Month: December 2015

  • Kita Perlu LEBIH Sadar dan Sabar

    Ingat soal taman bunga amarylis yang dalam hitungan hari rusak gara-gara terinjak-injak pasukan selfie? Atau soal kecelakaan yang merenggut nyawa banyak orang karena melangar perlintasan kereta api? Atau soal pembagian zakat tahunan yang pasti menelan korban? Atau soal banyak lagi hal yang membuat kita geleng-geleng kepala?

    Apa iya kita ini sangat tidak sadar dan tidak sabar? Apa iya orang indonesia itu memang tidak bisa belajar dari pengalaman orang lain? Masa iya harus ada korban dulu baru kemudian kia bisa sadar? Masa iya perlu ada pembatas atau warning super gede baru kita mau patuh?

    Miris. Sedih. Kecewa.

    Kok ya begitu banget sih kita jadi manusia? Kok kayanya gak bisa banget sih menjaga lingkungan. Apalagi menjaga diri kita sendiri.

    Ini sepele lho, kalau saja kita mau menunggu sebentar saja, pasti akan beda hasilnya. Kalau saja kita mau menunggu kereta lewat, kalau saja kita mau bergantian, kalau saja kita mau sabar mengantre, kalau saja kita lebih sabar dan sadar.

    Ayo to, masa iya sebagai manusia berpendidikan kita tidak bisa bersikap seperti sewajarnya manusia yang peduli lingkungan. Semisal kita yang dewasa ini tidak bisa memberi contoh baik, lalu anak-anak kita mau meniru siapa lagi?

  • Wanita Gak Cuma Punya Hati, Tapi Juga Punya Otak!

    Tau kan lagunya Mytha Lestari yang judulnya Aku Cuma Punya Hati. Bagus ya lagunya. Selow melow-melow gitu. Gampang diingat dan suka nempel di kepala. Pertama denger kirain yang nyanyi Terry, karena jenis suaranya mirip. Plus, mbak Terry biasanya memang menyanyikan lagu selow.

    Dulu saat ku siap mati untukmu
    kamu tak pernah menganggap aku hidup
    dulu saat semua ingin ku pertaruhkan
    kamu tak pernah percaya cinta sejatiku

    aku cuma punya hati
    tapi kamu mungkin tak pakai hati

    kamu berbohong aku pun percaya
    kamu lukai ku tak peduli
    coba kau pikir dimana ada cinta seperti ini
    kau tinggalkan aku ku tetap di sini
    kau dengan yang lain ku tetap setia
    tak usah tanyakan apa aku cuma punya hati

    Nah begitu kira-kira liriknya. Agak ngenes ya hehehe. Lagunya bercerita soal seseorang yang cinta mati pada seseorang yang sayangnya tidak kembali mencintainya.

    Pertanyaannya: kenapa kok diterus-teruskan???

    Serius ya, bukan menyudutkan lagu ini atau bagaimana, tapi please deh. Terutama para wanita ni, yang suka begini. Terus menerus berharap pada lelaki yang jelas-jelas melukai, yang tidak menghargai, yang model kayak lagu ituuu! Gemes!

    Kalau jelas, dia berbohong, kenapa percaya? Kalau dia melukai, kenapa kamu gak peduli? Itu diri sendiri lho. Jelas dia meninggalkanmu dengan yang lain, jadi kenapa menunggu terus? Bagaimana kamu mau cinta sama orang lain kalau kamu gak cinta sama dirimu sendiri. Kadang juga dia gak mau lho ditungguin, sengaja menyakiti biar kamu pergi. Well, he’s just not into you. Face it! Deal with it!

    Ingat ini: kalau dia memang mencintaimu, maka dia akan berusaha untukmu, bagaimanapun caranya. Bukan cuma membiarkanmu berusaha. Kalian akan berusaha berdua kalau memang saling peduli.

