is hard.

    Sure it is.

    I’m not complaining, but I’m curhating.

    ?

    Setiap keluarga pasti punya cerita masing-masing. Setiap Ibu pasti punya dramanya sendiri-sendiri. Saya pun begitu.

    Beda kah dari pengalaman anak #1 dulu? Jelas beda. Dan sekarang saya menyadari setiap pilihan dan keputusan yang dibuat, sedikit banyak untuk menjaga kewarasan sebagai orangtua.

    Karena kami, para bapak-bapak dan ibu-ibu ini juga butuh belajar dan istirahat. Mau anak pertama, kedua, atau keberapapun, pasti ada saat-saat semua tidak berjalan mulus.

    Dan waras itu penting. Supaya bisa enjoy dan happy.

    And happy parents makes happy kids.

    Dan saya sangat berterima kasih untuk:

    1. popok sekali pakai

    2. empeng

    Karena dengan benda-benda itu saya bisa melalui hari bersama bayi dengan gembira. Istimewa!

    There, judge me all you want.

    ?

  • #2

    “Dia memilih untuk hadir dengan caranya sendiri.”

    Senin, 19 November 2018, dini hari aku terbangun dengan rasa basah yang tidak biasa. Ngompol kah aku?

    Melirik jam, masih pukul 02.00. Beranjak ke kamar mandi, buang air kecil, tapi kenapa setelah itu masih ada yang keluar tidak terkontrol? Apa sih ini?

    Sambil kuamati cairan yang merembes keluar, sambil sadar pula aku, ini air ketubanku! Ketubanku pecah!

    Sambil terus bergerak, aku ambil tas berisi persiapan kalau sewaktu-waktu aku harus ke RS untuk melahirkan. Pelan-pelan kubangunkan Mas Suami, “Mas, kayaknya ketubanku rembes,” ujarku. Mas suami tentu saja langsung kaget dan tanya, “kamu mau ke rumah sakit?”

    “Iya,” ujarku.

    Jadilah, tiba-tiba kami sudah di dalam mobil meluncur ke RS. Kami semua, termasuk Yangti dan Mbak Ai. Dan tiba-tiba kami sampai di ruang IGD RS, jam 3 dini hari.

    Masuk dan cek sana-sini, pembukaan masih 1 dan memang belum ada kontraksi sama sekali. Tapi memang ketuban pecah dini adalah suatu kondisi yang tidak bisa disepelekan, sangat perlu penanganan medis dan dengan begitu saya sudah tidak boleh banyak bergerak kecuali ke kamar mandi.

    Dari hasil pelaporan ke dokter saya dinyatakan harus diobservasi kurang lebih 8 jam. Setelah 8 jam dan periksa dalam, memang tidak ada pembukaan lanjut. Saya disarankan untuk diinduksi untuk meneruskan proses persalinan, dan oke, akhirnya jam 10 saya diberi sebuah obat kecil yang katanya berfungsi untuk melunakkan jalan lahir dan membantu datangnya kontraksi untuk menambah pembukaan.

    Bismillah, semoga prosesnya cepat, pikir saya waktu itu. Jadi saya hanya bisa menunggu dalam posisi tidur.

    Nyatanya, ternyata sampai Senin malam, pembukaan masih mandeg disitu saja. Diputuskanlah, besok pagi saya akan dipacu via infus, istirahatlah saya untuk sisa malam itu.

    Selasa pagi, sekitar pukul 7 atau setengah 8, masuklah selang infus ke tangan. Dan memang setelah itu, ada rasa sakit seperti kontraksi yang pelan-pelan datang menyapa. Well… inilah yang ditunggu dari kemarin.

    Sampai akhirnya menjelang Ashar, bidan yang bertugas kembali melakukan periksa dalam dan menyatakan saya sudah pembukaan 4. Masuklah saya ke ruang bersalin.

    Takut?

    Jelas, pasti rasa hati tak menentu, ditambah gelombang kontraksi yang makin intens. Sungguh kumerasa sudah gak karu-karuan ? Walaupun sudah pernah melahirkan sebelumnya, entah kenapa kontraksi yang ini rasanya sepertinya lebih intens dan tanpa jeda.

    Sambil terus berusaha mengingat teori yang didapat dari senam hamil selama ini, sambil saya tekankan kuat-kuat dalam hati berkali-kali bahwa “rasa sakit ini bagus, dan sakit ini yang akan mengantarkan aku bertemu anakku”

    Inhale, exhale… Tarik nafas dalam, embuskan… Terus seperti itu, sampai akhirnya proses persalinan aktif dimulai dan akhirnya diapun menyapa.

    3750 gram, 50 cm.

    Selasa, 20 November 2018, 18:33 WIB

    Aya.

    Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah…

    Cuma alhamdulillah yang bisa saya ucapkan. Sangat bersyukur masih diizinkan melewati proses persalinan secara normal, diberi sehat dan selamat.

    Sangat bersyukur punya Mas Suami yang bisa menemani dan menjadi tempat bersakit-sakit kala kontraksi menyapa. Punya seseorang yang menemani itu sungguh menguatkan.

    Alhamdulillah ada orang tua yang selalu memberi dukungan. Kedua Ibuku yang selalu ada. Dikelilingi keluarga. Alhamdulillah.

    Yang saya sesalkan, saya lupa pamit pada Mbak Ai ketika sudah waktunya masuk ruang bersalin ? Walaupun setelah adiknya lahir, alhamdulillah dia bisa langsung menyapa adiknya.

