Month: November 2017

  • Membuat Boneka Kulit Jagung

    Salah satu muatan pelajaran yang didapatkan Ai di sekolah adalah SBdP. Nah apa itu SBdP? Ternyata, SBdP ini adalah singkatan dari Seni Budaya dan Prakarya. Ada kalanya anak-anak diminta untuk membuat suatu tugas prakarya, dengan bantuan orang tua.

    Beberapa waktu lalu salah satu prakarya yang harus dibuat mbak Ai adalah boneka dari kulit jagung. Boneka yang dimaksud adalah boneka kecil untuk hiasan pensil. Jadi boneka  ini akan ditempel pada bagian atas pensil. Atau kita bisa menganggap si pensil ini menjadi badan bonekanya.

    Seperti biasa, kalo anak-anak yang dapat tugas maka yang riweuh adalah orang tuanya hohoho… Yah begitulah, namanya juga baru kelas satu, ya kan 😀

    Tutorial cara membuat boneka kulit jagung dari buku pelajaran Ai. 

    Nah, setelah membaca baik-baik panduan bikin boneka seperti yang tertera di buku pelajaran si Ai, maka kemudian tugas Mamap tentu saja adalah: beli jagung.

    Kulit jagung dari pengelupasan sampai kering.

    Sudah beli jagung lalu harus diapakan? Pertama tentu saja, kupas kulit jagungnya. Hati-hati saat mengupas, karena kita membutuhkan  kulitnya menjadi lebar, maka harus dikupas satu persatu.

    Setelah itu, jemur kulit jagung hingga kering. Kaau matahari terik penjemuran bisa dilakukan dalam waktu singkat. Tapi kalau keadaan mendung dan tidak mendukung, bisa dibantu dengan menyetrika kulit jagung. Dengan disetrika, selain mengeringkan, juga bertujuan melebarkan kulit jagung yang tergulung. Jadi lebih mudah dibentuk. Selain itu, kulit jagung yang kering sempurna akan lebih awet dan tidak menjamur.

    Boneka jagung hasil prakarya Ai dan Mamap!

    Hoho… beginilah hasil kreasi Ai dan Mamap! Jauh dari kata sempurna memang, tapi ternyata memang membentuk untuk jadi seperti itu juga lumayan susah hehehe…

     

  • People. 

    Seriously, people nowadays are scary. Ini serius. 

    Entah karena mungkin juga informasi itu bisa didapat dari mana saja terutama media sosial, info soal banyak orang ngawur itu dimana aja ada. Terliput media dan terekam kamera. 

    Ini tahun 2017, dan sekarang ini orang lebih menakutkan daripada hantu. Saya belajar bahwa orang bisa melakukan apa saja demi mewujudkan keinginannya. Atau jika sedang gelap mata, bahkan sampai menghilangkan nyawa orang lain. 

    Beberapa saat yang lalu banyak terdengar kabar yang tidak menyenangkan yang khususnya banyak menimpa perempuan. KDRT atau sampai membuat hilang nyawa orang lain. Dengan begitu mudahnya. Itu manusia terbuat dari apa? Kok sampai hati ?

    Atau mereka memang tidak punya hati. 

    Saya bingung, kenapa para pelaku ini bisa begitu? Gak sekolah kah mereka? Gak diajari saling menghormati kah sama orang tuanya? Gak punya agama kah mereka? 

    Kenyataannya di negara kita ini agama tidak menjamin perilaku. 

    Nyatanya pelaku yang melukai keluarga kami kemarin katanya rajin puasa dan mengaji. 

    Kenapa???

    Dan korban biasanya bukan orang lain, tapi justru orang yang dekat dengan pelaku. Yang katanya cinta dan sayang. Omong kosong!

    Sebenarnya apa sih yang kurang? Kenapa manusia jadi begitu? Kenapa kita jadi begitu? Terus gimana masa depan anak-anak kita nanti? Gimana nanti anakku? 

    Sampai situ saya kaget. Kaget kenapa? Ya saya sadar, sedikit banyak perilaku seseorang terbentuk karena keluarganya juga. Sebenarnya saya kepengin nanya, “mas, pak, dan semua pelaku kekerasan itu, apa iya dalam keluarganya dulu pernah jadi korban juga?” Atau pertanyaan semacam, “kamu gak pernah diajari menghargai orang lain po?!” Tapi ya itu hanya terjadi di kepalaku saja. Meh takon karo sopo emang? Ya to?! 

    Dan kaget juga karena sadar, saya ini orangtua. Berarti tanggung jawab untuk membentuk anak jadi manusia yang betul juga menempel sama saya. Mau sekacau apapun dunia di luar sana, tanggung jawab kita juga membenahi perilaku anak-anak kita, dengan harapan itu akan membawa perubahan. 

    PR kita itu, jadi orangtua yang bisa jadi teladan anak-anaknya.

    Yang menghargai orang lain.