    So, please para wanita, sayangi dirimu sendiri. Kamu lebih berharga dari apapun di dunia ini. Dan kamu yang berharga pasti akan menemukan seseorang yang pantas.brainxheart

    Maafkan saya yang baper abis sama lagu ini. Maaf ya mbak Mytha, sukses terus buat karirnya. Besok bikin lagu yang jangan ngenes begini ya. Smangaaat!

  • Oh My Venus!

    Dramaaa!  Dan yang main So Ji Sub! Awww :3

    pic from dramabeans.com
    pic from dramabeans.com

    Oke, jadi drama yang sedang on going ini memasangkan So Ji Sub dengan Shin Min Ah. Gereget dong yes. Sampai saya menulis ini, drama ini baru memasuki episode 8. Sabar-sabar menanti sampai episode selanjutnya ini.

    Well, saya pribadi memang lebih menyukai drama dengan pemain mature, kisaran umur yang di ceritakan adalah 30 sekian. Karena mungkin lebih familiar dengan pemainnya, iya. Dan cocok sama umur ya juga iya hueheheh… Mungkin ada kecenderungan juga itu, seiring tambah tua, eh maksudnya dewasa 😛

    Menceritakan mengenai Kang Joo Eun (Shin Min Ah) yang struggle dengan beban emosionalnya ketika hubungan cinta yang sudah berjalan 15 tahun bersama sang kekasih tiba-tiba diputus begitu saja. Plus juga beban berat badannya yang over, ya Kang Joo Eun juga menderita obesitas. Dan bertemulah dengan Kim Young Ho (So Ji Sub) yang adalah seorang personal trainer. Dimulailah kehidupan Kang Joo Eun yang baru, dan bumbu-bumbu cinta sama Kim Young Ho. Ah, pokoknya nonton sendiri.

    Walaupun selalu pake tagline “drama cuma drama jangan pake baper”, tapi ya begitulah ya wanita ketika nonton drama. And that’s why we love drama. So much!

    Kalao kamu penasaran seperti apa sih cerita lengkapnya, bisa nonton juga loh. Klik link dibawah ini yah.

    Watch Oh, My Venus! Full Episode

     

     

  • Puding Roti Tawar

    Puding! Puding lagi, puding lagi, puding puding puding 😀

    Mengapa puding lagi? Karena bikin puding itu relatif mudah dan tingkat kegagalannya kecil, ehehe. Dan dijamin rasanya enak, paling kurang manis atau terlalu manis. Wis gitu aja. Kalo bikin roti, saya gak bisa. Jadi mari kita ramaikan dunia perdapuran dengan cemilan buat keluarga yang mudah, dan cepat eksekusinya.

    Biasa, lagi berselancar tiba-tiba ada resep puding lewat di feed. Dan setelah dilhat baik-baik, oh sepertinya ini simpel. Maka jadilah liburan ini eksekusi puding roti tawar.

    zebra wanna be :P
    zebra wanna be 😛

    PUDING ROTI TAWAR

    Bahan A:
    Roti Tawar Kupas 5 lembar
    Susu Cair Plain 150 ml
    Telur 1 butir

    Bahan B:
    Agar-agar Plain 1 bungkus
    Gula pasir 50 gram
    Air 400 ml
    Garam sejumput

    Siapkan:
    SKM Putih 2 bungkus
    SKM Coklat 2 bungkus
    Coklat Bubuk 50 gram

    How to:
    1. Sobek-sobek roti tawar, blender bersama telur dan susu, sisihkan.
    2. Masak agar-agar, tambahkan gula dan garam sejumput, tambahkan roti yang sudah diblender, masak hingga mendidih.
    3. Setelah matang, bagi adonan menjadi 2.
    4. Tambahkan coklat bubuk dan SKM coklat pada adonan A, tambahkan SKM putih pada adonan B.
    5. Tuang selang seling pada loyang. Atau Anda bisa membuat pola sendiri menurut kreativitas Anda.