    Terima kasih Mbak Ai, lewat kamu Mamap bisa merasakan melahirkan normal dan alami, langsung begadangan, susahnya menyusui, dan banyak hal lain yang dirasakan orang tua baru.

    Dan terima kasih Aya, sudah hadir melengkapi Mamap, Papap, dan Mbak Ai. Mengijinkan Mamap dan Papap melewati pengalaman serupa tapi tak sama dengan 7 tahun lalu ketika Mbak Ai hadir.

    Insyaallah kita diberikan kesehatan dan keselamatan, dan juga kesempatan untuk merangkai bahagia kita.

  • LPRD, GERD, dan Kecemasan

    Dua minggu berlalu setelah diagnosa LPRD ditegakkan. Praktis, selain obat, kami di rumah juga mulai berbenah pola makan Mas Suami. Dia pengin sembuh, maka dia memutuskan akan diet ketat, gak akan makan yang dipantang, dan ingin melihat bagaimana perbedaanya sebulan ke depan dengan pola makan yang baru ini.

    Gorengan? No!

    Teh? Kopi? No.

    Makanan bersantan dan gurih? No.

    Pokoknya dia punya menu sendiri, makanannya lain dari yang lain.

    Apa itu?

    Untuk amannya, mulailah dia makan rebusan sayur mayur, atau variasinya dibikin sayur bening, dan baceman. Sayur sendiri juga harus dipilih, yang tidak mengandung gas seperti kol dan sawi, dia gak makan. Sayuran seperti kangkung atau genjer yang ternyata berkulit itu juga lebih sulit untuk dicerna, dia juga gak makan.

    Cemilan buah? Ada juga, tapi pilih buah yang tidak asam seperti pisang, semangka, pepaya, dan melon.

    Selain itu, dia juga berusaha menjaga agar perut tidak kosong terlalu lama. Jadi setiap 2 jam ada yang dimakan. Yah, 2 kali cemilan di sela-sela makan besar begitu.

    2 minggu berjalan, dan dia merasa memang ada perbedaan di tubuhnya. Perutnya merasa lebih enak, tenggorokan tidak lagi panas, dan suara dengungan di telinga cenderung mengecil. Alhamdulillah, ya kan.

    Sampai tiba-tiba suatu malam dia merasa perutnya tidak nyaman. Dan kemudian berlanjut dengan badannya yang tidak enak, lemas, muntah, dan bingung. Lah, kenapa ini?

    Telapak tangan dan kakinya jadi dingin, dan semakin dia bingung memikirkan ada apa dengan tubuhnya, semakin kuat dorongan untuk muntah. Semakin bingung juga buat saya yang melihat. Kenapa ini??? ?

    Yang bisa dilakukan setelah dia tidak lagi ingin muntah, ya membaluri minyak angin, menghangatkan badannya.

    Sambil nemenin, saya juga jadi sambil gugling, soal kecemasan dan asam lambung. Ternyata, dua hal ini sangat berkaitan erat. Bahkan ada artikel yang menyebutkan bahwa lambung memiliki otak sendiri. Bukan beneran ya, tapi seakan-akan lambung bisa mengendalikan kondisi mental tubuh seperti yang bisa dilakukan otak. Buanyak artikelnya kalau dicari di gugel.

    Maka bagi penderita asam lambung, semakin kamu bingung atau cemas memikirkan suatu hal atau kondisi tubuhmu, maka semakin cemas pula dan akan meningkatkan kadar keasaman tubuh, yang berimbas pada kondisi tubuh yang gak karuan. Mbulet to?! Semacam lingkaran setan gitu lho, mengerikan ?

    Dari membaca artikel dan pengalaman yang di share orang lain, kecemasan ini ternyata juga bisa datang tiba-tiba dan sampai mengganggu aktifitas sehari-hari.

    Dan memang bagi orang lain, penderita asam lambung dan kecemasan ini terlihat mengada-ada. Lebay. Wong gak kenapa-kenapa kok. Itu yang sebagai keluarga, harus ditepis. Bahwa memang hal tersebut berkaitan dan sebagai orang terdekat saya harus bisa jadi support sistem yang baik. Tapi memanglah tidak mudah.

    Secara naluriah, sebagai istri, lihat Mas Suami tiba-tiba merasa sakit, muntah, lemas, ujung jarinya dingin dan pucat tengah malam buta lalu gimana? Ya bingung dan takut banget. Maunya ikut nangis. Tapi apakah itu membantu? Tentu tidak, ya kan Saudara-Saudara ?

    Ternyata selain Mas Suami yang harus belajar mengelola stres, saya juga harus belajar menata hati menghadapi kondisi seperti ini. Masih fail, tapi saya mencoba.

    Memang pada waktu konsul ke seorang dokter, Mas Suami juga disarankan untuk konsul ke psikiater. Waktu itu saya pikir, saran itu cukup ekstrim. Sampe harus ke psikiater segala, ya kan. Tapi ternyata dalam beberapa kasus yang parah, memang dibutuhkan pertolongan psikiater. Karena jatuhnya jadi berhubungan dengan psikosomatis, dan ini tentu saja berhubungan dengan kejiwaan. He, jadi berasa kuliah lagi ah ?

    Iya, kalo melihat di gugel istilah gangguan psikosomatis digunakan untuk menggambarkan penyakit fisik yang diduga disebabkan atau diperparah oleh faktor mental, seperti stres dan kecemasan.

    Nah ini PR yang harus dikerjakan juga deh. Mengelola stres. Kalo gak diperhatikan, bisa memperparah kondisi fisik. Itu yang akan jadi perjalanan panjang buat saya dan Mas Suami. Doakan semoga kami bisa mengarungi episode ini ?