    Selamat berpuding 😀

  • Sagu Mutiara in Another Dress

    Dulu, ketika saya masih belasan tahun, ibu suka bawa jajan sepulang dari pasar. Maka dari itulah sebutannya jajan pasar ya. Dari semua jajan pasar itu, kesukaan saya adalah kue sus dan ada satu jajan yang saya gak tau apa namanya. Terbuat dari sagu mutiara, tapi tidak berbentuk bubur. Sagu mutiaranya lebih padat, dan santannya kental di kanan kiri, gurih. Rasanya enak sekali kalo menurut saya.

    Sayangnya ibu mulai berhenti beli jajan mutiara ini. Ternyata di pasar sudah menghilang alias tak ada lagi. Sampai sekarang saya besar dan keliling-keliling pasar, belum pernah menemukan lagi. Sering ngobrol sama ibu juga gimana cara bikinnya ya, tapi waktu itu jawaban ibu adalah, “kalo bikin repot lho, beli aja kan gampang.” Tanpa menyadari kenyataannya jajanan itu menghilang dari pasaran. Ouch, menyakitkan. Hahahaha :D.

    Nah, hari ini , entah kenapa dari bangun tidur tadi pagi kok kepikiran sama jajanan ini. Dan berpikir keras, kira-kira apa ya resepnya. Kalau gugling dengan term “sagu mutiara” maka yang akan muncul kebanyakan adalah resep bubur mutiara. Gak cocok sama yang dicari. Maka dengan berbekal pengetahuan bahan dasar: sagu mutiara dan santan, saya mulai proyek antah berantah ini.

    Saya mulai dengan merendam sagu mutiara di dalam air mendidih, kurang lebih selama 1 jam. Jadi didihkan air secukupnya, ketika air mendidih masukkan sagu mutirara, dan setelah mendidih, segra matikan api. Tutup panci dan biarkan selama setengah atau 1 jam. Hal ini membuat mutiara lebih mudah dimasak, karena sudah mengembang sempurna (sudah bening) dan mempercepat proses masak. Resepnya saya kira-kira saja, dan beginilah penampakannya.

    Sagu mutiara dalam busana lain.
    Sagu mutiara dalam busana lain.

    Tentu saja yang dijual penampakannya jauh lebih cantik, tapi rasanya lumayaaann 😛 Kalo dibuka dalamnya kira-kira begini.

    Sagu mutiara, kanan kiri yang putih adalah santan kental.
    Sagu mutiara, kanan kiri yang putih adalah santan kental.

    RESEP SAGU MUTIARA

    Bahan:
    Sagu mutiara 1 bungkus
    Santan 200 ml
    Gula jawa 100 gram
    Garam sejumput
    Air
    Tepung maizena 1 sdt
    Plastik, bisa menggunakan plastik biasa kemudian dipotong kotak kira-kira 15 cm

    How to:
    1. Setelah mutiara mengembang sempurna, masak dengan api sedang, dan tambahkan air secukupnya, tidak terlalu banyak karena kita akan membuat mutiara ini kental.
    2. Setelah mendidih, masukkan gula jawa dan garam sejumput, masak hingga mengental, apabila air terlalu banyak, buat menyusut namun jangan lupa diaduk supaya dasarnya tidak gosong.
    3. Setelah matang, sisihkan dulu mutiaranya, dan kita akan membuat santannya.
    4. Masak santan dengan air, kira-kira setengah gelas. Tambahkan garam dan aduk rata.
    5. Kentalkan dengan maizena yang dilarutkan dengan sedikit air, terus aduk hingga licin. Setelah matang, matikan api.
    6. Untuk membungkus, letakkan plastik, ambil 1 sendok makan mutiara letakkan ditengah, santan diletakkan dikanan kiri, bungkus seperti membungkus kulit lumpia.
    7. Lakukan sampai mutiara habis. Agak sulit memang membungkusnya, tapi tetap harus semangat.

    Nah, begitulah petualangan saya di dapur hari ini. Dan hasilnya not bad. Lumayan mengobati kangen sama jajanan ini. Selamat bereksperimen dengan tambahan bahan lain. Selamat mencoba!

     

     

     

  • Puding Ubi Ungu

    Sudah lama tidak bikin-bikin puding. Kemarin-kemarin sempet bikin puding mentega. Abis itu malas. Penyakit ni, kemalasan tiada guna ehehe.

    Jadi kemarin menyempatkan uplek di dapur bikin puding. Yang gampang aja gak usah ribet-ribet. Kebetulan pas ada yang share resep puding ubi ungu. Ya maarilah kita mencobanya. Dan beginilah penampakan si puding.

    ungu aseli, tanpa pewarna artifisial :D
    ungu aseli, tanpa pewarna artifisial 😀

    Pembuatannya cukup mudah, bahan juga mudah di dapat. Berikut saya share resepnya.

    PUDING UBI UNGU

    Bahan:
    Ubi Ungu 300 gram
    Susu cair plain 1000 ml
    Agar-agar plain 2 bungkus
    Gula pasir 100 gram

    How to:
    1. Cuci bersih ubi ungu, kemudian kukus sampai empuk. (kurang lebih 30 menit)
    2. Setelah matang, kupas ubi dan haluskan. (blender dengan susu secukupnya)
    3. Masukkan ubi yang sudah di blender dalam panci, tambahkan susu, agar-agar, dan gula, aduk rata, masak sampai mendidih.
    4. Setelah matang, puding siap dicetak dan tentu saja dapat dinikmati ketika sudah dingin.

    Nah, simpel saja. Untuk lebih nikmat, bisa ditambahkan vla. Selamat mencoba.

    *note: resep di atas hasilnya cukup banyak. Semisal takut kebanyakan bisa dibikin setengah resep, resep menyesuaikan.

  • Bukan Melulu IQ

    Ramai dishare di feed orang-orang. Betapa hubungan antara bla bla bla bisa menghasilkan anak dengan IQ yang lebih tinggi. Lakukan ini itu saat hamil agar IQ bayi lebih tinggi. Sejak jadi orang tua, saya mendadak sadar, bahwa hidup itu ga melulu soal IQ yang tinggi. Ya, sebagai orang tua saya tentu pengen anak saya nanti jadi anak yang pandai, jadi anak yang cerdas, baik hati, suka menabung, tidak sombong, dan banyak lah. Itu cita-cita semua orang tua pasti, ingin anak-anaknya lebih baik dari mereka.

    Tapi yang saya rasakan, saya pengen anak saya intelegensinya tinggi. Intelegensi sosialnya tinggi, EQnya, SQnya. Bukan melulu IQ. Saya kepengin anak saya punya kecerdasan sosial, kepekaan sosial terhadap lingkungannya. Saya rasa untuk jadi pintar di sebuah mata pelajaran, perlu belajar. Tapi untuk pintar secara sosial, itu lain lagi ceritanya.

    Banyak sekali sekarang ini anak kecil yang pintar, yang pandai, yang cerdas. Tapi PR buat orang tuanya, bagaimana mempertahankan kondisi intelegensi itu sampai nanti dia siap hidup sendiri. PR juga buat saya dan suami. Karena saya sampai sekarang merasa belum jadi orang yang baik juga. Mungkin waktu kecil anak-anak lebih mudah untuk diawasi, kita puas dengan pencapaiannya. Besok ketika mereka beranjak remaja, dewasa, dan punya pemikiran sendiri, dan suatu saat kita sebagai orang tua tidak sependapat, lalu bagaimana?

    Menengok ke dalam diri saya sendiri, masih sangat banyak pertanyaan. Bagaimana kalo begini? Bagaimana kalau begitu? Penginnya membekali anak tidak sekedar apa yang tertulis di textbook, tidak sekedar apa yang di sekolah diajarkan. Pengen supaya dia cerdas secara emosi, dan pandai mengelola perilakunya.

    Anak akan beranjak dewasa, dan saya masih belajar, memperlakukan anak sebagaimana tingkat usia dan emosinya.

    You’ll never know how your parents feel, until you become one.

    And yes, it’s true.